Hati Untuk Aisyah

Hati Untuk Aisyah
Hati Untuk Aisyah ( Flashback )


__ADS_3

Flashback.


Dafa yang kala itu mau melihat putranya, kini dikejutkan dengan kehadiran Byan di ruang bayi. Ia melihat kesedihan di raut wajah Byan, saat Byan tengah mengASIhi putranya.


Seketika hatinya Dafa tersentuh dengan apa yang telah Byan lakukan kepada putranya. Dafa melihat Byan begitu tulus menyayangi putranya.


"Ternyata kamu sangat menyayangi anakku," gumam Dafa.


Dafa terus memperhatikan Byan dari jauh. Melihat kesedihan Byan, Dafa ikut merasakan kesedihan yang Byan rasakan.


Setelah melihat semua yang Byan lakukan untuk anaknya, Dafa pun kini mengikuti langkah kaki Byan yang pergi menemui Aisyah.


Dibalik pintu, Dafa melihat Byan terisak tersedu-sedu. Dafa melihat betapa besar cinta yang dimiliki Byan untuk Aisyah, mungkin cintanya kepada Aisyah tak sebanding dengan cintanya Byan.


Melihat kesedihan Byan dan besarnya cinta Byan, membuat Dafa menjadi minder. Dafa menyandarkan punggungnya ke dinding dan termenung.


"Sepertinya aku memang harus merelakan Ais untuk Byan dan aku janji tidak akan menggangu Ais lagi."


Lalu Dafa pergi dari sana dan memutuskan untuk pulang ke apartemennya.


Setibanya di apartemen, Dafa mengambil kotak yang berisi sweater couple. Dafa berniat memberikannya kepada Byan dan Dafa juga membawa beberapa barang untuk anaknya yang sudah ia siapkan jauh-jauh hari. Dafa berniat untuk tidak lagi mengganggu rumah tangga Aisyah dan Byan. Ia akan pergi jauh ke negeri orang dan memulai hidup baru, serta melupakan Aisyah dari hidupnya.


Setelah semua barang yang akan di serahkan kepada Byan, Dafa pergi kembali ke rumah sakit dan menemui Byan, sekaligus meminta maaf. Dafa juga akan membantu mencari informasi buat orang yang mau mendonorkan hatinya.


Di rumah sakit, Dafa mencari-cari keberadaan Byan, tapi Dafa tidak menemukan Byan. Dafa mencoba mencari Byan di luar rumah sakit, berharap menemukan Byan.


Dari sebrang jalan dan dari kejauhan Dafa sudah melihat Byan tengah berdiri di pinggir jalan.


"Tuh dia orang yang aku cari dari tadi," ujar Dafa yang segera menghampiri Byan.


Tanpa tengok kanan-kiri Dafa menyebrang jalan, tapi naas saat Dafa menyebrang dan berlari kecil. Sebuah mobil SUV dari arah berlawanan melaju cukup kencang dan Dafa tidak sempat menghindar, hingga kecelakaan itu tidak bisa terelakkan.


Brakk.


Tubuh Dafa terpental dan terguling di aspal.


***


Byan yang berniat untuk mencelakai dirinya, langsung dari tarik oleh Marshall dan hampir saja Byan tertabrak mobil, jika saja Marshall tidak cepat menariknya.


"Kamu sengaja mau menabrakkan diri!" Bentak Marshall, dengan sorot mata berang.


"Hanya ini yang bisa aku---"

__ADS_1


Brakk


"Ada yang kecelakaan! Ada yang kecelakaan!" Teriak warga yang langsung berkerumun.


"Siapa yang kecelakaan?" Seloroh Marshall. Karena rasa penasarannya, Marshall pun ikut berkerumun untuk melihat siapa yang tertabrak. Sedangkan Byan hanya tertunduk lesu, karena aksinya digagalkan oleh Marshall.


Ya tuhan, jika hamba tidak bisa memberikan hatiku ini, lalu siapa yang akan mendonorkan hatinya untuk Ais?


Di saat kegalauan hatinya, Marshall menghampirinya dengan tatapan syok. Byan mengerutkan keningnya melihat wajah Marshall.


"By... Dafa, By!" Ucap Marshall dengan suara berat.


"Dafa? Kenapa dengan Dafa?"


"Korban kecelakaan itu, Dafa!" Marshall mencicit, sekaligus masih syok dengan apa yang dilihatnya.


"Apa?! Orang itu Dafa?!" Byan terkejut dan Byan bergegas pergi memastikan kalau apa yang dikatakan Marshall benar atau tidak.


Byan tercengang melihat kondisi Dafa yang terluka parah. Byan segera mendekat ketika Dafa tengah dibopong oleh warga dan Byan mengikuti Dafa masuk ke rumah sakit.


Byan dan Marshall menunggu Dafa diluar dengan perasaan cemas. Walaupun Dafa selalu menggangu Aisyah, tapi Byan sangat mencemaskan keadaan Dafa.


***


Aditya dan Bella kini sudah berada di kamar rawat Dafa dan saat ini Dafa tengah di cek lagi oleh dokter.


"Gimana keadaan anak kami, dok?" Tanya Aditya, yang begitu sangat mengkhawatirkan keadaan Dafa.


"Anak bapak kemungkinan besar akan mengalami kelumpuhan permanen, sebab saraf tulang belakang cideranya cukup parah," terang sang dokter, menjelaskan kondisi Dafa.


"Apa masih bisa disembuhkan, dok?" Kali ini Bella yang bertanya.


"Untuk sembuh sangat sulit. Walaupun bisa sembuh lewat terapi, tapi itu membutuhkan waktu yang sangat lama. Mungkin bisa bertahun-tahun, mengingat cideranya cukup parah."


Tanpa mereka sadari, Dafa mendengar pembicaraan kedua orang tuanya dan dokter. Dafa sebenarnya sudah siuman saat orang tuanya menanyakan tentang kondisinya.


Dafa termenung menatap langit-langit kamar rawatnya dan entah apa yang dipikirkan oleh Dafa saat itu.


"Kalau gitu, saya permisi dulu," pamit dokter.


Aditya membuang nafas beratnya, lalu Aditya melihat Dafa yang tengah termangu.


"Dafa, kamu sudah bangun?"

__ADS_1


Aditya dan Bella mendekati Dafa dan mengusap lengan Dafa.


"Apa ini hukuman buat aku, karena aku sudah membuat kalian kecewa?" Dafa berkata lirih, tatapannya sayu.


"Kamu yang sabar, nak. Suatu saat kamu bisa sembuh." Bella berusaha membesarkan hati Dafa.


Dafa tertawa sumbang sambil menggelengkan kepalanya. Jelas-jelas dokter tadi berkata sangat sulit untuk bisa berjalan lagi.


"Kapan? Sampai aku menua?" Jawab Dafa putus asa.


"Sudah, tidak usah dipikirkan. Lebih baik kamu istirahat saja." Aditya mengalihkan pembicaraan. Aditya tidak mau membuat Dafa banyak pikiran.


"Ma... Pa... Boleh aku bicara yang lebih serius?"


"Soal apa?" Jawab Bella.


Dafa menarik nafasnya dalam-dalam, sebelum mengungkapkan keinginannya.


"Izinkan aku mendonorkan hatiku untuk Ais...."


Aditya dan Bella terperanjat mendengar perkataan Dafa dan menatap kedua bola mata Dafa, untuk mencari kesungguhan dengan ucapannya.


"Papa tidak setuju!" Jelas Aditya menolak permintaannya Dafa.


"Pa... Aku mohon." Dafa mengiba.


Aditya memalingkan wajahnya, Aditya tidak mau kalau Dafa mendonorkan hatinya untuk Aisyah.


"Ma... Pa... Anak aku lebih butuh Ais daripada aku."


"Maksud kamu?" Tanya Bella.


"Saat ini Ais tengah berjuang melawan penyakitnya dan Ais tidak akan sembuh jika Ais tidak mendapatkan donor hati, sedangkan saat ini anakku sangat membutuhkan Ais, ibunya."


"Maksud kamu Ais sudah melahirkan?" Bella kembali bertanya.


"Iya. Ma... Aku nggak mau menyusahkan mama sama papa. Selamanya aku akan terus menyusahkan kalian dengan kondisiku seperti ini, yang nantinya akan menghabiskan waktuku berada di kursi roda." Dafa menjeda kalimatnya, untuk menyuplai oksigen banyak-banyak. "Dengan mendonorkan hatiku, anakku tidak akan kehilangan sosok ibu dihidupnya. Ma... Izinkan aku memberikan hati ini untuk Ais." Tatapan Dafa penuh permohonan.


"Mama bayangkan perjuangan Ais yang mempertahankan kehamilannya di tengah kondisinya melawan penyakitnya. Ais sudah mengorbankan dirinya untuk cucu mama sama papa." Dafa berkata dengan berurai air mata.


"Dan sekarang, Ais kondisinya tengah kritis dan dokter sudah tidak bisa berbuat banyak untuk kesembuhan Ais."


Aditya dan Bella meneteskan air matanya. Keputusan Dafa sungguh sangat memberatkan hati orang tuanya. Mana mungkin Aditya dan Bella merelakan Dafa pergi dari kehidupannya.

__ADS_1


__ADS_2