
Aisyah terus tertunduk diam dan tidak berani menatap mata Byan. Aisyah sadar diri atas kesalahannya yang pergi tanpa izin Byan.
Byan kemudian memilih keluar dari kamar dan meninggalkan Aisyah. Aisyah menatap sendu punggung Byan, yang terlihat sangat kecewa.
Aisyah segera menyusul Byan keluar kamar, tapi Aisyah tidak melihat Byan dimana pun, lalu Aisyah menemui bibi Nuri yang sedang mencuci pakaian.
"Bi, lihat kak Byan nggak?"
"Bibi nggak lihat neng."
"Oh... Kirain lihat."
Aisyah pun mencarinya lagi ke depan dan berharap Byan ada di depan rumah.
"Mang Asep, lihat suamiku?"
"Tadi mas Byan keluar," jawab mang Asep.
"Mang Asep tahu suamiku pergi kemana?"
"Kalau soal itu saya nggak tahu."
Aisyah menghela nafasnya dan berpikir kalau Byan benar-benar sangat marah terhadapnya. Dengan langkah gontai, Aisyah kembali masuk ke dalam rumah.
Aisyah menjatuhkan bokongnya di sofa dan menundukkan kepalanya. Aisyah kini malah menangis karena kesalahannya yang membuat Byan marah. Sampai-sampai Byan pergi begitu saja.
Aisyah menutupi wajahnya, sambil terisak-isak. Lalu Aisyah mendongakkan kepalanya, karena Byan mengusap kepalanya.
"Kakak jangan marah... Aku minta maaf...." Ucap Aisyah sambil menangis.
"Iya. Aku maafin, tapi lain kali jangan kamu ulangi lagi. Kamu tahu gimana perasaanku, kalau kamu pergi tanpa memberitahu aku. Aku pasti sangat mencemaskan kamu. Apalagi kamu dibawa pergi sama Dafa. Coba kalau kamu dibawa jauh dan nggak bisa ketemu sama aku lagi gimana?"
"Iya, kak. Maafin aku." Aisyah semakin menundukkan kepalanya.
"Aku harap ini terakhir kalinya kamu pergi tanpa memberitahu aku, tapi jika kamu mengulanginya maka aku akan benar-benar sangat murka sama kamu."
"Iya, kak. Aku janji nggak akan mengulanginya lagi," jawab Aisyah pelan.
__ADS_1
Byan mengangguk, lalu Aisyah memeluk Byan. Bagaimanapun kesalahan Aisyah, Byan tetap tidak bisa marah sampai berlarut-larut dan semoga dengan kejadian ini Aisyah tidak akan mengulanginya lagi dan tahu batasannya sebagai seorang istri.
"Kakak tadi habis darimana?" Tanya Aisyah, masih dengan sisa tangisannya.
"Habis dari minimarket beli roti tawar. Bukannya kemarin malam kamu bilang mau di buatkan roti panggang."
"Oh... Aku pikir kakak akan pergi lagi," jawab Aisyah sedikit lega.
"Pergi kemana? Ke bulan!" Jawab Byan sekenanya, lalu Byan melangkah ke arah dapur, untuk membuatkan roti panggang buat Aisyah.
Aisyah pun mengikuti langkah Byan dan berdiri di sampingnya, sambil terus memperhatikannya membuat roti panggang.
Beberapa menit menunggu, akhirnya roti panggang buatan Byan sudah jadi.
"Nih, makanlah," kata Byan sembari meletakkan piringnya di meja.
"Terima kasih, kak."
"Iya, makanlah yang banyak."
***
Seperti saat ini kedua temannya tengah berada di rumahnya Aisyah dan kebetulan sekarang weekend.
"Ais, jadi sekarang kamu dilarang pergi sama suami kamu?" Ucap Zia.
"Bukan melarang. Suamiku nggak pernah melarang aku untuk pergi. Kalian tahu sendiri kejadian beberapa waktu lalu, saat kita bertemu sama Dafa di mal. Nah, suamiku nggak mau kejadian itu kembali terulang dan lagian aku juga kapok pergi tanpa seizin suami."
"Berarti pas waktu itu kita pergi, kamu nggak izin dulu sama suami kamu." Kali ini Widia yang berucap.
"Iya," jawab Aisyah.
"Ternyata nikah itu ribet," seloroh Widia.
"Ribet gimana?" Tanya Aisyah.
"Ya ribet. Apa-apa harus izin suami," tukas Widia.
__ADS_1
"Eh, nenong! Namanya juga menikah. Dimana-mana istri itu harus patuh sama suami, kalau nggak mau patuh apa kata suami mending nggak usah punya suami. Hidup aja sendiri !" Timpal Zia, yang tidak setuju dengan perkataan Widia.
"Kenapa kamu jadi sewot!" Sungut Widia.
"Iyalah aku sewot! Nikah itu ibadah tahu."
"Iya aku tahu. Itukan hanya pandangan aku saja."
Sedangkan Aisyah hanya menggelengkan kepalanya, mendengar perdebatan dua sahabatnya, dan tiba-tiba Dhika, Sigit dan Marshall datang berkunjung.
"Seru banget kayaknya," ujar Marshall, yang kini mendekati Aisyah, lalu Marshall menangkubkan kedua tangannya di pipi Aisyah dan menggeleng-gelengkan kepalanya Aisyah dengan gemas.
"Mm... Abang!"
"Kamu sekarang tambah gemoy," ucap Marshall gemas.
"Shall !!" Tegur Byan.
"Wih, sekarang ada yang belain," cibir Marshall.
Berbeda dengan Marshall yang gemas melihat Aisyah yang semakin berisi, Dhika saat ini tengah tersenyum manis menatap Widia. Kemudian Dhika duduk di samping Widia dan tangannya langsung merangkul pundak Widia.
"Lama nggak ketemu. Kok, kamu semakin cantik aja." Rayu Dhika.
"Biasa saja!" Jawab Widia ketus.
"Aku suka kalau kamu lagi ngambek kaya gini. Cantiknya kamu bertambah banyak dan kamu tahu nggak. Kamu itu seperti mermaid."
"Mermaid?" Widia menautkan kedua alisnya.
"Iya. Karena kamu mampu merenang-renangakan hati aku sampai ke dasar cintamu."
Byan, Sigit, Marshall dan Aisyah memutarkan bola matanya mendengar gombalan receh Dhika.
"Kamu tahu nggak Kenapa jantungku ada satu." Lanjut Dhika untuk menggombal Widia.
"Nggak tahu."
__ADS_1
"Karena disetiap debaran jantungku ini hanya hanya untukmu."
Semua yang mendengarnya rasanya ingin muntah dan Marshall ingin sekali menutup mulut Dhika dengan lakban.