Hati Untuk Aisyah

Hati Untuk Aisyah
Saling memaafkan


__ADS_3

Hari-hari Aisyah begitu berwarna karena kehadiran buah hatinya yang semakin lucu dan menggemaskan. Walau harus bergadang hampir setiap malam, tapi Aisyah sangat menikmatinya sebagai mama muda.


Hana juga sering membantu Aisyah mengurus baby Afkar dan di rumah akan sangat riuh jika semuanya tengah kumpul di ruang keluarga.


Terkadang Bella juga sering berkunjung ke rumah Hana, hanya untuk melepaskan rasa rindu kepada sang cucu tercinta.


Aries yang melihat semua anaknya tengah berkumpul dan bersenda gurau membuat hati ayah lima orang anak itu selalu diliputi rasa bahagia yang membuncah. Apalagi melihat Aisyah yang sudah kembali sehat dan memiliki seorang suami yang begitu menyayanginya, juga cucu yang sangat menggemaskan.


Hana menepuk pundak Aries dan duduk di samping Aries, kemudian kepala Hana menyender ke bahu Aries.


"Kenapa melamun?" Tanya Hana.


"Aku nggak lagi melamun, tapi aku lagi merasakan kebahagiaan melihat anak-anak kita berkumpul bersama lagi. Setelah semua yang sudah kita lewati, apalagi kita hampir saja kehilangan Ais."


Hana mengangguk setuju dan bersyukur Aisyah sudah sembuh, itu semua berkat pengorbanan Dafa yang tak akan pernah ia lupakan.


"Kak Ais, Yaya mau gendong dede Afkar," pinta Adelia.


"Nggak boleh! Kamu kan masih kecil," timpal Adelio.


"Boleh ya, kak," paksa Adelia dan mengabaikan teguran Adelio.


"Ih! Di bilangin ngeyel. Nanti kalau Dede Afkar jatuh gimana?" Omel Adelio.


Adelia mencebikan bibirnya kesal dengan Omelan Adelio. Aisyah hanya tersenyum melihat Adelia menekuk wajahnya.


"Yaya jangan marah. Apa yang di kasih tau Iyo itu benar." Imbuh Aisyah dan membuat Adelia semakin menekukkan wajahnya.


Berbeda dengan si bungsu. Andreo tengah asik memvideokan baby Afkar lewat ponsel milik Byan. Baby Afkar saat ini sedang menggerak-gerakkan kaki dan tangannya, membuat Andreo gemas melihatnya.


Saat tengah fokus mengabadikan baby Afkar, ponsel milik Byan berdering nyaring.


"Kak, hapenya bunyi," kata Andreo sembari menyerahkan ponselnya ke tangan Byan.


Byan segera mengangkat telponnya yang ternyata dari Mami Yuyun.


"Halo, mi...." Jawab Byan.


"By... Papimu, By...." Suara Mami Yuyun bercampur dengan Isak tangis.


"Kenapa dengan papi?"


"Papi terkena serangan jantung dan sekarang papi lagi di rumah sakit...." Seketika Byan mencemaskan keadaan papinya.


"Mami tenang dulu. Aku segera ke sana."


"Iya... Cepat ke sini."

__ADS_1


"Iya, mi...." Sambungan telpon pun terputus. Semua yang ada di sana menatap penuh tanya.


"Kenapa dengan papi?" Tanya Aisyah.


"Papi masuk rumah sakit dan kata mami, papi terkena serangan jantung. Aku langsung berangkat ke rumah sakit ya, sayang."


"Iya...."


"Ayah ikut." Timpal Aries dan Byan mengangguk sebagai jawabannya.


Byan dan Aries segera berangkat ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan Byan berusaha tetap tenang, walau perasaannya diliputi rasa khawatir.


Tiba di rumah sakit. Byan mempercepat langkah kakinya dan ingin segera melihat keadaan papinya.


"Mi...." Byan datang sambil membuka pintunya.


"Byan," jawab Mami Yuyun sendu.


Byan mendekati Mami Yuyun dan memeluk Mami Yuyun, tapi pandangannya mengarah ke papinya yang kini tergolek di atas brankar.


"Kenapa papi bisa terkena serangan jantung?" Tanya Byan, karena setahu Byan, papinya itu termasuk orang yang menjaga pola hidup sehat.


"Kata dokter papimu kelelahan dan stress berat. Karena akhir-akhir ini perusahaan papimu tengah bermasalah." Terang Mami Yuyun sambil menyeka air matanya.


"Terus dokter berkata apa lagi?"


"Syukurlah," jawab Byan lega.


"Semoga papi kamu cepat sembuh," timpal Aries.


"Aamiin...." Jawab Byan dan Mami Yuyun.


Malam ini, Byan memutuskan akan menemani papinya dan Aries sudah pulang satu jam yang lalu. Dan saat ini Byan tengah menelpon Aisyah, karena Byan tidak ingin membuat istrinya itu mencemaskan dirinya dan juga papinya.


"Jadi malam ini kakak nginep di rumah sakit?"


"Iya. Nggak apa-apa kan kalau aku menemani papi."


"Iya nggak apa-apa. Lagian kasihan papi kalau tidak di temani sama kakak."


"Iya, makanya aku temani papi malam ini. Kalau gitu aku tutup telponnya. Kamu juga harus banyak istirahat dan nanti aku telpon ibu agar malam ini kamu di temani sama ibu."


"Iya, kak."


***


Keesokan paginya, Pak Sanjaya terbangun dari tidurnya. Ia menatap sekeliling kamar yang berdominasi cat warna putih, lalu pandangannya teralihkan kepada sosok lelakiĀ  yang tengah tidur di atas sofa panjang dan sang istri di sofa yang satunya lagi.

__ADS_1


Pak Sanjaya menatap sendu wajah anak semata wayangnya. Ia sangat merindukan anaknya itu, tapi rasa kecewa membuat dirinya menekan rasa rindu itu.


Pak Sanjaya memilih memejamkan matanya lagi, tapi sebuah suara berat memanggilnya.


"Papi...." Byan segera bangun dan menghampiri papinya.


Pak Sanjaya melirik sekilas dan memejamkan matanya lagi. Byan kini memijat lengan papinya dan menatap sendu wajah papinya.


"Pi... Papi harus cepat sembuh. Aku sangat sedih melihat papi sakit," ucap Byan sendu.


"Pi, apa papi nggak merindukan aku? Mau sampai kapan papi marah sama aku. Jujur aku sangat merindukan papi...."


Di dalam hati Pak Sanjaya merintih sendu dan berkecamuk memikirkan kekecewaannya atau memaafkan Byan. Pak Sanjaya sudah lelah terus menerus mendiamkan Byan, sedangkan dirinya juga sangat membutuhkan Byan dalam kondisi apapun.


"Pi...."


Pak Sanjaya akhirnya mau membuka matanya dan menatap sayu wajah Byan. Setetes air matanya jatuh dari pelupuk matanya Pak Sanjaya.


"By, papi sudah sangat lelah marah sama kamu. Jadi maafin papi...."


Akhirnya kemarahan Pak Sanjaya hancur lebur, berganti dengan penyesalan di hati. Bagaimanapun dan sampai kapanpun Byan tetap anak tersayangnya.


"Papi nggak salah, aku yang salah. Yang seharusnya minta maaf itu aku bukan papi," ujar Byan menyela permintaan maaf papinya.


"Jadi papi mau memaafkan aku?" Sambung Byan dan pak Sanjaya mengangguk kecil.


Senyum penuh kelegaan kini Byan tunjukkan. Byan kemudian mencium punggung tangan papinya.


"Terima kasih, Pi... Terima kasih, karena papi sudah memaafkan aku," ujar Byan penuh haru.


"Iya, By. Memang seharusnya papi mengalah demi melihat kamu bahagia dengan pilihanmu."


Mami Yuyun yang melihat itu semua, meneteskan air matanya. Ia sangat senang karena suaminya sudah memaafkannya Byan. Mami Yuyun segera menghampiri Byan dan suaminya.


"Mami sangat bahagia. Akhirnya keluarga kita bersatu lagi," ucap Mami Yuyun dengan tangisannya yang mengharu biru. Ah! Hatinya benar-benar sangat lega dan tidak lagi menyimpan perasaan sedih.


Byan kemudian membawa tubuh ringkih maminya ke dalam pelukannya dan mencium kepala Mami Yuyun.


Pak Sanjaya menatap penuh kehangatan dan rasanya sangat lega bisa saling memaafkan.


"Byan, papi ingin bertemu dengan istrimu?"


"Papi ingin bertemu dengan Ais? Serius?" Tanya Byan yang tak percaya kalau papinya mau bertemu dengan Aisyah.


"Iya... Papi ingin minta maaf sama istri kamu."


"Nanti aku ajak Ais ke sini, Pi." Kata Byan dan pak Sanjaya menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2