
Sebuah kecupan mesra Aisyah berikan kepada Byan. Aisyah tersenyum memandangi wajah bantalnya Byan, seolah wajah suaminya itu imunitas tubuhnya setiap pagi.
Sehingga membuat Aisyah ingin menciumi seluruh wajah Byan dan Aisyah pun kembali mendaratkan ciuman bertubi-tubi ke wajah Byan.
"Hmm... Sayang, hentikan," ucap Byan, lalu menutupi wajahnya dengan bantal.
Aisyah bukannya menghentikan ciumannya, justru bertambah semangat untuk kembali menciumi Byan dan Aisyah menarik bantal yang menutupi wajahnya Byan.
Muach Muach Muach
Seluruh wajah Byan menjadi korban ciuman Aisyah. Byan mendengus, karena tidurnya terganggu, sedangkan sang pelaku tengah tersenyum senang melihatnya kesal.
Byan yang melihat Aisyah tersenyum, merubuhkan tubuh Aisyah dan mengunci kedua tangannya Aisyah.
"Sudah puas menciumi wajah gantengku," ucap Byan, sembari menaikan kedua alisnya.
"Ck... Ganteng!" Ledek Aisyah.
"Kalau nggak ganteng, mana mungkin kamu terus-terusan menciumi aku."
"Aku mencium kakak, karena keinginan anakku," elak Aisyah.
"Aku nggak percaya," seraya memicingkan matanya.
"Awas ih! Aku mau mandi." Tapi Byan tidak semudah itu melepaskan mangsanya, yang dari tadi sudah mengusiknya.
"Kak... Lepaskan aku," rengek Aisyah.
"Tidak semudah itu, sayang dan rasakan pembalasanku." Seringai jelas dari wajah Byan dan Aisyah menelan Salivanya.
Byan langsung menyambar bibir ranum Aisyah yang sudah menjadi candunya. Tangan Byan yang tadi menggenggam pergelangan tangan Aisyah, kini menautkan jemarinya dengan Aisyah.
Decapan ciuman mereka semakin terdengar merdu menghiasi suasana pagi ini di kamar mereka. Ciuman Byan turun ke leher Aisyah, dan menyapu kulit leher mulusnya.
"Kak...." Desah Aisyah, sembil menjambak rambut Byan.
Satu tanda merah Byan tandai di leher Aisyah, lalu Byan menghentikan ciumannya. Byan tidak mau bermain lebih jauh dan tetap berusaha berpegang teguh pada pendiriannya yang tak mau menyakiti kandungannya Aisyah. Byan benar-benar belum berani melangkah ke tahap itu. Ke tahap yang akan membangkitkan gai rah bercintanya.
Byan mencium kening Aisyah, lalu menempelkan keningnya dengan kening Aisyah.
"I love you my wife," bisik Byan dan terakhir Byan mencium pipi kanan dan kiri Aisyah.
Byan bangkit, kemudian mengangkat tubuh Aisyah. Byan membawa tubuh Aisyah ke kamar mandi.
"Sekarang kamu mandi," titah Byan, seraya menurunkan tubuh Aisyah.
"Kakak nggak ikut mandi?" Ucap Aisyah, ketika melihat Byan akan melangkah keluar.
"Nanti saja. Giliran sama kamu, kalau sekarang aku takut khilaf dan jika itu terjadi aku nggak bisa mundur."
Aisyah sedikit kecewa dengan perkataan Byan, tapi bagaimana pun Aisyah tetap menghargai sikap Byan yang memang tidak mau sampai kenapa-napa dengan kandungannya.
***
"Kak, nanti antarkan aku beli sayuran ya," ucap Aisyah, yang saat ini tengah sarapan.
__ADS_1
"Oke. Ke supermarket kan?"
"Ke pasar aja yang murah."
"Siap Nyonya."
Selesai sarapan, Aisyah dan Byan bergegas pergi ke pasar.
"Kita naik motor saja, kak." Byan mengangguk setuju, lalu motornya di keluarkan dari garasi.
"Sini, biar aku pakaikan helmnya," kata Byan, yang langsung memakaikan helm ke Aisyah.
"Ayo, naik dan pegangan yang kuat." Sambung Byan.
"Iya, kak."
Keduanya berangkat ke pasar. Sepanjang perjalanan menuju pasar, Aisyah menyenderkan kepalanya ke bahu Byan dan kedua tangannya memeluk pinggang Byan.
Tiba di pasar, Aisyah langsung mengajak Byan masuk dan memilah sayuran yang akan di belinya.
"Kakak, mau makan sama apa?"
"Apa saja."
Aisyah mengangguk, lalu kembali melangkah mencari ayam. Aisyah berhenti di tukang ayam dan menanyakan berapa harga ayam sekilonya.
"Ayamnya sekilo aja deh, mang," kata Aisyah, lalu membayarnya.
"Ais...!" Panggil Bella, yang tak menyangka bisa bertemu dengan Aisyah di pasar.
Bella tersenyum melihat Aisyah, lalu Bella memeluk Aisyah.
"Gimana kabar kamu, sayang?" Tanya Bella.
"Baik, ma."
Bella kemudian menatap perut Aisyah yang sudah terlihat membuncit. Bella mengelus calon cucunya itu. Ada rasa hangat menjalar ke hatinya, ketika mengelus perut Aisyah.
"Mama senang bisa bertemu sama kamu lagi dan Mama senang melihat Ais terlihat bahagia."
"Jelas Ais bahagia, ma. Karena suami Ais sangat perhatian dan sayang sama Ais," jawab Aisyah, sedikit menyindir mantan mertuanya itu. Aisyah merangkul lengan Byan dan tersenyum menatap Bella.
"Alhamdulillah. Mama ikut senang mendengarnya." Walau senang melihat Aisyah bahagia, tapi di dalam lubuk hatinya masih sangat berharap Aisyah dan Dafa bisa bersatu lagi.
"Maaf, ma. Ais mau lanjut belanja lagi."
Bella mengangguk, kemudian Aisyah dan Byan meninggalkan Bella. Bella menadesah mengingat kebodohan Dafa, yang memilih meninggalkan Aisyah untuk menikahi Wulan.
***
Aisyah dan Byan sudah selesai belanjanya dan memutuskan untuk pulang.
Tiba di rumah, Aisyah dan Byan membereskan belanjaannya, hingga sebuah ketukan terdengar dari pintu depan.
"Aku bukakan pintu dulu," ucap Byan dan Aisyah mengangguk.
__ADS_1
Byan segera membuka pintunya dan betapa terkejutnya Byan, saat tahu siapa yang datang ke rumahnya.
"Laura? kok kamu tahu aku tinggal disini?"
"Nggak penting, aku tahu kamu tinggal disini dari siapa," jawab Laura.
"Ada perlu apa kamu datang kesini?"
"Aku ingin mengajak kamu jalan dan--"
"Suamiku sibuk!" Potong Aisyah dengan nada ketus, kemudian Aisyah melingkarkan tangannya ke lengan Byan. Aisyah benar-benar tidak suka kalau Laura menemui Byan.
"Suami? Maksud kamu?" Laura terkejut mendengar pengakuan Aisyah.
"Kak Byan itu suami aku!" Aisyah memperjelas lagi.
"By... Seriusan kamu sudah menikah?" Tanya Laura kepada Byan. Laura belum mempercayainya begitu saja.
"Iya. Aku sudah menikah dengannya."
"Jadi kamu putusin perjodohan kita gara-gara dia." Tunjuk Laura ke Aisyah.
"Maaf ya Laura. Aku putusin perjodohan kita memang aku tuh nggak suka sama kamu dan lagian wanita yang aku cintai adalah istriku ini."
Laura sangat kesal, ternyata gagalnya perjodohan ini karena Byan menikah dengan wanita lain.
"Sekarang kamu pergi dari sini dan jangan deketin suamiku lagi!" Usir Aisyah dan memperingati Laura.
Dengan perasaan jengkel, Laura pergi dari hadapan Aisyah dan Byan. Lalu Aisyah menatap sebal wajah Byan dan berlalu meninggalkan Byan.
"Sayang, tunggu aku." Byan segera mengejar Aisyah.
"Sayang, jangan marah dong." Bujuk Byan.
"Gimana aku nggak marah, kalau dia itu suka sama kamu!" Jengkel Aisyah.
"Tapi aku nggak suka sama dia."
"Aku tahu kamu nggak suka sama dia, karena kamu itu milikku." Aisyah sangat kesal karena Laura mendekati Byan. Tambah kesal lagi melihat Laura menyukai suaminya.
Aisyah kemudian mendekati Byan dan menarik kaos yang dikenakan Byan.
"Sayang kamu mau ngapain?"
"Diam!" Bentak Aisyah. Lalu Aisyah membuka celana jeans-nya Byan dan menurunkannya.
"Sayang...." Byan sangat gelisah, karena Aisyah membuka celananya.
Aisyah tidak peduli kegelisahan Byan dan Aisyah mencium bibir Byan, seraya jemarinya mengelus pangkal pahanya Byan.
Byan berusaha melepaskan diri dari buaian Aisyah yang sengaja menaikkan gai rahnya, tapi Aisyah semakin memperdalam ciumannya dan kini tangan Aisyah menggenggam tongkat kayu milik Byan.
Sekuat apapun Byan mempertahankan diri, akhirnya kalah juga dengan rayuan mesra jemari Aisyah. Byan sudah tidak bisa menahan diri dan ingin melakukan lebih dari ini.
Aisyah menghentikan ciumannya dan pergi begitu saja dari hadapan Byan. Sedangkan Byan melongo, karena Aisyah menghentikan kegiatan yang sudah membakar gairah bercintanya.
__ADS_1
"Ais...!!"