Hati Untuk Aisyah

Hati Untuk Aisyah
Putus hubungan ayah dan anak


__ADS_3

"Apa? Istri kamu!" Pak Sanjaya terkejut mendengar pengakuan Byan.


"Iya, Pi," jawab Byan pelan.


"Berani-beraninya kamu menikahi wanita ini tanpa sepengetahuan papi!" Geram Pak Sanjaya.


"Maaf, Pi."


"Maaf katamu! Sampai kapanpun papi nggak akan merestui pernikahan kamu! Kamu sudah mengecewakan papi." Lalu Pak Sanjaya berdiri dan membelakangi Byan dan Aisyah.


"Seperti inikah cara kamu membalas kasih sayang papi. Kamu tahukan kalau papi tidak mengizinkan kamu menikah dengan wanita itu, tapi kenapa kamu tetap menikahinya. Papi benar-benar sangat kecewa sama kamu. Papi tidak terima."


"Pi, aku--"


Pak Sanjaya mengangkat satu tangannya, menghentikan ucapan Byan.


"Pergi kamu dari sini. Mulai sekarang kamu bukan anak papi lagi. Semua fasilitas yang papi berikan ke kamu, akan papi cabut!" Tegas Pak Sanjaya, yang benar-benar sudah sangat kecewa.


"Pi...." Byan tak menyangka kalau papinya tidak mau menganggapnya sebagai anaknya lagi. Segitu kecewanya papinya terhadapnya.


Aisyah menatap sedih wajah Byan. Karena dirinya, Byan harus di usir dari rumahnya sendiri dan karena dirinya lah Byan tidak dianggap sebagai anak lagi, seharusnya Aisyah tidak menerima pinangan dari Byan, kalau tahu akan seperti ini. Sungguh Aisyah menjadi bersalah.


Aisyah melangkah mendekati Pak Sanjaya, yang sejak tadi tidak mau menatapnya. Akan tetapi, Byan menghentikan langkahnya dan menggelengkan kepalanya.


"Tapi, kak. Ini semua gara-gara aku." Ucap Aisyah sedih, bahkan air matanya menetes membasahi pipinya.


"Ini bukan gara-gara kamu."


"Tapi papi kakak sudah ti---" Byan meletakkan jari telunjuknya di atas bibir Aisyah.

__ADS_1


"Kamu tenang saja. Aku nggak apa-apa kok."


"Kak...." Aisyah sungguh tak mau Byan diusir dan tidak dianggap anak oleh orang tuanya sendiri. Biarlah Aisyah mengalah demi keutuhan antara anak dan ayah.


Byan memberikan senyumannya, meyakinkan Aisyah kalau dirinya baik-baik saja. Kemudian Byan, mengambil dompetnya dan mengeluarkan beberapa kartunya, juga uangnya. Byan meletakkan kartu-kartu tersebut dan uangnya di atas meja. Byan juga melepaskan jam tangan mahalnya.


"Ayo, bantu aku mengemasi pakaianku." Ajak Byan kepada Aisyah.


Byan menggandeng tangan Aisyah dan membawanya ke kamarnya. Byan tidak mau membawa banyak pakaiannya, cukup satu tas ransel pakaian yang dibawanya.


Selesai mengemasi pakaiannya, Byan menatap seluruh kamarnya. Kamar yang sejak kecil ia tempati dan juga kamar penuh kenangan. Meski sedih, Byan tetap tidak menyesali keputusannya menikahi Aisyah.


"Ayo, kita keluar dari sini." Lirih Byan.


Dengan langkah gontai, Byan keluar dari kamarnya. Mami Yuyun sudah berdiri tidak jauh darinya, sambil menangis karena harus membiarkan Byan pergi dari rumahnya.


"Mi...." Byan segera memeluk tubuh Maminya.


"Maafin Byan, mi. Maaf, aku belum bisa jadi anak yang berbakti dan membahagiakan Mami dan papi." Mami Yuyun menggelengkan kepalanya. Mami Yuyun tak mampu berucap, karena sangat berat merelakan kepergian Byan.


"Jaga diri Mami baik-baik. Aku pamit pergi dulu." Byan mengecup pucuk kepala Mami Yuyun dan melepaskan pelukannya. Byan juga mencium kening Mami Yuyun. Air mata Byan sudah tidak bisa ditahan lagi, ketika mencium kening Maminya.


Setelah itu Byan melangkah pergi dari hadapan Maminya. Air mata Mami Yuyun semakin deras melihat punggung Byan yang semakin jauh melangkah pergi.


Aisyah segera mendekati Mami Yuyun yang terisak. "Ais minta maaf. Gara-gara Ais, Byan harus di---"


"Sstt... Kamu nggak salah, Nak. Ini semua bukan salah kamu. Tolong jangan pernah tinggalkan Byan dan terus genggamlah tangannya. Mami percayakan Byan sama kamu." Lalu Mami Yuyun mengambil kontak yang sudah ia siapkan.


"Bawalah ini. Hanya ini yang bisa mami beri untuk kalian." Mami Yuyun menyerahkan kotak tersebut.

__ADS_1


"Iya, mi. Sekali lagi maafin, Ais."


Aisyah memeluk Mami Yuyun, setelah itu Aisyah mencium tangan punggung Mami Yuyun.


"Ais pamit, mi...."


Mami Yuyun mengangguk lemah dan Aisyah segera menyusul Byan. Mami Yuyun langsung menjatuhkan tubuhnya di atas sofa, sambil menutupi wajahnya.


Aisyah sudah berdiri di samping Byan, sembari mengelap air matanya yang tidak bisa berhenti menangis. Byan mendekati papinya, yang terus membelakanginya.


"Pi... Aku pamit pergi dulu. Sekali lagi aku minta maaf yang sudah membuat papi kecewa dan terluka," ucap Byan penuh kesedihan.


"Pergi dan jangan pernah lagi kamu menginjakkan kakimu di rumah ini!" Ucapnya penuh penegasan.


Byan mengangguk pelan dan mengajak Aisyah keluar dari rumahnya.


"Tunggu. Kita belum meminta restu sama papi." Cegah Aisyah, tapi Byan menggelengkan kepalanya.


"Kita pergi dari sini...."


Dengan sangat terpaksa, dan juga sedih, Aisyah mengikuti langkah Byan yang terlihat tegar. Kemudian Aisyah mengeratkan genggaman tangannya, memberikan kekuatan kepada Byan.


Selepas kepergian Byan dan Aisyah. Pak Sanjaya duduk termenung di ruang keluarga. Mami Yuyun datang dengan wajah sembabnya.


"Papi senang sudah mengusir dan tidak menganggap Byan putramu lagi," ucap Mami Yuyun dengan suara serak, karena terlalu lama menagis.


"Semoga keputusan papi tidak membuat papi menyesal. Lagian apa salahnya kalau Byan menikah dengan wanita yang dicintainya. Itu haknya Byan, karena Byan tahu kalau dia akan bahagia hidup dengan pilihannya."


Mami Yuyun kembali meneteskan air matanya. Begitu teganya suaminya itu, terhadap anaknya sendiri. Ia mengerti akan kemarahan suaminya, tapi tidak harus menganggap Byan anaknya lagi. Jelas Mami Yuyun tidak setuju.

__ADS_1


"Terserah mami mau mengatakan apapun, yang jelas keputusanku sudah benar." Pak Sanjaya menegaskan perkataannya dan meyakini kalau Byan tidak akan hidup tenang dan juga bahagia, karena sudah menjadi anak yang durhaka.


Pak Sanjaya memilih pergi ke ruang kerjanya, daripada harus berdebat dengan istrinya. Sedangkan Mami Yuyun menatap kecewa terhadap suaminya itu.


__ADS_2