Hati Untuk Aisyah

Hati Untuk Aisyah
Operasi Caesar


__ADS_3

Setelah mendapat kabar dari Byan. Aries, Hana dan Marshall langsung berangkat ke rumah sakit. Ketiganya sudah berada di rumah sakit dan hanya bertemu sebentar dengan Aisyah.


Hana tak henti-hentinya menangis. Sebagai seorang ibu, Hana tahu seperti apa perjuangan saat melahirkan dalam kondisi yang tidak baik.


Di pelukan Aries, Hana terus menumpahkan tangisannya. Hana hanya bisa berharap kalau putri tercintanya selamat, begitu juga dengan sang buah hatinya.


Semua yang ada di sana hanya diam termangu, menunggu Aisyah yang saat ini tengah melakukan operasi Caesar. Tak ada satupun yang mengeluarkan suaranya, hanya terdengar suara Isak tangis Hana.


Byan yang duduk di lantai dekat pintu, menundukkan kepalanya dan terus berdoa untuk keselamatan Aisyah dan baby-nya. Cemas, takut, sedih menjadi satu yang kini tengah di rasakan oleh Byan. Berkali-kali Byan menyeka air matanya yang terus mengalir dari pelupuk matanya.


Marshall yang dari tadi berdiri, kini ikut duduk di samping Byan. Kemudian Marshall mengelus punggung Byan, mencoba memberinya kekuatan untuk Byan.


"Ais, perempuan yang kuat. Aku yakin Ais bisa melewatinya dengan baik." Bisik Marshall.


Hampir satu jam menunggu, kini pintu ruang operasi pun terbuka dan seorang dokter keluar dari sana. Byan yang duduk di lantai segera bangkit dan mendekati sang dokter.


"Gimana dok dengan istri saya?" Tanya Byan penuh dengan guratan kekhawatiran.


"Operasinya berjalan lancar dan bayinya selamat dan sehat," jawab sang dokter.


"Syukurlah...." Ucap semuanya. Satu beban sudah terangkat dari benaknya.


"Lalu istri saya bagaimana?" Tanya Byan lagi.


Dokter membuang nafasnya dan raut wajahnya berubah muram, membuat Byan dan yang lainnya bertanya-tanya.


"Dok...." Panggil Byan, karena dokter tidak menjawab pertanyaannya.

__ADS_1


"Keadaan istri anda kritis. Penyakit yang di derita istri anda sudah parah. Yang harus kita lakukan adalah mendoakannya, semoga istri anda bisa melewati masa kritisnya." Imbuh sang dokter.


"Seandainya istri saya bisa melewati masa kritisnya. Apa istri saya bisa sembuh dari penyakitnya?"


"Penyakit yang di derita istri anda itu sangat sulit untuk sembuh, tapi ada satu cara agar istri anda bisa berumur panjang, yaitu dengan cara transplantasi hati."


"Transplantasi hati, dok?" Ulang Byan.


"Iya...."


Seketika tubuhnya terasa tak bertulang dan nafasnya terasa tercekat di tenggorokan. Byan tertunduk sedih mendengarnya dan air matanya lagi-lagi membasahi pipinya. Jika Ais tidak mendapatkan tranplantasi hati, itu artinya dirinya harus siap kehilangan Aisyah selama-lamanya.


Pertanyaannya, apa dirinya sanggup kehilangan Aisyah? Apakah mampu menjalani hidupnya tanpa Aisyah? Tentu saja tidak! Ia tidak akan sanggup hidup tanpa Aisyah, wanita yang sangat ia cintai, wanita yang sudah ia perjuangkan untuk bisa bahagia bersamanya.


"Kalau gitu saya permisi dulu," sambung dokter undur diri.


"Kita berdoa saja, semoga harapan kita terkabul."


Aries juga tidak tahu harus bagaimana. Ia juga sama-sama bingung memikirkan jalan keluarnya. Apa ada orang yang bersedia memberikan hatinya untuk Aisyah?.


Di saat semuanya tengah kalut memikirkan kondisi Aisyah, seorang suster keluar dan membawa bayinya Aisyah di inkubator. Bayi laki-laki dengan berat badan 3 kg, kini tengah tertidur pulas.


Byan yang melihatnya segera mendekatinya dan menatapnya dengan tatapan lembut. Hatinya tiba-tiba menghangat melihat baby yang tengah menggeliat.


Senyum tipis kini terbit dan rasa sayangnya bertambah besar, walau di sisi lain hatinya tengah bersedih memikirkan Aisyah.


***

__ADS_1


Hana saat ini tengah berada di ruang bayi dan tengah menggendong cucunya yang sejak tadi terus merengek. Padahal sang cucu sudah di kasih susu formula, tapi nyatanya tidak membuat sang cucu berhenti menangis.


Hana sudah hampir menangis melihat cucunya terus menangis tak henti-henti. Hana memeluknya penuh kasih berharap cucunya bisa merasakan kehangatan yang ia berikan.


Byan yang berada di luar dengan Marshall, memilih masuk ke dalam ruangan bayi. Menggantikan ibu mertuanya yang tengah berusaha menenangkan sang baby.


"Sus, boleh saya masuk?" Byan meminta izin terlebih dahulu kepada suster jaga.


"Maaf, tapi hanya satu orang saja yang boleh masuk," kata suster.


"Saya mohon... Saya tidak tega melihat anak saya terus menangis."


Melihat tatapan memohonnya, akhirnya suster mengizinkan Byan untuk masuk.


"Terima kasih, sus," ucap Byan saat suster itu membukakan pintunya untuk dirinya.


Byan segera menghampiri ibu mertuanya, yang tengah mengayun-ayunkan tubuhnya agar sang baby tenang.


"Ibu, sini biar aku coba yang menenangkan anakku," kata Byan, sambil mengulurkan tangannya, meminta Hana membawanya ke dalam gendongannya.


Hana mengangguk dan memberikannya kepada Byan. Beberapa menit dalam gendongannya, kini sang baby akhirnya bisa tertidur pulas.


Byan tersenyum hangat, melihat sang baby bisa merasakan kehangatan darinya, lalu Byan mencium kening sang baby yang sampai detik ini belum di beri nama. Byan ingin Aisyah lah yang memberikan nama untuk buah hatinya.


Dengan penuh kasih sayang, Byan menepuk-nepuk bokong anaknya, yang sudah tertidur. Byan tak jemu-jemu memandangi wajah anaknya yang sangat tampan.


Karena sang baby sudah tidur, Byan meletakkan baby-nya di atas boks bayi dan menyelimutinya.

__ADS_1


Tidur yang nyenyak, sayang. Jangan takut, papa akan terus menjaga kamu dan mama. Kita doakan, semoga mama cepat sembuh.


__ADS_2