Hati Untuk Aisyah

Hati Untuk Aisyah
Tugas kerja


__ADS_3

Byan menatap jengkel wajah Aisyah, yang sudah membuat dirinya harus bersolo karir. Gara-gara Aisyah dirinya harus bermesraan dengan sabun cair dan membuang bibit-bibitnya ke closet. Sedangkan sang pelaku, tengah mengulum senyumnya, seolah apa yang sudah di perbuatanya tidak memberikan efek samping buat Byan.


Sangat menyebalkan. gerutu Byan di dalam hatinya dan lihat wajahnya? seolah tidak berdosa sudah membuatnya sakit kepala dan harus berjuang sendiri di kamar mandi.


Aisyah yang melihat wajah Byan masam segera mendekatinya,. Aisyah tahu kalau suaminya itu tengah kesal terhadapnya, lalu Aisyah memeluk Byan dari belakang dan mengelus dada bidangnya Byan.


"Maaf...." Bisik Aisyah, yang merasa bersalah sudah mempermainkannya.


Byan mendengus dan membuang rasa kesal di hatinya.


"Lain kali jangan lakukan hal kayak tadi. Itu sangat menyiksaku."


"Iya. Aku janji tidak akan melakukannya lagi, asalkan kakak jangan deket-deket sama wanita itu."


Byan kemudian memutarkan tubuhnya menghadap Aisyah, lalu mengelus pipinya Aisyah.


"Aku nggak mungkin deketin Laura--"


"Jangan sebut namanya!" Potong Aisyah cepat. Aisyah tidak mau mendengar nama Laura di sebut-sebut dan Aisyah menatap kesal wajah Byan, karena menyebutkan nama wanita itu.


Byan mengulum senyumnya. Aah... Rasanya sangat menggemaskan melihat istri tercintanya cemburu dan Byan senang dicemburui oleh Aisyah.


"Aku nggak mungkin deketin dia, kecuali dia sendiri yang deketin aku."


"Pokoknya kakak harus jauhin perempuan itu. Aku nggak mau tahu!" Aisyah menekuk wajahnya seraya melipatkan kedua tangannya di atas dadanya. Kesal itu yang dirasakan olehnya.


"Baiklah. Aku akan menjauhinya."


"Harus!" Jawab Aisyah penuh penekanan.


"Sini...." Byan mengangkat wajahnya Aisyah, lalu Byan menarik sudut bibirnya Aisyah.


"Senyum... jelek tau kalau kamu marah. Nanti yang ada cantiknya hilang, kalau cantiknya hilang nanti hatiku berpindah ke--"


"Kakak...!!" Teriak Aisyah, seraya memukul dada Byan.


Byan tertawa kecil dan menarik Aisyah ke dalam pelukannya.


"Makanya jangan marah. Kalau nggak mau hatiku berpindah ke--"


"Kakak! Iiiih...." Aisyah mencubit pinggang Byan.


"Aaw! Sakit sayang." Ringis Byan, sambil mengelus bekas cubitan Aisyah.


"Makanya, kakak jangan ngomong kayak gitu." Wajah Aisyah berubah sendu. Jelas Aisyah tidak mau kehilangan orang yang sangat disayanginya lagi dan sudah cukup dirinya merasakan kehilangan orang yang dicintainya itu pergi, walau sudah memberikan luka di hatinya.

__ADS_1


"Nggaklah, sayang. Mana mungkin aku berpaling darimu. Bagiku kamu adalah wanita yang paling penting didalam hidupku." Kata Byan, yang kemudian mencium pucuk kepala Aisyah.


"Janji, kakak nggak akan ninggalin aku."


"Janji."


***


Setelah menghabiskan weekend bersama keluarga tercinta, terutama sang istri. Byan kini kembali bekerja lagi dan saat sedang serius mengerjakan pekerjaannya, Anita, sekretarisnya masuk menghadap Byan.


"Permisi, Pak. Saya mau memberitahukan kalau bapak di panggil ke ruangan Pak Hendra." Lapor Anita.


"Baik. Saya segera ke sana."


Byan bergegas ke ruangan Pak Hendra, direktur perusahaan tempatnya bekerja.


Tok tok tok


Byan mengetuk pintu ruang atasnya dan setelah mendengar jawaban, Byan langsung masuk menghadapnya.


"Permisi, Pak. Ada apa bapak memanggil saya," ucap Byan.


"Duduk dulu," suruh Pak Hendra dan Byan langsung mendudukkan dirinya di kursi.


"Baik, Pak. Apa ada lagi?"


"Sudah itu saja. Kamu bisa kembali ke ruangan kamu."


"Iya, Pak. Permisi...." Byan pun keluar dari ruangan atasannya.


Byan menghela nafasnya, karena ia harus meninggalkan Aisyah ke Jepang. Rasanya sangat berat bila berjauhan dengan Aisyah.


Setelah selesai bekerja, Byan segera pulang. Seperti biasa, Aisyah selalu menyambutnya pulang dengan senyum manisnya dan juga pelukan hangat.


"Kayaknya capek banget," cetus Aisyah, yang melihat wajah lelah Byan.


"Capek ku akan hilang melihat senyum kamu."


Aisyah tersenyum dan menggandeng tangan Byan.


"Aku siapkan air hangat dulu buat kakak," ucap Aisyah, sesampainya di kamar.


"Nggak perlu. Mending kamu duduk manis saja."


"Baiklah."

__ADS_1


Byan pun segera membersihkan diri dan rasanya sangat segar, setelah seharian bekerja di kantor. Byan keluar dari kamar mandi sembari mengeringkan rambutnya yang basah.


"Sini, biar aku bantu keringkan," kata Aisyah, meminta handuknya dari Byan.


Byan menyerahkan handuk tersebut dan Aisyah meminta Byan untuk duduk di depan meja riasnya. Dengan telaten, Aisyah mengeringkan rambutnya Byan.


"Ais, aku mau ngomong sama kamu."


"Ngomong aja," jawab Aisyah, sambil terus mengeringkan rambutnya.


"Minggu depan, aku harus ke... Jepang."


Aisyah langsung menghentikan gerakannya dan menatap wajah Byan lewat cermin.


"Ke Jepang?" Cicit Aisyah, yang terkejut mendengar perkataan Byan.


"Iya. Ada beberapa pekerja mengalami kecelakaan dan selain itu juga aku di tugaskan meninjau proyek tersebut."


"Berapa lama kakak berada di Jepangnya?"


"Belum tahu berapa lama berada di Jepang. Kamu nggak apa-apa kan kalau kita berjauhan beberapa waktu."


Aisyah terdiam. Terkadang di tinggal Byan kerja saja Aisyah sudah kangen, apalagi ini di tinggal jauh ke negeri orang. Apa dirinya sanggup?.


"Sayang, kenapa diam?" Ucap Byan, kemudian Byan menarik Aisyah untuk duduk di pangkuannya.


"Kok, wajahnya jadi murung sih?" Sambung Byan, menoel hidungnya Aisyah.


"Aku sedih, mendengar kakak mau di tugaskan ke Jepang. Nanti gimana kalau aku kangen...." ucap Aisyah dengan tatapan sendu.


"Mau gimana lagi. Bukan aku yang mau di tugaskan ke sana," ujar Byan sembari menautkan jemarinya ke jemari Aisyah.


"Bagaimana kalau aku ikut kakak ke Jepang," tawar Aisyah, dengan tatapan mengiba.


"Ikut?"


Aisyah mengangguk penuh harap.


"Ya... Boleh ya....." Rengek Aisyah.


"Aku ke Jepang bukan buat liburan sayang, tapi untuk kerja. Terus kalau nanti aku kerja kamu sama siapa di sana?"


"Pokoknya aku mau ikut! Aku nggak mau jauh sama kakak." Aisyah ngotot.


Byan membuang nafasnya kasar. Sedangkan Aisyah terus merengek untuk ikut ke Jepang, tidak peduli dengan wajah protes Byan yang melarangnya ikut.

__ADS_1


__ADS_2