Hati Untuk Aisyah

Hati Untuk Aisyah
Mengucapkan janji suci


__ADS_3

Mami Yuyun saat ini sudah berada di rumah Aries. Mami Yuyun datang bersama Byan, tanpa sepengetahuan suaminya. Demi anak yang sangat disayanginya, Mami Yuyun mengabaikan larangan suaminya untuk mengizinkan Byan menikahi wanita pujaan hatinya.


"Perkenalkan, saya maminya Byan. Maaf, jika kedatangan saya mendadak karena permintaan Byan yang ingin secepatnya melamar putri bapak yaitu Aisyah. Saya berharap lamaran anak saya di terima oleh keluarga bapak, terutama Nak Ais."


"Jujur saya sangat senang, karena Byan membuktikan kesungguhannya untuk menikahi putri saya. Sebelum saya menerima lamaran dari Byan, saya mau mengatakan soal anak saya kepada ibu. Saat ini Ais tengah hamil anak dari mantan suaminya. Saya tidak mau membuat ibu kecewa kemudian hari, maka dari itu saya mengatakannya dari sekarang soal anak saya," ungkap Aries yang tidak mau menutupi kehamilan Aisyah. Aries tidak mau kalau kehamilan Aisyah akan menjadi gunjingan di keluarga Byan.


Mami Yuyun terperanjat mendengar kebenaran soal Aisyah, lalu pandangannya teralihkan kepada Byan yang duduk di sampingnya.


"Apa kamu sudah tahu kalau Ais itu tengah hamil?" Tanya Mami Yuyun kepada Byan.


"Tahu, mi."


"Dan kamu bersedia menerimanya?" Mami Yuyun kembali bertanya.


"Iya," jawab Byan yakin.


"Kamu yakin!" Byan mengangguk penuh keyakinan. "Kamu tidak akan mempermasalahkannya suatu saat nanti?"


Mami Yuyun harus memastikan kalau Byan memang benar-benar menerima Aisyah yang tengah hamil dan Mami Yuyun tidak mau , bila suatu saat Byan mempermasalahkannya.


"tidak, mi."


Mami Yuyun mengangguk, lalu kembali mengalihkan pandangannya ke Aries.


"Anak saya menerima kondisi Ais yang tengah hamil dan tidak mempermasalahkannya. Sekarang tinggal dari pihak bapak mau menerima lamaran anak saya atau tidak."


"Saya terima lamaran dari Byan," jawab Aries lega, karena maminya Byan tidak kecewa soal Aisyah yang tengah hamil.


Lamaran Byan diterima dan kedua belah pihak sudah memutuskan kalau besok Byan dan Aisyah akan melangsungkan pernikahannya.


Setelah pertemuannya dengan keluarga Aries, Mami Yuyun langsung disibukkan dengan persiapan pernikahan putranya itu.


***


Hari ini adalah hari yang sangat dinanti oleh Byan. Hari pernikahannya dengan Aisyah. Meski sederhana dan tidak mewah tidak mengurangi rasa bahagianya.

__ADS_1


Rasa gugup kini Byan rasakan, apalagi melihat Aisyah yang sudah duduk disebelahnya. Membuat perasaannya semakin gugup. Bahkan telapak tangannya berkeringat dingin. Byan menarik nafasnya dan membuangnya perlahan, untuk menetralisir rasa gugupnya.


Di depan penghulu dan saksi, Byan mengikrarkan janji suci pernikahan dengan satu tarikan nafas. Mengikat pemilik nama Aisyah Ayumna Putri menjadi istrinya. Kata sah pun terucap dari saksi dan para tamu undangan.


Rasa gugup yang tadi dirasakannya, kini berganti dengan rasa bahagia yang membuncah. Byan masih belum percaya kalau sekarang Aisyah adalah istrinya.


Byan menatap lembut wajah Aisyah yang tengah menundukkan kepalanya. Byan mengusap kepala Aisyah dengan sayang.


Byan dan Aisyah langsung sungkeman kepada Aries, Hana dan Mami Yuyun. Keduanya meminta doa, agar pernikahan yang akan dijalaninya selalu tetap langgeng sampai maut memisahkan.


"Tolong jaga Ais, jangan kamu kasari Ais. Sekarang ayah serahkan Ais kepadamu. Ayah berdoa semoga kamu bisa menjadi suami yang baik dan mampu membimbing keluargamu," ucap Aries.


"Iya, yah."


Byan dan Aisyah, beralih ke Hana. Hana memeluk Aisyah dengan haru biru. Hana berharap pernikahan Aisyah kali ini membuatnya bahagia dan tidak ada lagi air mata kesedihan.


"Byan, ibu titip Ais. Jangan kamu sakiti hatinya, jangan pula kamu mengabaikannya. Jika suatu hari kamu sudah tidak mencintainya, tolong kembalikan Ais dalam keadaan baik."


"Iya, Bu. Byan janji akan menjaga Ais dan memperlakukan Ais dengan baik."


"By, Mami tidak bisa lama berada disini. Sebentar lagi papimu pulang dari kantor," ucap Mami Yuyun,


"Iya, mi. Terima kasih, Mami sudah merestui pernikahan kami. Doakan terus agar pernikahan Byan dan Ais selalu baik-baik saja."


"Tentu, nak. Tanpa kamu meminta pun Mami akan selalu mendoakan pernikahan kalian. Semoga kamu bisa menjaga keluarga kamu dan jadilah kepala rumah tangga yang baik, yang selalu menjaga keutuhan rumah tangga yang kamu bina."


Mami Yuyun kemudian memeluk Byan dan Aisyah. Setelah itu Mami Yuyun pamit pulang.


*


Saat ini Aisyah dan Byan sudah berada di kamar. Keduanya tengah duduk berhadapan. Byan menarik satu tangan Aisyah untuk digenggamnya.


"Ais, terima kasih karena kamu sudah bersedia menikah denganku." Aisyah mengangguk kecil.


"Mulai sekarang, aku berjanji akan terus menjaga kamu dan calon anakmu. Aku berjanji akan berusaha membahagiakan kamu dan calon anakmu. Aku akan selalu setia menemani kamu sampai akhir hidupmu. Aku akan terus menggenggam tanganmu sampai tua nanti, karena aku cinta sama kamu."

__ADS_1


"Iya, kak. Tapi maaf, aku belum bisa mencintai kakak."


"Aku akan tetap bersabar menunggu kamu membalas cintaku."


"Terima kasih, kak. Kakak sudah mau menerimaku dan calon buah hatiku. Aku akan berusaha belajar mencintai, kakak."


"Itu harus. Kamu harus belajar mencintaiku." Lalu Byan mengecup keningnya Aisyah.


"Kak, boleh aku bertanya?"


"Soal apa?"


"Kenapa papi kakak tidak hadir di pernikahan kita, padahal aku ingin meminta restu dari beliau," ujar Aisyah, menatap kedua bola mata Byan.


Byan menghembuskan nafasnya, ia juga menginginkan restu dari papinya.


"Kak, apa aku boleh bertemu dengan papi?"


Byan terdiam dan Byan bingung harus jawab apa, karena papinya sudah pasti tidak akan merestui pernikahannya.


"Kak, aku mohon...."


"Baiklah, nanti malam kita ke rumahku." Byan mengiyakan kemauan Aisyah untuk bertemu dengan papinya. Byan berharap papinya merestuinya dan memaafkan dirinya yang sudah berani menikahi Aisyah tanpa seizinnya.


Malam harinya, Byan dan Aisyah berangkat. Tiba di sana, Byan menggandeng tangan Aisyah. Di dalam hatinya Byan terus berdoa, berharap papinya tidak murka.


"Mi... Pi...."


Kedua orang tuanya menoleh. Pak Sanjaya menatap tajam ke arah Byan karena sudah berani membawa perempuan ke rumahnya. Hati Pak Sanjaya masih sangatlah marah terhadap Byan karena Byan menolak untuk dijodohkan dengan Laura.


"Ngapain kamu bawa perempuan itu ke rumah!" Ketus Pak Sanjaya.


"Maaf, pi. Byan memang harus membawa Ais, karena Ais... Sekarang istriku," jawab Byan.


"Apa? Istri kamu!"

__ADS_1


__ADS_2