
Aisyah ingin sekali mengutuk dirinya sendiri, karena darah yang keluar dari mulutnya bukan di waktu yang tepat.
Aisyah sudah berusaha untuk menutupinya, agar Byan tidak mencemaskan kondisinya. Tapi ternyata, sekarang Byan melihat dirinya yang mengeluarkan darah dari mulutnya.
Aisyah tidak bisa mengelak lagi dan hanya bisa menumpahkan tangisannya di pelukan Byan.
Byan juga meneteskan air matanya. Kini rasa cemasnya semakin mendominasi hati dan pikirannya.
"Sayang, kita harus ke rumah sakit sekarang juga."
Aisyah hanya mampu menganggukkan kepalanya. Tenggorokannya terasa tercekat dan tak sanggup menjawabnya. Tiba-tiba, tubuh Aisyah merosot dan Byan semakin panik melihat Aisyah yang pingsan.
"Sayang, bertahanlah...." Byan langsung mengangkat tubuh Aisyah dan membawanya keluar.
Dengan perasaan yang sangat mencemaskan Aisyah, Byan segera membawa Aisyah ke rumah sakit dan berharap kondisi Aisyah baik-baik saja. Setibanya di rumah sakit, Aisyah segera diperiksa.
Byan terus memperhatikan dua dokter yang tengah memeriksa Aisyah. Dokter spesialis penyakit dalam dan dokter kandungan itu saling tatap. Byan tak tahu dengan tatapan dokter tersebut, lalu dokter Azizah mengalihkan pandangannya ke arah Byan.
"Bisa ikut dengan saya," kata dokter Azizah.
Byan pun mengangguk kecil dan mengikuti langkah dokter Azizah dari belakang.
"Jadi gimana kondisi istri saya?" Tanya Byan yang sangat penasaran dengan keadaan Aisyah.
"Sebenarnya saya sudah memperingati istri anda untuk tidak melanjutkan kehamilannya, mengingat penyakit yang tengah di deritanya. Tapi ternyata, istri anda tetap kekeuh mempertahankannya kehamilannya dan apa yang saya takutkan kini terjadi."'
__ADS_1
"Terus sekarang bagaimana, dok?" Byan benar-benar sangat mencemaskan Aisyah dan betapa bodohnya dirinya ini, yang tidak mengetahui kondisi Aisyah yang sebenarnya, padahal setiap bulan ia selalu menemani Aisyah cek kandungannya.
Ia pikir, semuanya baik-baik saja. Bahkan selama ini Aisyah tidak menunjukkan rasa sakitnya. Byan terus merutuki dirinya yang tak becus menjadi seorang suami.
"Terpaksa harus melakukan operasi Caesar, demi menyelamatkan bayinya." Sambung dokter Azizah.
"Maksud dokter? Kenapa hanya menyelamatkan bayi saja, lalu istri saya gimana?" Tanya Byan penuh pertanyaan.
"Sebenarnya ini sangat berat untuk saya jawab, sebab operasi ini bisa saja membahayakan keduanya, mengingat kondisi istri anda yang semakin drop." Imbuh sang dokter.
"Maksudnya? hanya satu diantara anak dan istriku yang selamat?"
Dokter Azizah mengangguk kecil.
Byan menundukkan kepalanya dan kini air matanya menetes tanpa bisa dicegah. Berkali-kali Byan membuang nafas beratnya, dadanya terasa sesak mendengar ucapan dokter Azizah.
Bagaimanapun Byan tidak mau kehilangan keduanya. Dua-duanya sama-sama berarti dalam hidupnya.
"Kita berdoa saja. Semoga anak dan istri anda selamat."
***
Sebelum Aisyah menjalani operasi Caesar, Byan terus menatap lekat wajah Aisyah. Byan kemudian mencium tangan Aisyah yang tengah digenggamnya.
Byan terisak sedih, menatap Aisyah yang belum membuka matanya. Lalu Byan menelungkupkan kepalanya di samping bahu Aisyah. Tubuh Byan bergetar menahan tangisannya. Sungguh, ini sangatlah berat baginya.
__ADS_1
Tepukan lembut di punggung Byan dan Byan mendongakkan kepalanya menatap seseorang yang sangat di cintainya itu kini tengah tersenyum manis.
"Ais...." Byan langsung mengecup kening Aisyah dalam-dalam.
"Kakak, kenapa menangis?"
"Karena kamu membuatku menangis," jawab Byan sambil mengelus pipi Aisyah.
"Kenapa kamu menutupi semuanya dariku."
"Karena aku nggak mau membuat kakak mengkhawatirkan kondisiku," jawab Aisyah dengan tatapan sendu. Kemudian Aisyah menarik tangan Byan dan mencium punggung tangannya Byan.
"Kak, berjanjilah padaku. Jika ada sesuatu hal yang buruk terhadapku, kakak harus memilih bayiku." Aisyah berkata dengan suara bergetar dan air matanya berlinang membasahi pipinya.
Byan menggelengkan kepalanya. Mana mungkin ia harus memilih antara istri atau anaknya. Dua-duanya sama-sama berharga di dalam hidupnya.
"Aku nggak bisa memilih salah satunya. Aku hanya bisa menginginkan kalian berdua selamat. Kamu harus ingat saat kita pergi ke pantai, bukankah kamu ingin kita bertiga pergi ke pantai dan bermain pasir bersama anak kita."
Aisyah hanya tersenyum getir. Ia tahu kalau hidupnya tidak bisa bertahan lebih lama lagi dan itu hanya harapan semu, yang tak mungkin terjadi.
"Kamu harus janji sama aku, kalau kamu harus berjuang demi aku. Aku mohon...."
"Aku nggak janji, kak. Aku nggak janji...." Aisyah semakin terisak tersedu-sedu. Ia tidak mungkin menolak takdir dan jika Tuhan sudah menghendakinya, maka ia harus siap melepaskan semuanya. Melepaskan cintanya yang begitu besar terhadap Byan.
"Aku nggak mau tahu... Pokoknya kamu harus hidup lebih lama denganku dan menua bersamaku."
__ADS_1
Byan kini memeluk Aisyah, keduanya sama-sama menumpahkan rasa sedihnya. Byan tidak akan pernah sanggup bila harus kehilangan wanita yang sangat di cintainya. Byan hanya bisa berharap, semoga ada keajaiban untuk Aisyah.