
Di sebuah kamar, seorang suami kini tengah menghukum sang istri. Siapa lagi kalau bukan Marshall dan Zee. Walau Zee sudah meminta maaf karena sudah menuduhnya, tapi nyatanya Marshall tidak dengan mudahnya memaafkan Zee.
Hukuman yang di dapat oleh Zee adalah memuaskan si perkututnya Marshall dan Zee yang harus mendominasi permainan panasnya, sedangkan Marshall hanya menikmatinya tanpa harus bekerja keras menggoyangkan pinggulnya.
Sudah hampir setengah jam Zee berada di atas tubuh Marshall dan terus berusaha memuaskan suami tercintanya.
"Faster baby...." Pinta Marshall. Zee yang sudah mulai merasa pegel terpaksa mempercepat gerakan pinggulnya. Agar hukuman yang didapatnya cepat selesai.
"Terus sayang... Semakin cepat," ucap Marshall parau, sambil membantu Zee menaik turunkan tubuhnya.
"Huuum...." Marshall mendesah, menikmati permainan Zee.
Saat sedang berada di awang-awang, sebuah gedoran keras dari pintu.
"Mama...!" Teriak Shania sambil menggedor-gedor pintunya, juga terdengar suara Shania menangis.
"Bang... Shani memanggil," kata Zee yang kini menghentikan gerakannya.
"Biarkan saja. Kamu harus menyelesaikan hukumanmu dulu."
"Tapi...."
"Aku nggak peduli. Cepat lanjutkan. Nanti juga Shani balik lagi ke kamarnya," kata Marshall karena dirinya hampir berada dipuncankya.
Zee mendengus kesal dan terpaksa melanjutkannya meski Shania terus memanggilnya.
Zee mempercepat gerakannya dan ingin hukumannya cepat berakhir. Zee nggak tega mendengar Shania yang menangis. Hingga dimana Zee berhasil menyelesaikan hukuman dari suaminya.
Selesai dengan hukumannya, Zee bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan Marshall memakai celana pendeknya, lalu Marshall melangkah menuju pintu dan membukanya.
Marshall tercengang melihat sang anak meringkuk di depan pintu sambil memeluk boneka kesayangannya.
"Ya ampun, nak. Kenapa tidur di sini," gumam Marshall, yang langsung mengangkat gadis kecilnya dan membawanya ke tempat tidur.
"Loh! Kenapa membawa Shani ke sini?" Tanya Zee yang baru keluar dari kamar mandi.
"Shani ternyata tidak balik ke kamarnya, justru Shani tidur di depan pintu," jawab Marshall seraya menyelimuti tubuh anak gadisnya.
"Ha! Shani tidur di depan pintu?" Yang di jawab anggukan kecil dari Marshall.
"Kamu sih! Jadi papa jahat banget. Sudah tahu anaknya nangis dan ingin masuk, eh! Yang jadi papanya tidak peduli."
"Itu semua gara-gara kamu. Coba saja tadi kamu tidak menuduhku, mungkin aku nggak menghukum kamu." Marshall jelas tidak mau disalahkan.
"Kamu juga sama. Coba kalau aku nggak datang ke acara reuni, mungkin kamu masih digelayuti oleh si Liora!" Zee juga tidak mau kalah sama Marshall.
"Siapa juga yang mau digelayuti oleh dia. Justru yang ada aku berniat mau pulang."
"Sudah sini, kita tidur atau mau dilanjut hukumannya," sambung Marshall.
"Nggak! Aku sudah capek dari tadi berada di atas kamu." Tolak Zee mentah-mentah.
Marshall tersenyum tipis mendengar keluhan Zee, tapi dirinya memang sangat senang jika Zee yang menguasai tubuhnya dan pastinya dirinya tidak harus bersusah payah memuaskan dirinya.
***
__ADS_1
Baby Zero kini sudah genap berusia empat bulan dan Byan berencana ingin mengajak keluarga kecilnya liburan. Tempat yang ingin Byan habiskan waktunya bersama keluarga kecilnyaadalah pergi ke sebuah pulau kecil tapi estetik. Selain itu juga, Byan ingin merayakan anniversary pernikahannya yang ke dua tahun.
Kini keluarga kecil itu sudah berada di dermaga. Byan segera mengajak anak dan istrinya naik ke kapal dan mengantarkan keluarga kecil Byan ke pulau yang dituju.
Afkar sangat senang melihat luasnya laut dan bertanya ini dan itu dan Byan menjawabnya penuh kesabaran.
Hampir satu jam berlayar, kini kapal tersebut berhenti di sebuah dermaga kecil.
"Ayo, kita turun." Kata Byan, yang menggandeng tangan Afkar. Begitu juga dengan Aisyah yang menggendong baby Zero.
Byan segera membawa Aisyah dan kedua jagoannya ke sebuah villa yang sudah ia sewa.
"Ini kamar kita," ucap Byan sambil membuka pintunya. Afkar langsung berlari kecil menuju balkon yang langsung menghadap ke arah laut lepas.
"Papa! Da Buyung ebang," seru Afkar menunjuk segerombolan burung yang terbang. Lalu Afkar masuk lagi dan naik ke atas ranjang, lalu Afkar loncat-loncat di atas kasur.
"Abang Afkar, hentikan. Nanti jatuh...." Byan memperingati Afkar yang memang sangat aktif. Afkar tidak mendengarkannya dan tetap berlompat- lompat riang.
Byan tidak ingin Afkar sampai terjatuh dari kasur, maka dari itu Byan segera menangkap tubuh Afkar dan mendudukkannya.
"Abang Afkar harus nurut sama papa. Oke...." Afkar mengangguk.
"Bagus. Itu baru anak papa."
Sore harinya, keluarga kecil itu bermain di pantai. Afkar sangat senang bisa bermain pasir. Sambil memangku baby Zero, Byan dan Afkar membuat istana pasir.
Sedangkan Aisyah mengabadikannya lewat jepretan kamera ponsel.
"Abang penuhin amber kecilnya," suruh Byan dan Afkar menuruti perkataan Byan.
Afkar dan Byan begitu semangat membuat istana pasir. Gelak tawa dari Afkar membuat hati Zee juga tersenyum senang.
Kini istana pasir itu sudah jadi dan Afkar lompat-lompat kegirangan karena istana pasirnya sudah berhasil dibuat.
"Mbang bica uat itana!" ucap Afkar yang begitu senang karena bisa membuat istana.
"Iya... Hebat anak papa," puji Byan sambil mengelus kepala Afkar.
Aisyah segera memotret istana pasir itu dan berfoto bersama.
Selesai bermain pasir, keluarga kecil itu kini tengah duduk bersama menghadap barat. Dimana sang Surya akan kembali ke peraduannya.
Aisyah menyenderkan kepalanya ke bahunya Byan sambil memangku baby Zero, sedangkan Afkar duduk di pangkuan Byan.
"Gimana? kamu senang liburan kali ini?" tanya Byan.
"Sangat senang sekali," jawab Aisyah dengan seulas senyum manis di bibirnya.
Selesai melihat sunset, Byan dan Aisyah kembali ke villa, sebab malam ini Byan ingin memberi kejutan manis buat sang istri tercinta.
"Sini abangnya, biar papa yang sisirin," kata Byan.
Selesai menyisir rambut Afkar dan Aisyah sudah berdandan cantik. Byan dan keluarga kecilnya kini meninggalkan villa dan menuju tempat yang sudah dipersiapkan.
Sesampainya di sana Byan menggandeng tangan Aisyah, lalu melangkah bersama memasuki tempat tersebut. Tempat yang sudah di sulap sedemikian rupa dan pastinya terkesan romantis.
__ADS_1
Di setiap langkahnya diiringi suara musik klasik. Sesampainya di dalam, Aisyah terbelalak melihat orang-orang terdekatnya ada di sana.
Aries, Hana dan adik-adiknya. Marshall juga ada bersama keluarganya kecilnya.
Hana maju dan mengambil baby Zero dari gendongannya, lalu Hana memberikan setangkai bunga mawar merah kepada Aisyah.
"Selamat ulang tahun pernikahan buat kalian. Semoga pernikahan kalian langgeng dan hidup rukun sampai tua dan juga kebahagiaan selalu mengiringi pernikahan kalian. "
"Aamiin... Terima kasih, ibu," jawab Aisyah.
Setelah itu satu persatu dari mereka semua maju dan memberikan setangkai bunga mawar merah kepada Aisyah.
Sedangkan Byan kini sudah berada di panggung kecil bersama Afkar. Di belakang tubuh Byan terdapat foto-foto dirinya bersama Byan dan juga dua jagoan kecilnya.
"Istriku... Terima kasih, karena kamu sudah bersedia menjadi pendamping hidupku dan menjadi tulang rusukku.
Terima kasih karena kau menghadirkan dua malaikat kecil untukku, yang kini melengkapi kehidupan rumah tangga kita.
Terima kasih, karena kau telah menjadikan aku lelakimu. Dicintai olehmu membuatku menjadi lelaki yang paling beruntung di dunia ini.
Kau jadikan aku pasangan terbaikmu. Menjadikan aku lelaki yang berharga di dalam hidupmu.
Mungkin aku tak mampu menyelami luasnya samudera, tapi aku mampu membuatmu menjadi istri terbaikku.
Aku berharap cinta yang kita miliki tak akan lekang oleh waktu dan terus selalu bersama sampai kita menua.
Istriku... Teruslah kau berada di sampingku dan melewati Lika liku kehidupan ini bersamaku.
Istriku... Aku mencintai kamu dari dulu hingga nanti."
Aisyah berkaca-kaca dan terharu mendengar ungkapan cinta dari suami tercintanya. Lalu Byan melangkah mendekati Aisyah bersama Afkar. Byan menyelipkan setangkai bunga mawar putih ditengah-tengah bunga mawar merah yang Aisyah pegang.
"Mawar putih ini adalah dirimu, karena kamu satu-satunya perempuan yang tercantik dihidupku dan di rumah." Lalu Byan mencium kening Aisyah.
"Ayo... Kita habiskan malam ini bersamaku." Lanjut Byan berkata.
Setelah itu Byan membawa Aisyah berdiri di panggung kecil. Marshall datang dan mengambil bunga dari tangan Aisyah. Kemudian Byan berlutut dan membuka kotak beludru berwarna merah. Sebuah cincin berlian Byan tunjukkan kepada Aisyah.
"Dulu, saat aku mau menikahi kamu. Aku tidak memiliki kesempatan melamar kamu dengan cara seperti ini. Seharusnya dari dulu aku melakukannya. Istriku... Maukah kamu terus hidup bersamaku, melewati suka dan duka bersamaku."
"Iya, aku mau...."
Byan langsung memasangkan cincinnya, kemudian mengecup tangan Aisyah.
Semua orang bertepuk tangan dan tersenyum bahagia. Semuanya ikut merasakan kebahagiaan yang tengah Aisyah dan Byan rasakan.
"Happy anniversary, sayang...." Bisik Byan.
Acara anniversary pernikahan Byan dan Aisyah masih berlanjut. Kini keduanya sudah bergabung dengan keluarga tercinta.
Aries tersenyum penuh kelegaan. Karena kini putri tercintanya mendapatkan pasangan yang tepat. Pasangan yang benar-benar tulus mencintai Aisyah dan menjadikan Aisyah ratu di dalam keluarga kecilnya.
Rasa bersalahnya yang selama ini menggelayuti hatinya, kini lenyap berganti dengan rasa lega. Karena dirinya Aisyah harus merasakan kesakitan di hatinya. Kebahagiaan yang tadinya ia tawarkan untuk putrinya justru berakhir dengan penuh luka. Mengingat hal itu selalu membuatnya bersedih.
Terima kasih Byan, karena kamu sudah membuat putriku kembali tersenyum dan bisa merasakan kebahagiaan yang tidak ia dapatkan sebelumnya.
__ADS_1