
Malam pun berganti pagi. Matahari kini sudah memancarkan biasnya dan menerobos masuk melewati celah-celah jendela. Seorang ibu muda kini tengah merajuk karena tidak diizinkan untuk menemui anaknya, siapa lagi kalau bukan Aisyah.
"Nanti aku suruh suster bawa baby kita ke sini," Kata Byan lembut.
"Tapi aku yang pengen ke sana," kekeuh Aisyah, sambil merengut manyun.
"Bukannya aku nggak ngizinin kamu ke ruang bayi, tapi kamu kan baru operasi dan luka kamu belum begitu kering. " Byan tetap sabar menghadapi ibu muda ini dan juga memberi pengertian kepada Aisyah.
Aisyah justru memiringkan tubuhnya membelakangi Byan. Padahal Aisyah sudah sangat merindukan malaikat kecilnya.
"Lebih baik sekarang makan dulu. Setelah itu aku akan meminta suster membawa baby kita ke sini." Akan tetapi Aisyah tetap tidak bergeming. Ia masih kesal dengan suaminya yang tak mengizinkan dirinya menemui putranya.
"Sayang...."
Aisyah mendengus, dengan rasa yang mencokol di hati Aisyah kembali merubah posisi tidurnya menjadi terlentang. Byan tersenyum melihat istri tercintanya merajuk.
"Gitu dong. Sekarang buka mulutnya," pinta Byan.
Aisyah pun menurutinya dan menerima suapan demi suapan dari Byan. Hingga makanannya tandas tanpa sisa.
"Kamu tunggu di sini. Aku akan menyuruh suster membawa bayi kita," ujar Byan, sambil meletakkan gelas kosong ke atas nakas.
Byan beranjak dari kursi dan melangkah keluar dari kamar inap Aisyah. Sesampainya di ruang bayi, Byan segera mendekati suster jaga dan menyuruh membawa putranya ke kamar inap istrinya.
Kini Byan sudah berada di kamar inap Aisyah dengan sang buah hati yang sudah berada di gendongannya. Byan mendekati Aisyah yang terlihat antusias melihat bayinya. Dengan perasaan tak sabar, Aisyah mengulurkan kedua tangannya meminta Byan memberikan bayinya ke dalam gendongannya.
"Uuhh... Anak mama." Aisyah langsung memborbardir bayinya dengan ciuman bertubi-tubi di wajah sang bayi.
Saking gemasnya Aisyah menciumi wajah bayinya, membuat malaikat kecilnya merengek. Bukannya merasa bersalah, justru Aisyah senang mendengar suara tangisan buah hatinya.
Suara tangisan buah hatinya seperti oase di tengah gurun pasir. Sangat menyenangkan mendengarkannya.
"Sayang, jangan buat baby kita nangis," tegur Byan yang tak tega mendengar putranya menangis.
"Tapi aku senang melihatnya menangis." Lalu Aisyah kembali menciumi bayinya dengan gemas. Byan hanya menggelengkan kepalanya, kemudian Byan memberikan botol susu ke tangan Aisyah.
Dengan penuh kasih sayang, Aisyah mengASIhi bayinya sambil menatap wajahnya.
"Pintarnya anak mama." Seloroh Aisyah, yang begitu senang melihat bayinya meminum susunya dengan lahap.
Menjelang siang, Hana datang dengan si bungsu. Mata polos Andreo berbinar senang melihat keponakannya yang tertidur di samping Aisyah.
"Wah! Ada Dede bayi!" Seru Andreo yang berlari kecil ke arah ranjang Aisyah.
Andreo naik ke kursi samping ranjang, lalu mendaratkan kecupan manis di pipi keponakannya.
"Namanya siapa, kak?" Tanya Andreo, menatap Aisyah.
"Namanya Afkar Vinendra, Ade," jawab Aisyah.
__ADS_1
"Halo dede Afkal...." Sapa Andreo sambil mengelus pipi keponakannya.
"Gimana keadaan Ais sekarang?" Tanya Hana kepada Byan.
"Kata dokter semuanya sudah bagus, tinggal pemulihan saja."
"Kira-kira kapan akan pulangnya?"
"Aku belum tahu, Bu. Soalnya Ais masih harus dipantau terus sama dokter."
Hana mangut-mangut mendengarkannya, kemudian Hana mendekati cucunya. Hana menggendong cucunya dan membawanya ke sofa. Andreo pun mengikuti langkah Hana dan duduk di samping Hana.
"Ade juga mau gendong dede Afkal," pinta Andreo.
"Nggak boleh. Ade kan masih kecil, nanti kalau Dede Afkar-nya jatuh gimana?" Larang Hana dan Andreo langsung memanyunkan bibirnya.
***
Sore harinya, Hana dan Andreo pulang. Byan mengantarkan putranya kembali ke ruang bayi. Saat melewati koridor ruangan kamar inap Bella, Byan baru teringat dengan Bella.
"Sus, boleh ajak bayiku ke ruangan itu," kata Byan sembari menunjuk ke arah koridor ruangan kamar inap Bella.
"Boleh, tapi jangan lama-lama."
"Oke, sus."
Byan dan suster membawa baby Afkar ke kamar inap Bella. Sesampainya di depan kamar inap Bella, Byan mengetuk pintu kamar.
Hal pertama yang lihat Byan adalah tatapan hampa Bella. Raut wajahnya terlihat sangat sedih. Byan kemudian menggendong baby Afkar dan mendekati Bella yang termenung seperti patung. Di sana juga ada Aditya yang tengah duduk menemani Bella.
"Hai... Oma...." Sapa Byan menirukan suara anak kecil sambil melambaikan tangan putranya.
Bella tetap terdiam, bahkan melirik pun tidak. Tatapan Bella tetap lurus ke depan.
Aditya menghela nafasnya dan Difa terlihat sangat sedih melihat mamanya seperti ini. Byan kemudian mendekatkan baby Afkar ke Bella dan tangan baby Afkar ia sentuhkan ke kulit pipi Bella.
"Hai, Oma. Ini aku cucu Oma," kata Byan yang masih menirukan suara anak kecil.
Saat tangan mungil baby Afkar menyentuh kulit pipinya, seketika ada aliran hangat menjalar ke seluruh tubuhnya. Bella kemudian melirik baby Afkar dan menatapnya lekat.
"Tante, ini cucu Tante, anak kandungnya Dafa." Ucap Byan.
Pandangan Bella teralihkan dan menatap Byan. " Ini cucu Tante. Anaknya Dafa." Byan kembali menjelaskannya dengan pelan-pelan.
"Cucu?" Lirih Bella, menatap Byan.
"Iya... Cucu Tante."
"Cucuku...." Bella menatap baby Afkar dan kelopak matanya kini mulai berkaca-kaca. Bella menyentuh pipi baby Afkar dan hatinya langsung menghangat.
__ADS_1
"Cucuku... Dafa...." Akhirnya Bella menumpahkan tangisannya melihat cucunya yang begitu mirip dengan Dafa.
Tangisan Bella pecah saat Byan memberikan baby Afkar ke gendongan Bella.
Bella mendekap baby Afkar dengan erat dengan tangis tersedu-sedu. "Dafa... Anakku... Hiks... Hiks...."
Rasa kehilangannya begitu mendalam dan Bella tidak sanggup atas kepergian Dafa dari hidupnya. Lama Bella memeluk baby Afkar dan baby Afkar kini ikut merengek karena merasa sudah tidak nyaman.
"Sstt... Sayang jangan nangis," lirih Bella sambil menepuk-nepuk bokong baby Afkar. Tapi baby Afkar justru mengeluarkan suara lengkingan. Suster yang sejak tadi berdiri di dekat pintu segera mendekatinya dan mengambil baby Afkar dari gendongan Bella.
"Jangan ambil cucuku!" Marah Bella yang tidak rela baby Afkar diambil darinya.
"Tapi Bu. Bayinya menangis dan sudah saatnya bayinya harus di bawa ke ruang bayi." Kata suster yang berusaha mengambil baby Afkar.
"Nggak! Aku nggak mau! Aku nggak mau kehilangan cucuku, seperti aku kehilangan anakku."
"Sayang, serahkan cucu kita ke suster. Cucu kita harus istirahat dulu," bujuk Aditya.
Bella menggelengkan kepalanya. Bella semakin memeluk erat cucunya itu. Ia tidak mau kehilangan cucunya seperti ia kehilangan Dafa.
"Pak, tolong serahkan bayinya." Pinta suster kepada Aditya.
"Sayang cucu kita harus istirahat dulu. Nanti kita bisa menjenguknya di ruang bayi." Rayu Aditya.
"Aku nggak mau!"
"Ma... Berikan dulu cucu mama, ya...." Difa ikut membujuk Bella, tapi Bella tetap kekeuh mempertahankan cucunya.
"Pak, saya mohon. Sudah waktunya bayinya kembali ke ruang bayi," ujar suster.
"Sayang...."
"Biar aku yang berbicara, Om," timpal Byan.
Byan menyentuh pundak Bella dan mengelusnya lembut.
"Tante... Tante nggak mau kan cucu sampai kenapa-napa." Kata Byan dan Bella mengangguk cepat.
"Jika Tante ingin cucu Tante baik-baik saja, berikan cucu Tante kepadaku. Aku janji besok Tante bisa bermain lagi dengan cucu Tante." Bella tetap menggeleng.
"Apa Tante nggak kasihan sama cucu Tante? Lihatlah, cucu Tante menangis. Cucu Tante ingin segera meminum susunya dan tidur." Byan terus berusaha membujuk Bella.
Bella kemudian menatap baby Afkar yang masih menangis. "Tapi... Jangan ambil dia dariku. Aku nggak mau kehilangannya lagi," jawab Bella sendu.
"Tidak akan ada yang mengambil cucu Tante. Percayalah padaku."
"Kamu yakin?"
"Iya...."
__ADS_1
Akhirnya Bella bersedia menyerahkan baby Afkar kepada Byan, walau sangat berat. Byan langsung meletakkan baby Afkar ke dalam boks dan suster segera membawa ke ruang bayi.