Hati Untuk Aisyah

Hati Untuk Aisyah
Menghabiskan waktu bersama


__ADS_3

Di akhir acara, Byan mengajak Aisyah juga keluarganya untuk berdiri di depan panggung, untuk menerbangkan lampu lampion.


Satu persatu lampu lampion itu terbang dan terbawa hembusan angin malam. Membawa sejuta harapan untuk semuanya. Terutama untuk pernikahan Aisyah dan Byan, agar selalu bersama menjalani kehidupan ini, hingga maut memisahkan.


Aisyah tersenyum lebar melihat lampu lampion itu yang semakin meninggi dan Aisyah menggenggam tangan Byan.


"Terima kasih, kak. Karena kakak hidupku lebih berwarna dan selalu ada buat aku. Terima kasih, karena kakak sudah hadir menjadi pelengkap dihidupku dan menjadikan aku ratu di hatimu. Semoga kita selalu seperti ini. Selalu bersama-sama selamanya." Aisyah tersenyum menatap pujaan hatinya.


"Aku sangat-sangat mencintai kakak."


Byan mengecupi kepala Aisyah dan semoga semua harapannya terkabulkan.


Setelah pelepasan lampu lampion, Hana mendekati Aisyah dan Byan.


"Malam ini, ibu akan mengajak cucu-cucu ibu untuk tidur bersama ibu dan ayah. Jadi selamat bersenang-senang malam ini," kata Hana, lalu mengajak Afkar berjalan bersama aunty dan uncle kecilnya.


Byan tersenyum senang, karena ibu mertuanya itu sungguh pengertian. Niatnya juga Byan ingin meminta bantuan kepada mertuanya, tapi siapa sangka kalau ibu mertuanya itu sangat peka dengan keinginannya.


Jadi malam ini Byan dan Aisyah akan menghabiskan waktunya hanya berdua tanpa ada gangguan dari kedua buah hatinya.


Byan mengajak Aisyah ke sebuah penginapan yang tak jauh dari villa dan penginapan itu sudah di dekorasi layaknya kamar pengantin.


Sesampainya di penginapan, Byan langsung mengajaknya masuk ke kamar. Lagi-lagi Aisyah di buat terharu dengan kejutan manis dari Byan.


Aisyah tidak menyangka kalau Byan sudah mempersiapkan ini semua dan Aisyah merasa seperti pengantin baru, apalagi saat melihat ranjang yang bertabur bunga mawar dan juga lilin yang melengkapi kamar ini.


Byan memeluk Aisyah dari belakang dan melabuhkan ciumannya mesranya di bahu Aisyah yang sedikit terekspos, lalu ciumannya berpindah ke leher.


"Apa kamu sudah siap untuk aku ajak terbang," bisik Byan di telinga Aisyah.


"Dengan senang hati," jawab Aisyah yang kini membalikkan tubuhnya menghadap Byan. Lalu Aisyah melingkarkan kedua tangannya di leher Byan. Keduanya saling tatap penuh mesra, kemudian Aisyah mendekatkan wajahnya ke wajah Byan untuk meraup bibir tebal Byan.


Byan menyambutnya dengan penuh kelembutan dan memagut bibir tipis sang istri. Keduanya saling membelit lidah, saling membalas dengan penuh gelora.


Malam ini Byan tidak ingin terburu-buru, justru Byan ingin menikmatinya step by step permainan panasnya. Suara decapan ciuman keduanya kini menjadi saksi bisu dua insan yang tengah di mabuk oleh api asmara yang menggebu.


Ciuman Aisyah beralih ke rahang tegas Byan dan mengecupi di setiap garis rahangnya. Byan membiarkan Aisyah mengeksplorasi semua yang diinginkan Aisyah. Lalu Byan membawa kembali bibir tipis sang istri ke bibirnya.


Tangan Aisyah kini mulai membuka kancing baju yang dikenakan Byan. Satu persatu kancing baju itu terlepas, setelah itu ia campakkan baju tersebut ke lantai. Aisyah juga kini mulai membuka kancing celana Byan dan memegang sesuatu yang sudah berdiri tegak di balik celana Byan.


Aisyah terus merayunya dengan jemarinya dan memainkannya dengan penuh kelembutan. Byan mendesah di sela-sela ciumannya, karena Aisyah sudah membuatnya mulai terbang.


Ciuman itu terus berlanjut dan menyapu kulit leher Aisyah, serta memberikan stempel cintanya di sana. Lalu Byan membuka dress yang dikenakan Aisyah. Setelah itu Byan menggiring tubuh sang istri menuju tempat peraduan, dimana tempat yang akan menghangatkan tubuhnya.


Byan membaringkan tubuh Aisyah, kemudian Byan mengukungnya dengan kedua lengannya. Selanjutnya Byan melepaskan pakaian yang tersisa di tubuhnya maupun di tubuh Aisyah.

__ADS_1


Byan terus merayu kulit Aisyah dengan sentuhan bibirnya, juga tangannya. Aisyah mendesah menikmati sentuhan lembut yang Byan berikan.


Byan benar-benar selalu membuatnya terbang tinggi, menikmati permainan Byan pada tubuhnya.


"Kakak...." Racau Aisyah, karena kini wajah Byan tengah berada di gundukan kenyal miliknya.


Memainkannya dengan lembut dan juga menggigitnya dengan gemas. Yang bisa Aisyah lakukan adalah menekan kepala Byan agar lebih memperdalam sentuhan bibirnya di bagian puncaknya. Sedangkan tangannya Byan sudah bergerilya ke bawah perut Aisyah.


Merayu dan memanjakan Aisyah, hingga sesuatu kini Aisyah rasakan. Dimana pelepasan pertamanya datang.


Byan terdiam menikmati wajah sang istri saat melepaskan gelora pertamanya. Setelah itu Byan menegakkan tubuhnya dan menatap Aisyah yang masih merasakan sisa pelepasannya.


"Sayang, aku akan memulainya...." Bisik Byan.


Tanpa jawaban dari Aisyah Byan segera menembus hangatnya milik sang istri dan memacunya dengan perlahan. Byan ingin Aisyah juga menikmatinya tanpa harus terburu-buru seperti biasanya. Karena biasanya selalu terganggu dengan tangisan si kecil atau gangguan dari Afkar yang terkadang terbangun di saat dirinya tengah berada di atas puncak.


Aisyah benar-benar di ajak terbang menembus hangatnya gelora cinta yang Byan suguhkan. Racaun dan ******* terus keluar dari bibirnya, membuatnya kini tersesat semakin jauh dengan permainan panas Byan.


Peluh keringat kini membasahi sepasang suami istri itu yang semakin membara dengan cumbuan yang mereka lakukan. Hingga dimana titik kenikmatan itu datang dan melepaskan rasa yang terkungkung di dalam diri masing-masing.


"Sayang...." Racau Byan yang kini sudah berhasil menyemburkan benih-benih cintanya dan malam itu menjadi malam yang panjang bagi keduanya yang haus akan kehangatan cinta tanpa ada gangguan dari siapapun.


***


Di tempat yang berbeda, Afkar tengah menangis kencang karena saat ia bangun dari tidurnya, Afkar tidak melihat papa tersayangnya ada di sampingnya.


"Cup... Cup... Cup... Besok kita temui papa ya... Afkar jangan nangis." Aries terus berusaha menenangkan cucu tersayangnya.


"Au papa! Au papa!!" Afkar semakin menjerit dan membuat Aries sedikit kewalahan menghadapi Afkar yang terus menangis kencang.


"Sayang... Gimana ini?" Aries menjadi bingung dan rasanya tidak tega melihat cucunya menangis memanggil papanya. Sedangkan dirinya tak mungkin mengganggu kesenangan Byan dan Aisyah.


"Sini, sama Oma," kata Hana dan menggendong Afkar.


"Eh, ini apa ya...." Tunjuk Hana pada lukisan yang menggantung di dinding, tapi Afkar tidak menghentikan tangisannya. Ia terus memanggil papanya.


Hana kemudian mengelus punggung Afkar dan menyanyikan lagu pengantar tidur. Karena lelah, akhirnya Afkar tidur di gendongan Hana.


"Akhirnya tidur juga ini anak,' ujar Aries, yang merasa lega melihat Afkar tidur.


Kemudian Hana membaringkan Afkar di kasur dan menyelimutinya.


"Papa...." Lirih Afkar mengigau.


"Tidur aja nyebut papanya."

__ADS_1


"Wajarlah kalau Afkar terus memanggil papanya. Selama ini kan Afkar nggak pernah terpisah sama Byan," jawab Hana.


Suara ombak yang berkejaran dan kicauan burung meramaikan suasana pagi ini di pulau tersebut, serta seberkas cahaya masuk dari jendela yang sudah dibuka gordennya oleh Byan.


Aisyah mengerjapkan matanya karena terkena terpaan sinar matahari, lalu meregangkan otot-otot yang terasa remuk. Sebuah senyuman manis ia dapatkan dari orang yang sangat ia cintai.


"Selamat pagi istriku...." Sapa Byan.


"Pagi juga," jawab Aisyah.


"Cepat mandi. Kita harus menemui dua jagoan kecil kita."


Aisyah mengangguk dan menyibakkan selimutnya, lalu melenggang masuk ke kamar mandi tanpa busana.


"Kalau tidak ingat dengan Afkar dan baby Zero, sudah aku lahap kamu."


***


Disinilah sekarang, Byan dan Aisyah sudah bergabung dengan keluarganya. Afkar yang memang dari semalam merindukan papa Byan, kini langsung minta digendong oleh Byan dan membenamkan wajahnya di dada Byan. Seolah takut kalau Byan akan pergi lagi.


"Apa semalam Afkar rewel?" Tanya Aisyah.


"Bukan rewel lagi, Afkar terus menangis memanggil Byan," sahut Aries.


"Nggak aneh," jawab Aisyah.


Kedekatan Afkar dengan Byan begitu lengket. Bahkan setiap saat yang di tanyakan oleh Afkar adalah Byan. Aisyah benar-benar sangatlah bersyukur, karena Byan tidak pernah membedakan antara anak kandung dengan anak sambung.


Hari itu mereka semua menghabiskan waktunya menaiki kapal pribadi. Marshall, Aries dan Byan melakukan diving dan melihat terumbu karang dan juga melihat berbagai jenis ikan laut.


Setelah puas menyelam, kini Aries, Marshall dan Byan naik ke kapal.


"Papa! Liyat, ada lumba-lumba," teriak Shania sambil menunjuk lumba-lumba yang tengah berenang.


Afkar dan Shania sangat senang melihat lumba-lumba, begitu juga si kembar dan Andreo. Mereka semua kini tengah berdiri di pinggir pagar, menikmati keindahan laut.


"Papa! Lumba-lumba na kejal...!" Suruh Shania.


"Nggak bisa, sayang. Cukup kita lihat saja dari sini."


"Yaaah... Nda bica deh!" Shania langsung merunduk lesu. Dia pikir bisa mengejar lumba-lumba yang tengah berenang, tapi nyatanya tidak bisa. Padahal Shania ingin sekali mengelus kepala lumba-lumba, seperti yang ia lihat di televisi.


"Ayo kita ke dalam. Cuacanya sangat terik," ucap Aries dan semuanya melangkah masuk ke dalam kapal.


Ternyata di dalam sudah terhidang makanan untuk makan siang.

__ADS_1


Setelah hampir setengah hari menghabiskan waktunya berada di kapal, kini semuanya kembali ke villa dan sorenya melihat sunset juga bermain di tepi pantai.


__ADS_2