Hati Untuk Aisyah

Hati Untuk Aisyah
Omelan Aisyah


__ADS_3

"Lain kali kamu jangan terlalu baik sama perempuan lain. Aku nggak mau perempuan-perempuan itu menaruh hati sama kamu, terus merebut kamu dari aku!" Omel Aisyah.


"Iya, siap Bu bos," jawab Byan yang tidak mau berdebat sama Aisyah.


Byan tidak mempermasalahkan Omelan panjang Aisyah, karena seorang istri pasti ingin menjaga apa yang sudah menjadi miliknya. Lagian dirinya juga tidak ada niatan yang aneh-aneh, hanya sekedar membantu tidak lebih.


"Kita beli satenya di sana saja," tunjuk Aisyah dan kebetulan penjual satenya tidak ramai.


Byan pun menurutinya dan menepikan mobilnya, setelah itu Byan dan Aisyah membeli sate di tempat tersebut.


"Sama karyawan perempuan juga kakak nggak boleh terlalu baik. Pokoknya kakak harus bersikap dingin." Ternyata Omelan Aisyah masih berlanjut dan Byan hanya mengangguk saja.


"Terus kakak itu harus bla... bla... bla...." Aisyah tidak berhenti mengasih wejangan panjang dan Byan lagi-lagi hanya mengangguk.


Aisyah berhenti berbicara ketika sate ayamnya sudah jadi.


***


Paginya sebelum berangkat kerja, Byan menggendong Afkar dan membawanya keluar dari kamar. Byan turun dan menyerahkan Afkar kepada bibi Nuri.


"Bi, tolong jagain Afkar dulu." Ucap Byan.


"Iya, mas," jawab bibi Nuri dan membawa Afkar ke kamarnya. Semenjak pindah rumah, bibi Nuri juga ikut pindah dan Byan mengontrakkan rumah buat keluarga bibi Nuri.


Byan kembali ke kamarnya dan mengunci pintu kamarnya, lalu Byan melangkah ke kamar mandi dan masuk. Byan tersenyum miring melihat Aisyah tengah mandi, Byan memandangi tubuh polos istrinya, lalu Byan mendekatinya.


Aisyah terkejut ketika Byan memeluknya dari belakang dan menciumi pundaknya.


"Kakak apa-apaan sih!" Gerutu Aisyah, tapi Byan semakin bergerilya menggapai apa yang ingin ia sentuh dari tubuh Aisyah.


"Aku mau sarapan dulu, sayang," bisik Byan sembari menggigit cuping Aisyah.


"Tapi kak... Uuh...." Aisyah mendesah, ketika tangan Byan merayu bagian sensitifnya.


Pagi ini Byan ingin sekali berolahraga panas dan sudah dari bangun tidur Byan sangat menginginkannya melakukan adegan hareudang.


Pada akhirnya Aisyah pasrah dengan apa yang Byan lakukan dan menerima setiap hentakan yang Byan lakukan. Walau permainan Byan kali ini sangat liar dan menggebu-gebu, seolah-olah tidak pernah merasakannya.


"Huh... Akhirnya," gumam Byan sesaat setelah mengeluarkan bening cintanya.


Selesai acara hareudang di kamar mandi, Byan bersiap-siap untuk berangkat kerja dan Aisyah sudah selesai mengeringkan rambutnya.


"Kak, nanti aku mau pergi ke rumah ibu."


"Hmm... Pulangnya mau di jemput atau nggak."


"Pengennya sih di jemput, sekalian kita ke rumah mami. Kita kan sudah lama nggak ke rumah mami."


"Oke, nanti aku jemput."


Byan dan Aisyah segera keluar dan sarapan bersama. Pagi ini Aisyah membuatkan sarapan omelette sayur, agar suaminya itu bisa sarapan pagi dan tidak melulu makan roti tawar.


"Afkar mana, kak?" Tanya Aisyah, sebab Aisyah tidak melihat Afkar.

__ADS_1


"Aku titipin sama bibi Nuri," jawab Byan sambil menyendokkan omelette ke mulutnya.


"Oh...."


Selesai sarapan Byan segera berangkat dan Aisyah langsung bersiap-siap untuk pergi ke rumah orang tuanya.


***


Seperti janjinya, sepulang dari kantor Byan langsung menjemput Aisyah di rumah mertuanya. Afkar yang tengah bermain sama Andreo segera merangkak menghampiri Byan yang baru tiba di rumah.


"Pppaaappaap...." Panggil Afkar.


"Jagoan papa pengen langsung di gendong." Cetus Byan dan melabuhkan ciuman di pipi gembul Afkar.


"Mau berangkat sekarang atau nanti?" Ucap Byan kepada Aisyah.


"Memang kalian mau kemana?" Tanya Hana.


"Mau ke rumah mami," jawab Aisyah.


"Oh...."


Aisyah dan Byan langsung berangkat ke rumah Mami Yuyun. Tiba di sana suasana sudah malam, Byan dan Aisyah segera masuk ke dalam rumah.


"Mi... Pi...." Panggil Byan.


"Eh! Cucu ganteng nenek datang ke rumah nenek," seru Mami Yuyun yang sangat senang dengan kedatangan anak dan mantunya.


Mami Yuyun langsung menggendong Afkar dan membawanya duduk di pangkuannya.


"Mi, Pi... Aku mau memberi kabar gembira," ucap Byan.


"Kabar gembira apa?" Sahut Pak Sanjaya.


"Ais saat ini tengah hamil lagi," ungkap Byan.


Mami Yuyun dan Pak Sanjaya terkejut mendengarnya dan pastinya keduanya sangat bahagia mendengar kehamilan Aisyah.


"Alhamdulillah...." Ucap Mami Yuyun. "Ah! Mami senang bakal punya cucu lagi."


Kemudian Mami Yuyun memeluk gemas tubuh Afkar dan dari arah tangga terdengar suara langkah kaki.


"Loh! Om Revan!" Byan terkejut melihat adik dari maminya.


"Apa kabar, By," tukas Revan.


"Baik. Kapan Om datang ke sini?"


"Kemarin," jawabnya, lalu pandangan Revan teralihkan kepada Aisyah yang tengah duduk.


"Siapa tuh cewek?" Tunjuk Revan dengan gerakan dagunya.


"Oh, dia istriku. Sayang, kenalkan dia Om Revan adiknya Mami."

__ADS_1


Lalu Aisyah berkenalan dengan Revan. "Aisyah...."


"Revan," jawabnya dan tatapan Revan begitu lekat menatap wajah Aisyah.


Cantik juga istrinya Byan.


"E'hem." Byan berdehem, karena Revan tak kunjung melepaskan jabatan tangannya dengan Aisyah.


"Kalau gitu aku pergi dulu," pamit Revan.


"Iya."


Revan pun pergi, tapi sebelum melangkah keluar Revan sekali lagi Revan melirik Aisyah dan tersenyum smrik.


"Anak itu, setiap malam selalu saja keluyuran," cibir Pak Sanjaya kepada adik iparnya.


"Papi kayak nggak tahu aja Revan kayak gimana," timpal Mami Yuyun.


"Iya, papi tahu. Semoga saja Revan cepat berubah. Umur sudah tua, tapi kelakuan kayak gitu."


"Sudahlah, jangan bahas Revan lagi." Jengah Mami Yuyun, karena suaminya selalu saja mengeluhkan kelakuan buruk Revan.


***


Malampun semakin larut, Difa yang kala itu baru pulang dari rumah temannya mendadak menghentikan mobilnya.


"Kenapa lagi dengan mobilnya!" Gerutu Difa, lalu Difa keluar dari mobil dan mengecek ban mobilnya.


"Bannya kempes lagi!" Difa jadi bingung.


Difa menelpon montir yang bekerja di bengkel papanya. Mungkin karena sudah larut, telponnya tidak diangkat. Lalu Difa menelpon Aditya, tapi ponsel papanya tidak aktif..


"Aku lupa, papa kan lagi di luar kota. Terus aku minta tolong sama siapa dong?" Difa tengok kanan-kiri, berharap ada orang lewat dan mau membantunya mengganti ban mobilnya.


Pada akhirnya Difa terpaksa mengganti ban mobilnya sendiri. Saat sedang berusaha mengendorkan baut ban mobilnya, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depannya.


"Kenapa neng mobilnya?" Tanya seorang lelaki yang baru keluar dari mobil tersebut.


Difa mendongakkan kepalanya dan menatap dingin wajah lelaki itu, lalu Difa kembali melanjutkan mengendurkan baut ban mobil.


"Perlu bantuan nggak?" Tawar lelaki itu.


"Nggak perlu!" Jawab Difa ketus. Akan tetapi lelaki itu justru menyentuh pundak Difa dan menarik Difa.


"Eheh... Apa-apaan ini!" Sentak Difa.


"Daripada ganti ban sendiri, mending ikut Abang."


"Ogah! Lepaskan!" Hardik Difa yang berusaha melepaskan tangannya dari genggaman lelaki itu.


Difa kemudian memukul tangan lelaki itu dengan kunci roda mobil. Kesal karena Difa memberontak, lelaki itu justru mendorong tubuh Difa ke mobil dan berusaha mencium bibir Difa.


Difa berusaha menghindari ciuman lelaki itu, dan ingin sekali memukul kepala lelaki itu dengan kunci roda mobil, tapi sayangnya tangannya Difa di tahan oleh lelaki itu, begitu juga dengan kakinya yang di jepit olehnya. Sehingga Difa kesusahan menggerakkan kaki dan tangannya.

__ADS_1


Lelaki itu kini sudah menyambar bibirnya Difa dan tanpa terasa air mata Difa menetes. Difa terus berusaha melepaskan diri tapi lelaki semakin menekan ciumannya.


"Berhenti...!"


__ADS_2