
Hana yang baru selesai makan siang bersama suami tercinta, juga Marshall kini langsung meninggalkan restoran tersebut. Saat sedang berjalan menuju mobilnya, Hana teringat akan permintaan Aisyah beberapa hari lalu yang ingin sekali makan kue red Velvet.
Hana pun langsung membeli kue red Velvet di Muti cake, toko kue langganannya sekaligus tempatnya ia bekerja dulu. Kedatangan Hana disambut hangat oleh Bu Muti, pemilik toko kue.
"Hana... Apa kabar?" Bu Muti langsung cipika-cipiki dengan Hana. Bu Muti sangat senang Hana datang ke toko kue nya, karena keduanya sudah lama tidak bertemu.
"Kabarku baik, Bu. Kok, sekarang ibu terlihat kurusan." Kata Hana mengelus lengan Bu Muti.
"Iya, kemarin-kemarin ibu habis sakit," jawabnya.
"Sakit apa?"
"Biasalah, penyakit orang tua."
"Ibu harus lebih menjaga kesehatan ibu dan mudah-mudahan ibu sehat terus ya...." ucap Hana lembut.
"Aamiin...."
Setelah lepas kangen dengan Bu Muti, Hana pun membeli kue yang diinginkan oleh Aisyah. Setelah mendapatkan kue nya, Hana langsung pamit kepada Bu Muti.
Sesampainya di rumah Aisyah, Bejo yang mengantarkan Hana langsung mempertajam pandangannya.
"Nyonya, itu bukannya mas Dafa ya?" Ucapnya, sambil menunjuk ke arah Dafa.
"Iya, benar. Ngapain tuh anak datang kesini!"
Hana segera turun dari mobil dan tatapan Hana sangat sengit melihat Dafa yang berusaha membuka pintu.
"Eh! Berhenti !!" Teriak Hana penuh dengan guratan emosi.
Hana segera mendekati Dafa yang kini terpaku melihatnya. Hana menatap tajam wajah Dafa.
"Ibu...." Cicit Dafa.
"Mau apa kamu datang kesini!" Bentak Hana.
"Aku kesini cuma mau minta maaf sama Ais," jawab Dafa.
Aisyah yang mendengar suara ibunya langsung menarik tangan Hana dan bersembunyi di balik punggung Hana. " Ibu... Aku takut," bisik Aisyah dengan suara bergetar.
__ADS_1
Hana yang mendengar suara Aisyah yang terdengar ketakutan, semakin murka kepada Dafa.
"Lebih baik kamu pergi dari sini! Dan jangan ganggu Aisyah lagi." Hana jelas tidak mau Dafa mengganggu Aisyah, apalagi kalau Dafa sampai merusak kebahagiaan Aisyah, yang kini sedang digenggamnya bersama Byan. Lelaki yang selalu ada untuk putri tercintanya, tidak seperti Dafa yang justru membuangnya dan memberikan banyak luka untuk Aisyah. Dan sekarang dia datang untuk meminta kata maaf.
"Maaf, Bu. Aku nggak mau pergi dari sini sebelum Ais memaafkan aku." Tolak Dafa yang tidak peduli dengan peringatan Hana. Menurutnya ia pantas mendapatkan kata maaf dari Aisyah, ibu dari anaknya yang sedang dikandung Aisyah.
"Nggak ada kata maaf bagimu. Pergi kamu dari sini!" Usir Hana. "Bejo...! Seret dia dari sini."
Bejo yang berdiri di samping mobil segera melaksanakan perintah Hana. Bejo langsung menarik tangan Dafa, tapi Dafa menepis tangan Bejo.
"Oke, aku akan pergi dari sini, tapi dengan satu syarat, yaitu biarkan aku mengelus anakku." Pinta Dafa tegas, karena itu salah tujuannya datang menemui Aisyah. Dafa sangat ingin mengelus perut Aisyah, dan itu mampu membuat hatinya menghangat.
"Aku nggak mau perutku disentuh sama kamu!" Aisyah menolak keinginan Dafa untuk menyentuh perutnya. "Dan kamu harus ingat, saat di bandara kamu sudah menolak anakku. Jadi jangan berharap kamu dengan mudahnya menyentuh perutku "
"Kamu sudah mendengar perkataan Ais! Sekarang juga kamu pergi dari sini." Sekali lagi Hana mengusir Dafa.
"Baiklah, aku akan pergi, tapi ingat anak yang sedang kamu kandung itu juga anakku."
Setelah itu Dafa pergi dari hadapan Hana dan Aisyah. Walau hari ini dirinya gagal menyentuh calon buah hatinya, Dafa tidak akan pernah menyerah dan akan terus mendapatkan apa yang diinginkannya.
"Kamu nggak apa-apa, sayang." Hana sangat mengkhawatirkan Aisyah. Bagaimana pun Dafa pernah menyakiti Aisyah.
"Syukurlah. Ibu takut kalau Dafa ngapa-ngapain kamu. Untung saja saja ibu datang kesini, kalau nggak...." Hana mendesah samar, mengingat bagaimana Dafa mencoba untuk masuk ke dalam rumah dan andai ia tidak datang, entah apa yang akan Dafa lakukan kepada Aisyah.
"Sudahlah, Bu. Ais nggak mau ngomongin dia." Hana pun mengangguk.
"O iya, ibu baru ingat. Ibu kesini bawa kue red velvet." Hana menunjukkan kue nya dan Aisyah tersenyum senang melihat kue yang diinginkannya beberapa hari ini.
"Terima kasih, ibu ku sayang...." Lalu Aisyah dan Hana masuk ke dalam rumah.
Walau sekarang sudah sore, Hana sengaja menemani Aisyah sampai Byan pulang dan pastinya Hana harus berbicara dengan Byan mengenai Dafa. Hana tidak bisa tinggal diam, karena Hana yakin Dafa akan terus mengganggu Aisyah.
Dari depan terdengar suara deru mesin mobil, Hana bergegas keluar menemui Byan.
__ADS_1
"By...."
"Eh, ada ibu? Sudah lama ibu disini?" Tanya Byan, seraya mencium punggung tangannya Hana.
"Dari siang ibu disini."
Byan hanya mangut-mangut mendengar jawaban ibu mertuanya dan mengajak ibu mertuanya untuk masuk ke dalam rumah, tapi Hana mencengah Byan dan menarik Byan untuk duduk di kursi kayu yang ada di teras.
"Ibu mau bicara sama kamu."
"Bicara soal apa? Kayaknya penting banget," ujar Byan.
"Kamu tahu, tadi Dafa datang kesini."
"Apa? Dafa datang kesini?" Byan terkejut mendengar perkataan Hana.
"Iya, dan dia memaksa Ais untuk memaafkannya. By, bagaimana kalau kalian tinggal bersama ibu lagi. Soalnya ibu yakin kalau Dafa akan terus mengganggu Ais dan akan terus datang kesini." Hana jelas sangat mengkhawatirkannya dan pastinya takut sampai kesehatan Aisyah terganggu, gara-gara Dafa yang sering menemuinya.
"Ais nggak mau, Bu." Tolak Aisyah yang kini sudah berdiri di ambang pintu.
__ADS_1