Hati Untuk Aisyah

Hati Untuk Aisyah
Mencari pekerjaan


__ADS_3

Byan dan Aisyah sudah duduk di dalam mobil. Byan menyenderkan punggungnya ke jok mobil. Perasaannya masih sedih dengan sikap papinya. Aisyah yang melihat kesedihan Byan, langsung menggenggam tangan Byan. Disaat seperti ini, Byan sangat butuh dukungan darinya.


Aisyah menatap wajah sendu Byan. Ia menyadari ternyata Byan rela kehilangan apapun demi dirinya, termasuk papinya yang sudah tidak menerimanya sebagai anaknya lagi.


"Aku minta maaf, kak." Kata Aisyah lirih.


"Kamu nggak perlu minta maaf, karena kamu nggak salah. Justru aku akan menyesal bila tidak menikah sama kamu," ucap Byan lembut.


"Tapikan tetap saja. Awal menikah saja sudah membuat hidup kakak kehilangan keluarga kakak, bagaimana hari-hari esok?" Bagaimanapun Aisyah tetap merasa bersalah.


"Aku nggak kehilangan keluargaku. Nanti juga papi baik sendiri," ujar Byan yang menatap teduh wajah Aisyah.


"Sudah jangan dipikirkan, lebih baik kita pulang." Lanjut Byan.


Byan dan Aisyah pulang ke rumah Aries. Sepanjang perjalanan, Byan terus memikirkan soal dirinya yang harus mencari pekerjaan baru. Selama ini, ia ikut bekerja mengelola perusahaan papinya dan dirinya tidak mungkin bekerja di perusahaan papinya lagi.


Aisyah menatap keluar jendela mobil dan melihat pedagang kaki lima di sepanjang jalan. Seketika Aisyah ingin makan di warung tenda di pinggir jalan.


"Kak, aku... Pengen makan di sana." Tunjuk Aisyah, ke warung tenda yang menyediakan pecel lele dan pecel ayam.


"Kamu mau makan di sana?"


"Iya, aku pengen...." ucapnya dengan tatapan memohon.


"Baiklah." Byan segera menghentikan mobilnya.


Aisyah langsung duduk, sedangkan Byan memesan makanan yang Aisyah inginkan. Beberapa menit kemudian, pesanannya sudah tersaji di depan Aisyah.


"Kok, cuma satu?" Kata Aisyah, karena Byan hanya memesannya satu porsi dan itu hanya untuk dirinya seorang.


"Aku nggak lapar."


"Beneran?"


"Iya...." Jawab Byan.


Aisyah segera memakannya. Byan tersenyum melihat Aisyah makan dengan lahapnya.


"Kakak mau?" Tawar Aisyah dan Byan menggelengkan kepalanya, tapi Aisyah tetap menyodorkan suapan kepada Byan.

__ADS_1


"Aa...." Suruh Aisyah membuka mulutnya dan Byan pun terpaksa membuka mulutnya, menerima suapan dari Aisyah.


"Sudah cukup," kata Byan.


Aisyah mengangguk dan segera menghabiskan makanannya. Melihat Aisyah selesai makan, Byan segera membayarnya. Byan membuka dompetnya, yang ternyata tidak ada uang di dalamnya. Byan lupa kalau uangnya sudah di berikan ke papinya. Byan mencoba mencari di saku, berharap ada uang yang terselip.


Aisyah yang melihat Byan, segera mendekatinya. Aisyah menyentuh bokongnya Byan dan menyelipkan selembar uang lima puluh ribu ke saku celananya Byan.


"Kenapa, kak?" Tanya Aisyah, pura-pura tidak tahu, sedangkan tangannya masih meletakkan di bokongnya Byan.


"Nggak kenapa-napa," jawab Byan.


"Kalau gitu aku tunggu di mobil."


"Iya...." Jawab Byan, sembari memeriksa saku celananya.


"Untung ada uang yang terselip," kata Byan, ketika menemukan uang di saku belakangnya.


"Ini pak uangnya." Sembari menyerahkan uangnya. Setelah mendapatkan kembalian, Byan bergegas naik mobil dan pulang.


Tiba di rumah, Byan menoleh ke arah Aisyah yang tertidur. Byan tidak tega membangunkan Aisyah, lalu Byan mengangkat tubuh Aisyah dan membawanya ke kamarnya. Pelan-pelan, Byan meletakkan tubuh Aisyah di atas ranjang, lalu menyelimutinya.


Malam ini, Byan memilih mencari lowongan pekerjaan lewat internet. Byan harus segera mendapatkan pekerjaan baru, agar dirinya bisa menafkahi Aisyah.


Tanpa terasa sudah hampir dua jam, Byan mencari lowongan pekerjaan dan sudah ada beberapa perusahaan yang siap Byan datangi besok. Setelah itu Byan segera mengistirahatkan tubuhnya dan tidur memeluk tubuh Aisyah.


***


Setetes embun pagi membasahi dedaunan dan cahaya jingga menghiasi langit pagi. Aisyah menggeliat dan mengerjapkan matanya. Aisyah menoleh ke samping, dimana Byan tidur.


"Kak Byan, kemana?" Gumam Aisyah, seraya menguap.


Ceklek.


Pintu kamar mandi terbuka. Byan melangkah keluar dari kamar mandi sembari mengeringkan rambutnya. Aisyah termangu melihat wajah Byan yang terlihat segar dan tampan. Byan memicingkan matanya, melihat Aisyah yang menatapnya begitu lekat.


"Apa sekarang jantungmu mulai berdebar," goda Byan.


Seketika Aisyah memalingkan wajahnya. Aisyah pikir Byan tidak memperhatikannya, tapi ternyata Byan memperhatikan dirinya.

__ADS_1


"Belum," jawab Aisyah asal. "Pagi-pagi sekali, kakak sudah rapi? Memangnya kakak mau kemana?"


"Aku kan mau kerja."


"Oh...."


"Cepat mandi. Apa perlu aku yang mandiin."


"Nggak perlu," jawab Aisyah cepat. Aisyah bergegas pergi ke kamar mandi.


Byan tersenyum melihat salah tingkahnya Aisyah. Tiba-tiba suara dering handphonenya bunyi, Byan segera mengangkat telponnya, yang ternyata dari Dhika.


"Halo...."


"By, gue minta nomor rekening elo. Gue mau bayar hutang gue," ucap Dhika diseberang telpon.


"Jangan transfer, mending kamu kasih aku uang cash aja. Nanti aku ke rumahmu."


"Oke, deh. Gue tunggu elo di rumah," jawab Dhika dan mematikan sambungan teleponnya.


"Alhamdulillah, Dhika bayar hutangnya disaat aku lagi butuh," gumam Byan.


Pagi ini, Byan mengantarkan Aisyah kuliah menggunakan mobilnya Aisyah dan setelah itu Byan meluncur ke rumahnya Dhika.


"Nih, duitnya." Kata Dhika menyerahkan uangnya ke Byan.


"Terima kasih, ya. Kamu bayar hutang di waktu yang tepat."


"Maksud elo?"


"Ya... Karena aku memang lagi butuh duit lah!"


"Kayak elo kekurangan duit aja." Tapi Byan tidak menjawab ledekan Dhika.


"Aku langsung pergi ya."


"Oke...."


Byan pun pergi dari rumah Dhika dan berangkat ke perusahaan untuk melamar pekerjaan. Dengan semangat, Byan memacukan mobilnya dan berharap Byan diterima di perusahaan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2