
Aisyah membuka matanya, menatap sekelilingnya yang ternyata masih di bandara. Aisyah menarik diri dari pelukan Byan. Entah berapa lama dirinya tidur di pelukan Byan, membuat Aisyah jadi tidak enak hati.
"Maaf, kak. Aku ketiduran," ucap Aisyah.
"Nggak apa-apa kok. Nggak jadi masalah," jawab Byan lembut.
Aisyah menghela nafasnya, ternyata rasa sesak di dadanya masih terasa. Aisyah mengusap wajahnya, sungguh berat jalan hidupnya. Sudah di ceraikan, pernikahan yang hanya bertahan kurang dari seminggu dan sekarang anak yang ada di dalam kandungannya tidak di inginkan oleh ayahnya sendiri. Sungguh miris sekali hidupnya.
Byan menggenggam tangan Aisyah dan menatap lembut wajah Aisyah yang terlihat kuyu dan tak ada semangatnya.
"Kamu jangan bersedih. Masih ada orang-orang yang sayang sama kamu dan calon anakmu. Aku juga akan selalu ada untukmu, kapanpun kamu butuhkan. Soal Dafa... lupakan dia dan biarkan dia pergi jauh dari hidupmu. Satu lagi... Cukup sudah kamu menangisi lelaki seperti dia dan mulai sekarang kamu harus bangkit dari keterpurukan ini. Menjalani hidup yang baru karena sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ibu."
"Iya, kak. Kakak benar...."
Byan menangkubkan kedua tangannya di pipi Aisyah dan menatap kedua manik Aisyah lembut.
"Mulai sekarang kamu harus selalu tersenyum dan kamu harus selalu bahagia. Jika kamu bahagia, bayi yang ada dalam kandunganmu juga ikut merasakan bahagia. Buanglah semua rasa sedihmu itu dan jangan kamu ingat lagi rasa sakit itu. Lepaskan semua bebanmu, maka kamu akan merasa ringan menjalankan hidupmu."
Aisyah mengangguk menatap wajah Byan, lalu Byan menarik bibirnya Aisyah ke samping. "Senyum lah untuk buah hatimu...."
Aisyah pun tersenyum dan benar kata Byan, mulai sekarang dirinya harus bangkit dari kesedihan ini. Demi buah hatinya yang kini tumbuh kembang di rahimnya.
"Ayo, kita pulang," ajak Byan.
"Tunggu! Aku lupa, Bang Marshall bagaimana?" Aisyah baru teringat kepada Marshall. Pasti Marshall dan yang lain menunggunya pulang, mengingat kalau di rumahnya Marshall tengah mengadakan barbeque-an.
"Kamu nggak usah khawatir. Aku sudah kirim pesan kepadanya kalau kita ada urusan penting."
"Syukurlah," ucap Aisyah lega.
"Ayo, aku antarkan kamu pulang," sambung Byan lagi, seraya mengulurkan tangannya kepada Aisyah.
Aisyah menerima uluran tangannya Byan dan melangkah bersama menuju mobil. Byan begitu erat menggenggam tangan Aisyah dan tak ingin melepaskan tangan ini.
***
Marshall dan Zee, saat ini tengah berada di kediaman Aries. Sejak tadi Marshall sangat mencemaskan Aisyah. Byan sudah mengatakan semuanya kepada Marshall soal Dafa yang tak menginginkan bayinya yang masih didalam kandungannya Aisyah.
"Kamu kenapa? Perasaan dari tadi kamu gelisah terus," ucap Zee, yang bingung melihat suaminya terlihat tidak tenang.
__ADS_1
"Aku lagi mikirin Ais."
"Memangnya kenapa dengan Ais?"
Marshall membuang nafasnya kasar, Zee dan yang lainnya belum mengetahui kalau Aisyah tengah hamil.
"Nggak apa-apa, nanti juga kamu akan tahu sendiri."
"Kak Zee...! Dede Shani kayaknya pup," teriak Adelia, yang sejak tadi bermain dengan baby Shania.
Zee bergegas mendekati baby Shania dan membawanya ke kamarnya.
Aisyah dan Byan datang. Marshall segera menghampiri Aisyah dan memeluknya. Dielusnya rambut Aisyah dengan sayang, serta diciumnya pucuk kepala Aisyah.
"Selamat, karena Ais sebentar lagi akan menjadi seorang ibu," kata Marshall lembut.
Aisyah mengadahkan kepalanya menatap Marshall." Kok, Abang tahu?"
"Byan sudah cerita semuanya. Ais, Abang yakin kamu pasti bisa melewatinya, meski tanpa ada sosok suami di samping Ais. Kamu itu wanita yang sangat kuat."
"Iya, bang. Ais memang nggak boleh bersedih, karena Ais punya kalian semua yang pastinya akan selalu menyayangiku."
"Bang, Ais mau ke kamar dulu." Marshall mengangguk dan membiarkan Aisyah pergi dari hadapannya, lalu Marshall menepuk punggung Byan.
"Thanks, ya. Sudah menjaga Ais. Mungkin sudah saatnya kamu maju mendekati Ais."
Byan menoleh menatap Marshall, dengan tatapan bingung dan Marshall hanya tersenyum melihatnya.
"Jangan kayak gitu kamu menatap aku. Aku tahu kalau kamu sebenarnya suka kan sama Ais."
"Kok, kamu tahu kalau aku suka sama Ais?" Tanya Byan bingung, darimana Marshall tahu kalau dirinya menyukai Aisyah.
"Dari cara kamu menatapnya. Sorot mata kamu menjelaskan kalau kamu itu cinta sama Ais."
Byan mengusap tengkuknya, ternyata diam-diam Marshall selalu memperhatikannya saat menatap Aisyah. Byan menjadi malu sendiri."Apa kamu setuju kalau aku deketin Ais?" Ucapnya malu-malu.
"Asal kamu jangan menyakiti hatinya. Aku pasti setuju."
Byan tersenyum simpul dan meninju lengan Marshall.
__ADS_1
"Aku nggak akan menyakiti Ais. Dia itu wanita yang sangat spesial disini." Tunjuk Byan dihatinya, sembari melemparkan senyumannya.
Aisyah sudah berada di kamarnya dan saat ini tengah menatap dirinya di cermin, Aisyah mengelus perutnya yang masih rata. Kemudian Aisyah membuka tasnya, dimana tersimpan sebuah foto USG.
Aisyah tersenyum menatap foto USG itu. Ada rasa bahagia didalam hatinya.
"Terima kasih sayang, kamu sudah hadir di perut mama. Kamu jangan bersedih jika papamu tak mengharapkanmu. Kita berdua pasti bisa menjalaninya dan mama akan selalu menjagamu sepanjang waktu. Kamu juga tidak akan pernah kekurangan kasih sayang."
Aisyah kemudian mencium foto USG itu. Diletakkannya foto USG itu di atas dadanya, seolah sedang memeluk buah hatinya.
"Ibu sama ayah harus tahu soal ini," gumam Aisyah.
Aisyah segera menemui ayah dan ibunya di kamarnya. Aisyah tersenyum melihat kedua orang tuanya yang saat ini tengah bermain dengan cucu kesayangannya.
"Ibu, ayah...."
"Kenapa?" Tanya Aries.
"Ais mau menunjukkan sesuatu...."
"Sesuatu apaan? Ayah jadi takut nih...." Canda Aries.
Aisyah duduk di samping Aries dan memeluknya, sembari menunjukkan foto USG itu di depan wajah Aries.
Aries tertegun sejenak melihat foto USG itu, kemudian Aries menatap wajah Aisyah penuh tanya.
"Ais hamil, yah," ucap Aisyah lirih.
"Hamil?" Lalu pandangannya kembali ke foto USG itu.
Aries menelan Salivanya. Aries tak menyangka kalau Aisyah hamil, lalu diambilnya foto itu dari tangan Aisyah dan menatap lekat foto USG itu.
"Ini cucu ayah?"
Aisyah mengangguk. Aries kemudian mengusap lengan Aisyah, sembari tersenyum.
"Selamat ya sayang. Akhirnya putri tercinta ayah akan menjadi seorang ibu." Aries meraih kepala Aisyah dan menciumi seluruh wajahnya. Meski sedih karena Aisyah sudah berpisah dengan Dafa, tapi Aries senang mendapatkan kabar kehamilan Aisyah.
Hana juga ikut memeluk Aisyah sembari menggendong baby Shania. Hana mencium pelipis Aisyah dan mengelus rambut Aisyah.
__ADS_1
Aries mengelap sudut matanya yang basah. Aries berusaha tidak menunjukkan rasa sedihnya didepan Aisyah. Aries harus bisa membuat Aisyah tersenyum kembali, setelah ditinggal pergi oleh Dafa.