Hati Untuk Aisyah

Hati Untuk Aisyah
Syukuran buat Adelio


__ADS_3

Setelah tadi siang menghabiskan akhir pekan dengan para sahabat. Kini giliran malamnya, Aisyah dan Byan menghabiskan akhir pekannya dengan keluarga di rumah Aries.


Semua tengah berkumpul di ruang keluarga dan yang jadi pusat perhatian ialah baby Shania. Gadis kecil yang kini sudah pandai berbicara, walau bicaranya masih belum jelas.


Yang lain tengah menertawakan tingkah lucu baby Shania yang sangat menggemaskan, lain halnya dengan Adelio yang sejak tadi nampak murung.


Marshall yang dari tadi memperhatikan Adelio, kini mendekatinya dan membawanya ke pangkuannya.


"Iyo kenapa? Kok dari tadi diam saja?" tanya Marshall lembut.


Adelio hanya menggelengkan kepalanya, tapi tatapan matanya terlihat sedih.


"Cerita dong sama Abang? Siapa tahu Abang bisa bantu Iyo."


Adelio kemudian membenamkan wajahnya ke dada bidang Marshall dan terdengar suara Isak tangis Adelio. Marshall mengelus punggung Adelio dan semua orang menatap bingung dengan Adelio yang tiba-tiba menangis.


"Bucan, Iyo kenapa?" Tanya Marshall kepada Hana.


"Tanya tuh sama ayah kamu." Lalu pandangan Marshall berpindah ke wajah Aries.


"Iyo nggak mau di sunat." Ungkap Aries, penyebab Iyo menangis.


"Oh... Kirain kenapa?" Lalu Marshall menatap Iyo yang masih membenamkan wajahnya di dadanya.


"Kenapa Iyo nggak mau di sunat?"


"Kalau Iyo di sunat, nanti burung Iyo hilang semua...." Jawab Adelio dengan suara bergetar karena masih menangis.


Mendengar jawaban Adelio, membuat semuanya tertawa dan Adelio semakin kencang menangisnya.


"Iyo kata siapa, kalau nanti burungnya hilang semua?" Kali ini Byan yang bertanya.

__ADS_1


"Ka-kata te-teman i-iyo," jawab Adelio terbata-bata.


"Teman Iyo itu bohong dan lagian di sunatnya cuman sedikit, nggak semuanya." Lanjut Byan.


"Beneran? Kak By nggak bohong kan?"


"Nggak lah. Percaya deh sama kak By."


"Jadi Iyo maukan di sunat?" Timpal Hana.


"Iya, mau. Asalkan burungnya Iyo nggak hilang." Jawab Adelio dengan tatapan sendu.


"Kalau sampai burungnya hilang, mana mungkin aku bisa menghamili kamu, sayang," bisik Aries ke telinga Hana dan Hana melototi Aries, karena berbicara sembarangan di depan anak dan menantunya.


"Nanti kita perang-perangan lagi ya, tapi kamu yang mainnya di atas." Lanjut Aries berbisik. Hana segera mencubit pinggang Aries.


Aries hanya mengulum senyumnya, tapi untuk niatnya itu Aries tetap akan menjalaninya, menggembleng tubuh Hana di atas ranjang.


Karena Adelio sudah setuju untuk di sunat, maka Aries segera melaksanakannya dan membawa Adelio ke dokter.


Sebagai bentuk rasa syukurnya, Aries dan Hana mengadakan syukuran buat Adelio. Aries mengundang kerabat dekatnya, tak terkecuali Aditya dan Darren, sahabat sekaligus rekan bisnisnya.


Darren pun datang bersama anak dan istrinya, lalu Andreo segera mendekati Rendi dan mengajaknya bermain.


"Mana nih bujang sunatnya?" Tanya Dira, istri Darren.


"Tuh, di sana, lagi main game," jawab Hana, lalu Hana mengajak Dira menemui Adelio.


Aisyah pun kini ikut bergabung dengan semuanya. Ibu hamil ini menggunakan gamis berwarna nevi. Sedangkan Byan, ia tengah menyelesaikan pekerjaan terlebih dahulu, sebelum keluar dari perusahaan tempatnya bekerja.


"Eh, Tante Dira!" Seru Aisyah, lalu Aisyah cipika-cipiki dengan Dira.

__ADS_1


"Tahu-tahu perut Ais sudah besar aja," celetuk Dira sembari mengelus perutnya Aisyah.


Saat sedang asik bercengkrama dengan Dira. Aditya dan Bella datang, bahkan Bella membawa kado buat Adelio. Hana yang melihat mantan besannya, menatap tak suka kepada sepasang suami istri itu. Hatinya masih tak terima dengan sikap Dafa kepada Aisyah.


Beda dengan Hana, Aries justru menyambutnya dengan sangat baik. Hana mendengus melihat sikap Aries yang masih bersikap hangat dengan Aditya dan Bella. Kemudian Bella menghampiri Hana, sambil menyunggingkan senyumnya.


"Hai, Na. Lama kita nggak bertemu," ucap Bella.


"Iya," jawab Hana singkat, lalu pandangan Bella teralihkan kepada Aisyah dan Bella pun mendekati Aisyah.


"Gimana kabarmu, nak?" Tanya Bella sembari mengelus perut Aisyah.


"Seperti mama lihat, aku baik-baik saja."


"Gimana kabar cucu mama, apa cucu mama ini sehat?" Sembari menatap perut besar Aisyah.


"Baby-nya sehat, kok."


"Syukurlah mama senang dengernya."


Acara syukuran pun semakin siang semakin ramai. Kedatangan rekan bisnisnya Aries berdatangan, begitu juga dengan Byan yang kini sudah bisa hadir ditengah-tengah acara syukuran Adelio.


"Tadi Iyo nangis nggak pas disunat?" Tanya Byan kepada Aisyah.


"Nggak. Malah terlihat biasa saja."


"Baguslah. Aku pikir Iyo bakalan nangis kejer."


Di saat acara syukuran sudah mulai sepi, datanglah seseorang yang sangat tidak diharapkan oleh keluarga Aries. Siapa lagi kalau bukan Dafa. Ia sengaja datang untuk menunjukkan kalau dirinya peduli dengan Adelio dan selain itu ada maksud terselubung.


"Maaf, aku terlambat," ujar Dafa.

__ADS_1


Aries dan Hana terkejut dengan kedatangan Dafa dan Hana langsung menatap tajam wajah Dafa, tapi Dafa tetap bersikap cuek dan tidak peduli dengan tatapan Hana yang menghunusnya.


__ADS_2