Hati Untuk Aisyah

Hati Untuk Aisyah
Tidak menginginkannya


__ADS_3

Dengan langkah gontai, Aisyah keluar meninggalkan klinik. Ia baru saja selesai memeriksakan diri ke dokter kandungan dan saat ini usia kandungannya sudah memasuki enam minggu. Perasaan Aisyah tak karuan, ia bingung harus bagaimana. Aisyah takut, takut kalau dirinya tak bisa melewati kehamilannya tanpa seorang suami.


Byan yang sejak tadi berada di sampingnya, mengelus punggung Aisyah. Byan tahu, seperti apa perasaan Aisyah. Byan juga merasakan kesedihan yang Aisyah rasakan. Bahkan Byan bersedia menjadi tempat bersandarnya Aisyah.


"Aku harus bagaimana, kak...." Ucap Aisyah sendu. Jujur, Aisyah masih syok mengetahui kalau dirinya tengah berbadan dua. Bukan berarti Aisyah tak menerimanya, tapi keadaan membuat Aisyah galau. Mengingat Dafa tak menginginkannya.


"Yang pastinya, kamu harus menerimanya. Dia anugrah untuk kamu, agar kamu terus semangat. Walau aku tahu itu sangat berat, tapi aku yakin kamu bisa."


Aisyah menatap perutnya, lalu Aisyah mengelus perutnya. Disini, di dalam perutnya, ada kehidupan yang tengah tumbuh. Buah hatinya yang akan menjadi penyemangat hidupnya.


Nak, Mama janji akan selalu menjaga kamu sepenuh hati.


"Apa aku harus kasih tahu Dafa soal kehamilanku?" Tanya Aisyah yang merasa bimbang.


"Itu terserah kamu. Mau memberitahukan atau tidak, itu hak kamu."


Aisyah terdiam. Ia tengah berpikir, apa Dafa harus tahu atau tidak. Lama Aisyah menimbangnya, akhirnya Aisyah sudah membuat keputusan.


"Kak, tolong antarkan aku," pinta Aisyah, dengan tatapan memohon.


"Kemanapun, akan aku antarkan," sahut Byan, sembari memberikan senyumnya.


Aisyah dan Byan meninggalkan klinik tersebut dan kini mobil yang di kendarai oleh Byan tengah menuju rumah Dafa. Bagaimanapun Dafa ayah dari anak yang sedang di kandungnya dan Dafa berhak untuk tahu soal kehamilannya.


Sesampainya di rumah Dafa. Aisyah bergegas turun dari mobil dan melangkah cepat ke teras rumah dan kebetulan di samping teras ada pembantunya yang tengah membersihkan tanaman.


"Bi, Dafa-nya ada nggak?"


"Den Dafa barusan pergi naik taksi."


"Bibi tahu kemana perginya?"


"Nggak tahu, Non."


Aisyah langsung lesu, karena tidak ada Dafa di rumahnya. Aisyah kembali ke mobil dengan langkah gontai.


"Ais!" Panggil Difa, yang keluar dari dalam rumah.


"Difa...."


"Kenapa? Apa ada masalah lagi dengan Dafa?"


Aisyah mengangguk dan menatap sendu wajah Difa.

__ADS_1


"Kamu tahu, kemana Dafa pergi?"


"Memangnya ada masalah apa?"


"Aku hamil dan aku harus kasih tahu Dafa soal kehamilanku," jawab Aisyah.


"Hamil?! Ya Tuhan, Dafa belum lama pergi ke bandara. Dia mau ke Jepang dan sekitar dua jam lagi pesawatnya terbang."


"Apa? Ke Jepang!"


"Iya," jawab Difa, sembari menganggukkan kepalanya.


Aisyah segera naik ke mobil dan meminta Byan menuju bandara. Aisyah harus segera memberitahukannya ke Dafa, sebelum Dafa pergi ke Jepang.


Perasaan Aisyah menuju bandara terasa sangat Lama dan berkali-kali Aisyah melirik jam di handphonenya.


Tiba di bandara, Aisyah segera mencari Dafa ke pintu masuk keberangkatan dan berharap Dafa masih diluar pintu. Dengan langkah cepat, Aisyah mencari Dafa.


Aisyah bernafas lega, ketika melihat Dafa tengah mengantri untuk check-in.


"Dafa...!" Panggil Aisyah dari luar pintu masuk. Aisyah akan masuk ke dalam, tapi di cegah oleh penjaga keamanan.


"Dafa...!" panggil Aisyah lagi.


Dafa menoleh dan terkejut melihat Aisyah tengah memanggilnya. "Ngapain tuh cewek ngejar aku kesini?" gerutu Dafa, yang melihat Aisyah di luar.


"Ck... mau apalagi sih!" kesal Dafa.


Sebenernya Dafa enggan mendekati Aisyah, tapi melihat tatapannya, akhirnya dafa menghampiri Aisyah.


"Lima menit. Kamu mau bicara apa!" kata Dafa ketus.


"Dafa... Aku hamil...."


"Hamil? Terus...." Tanggapan Dafa ternyata biasa saja. Tidak terlihat kalau Dafa senang mendengar berita kehamilannya. Bahkan terkesan cuek.


"Kok terus. Apa kamu tidak senang aku mengandung anak kamu?"


"Senang? Buat apa aku harus senang," jawab Dafa acuh.


"Apa kamu tidak menginginkannya?" Ucap Aisyah lirih.


"Nggak! Aku nggak menginginkan anakmu itu. Buatku anak yang kamu kandung bukanlah anakku," ucap Dafa tanpa perasaan.

__ADS_1


Hati Aisyah langsung terasa perih, bagaikan tersayat pisau yang tajam. Air matanya luruh, begitu teganya Dafa terhadap buah hatinya yang tak bersalah.


Aisyah tidak mempermasalahkan jika Dafa tidak menginginkannya, tapi ternyata Dafa juga tidak menginginkan buah hatinya. Bertambah sakit lah hatinya Aisyah.


Byan yang sejak tadi terdiam, langsung menggeram emosi. Tanpa pikir panjang, Byan menghajar Dafa. Begitu jahatnya Dafa kepada Aisyah dan bayi yang sedang di kandungnya.


Bagi Byan, Dafa adalah lelaki pecundang. Lelaki yang tidak memiliki perasaan terhadap buah hatinya. Lelaki brengsek yang pernah ditemuinya. Lelaki yang tidak memiliki hati nurani.


Byan terus memukul Dafa, tidak peduli Dafa mati ditangannya. Yang jelas, Byan benar-benar sangat marah atas perlakuannya terhadap Aisyah.


Penjaga keamanan segera melerainya. "Baji ngan kamu!" Maki Byan, penuh emosi. Byan berusaha melepaskan diri dari cekalan petugas keamanan. Tatapannya begitu berapi-api.


"Dengar ya, sampai kapanpun aku tidak akan peduli dengan Aisyah dan anaknya. Bagiku dia orang asing dan sampai kapanpun aku tidak sudi mengakui anaknya Ais!" Ucap Dafa, yang memang tidak mau menerima anak yang dikandung Aisyah.


Darah Byan semakin mendidih. Byan ingin sekali memukul Dafa lagi, tapi tubuhnya ditahan oleh petugas keamanan.


"Saya mohon, jangan ada keributan disini," kata petugas keamanan.


"Lepaskan aku! Aku mau check-in," tukas Dafa, yang menatap sengit wajah Byan.


Byan menoleh ke tempat Aisyah berdiri, tapi ternyata Aisyah tidak ada di sana.


"Ais kemana?" Seketika rasa panik, cemas menjadi satu. Byan segera mencari Aisyah disekitar bandara.


Lama mencari Aisyah ke sana kemari, akhirnya Byan menemukan Aisyah yang tengah duduk seorang diri sambil menangis.


Perlahan, Byan mendekati Aisyah yang tengah terisak. Hati Byan ikut terasa sakit, melihat kesedihan Aisyah.


"Ais...." Panggilnya lirih.


Byan kemudian duduk disampingnya dan meraih bahunya untuk membawanya ke dalam pelukannya.


"Menangis lah jika itu membuatmu lega."


Aisyah langsung menyembunyikan wajahnya di dada Byan. Aisyah menumpahkan tangisannya yang begitu menyesakkan dadanya. Aisyah masih tak menyangka, kalau Dafa tidak menginginkan buah hatinya.


Byan terus mengelus punggung Aisyah yang bergetar karena isak tangisnya yang begitu menyayat hati. Lama Aisyah menangis di pelukan Byan , membuat Aisyah lelah. Byan melirik Aisyah yang ternyata tengah tidur, bahkan air matanya masih membasahi pipinya. Byan mengelap air matanya Aisyah dan mengecup pucuk kepalanya.


Aisyah, aku berjanji akan membahagiakan kamu.


Aku berjanji akan menikahimu dan aku berjanji akan menjadi ayah buat anakmu.


Cukup sudah kamu menangisi lelaki brengsek itu. Sudah saatnya kamu berbahagia dan melupakan kepedihan ini.

__ADS_1


Ais... izinkan aku menjadi tempat bersandarmu, menjadi tempat berkeluh-kesah mu.


Aku ingin melihat kamu tersenyum lagi seperti dulu....


__ADS_2