
Aisyah menatap kesal wajah Byan, yang kini duduk di sampingnya. Byan kemudian mencium bahunya Aisyah dan merembet ke pipinya Aisyah. Mencoba untuk merayunya agar tidak marah.
Aisyah menggeser duduknya dan istri mana yang tak marah, kalau suami tercintanya ternyata suka bermain dengan perempuan lain.
Byan membuang nafasnya perlahan dan ia harus sabar menghadapi ibu hamil yang tengah marah itu dan ia harus pelan-pelan menjelaskannya.
Awas kamu Dhika, akan aku tendang bokong kamu! Gara-gara kamu asal ngomong, istriku marah. Geram Byan di dalam hatinya.
"Sayang--."
"Stop! Ternyata kamu kayak gitu dibelakang aku." Aisyah sungguh sangat marah. Tak terima kalau selama ini dirinya di bohongin sama Byan. Ternyata lelaki itu sama saja. Sama-sama hanya bisa nyakitin. Pikir Aisyah.
"Kamu salah faham, sayang. Aku nggak kayak gitu, sumpah!" Byan mengangkat dua jarinya berbentuk huruf V.
"Dhika itu lempar batu sembunyi tangan dan kamu jangan percaya dengan ucapan Dhika yang nggak jelas itu."
"Terus aku harus percaya gitu sama kamu!" Ketus Aisyah.
"Harus. Karena aku nggak pernah berselingkuh dari kamu dan hanya kamu wanita yang sangat aku cintai. Tidak ada orang lain di hatiku selain kamu."
"Bohong!"
"Beneran, sayang... Aku nggak bohong."
Kemudian Aisyah menatap kedua bola matanya Byan. Mencari kejujuran dari matanya Byan.
__ADS_1
"Sayang... Hati aku tuh sudah ter Ais-Ais tahu dan hatiku nggak bisa menemukan jalan keluar dari cintamu." Kali ini Byan mencoba mengikuti caranya Dhika, jika sedang merayu gebetannya yang sedang ngambek.
"Ck...." Aisyah berdecih kesal.
Byan kemudian bangkit dan membuka bajunya, lalu Byan berlutut di hadapan Aisyah. Byan menarik tangan Aisyah dan meletakkannya di atas dadanya.
"Di sini, di dalam hati ini sudah terukir indah namamu. Hanya namamu yang sudah mengisi seluruh relung hatiku, bahkan tak ada sedikitpun celah untuk perempuan lain masuk ke dalam sini."
Mendengar isi hatinya Byan, Aisyah menjadi meleleh dan Aisyah melihat kejujuran dari kedua maniknya Byan.
"Percayalah... Hatiku ini hanya untuk kamu." Sekali lagi Byan meyakinkan Aisyah, kalau memang dirinya begitu sangat mencintainya.
"Aku percaya sama kakak, tapi ... Jika kakak ketahuan mengkhianati cintaku, maka aku tidak akan memberi kesempatan buat kakak."
"Aku janji, tidak akan mengkhianati kepercayaan kamu," Ucap Byan senang, kemudian Byan menarik tengkuk Aisyah dan mencium bibir ranum Aisyah.
Selama belum ada security yang bekerja di rumahnya dan selama Byan sedang kerja, Byan meminta Aisyah untuk berada di rumah orang tuanya atau di rumah Marshall. Walau di rumah ada yang kerja, tetap saja Byan merasa tidak tenang.
Sebelum pulang, Byan menyempatkan diri mampir ke supermarket untuk membeli buah-buahan untuk persediaan di rumah, sebab Aisyah sangat suka makan buah. Byan juga membeli beberapa cemilan untuk adik-adik iparnya.
Selesai membeli buah-buahan dan jajanan, Byan tanpa sengaja bertemu dengan papi dan Maminya di pintu keluar supermarket.
"Papi...." Byan tak menyangka kalau dirinya akan bertemu dengan kedua orang tuanya. Byan dan papinya saling temu pandang dan rasanya Byan ingin memeluk papinya saat itu juga. Bagaimanapun Byan sangat merindukan papinya, orang yang paling berharga dalam hidupnya.
Pak Sanjaya kemudian melengos pergi dan tidak peduli dengan tatapan sedih Byan. Mami Yuyun langsung mendekati Byan dan memeluk putranya.
__ADS_1
"Kamu sendirian ke sini?" Tanya Mami Yuyun.
"Iya, mi," jawab Byan dan Mami Yuyun mengelus lengannya Byan, sembari memberikan senyumannya.
"Mami...! Jadi nggak belanjanya?!" Teriak Pak Sanjaya, yang sudah masuk ke dalam supermarket.
"Sana. Mami sudah di panggil sama papi," suruh Byan dan Mami Yuyun segera menghampiri suaminya.
Byan tertunduk lesu, melihat sikap papinya yang terlihat acuh dan dingin. Kemarahannya ternyata masih mengukung papinya.
"Kapan papi akan memaafkan aku," gumam Byan sedih, lalu Byan segera meninggalkan supermarket dan menjemput Aisyah di rumah orang tuanya.
Sedangkan Pak Sanjaya, hanya diam selama menemani istrinya belanja.
Pertemuannya yang tak sengaja dengan Byan, membuat hatinya merindukan putra semata wayangnya, tapi mengingat Byan diam-diam memilih menikah dengan Aisyah membuat hatinya kecewa.
Semarahnya seorang ayah, tidak akan berlama-lama bila sang anak terus merayu hatinya dan selama itu pula, Byan tidak ada usaha meraih hatinya agar memaafkannya.
"Papi kenapa diam saja?" Tanya Mami Yuyun.
"Nggak kenapa-napa. Apa sudah selesai belanjanya?"
"Sudah." Sembari mendorong troli nya. " Pi... Apa papi masih marah sama Byan?" Mami Yuyun sangat berhati-hati saat membicarakan tentang Byan.
"Kalau sudah selesai, ayo kita bayar." Pak Sanjaya memilih mengalihkan perkataan Mami Yuyun.
__ADS_1
Mami Yuyun mendesah samar, melihat suaminya tetap acuh jika sudah membicarakan soal Byan.
Sampai kapan sikap papi seperti ini terus. Padahal Mami tahu kalau papi itu sangat merindukan Byan.