Hati Untuk Aisyah

Hati Untuk Aisyah
Izinkan aku menyentuhmu....


__ADS_3

SURPRISE...."


Teriak semua orang yang hadir di sana. Aisyah membekap mulutnya melihat seluruh keluarganya ada di sana, mertuanya dan juga mantan mertuanya, yaitu Aditya dan Bella.


Sahabatnya juga turut hadir dan beberapa orang yang tidak di kenal Aisyah juga hadir.


Semuanya langsung menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Dengan rasa penuh suka cita Aisyah meniup lilin dengan kue bertingkah tiga.


Sungguh ini adalah hari ulang tahunnya yang spesial. Hari yang tidak akan ia lupakan.


"Selamat ulang tahun istriku," ucap Byan dan mencium kening Aisyah.


Aries dan Hana juga mendekati Aisyah. Keduanya mengucapkan selamat dan pastinya mendoakan agar Aisyah selalu di beri kebahagiaan dan umur panjang.


Setelah itu satu persatu semuanya mengucapkan selamat ulang tahun kepada Aisyah. Hingga perempuan yang ada di foto itu, kini berdiri di hadapan Aisyah dan Byan.


Perempuan itu tersenyum manis kepada Aisyah dan mengulurkan tangannya.


"Selamat ulang tahun, kak," ucapnya.


"Iya, terima kasih," balas Aisyah sambil melirik Byan dan memberi kode lewat gerakan matanya.


"Azkia, kenalin wanita cantik di sebelahku adalah istri kakak, namanya Aisyah," ucap Byan. "Azkia itu adik sepupuku dari papi. Dia baru pulang menyelesaikan pendidikannya di luar negeri."


Aisyah mangut-mangut. Pantas saja Aisyah tidak tahu saudaranya Byan yang satu ini, sedangkan saudara Byan yang lain sudah kenal.


"Hai, kak. Maaf ya kalau aku harus ikut-ikutan ngerjain kakak, tapi aku senang kak Byan sudah mendapatkan kebahagiaannya bersama kak Ais."


Aisyah mengangguk dan malam itu adalah malam yang sangat membahagiakan bagi Aisyah.


Seluruh anggota keluarga Byan maupun Aisyah berbaur menjadi satu. Semuanya tampak ikut bahagia dengan hari kelahiran Aisyah.


Byan kemudian mengambil baby Afkar dari gendongan Bella dan menghampiri Aisyah lagi.


"Selamat ulang tahun, mama...." Ucap Byan menirukan suara anak kecil.


"Uuh... Anak mama." Aisyah mendaratkan kecupan di pipi baby Afkar yang malam itu matanya tetap segar, tidak terlihat wajah mengantuk dari lelaki kecilnya itu.


"Kita foto, yuk," ajak Byan. Lalu mereka bertiga pun mengabadikan lewat jepretan kamera.


Semakin malam pesta pun semakin meriah. Apalagi Byan menyewa pemain band.


Di meja sebelah, Dhika yang malam itu tampil gagah dengan pakaian kemeja putih. Tengah dilema, ketika kedua bola matanya menangkap dua wanita cantik yang tengah duduk bersama Aisyah dan Zee. Dua wanita cantik itu adalah Difa dan Azkia.


"Kamu kenapa? Kayak yang bingung," ucap Marshall.


"Gimana gue nggak bingung. Noh! Lihat yang duduk sama Zee dan Ais." Tunjuk Dhika.


Plak


Sebuah jitakan mendarat di kepala Dhika. " Otak elo isinya cewek mulu!" Cibir Sigit.

__ADS_1


"Emang kenapa? Gue itu lelaki normal dan sudah sewajarnya jika gue menyukai para cewek cantik," jawab Dhika. "Bahkan gue bercita-cita pengen punya dua istri," lanjut Dhika dan sebuah toyoran diberikan dari Marshall, Byan dan Jojo.


"Aku nggak bakal biarin adikku pacaran sama kamu." Tolak Byan mentah-mentah.


***


"Aku mau nyanyi, ah!" Celetuk ayah Haris.


"Nggak usah nyanyi. Suara kamu sangat jelek," timpal Aries.


"Bodo! Pokoknya aku mau nyanyi." Ayah Haris kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan menuju panggung.


"Siap-siap. Telinga kita akan terkontaminasi suara jelek Haris," ujar Aries kepada Pak Sanjaya.


Ayah Haris kini sudah berdiri di atas panggung dan terlihat sangat percaya diri sekali.


"Selamat malam semuanya. Saya berdiri di sini mau menghibur semuanya dengan suara emas saya," ucapnya penuh bangga.


Mami Janet yang melihat suaminya mau bernyanyi, langsung tepuk jidat.


"Malu-maluin saja," gerutu Mami Janet.


Musik kini mulai dimainkan dan ayah Haris sudah mulai menggoyangkan tubuhnya mengikuti irama musik.


Joko Tingkir ngombe dawet


Jo dipikir marai mumet


Pantang mundur, terus nyambut gawe


Pantang mundur, terus nyambut gawe


Aries benar-benar menutupi telinganya, karena suara ayah Haris sangat-sangat sumbang dan juga suaranya cempreng.


Sedangkan yang lain hanya tertawa mendengar suara ayah Haris yang tetap asik dengan lagunya. Tidak peduli dengan sorak-sorai dari semuanya, yang penting ayah Haris senang dan menyelesaikan lagunya.


Mami Janet ingin sekali menarik suaminya itu turun dari panggung. Rasanya sangat memalukan melihat suaminya yang tengah asik bernyanyi dan bergoyang.


***


Pesta ulang tahun pun berakhir dengan kebahagiaan dari semuanya, tapi tidak untuk seorang Dhika yang malam itu belum berhasil menaklukkan satu diantara dua wanita yang diincarnya dan kali ini Dhika berniat mendekati Azkia dulu.


Sebelum pulang, Dhika menunggu Azkia yang kala itu tengah berpamitan dengan Aisyah. Setelah melihat Azkia meninggalkan Aisyah, Dhika segera mendekati Azkia.


"Hai, boleh kenalan nggak," ucap Dhika, sambil tersenyum semanis mungkin.


"Boleh," jawab Azkia.


Dhika seperti mendapatkan angin segar mendengar perkataan Azkia.


"Kenalin namaku Dhika. Lelaki tertampan sejagat raya ini."

__ADS_1


"Azkia...." Balas Azkia memperkenalkan diri.


"Azkia... Nama yang cantik. Seperti orangnya yang sangat cantik." Dhika mulai mengeluarkan gombalan recehnya.


Azkia tersipu mendengar gombalan Dhika.


"Kamu tahu, malam ini kamu wanita yang tercantik. Bahkan kecantikan kamu mengalahkan seorang bidadari yang turun dari kahyangan." Lanjut Dhika menggombal.


Byan yang melihat Azkia tengah di rayu oleh Dhika, segera mendekatinya.


"E'hem! Kia, pulang!" Suruh Byan.


"Iya, aku pulang. Bye... Dhika."


Dhika melirik kesal wajah Byan. Usahanya mendapatkan Azkia gagal.


"Elo nggak seru!" Sungut Dhika.


"Aku kan sudah bilang. Jangan dekatin adikku."


Dhika memutarkan bola matanya dan bersungut-sungut di dalam hatinya.


Setelah semuanya pulang, Byan dan Aisyah memilih kembali ke hotel. Aisyah tak henti-hentinya menyunggingkan senyumannya, karena malam ini ia sangat bahagia sekali.


Tiba di dalam kamar hotel Aisyah memilih membersihkan diri dulu, sedangkan Byan tengah menanti Aisyah keluar dari kamar mandi.


Byan sudah tidak sabar menunggu Aisyah, sebab Byan sudah menghitung masa nifas Aisyah dan hari ini sudah 2 bulan Aisyah melahirkan.


Sebenarnya Byan cukup gugup, karena ini pertama kalinya ia akan menyentuh Aisyah secara keseluruhan. Membayangkannya saja sudah membuat bagian tubuh dibawah perutnya menegang.


Ceklek


Pintu kamar mandi terbuka, Aisyah keluar mengenakan selembar handuk yang menutupi tubuhnya sambil melihat dimana letak bajunya yang tadi ia kenakan.


Byan yang melihat Aisyah hanya mengenakan handuk, menelan Salivanya dan langsung berdiri dari duduknya. Byan segera mendekati Aisyah.


"Pakaian aku yang tadi kok nggak ada?" Ucap Aisyah, padahal pakaiannya itu sudah ia simpan di kamar mandi, tapi pakaian itu sekarang hilang entah kemana.


"Kamu nggak perlu baju."


"Hah! Masa aku tidur nggak pakai baju?"


"Karena mulai malam ini pakaian kamu akan sering berakhir di lantai," jawab Byan dengan tatapan mesum.


Aisyah langsung menatap curiga. "Jangan bilang kalau kakak mau...."


"Iya, aku mau memakan kamu." Byan tersenyum smrik dan mengusap pipi Aisyah.


Sedangkan Aisyah langsung terpaku, saat Byan akan membantainya di atas ranjang.


"Aku sudah lama menantikan hari ini dan malam ini izinkan aku untuk menyentuhmu," bisik Byan yang kini mulai mendekatkan wajahnya untuk mencium bibir Aisyah.

__ADS_1


__ADS_2