
Kali ini Aisyah harus berbicara dengan Byan, sebab Aisyah tidak mau mengalami pengkhianat untuk kedua kalinya.
Aisyah bertekad harus bertindak tegas dan jika memang terbukti benar kalau Byan selingkuh, maka dirinya akan meminta cerai darinya dan tidak peduli jika nantinya Byan menolaknya.
Setelah lama menunggu, akhirnya Byan keluar juga dari rumah tersebut. Byan keluar bersama dengan wanita itu dan keduanya masuk ke dalam mobil, meninggalkan rumah wanita itu.
Aisyah yang melihat mobil Byan pergi, segera mengikuti mobil Byan. Ternyata mobilnya Byan berhenti di perusahaan papinya.
"Ngapain mereka datang ke kantor?" gumam Aisyah.
Setelah melihat Byan dan wanita itu masuk ke dalam kantor, Aisyah juga segera turun dan pastinya mengikuti Byan. Dari jarak yang aman, Aisyah terus mengikuti langkah Byan.
Suasana kantor jelas sangat sepi, karena hari ini memang weekend.
Byan dan wanita itu masuk ke dalam ruang kerjanya. Bayangan-bayangan buruk hinggap di pikirannya Aisyah.
Dengan langkah pelan Aisyah mendekati pintu ruang kerja Byan. Tapi sayang seribu sayang, Aisyah tidak bisa mendengarkan pembicaraan keduanya dan entah sedang apa Byan bersama wanita itu didalam sana.
Aisyah yang sudah sangat curiga mencoba membuka pintunya, tapi seorang satpam menghampirinya.
"Permis, Bu. Maaf... Anda dilarang masuk ke dalam ruangan itu. Silahkan anda keluar dari sini." Aisyah di usir oleh satpam, tapi Aisyah mengabaikan perkataan satpam itu dan tetap akan masuk ke dalam sana.
"Apa anda tidak punya telinga!" Cegat satpam tersebut. "Lebih baik anda pergi dari sini atau saya yang seret anda keluar dari sini."
Aisyah yang mendengar nada ancaman dari satpam, terpaksa harus memilih keluar dari kantornya Byan.
Dengan penuh kekesalan, Aisyah masuk ke dalam mobil. Aisyah kemudian mencoba menelpon Byan. Panggilan pertama tidak di angkat, lalu Aisyah mencobanya lagi. Akan tetapi panggilan teleponnya tidak di angkat-angkat.
Aisyah semakin yakin kalau Byan telah mengkhianatinya. Aisyah berusaha menekan desakan air matanya. Ia tidak mau menangisi lelaki brengsek, tapi sayang air matanya itu tidak bisa di ajak kompromi dan tetap keluar dari pelupuk matanya.
"Aku nggak boleh nangis... Lelaki seperti dia tidak pantas di tangisi." Aisyah berbicara kepada dirinya sendiri.
Pada akhirnya Aisyah memilih pergi dari kantornya Byan.
***
Sesampainya di rumah, Hana menatap heran wajah Aisyah yang terlihat sembab.
"Ais, kamu kenapa?" Tanya Hana.
Aisyah yang sejak tadi berusaha memendamnya, kini langsung memeluk Hana dan menumpahkan tangisannya. Tubuh Aisyah bergetar hebat. Rasa sakit di hatinya terasa lebih menyakitkan daripada sebelumnya.
Hana yang belum mengerti kenapa Aisyah menangis, memilih membiarkan Aisyah menangis sampai puas.
Setelah cukup lama Aisyah menangis dan sudah lebih tenang. Hana mengelus punggung Aisyah lembut.
__ADS_1
"Kenapa menangis?" Kata Hana.
"Kak Byan, Bu...."
"Kenapa dengan Byan?"
"Kak Byan se-selingkuh...." Jawab Aisyah dengan suara tersendat-sendat.
Hana diam dan tak menjawabnya.
"Bu...."
"Mungkin kamu sayang lihat? Mana mungkin Byan selingkuh. Ibu yakin kalau Byan bukan lelaki seperti itu," ucap Hana yang tidak percaya begitu saja.
"Tapi aku lihat sendiri, kalau kakak pergi menemui wanita itu...." Tangis Aisyah pecah lagi. Rasa sakit kian menggerogoti hatinya dan sangat menyesakan dada.
'kamu yakin?" Hana belum percaya begitu saja.
"Iya Bu...."
"Ya sudah, nanti kita bicarakan ini dengan Byan. Ibu harap Byan tidak selingkuh." Ucap Hana, mencoba menenangkan Aisyah.
Lalu Aisyah pun melangkah naik ke lantai dua dengan langkah gontai. Sekuat apapun dan setegar apapun dirinya, tetap saja hatinya tidak akan sanggup melihat suami yang kita cintai tengah berduaan di tempat sepi.
Sudah pukul sembilan malam, Byan belum pulang juga dan bayangan-bayangan wajah wanita tadi kini menghantui pikirannya Aisyah.
Aisyah kemudian membaringkan tubuhnya dan memeluk baby Afkar yang sudah tertidur pulas. Setetes air matanya jatuh.
"Secepat itu kakak berubah? Jika Kakak sudah tidak mencintaiku, kenapa kakak mempertahankan aku."
Lelah menunggu Byan pulang, akhirnya Aisyah jatuh juga ke alam mimpi.
Pukul sebelas malam, Byan baru tiba di rumah. Kemudian Byan mendekati Aisyah dan mengecup kening Aisyah.
"Maafkan aku untuk hari ini...." Bisik Byan.
***
Pagipun menyapa, Aisyah mengerjap-ngerjapkan matanya dan meraba-raba tempat tidur di sampingnya yang ternyata kosong. Aisyah pun membuka matanya dan tatapan Aisyah berubah sendu.
"Ternyata kakak nggak pulang...." Lirih Aisyah.
Aisyah mengambil ponselnya di atas nakas untuk mengecek ponselnya dan ternyata Byan sama sekali tidak mengirim pesan maupun menelponnya.
Aisyah pun akhirnya menangis lagi. Begitu sakit hatinya ini, karena Byan benar-benar sudah berubah dan tidak lagi memperdulikannya.
__ADS_1
Setelah beberapa menit menangis, Aisyah turun dari ranjang dan melangkah ke kamar mandi. Aisyah hanya mencuci muka saja dan menghilangkan sembab di wajahnya.
Selesai mencuci muka, Aisyah bergegas turun dan mencari baby Afkar.
"Ibu, Afkar mana?" Tanya Aisyah, yang ia pikir baby Afkar bersama ibunya.
"Di taman belakang sama Byan," jawab Hana yang tengah sibuk memasak.
Mendengar Byan bersama baby Afkar, Aisyah cepat-cepat melangkahkan kakinya ke taman belakang dan ternyata benar baby Afkar tengah berjemur bersama Byan.
Aisyah hanya menatapnya saja, ingatan tentang wanita yang di temui Byan kemarin membuat Aisyah menjadi muram.
"Sayang...." Panggil Byan.
Aisyah tidak menyahutinya, hatinya yang masih sakit memilih mengabaikan Byan dan melangkah masuk ke dalam rumah.
"Bahkan dia nggak mengejar aku!" Sungut Aisyah.
Hingga siang pun Aisyah tidak memperdulikan Byan, tidak peduli kalau Byan akan marah padanya. Toh... Ini semua juga karena Byan yang berubah.
Aisyah yang baru saja menidurkan baby Afkar, menatap curiga melihat Byan tengah bersiap-siap. Pakaian Byan sangat rapi dan wangi. Seketika hatinya berdenyut perih.
"Aku pergi dulu. Mm... Jangan tunggu aku pulang, karena aku nggak tahu bakal pulang jam berapa." Ucap Byan. Setelah itu Byan berlalu begitu saja tanpa memikirkan perasaan Aisyah.
Aisyah merintih sendu, dalam waktu sehari Byan langsung berubah total dan tidak lagi memperdulikannya.
"Secepat itu kakak berubah padaku... Apa sekarang kakak sudah tidak cinta lagi sama aku...."
Aisyah meratapi nasibnya yang harus merasakan sakit hati oleh orang yang dicintainya.
Setelah kepergian Byan, Aisyah tidak lagi keluar kamar. Aisyah hanya ingin menyendiri.
"Ais, kenapa dari tadi kamu di kamar terus," ujar Hana yang datang menemuinya di kamar.
"Ais, lagi males keluar, Bu," jawab Aisyah sendu.
"Rencananya ibu sama ayah mau makan di luar. Apa kamu mau ikut?"
Aisyah menggeleng. "Beneran?" Tanya Hana lagi.
"Hmm... Aku hanya ingin di rumah saja."
"Ya sudah kalau begitu. Ibu ajak baby Afkar saja kalau begitu."
Aisyah tidak menjawab dan memilih merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
__ADS_1