Hati Untuk Aisyah

Hati Untuk Aisyah
Bagaimana caranya menebus pengorbanan Dafa?


__ADS_3

Aditya hanya terdiam, saat ini ia tengah berduka atas kepergian Dafa untuk selama-lamanya. Walau sudah mencoba untuk mengikhlaskan Dafa, tapi rasanya sangat sulit.


Aditya menghela nafasnya, berusaha melepaskan rasa sesak di dadanya. Aries masih memeluk Aditya dengan tangis lirihnya. Aditya menepuk-nepuk punggung sahabatnya itu dan Aditya berusaha untuk berlapang dada.


"Katakan padaku... Apa yang harus aku lakukan untuk menebus pengorbanan Dafa...." Aries berkata sangat lirih bercampur tangis yang begitu terdengar menyayat hati.


Aries benar-benar sangat tak enak hati dan juga merasa bersalah, walau sebenarnya ini bukan keinginannya atau keinginan Aisyah. Bahkan Aries sendiri tidak tahu kalau Dafa orang yang telah mendonorkan hatinya.


"Sudah jangan menangis lagi. Ini memang sudah keputusannya Dafa memberikan hatinya untuk Ais. Dafa ikhlas memberikannya, lebih baik kamu doakan anakku agar tenang di alam baka."


Aditya berusaha membesarkan hatinya sendiri dan ia tidak mau menyalahkan siapapun termasuk Aries. Keinginan Dafa murni atas kemauannya sendiri dan tidak ada paksaan dari siapapun.


Walau sangat-sangat berat atas keputusan terbesarnya Dafa, tapi Aditya tetap berusaha menghargainya. Mungkin ini sudah jalan takdir anaknya pergi dengan cara seperti ini, memberikan separuh hidupnya untuk seorang wanita yang sudah Dafa sia-siakan.


Aries merosot dari pelukan Aditya dan duduk dengan kepala tertunduk sedih. Aries berhutang nyawa kepada Dafa dan sampai kapanpun ia tidak bisa membalas pengorbanan Dafa.


Aries menyusut air matanya yang terus-menerus mengalir dari pelupuk matanya.


"Kamu jangan merasa bersalah dengan apa yang sudah Dafa lakukan. Dafa melakukan itu semua demi kebaikan bersama, terutama Dafa ingin melihat Ais kembali sembuh dan mengurus anaknya. Mungkin benar apa kata Dafa, anaknya lebih membutuhkan Ais di bandingkan dengan dirinya yang tak bisa apa-apa selain duduk di kursi roda."


"Maksud kamu?" Aries mengerutkan keningnya. Tidak mengerti dengan perkataan Aditya.


"Sebelumnya Dafa mengalami kecelakaan yang menyebabkan saraf tulang belakangnya cidera dan itu akan membuat Dafa lumpuh permanen. Dari situ Dafa merasa kalau hidupnya tidak akan berguna." Aditya menjeda kalimatnya untuk menarik nafasnya dalam-dalam.


"Maka dari itu Dafa mengambil keputusan besar, yaitu mendonorkan hatinya untuk Ais. Ini pilihan Dafa, meski aku selaku orang tuanya melarang keputusan Dafa, dia tetap bersikukuh dengan keputusannya."


Aries tercengang mendengar fakta baru tentang Dafa. Betapa besarnya pengorbanan Dafa. Andai Dafa masih ada, ia akan bersujud kepadanya dan mengucapkan beribu-ribu kata terima kasih.


"Dit... Bagaimanapun aku tetap berhutang nyawa kepadamu. Aku nggak tahu gimana cara membalasnya." Gamang Aries.


"Cara membalasnya dengan cara jaga cucuku." Hanya itu yang Aditya harapkan, melihat cucunya tumbuh kembang dengan baik dan itu juga yang diharapkan Dafa.


"Aku pasti akan menjaga cucu kita dengan baik."


***


Setelah pembicaraannya dengan Aries. Aditya melangkah ke arah kamarnya. Ketika masuk, Aditya meratap sedih melihat istrinya terlihat murung. Tidak ada gairah yang terpancar dari diri Bella. Semuanya telah tertutup kabut penuh kesedihan.

__ADS_1


Aditya tahu, kepergian Dafa membuat istrinya teramat terpukul. Aditya sudah berusaha menghibur Bella, tapi nyatanya Bella tetap murung.


Aditya melihat makanan yang ia bawa tadi belum tersentuh sedikitpun. Aditya menghela nafasnya, lalu Aditya melangkah mendekati istrinya yang tengah menatap lurus ke arah luar jendela. Tatapan Bella kosong, kesedihan terlihat jelas dari kedua bola matanya.


"Sayang...." Aditya memeluk Bella dari belakang dan mencium kepala Bella.


Bella tidak bergeming. Bella tetap terdiam seperti patung.


"Kamu makan dulu ya. Aku nggak mau lihat kamu sakit," bujuk Aditya.


"Sayang... Ayo makan dulu." Aditya terus membujuk Bella, berharap Bella mau makan.


Bella tetap diam, membuat Aditya mendesah samar. Aditya sangat sedih melihat istrinya seperti ini.


"Sayang... Please... Jangan seperti ini. Jangan buat aku tambah sedih."


Terdengar isakan kecil dari Bella dan tubuh Bella bergetar. Bella akhirnya menumpahkan tangisannya. Tubuhnya merosot ke bawah. Aditya langsung menahan tubuh Bella agar tidak terduduk di lantai. Aditya membawa tubuh rapuh istrinya ke dalam pelukannya.


"Hiks... Hiks... Hiks...." Bella menangis tersedu-sedu. Tangisannya begitu menyayat hati.


Aditya juga menitikkan air matanya. Mereka berdua sama-sama sedih atas kehilangan Dafa.


Lama-lama tubuh Bella melemah dan merosot dari pelukan Aditya dan Aditya menahan tubuh istrinya. Bella pingsan. Ini sudah kesekian kalinya Bella pingsan.


Aditya membawa tubuh Bella ke tempat tidur. Difa datang membawa teh manis hangat untuk Bella. Difa terbelalak melihat mamanya pingsan lagi.


"Mama!" Difa segera mendekati Bella dengan perasaan cemas.


"Difa, tolong panggilkan dokter." Pinta Aditya. Difa pun mengangguk dan segera menelpon dokter pribadi keluarganya.


***


"Bagaimana keadaan istri saya, dok?" Tanya Aditya, sebab sudah hampir satu jam Bella masih pingsan.


"Istri anda kurang istirahat dan juga tidak ada asupan makanan, selain itu juga istri anda dehidrasi. Saran saya lebih baik istri anda di rawat saja di rumah sakit."


"Baik, dok. Saya akan bawa istri saya ke rumah sakit."

__ADS_1


Dokter pun mengangguk sambil memasukkan stetoskopnya ke dalam tas.


"Kalau begitu saya permisi dulu," pamit dokter dan Aditya mengantarkan dokter sampai luar kamarnya.


Setelah kepergian dokter, Aditya langsung membawa Bella ke rumah sakit yang sama dengan Aisyah. Setibanya di rumah sakit, Bella langsung diperiksa, setelah itu Bella dipindahkan ke kamar inap.


Malam harinya Aditya tengah berada di luar kamar inap Bella. Ia tengah menerima telpon dari asistennya.


Byan yang saat itu habis dari kantin, terkejut melihat Aditya di rumah sakit.


"Itukan Om Adit?"


Byan memilih menghampiri Aditya yang kebetulan sudah selesai bertempat.


"Om, kok ada disini? Memangnya siapa yang sakit?"


"Eh! Byan. Itu... Istri Om tengah sakit."


"Sakit?"


"Iya...."


"Boleh aku menjenguknya?" Ungkap Byan, yang memang ingin menjenguk Bella. Apalagi yang sakit ibu dari orang yang telah mendonorkan hatinya.


"Boleh. Ayo masuk," ajak Aditya.


Aditya dan Byan masuk ke kamar inap Bella. Byan menatap tubuh belakang Bella, yang saat itu tidur mirip ke arah tembok. Tubuh Bella bergetar menahan tangisannya.


Byan yang melihat Bella menangis, ikut merasakan kesedihan Bella. Pasti tidak akan sanggup jika anak tersayangnya pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.


Byan merasa bersalah. Karena Ais, Bella dan Aditya membiarkan Dafa mendonorkan hatinya.


"Om, lebih baik aku pergi saja. Besok aku akan menjenguk lagi." Byan memilih pergi dari sana, karena ia tidak sanggup melihat kesedihan seorang ibu.


"Iya...."


Byan pun keluar dengan perasaan bersalah dan juga sedih. Ternyata keputusan dafa, membuat mamanya terpukul dengan kepergiannya.

__ADS_1


Sepertinya aku harus mengajak putraku menemui neneknya yang sakit. Siapa tahu dengan kehadiran cucunya membuat Tante Bella tidak bersedih lagi dan siapa tahu hatinya terhibur. Baiklah, besok aku akan membawa putraku menemui Tante Bella.


__ADS_2