Hati Untuk Aisyah

Hati Untuk Aisyah
Ini bukan darah


__ADS_3

"Dafa, kamu di sini?" Panggil seseorang yang kini sudah berdiri tidak jauh dari mejanya.


Dafa menoleh ke arah orang yang memanggilnya dan betapa terkejutnya Dafa melihat orang tersebut.


"Wulan?" Cicit Dafa.


Wulan tersenyum senang dan tak menyangka kalau dirinya akan bertemu lagi dengan Dafa. Tanpa permisi, Wulan ikut duduk di mejanya Dafa dengan senyum terus tersungging di bibirnya.


Wulan tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya, saat bertemu lagi dengan Dafa.


"Aku senang bisa bertemu dengan kamu di sini," kata Wulan yang begitu lekat memandangi Dafa. Lelaki yang selama ini ia rindukan.


Dafa memutarkan bola matanya malas dan kenapa harus bertemu dengan Wulan. Pikir Dafa.


Sejak perceraiannya dengan Dafa, Akemi membuangnya begitu saja tanpa sebab. Sejak saat itu Wulan memutuskan kembali ke tanah air.


Dafa hanya menatap sinis wajah Wulan yang terlihat semakin tirus. Bahkan Dafa enggan menjawab perkataan Wulan, apalagi hatinya itu sudah mati rasa terhadap Wulan.


"Aku perhatikan dari luar sepertinya kamu menyimpan banyak masalah."


"Sok tahu kamu. Lebih baik urus saja hidupmu!" Ketus Dafa.


Hati Wulan sedikit nyeri melihat sikap Dafa yang tetap acuh terhadapnya. Ternyata cintanya Dafa benar-benar sudah mati terhadapnya.


Dafa yang malas duduk berdua dengan Wulan memilih bangkit dari duduknya dan melangkah keluar dari cafe tersebut. Baru saja kakinya keluar, hujan tiba-tiba turun dengan sangat deras.


Dafa mendengus, karena harus menunggu hujannya berhenti. Sedangkan mobilnya terparkir di ujung parkiran.


Wulan kini ikut berdiri di samping Dafa dan berniat menemani Dafa sampai hujannya berhenti.


"Ngapai kamu berdiri di sampingku!" Kesal Dafa.


"Nemenin kamu lah!" Jawab Wulan yang tak memperdulikan kekesalan Dafa.


Dafa benar-benar sudah sangat muak dekat dengan Wulan. Dari pada terus bersama Wulan, Dafa akhirnya memutuskan berlari melewati hujan yang deras.

__ADS_1


Wulan mendesah, menatap kepergian Dafa begitu saja tanpa memperdulikan dirinya lagi.


***


Di tempat berbeda. Aisyah saat ini tengah memijit kakinya sendiri dan semakin hari staminanya semakin menurun. Bahkan sekarang-sekarang ini Aisyah mudah lelah dan rasa mual sering ia rasakan, padahal kandungannya sudah trisemester ketiga, tapi rasa mual itu semakin menjadi.


Byan yang baru selesai mandi, segera membantu Aisyah memijit kakinya.


"Pegal-pegal lagi kakinya?" Tanya Byan.


"Iya. Jalan ke depan saja kerasa banget capeknya," keluh Aisyah.


"Kalau cepat capek, jangan dipaksain. Lebih baik banyakin istirahat."


"Ih, kakak tuh nggak tahu apa? Kalau ibu hamil itu harus sering gerak, apalagi jalan kaki di pagi hari. Biar nanti kalau lahiran lancar."


"Aku tahu, tapi aku nggak mau lihat kamu kecapekan," jawab Byan yang tetap tidak ingin melihat Aisyah kecapekan, walaupun semua yang dikatakan Aisyah itu bagus buat kehamilannya. Kemudian pijatan lembut Byan beralih ke kaki yang satunya lagi.


"Lihat sekarang, kaki kamu sampai bengkak gara-gara sering jalan. Besok-besok nggak usah lagi jalan pagi dan diam di rumah," omel Byan, yang makin ke sini semakin protektif.


Byan terus memijit kaki Aisyah, sampai-sampai Aisyah tertidur karena terbuai dengan pijatan lembut Byan.


***


Sebelum matahari menampakkan dirinya, Aisyah sudah bangun dan sudah membuat sarapan spesial buat suami tercintanya. Setelah itu Aisyah di sibukkan dengan pakaian yang akan di kenakan Byan untuk ke kantor. Selesai menyiapkan semuanya, Aisyah membangunkan Byan yang masih terlelap tidur.


Biasanya Byan bangun lebih awal darinya, tapi karena semalaman bergadang menyelesaikan pekerjaannya, akhirnya Byan jam segini masih tidur.


"Kak, bangun...." Dengan lembut Aisyah memukul pipi Byan.


"Kak, cepat bangun. Ini sudah jam enam." Kali ini Aisyah menggoyangkan tubuh Byan.


"Hmm...."


Byan pun membuka matanya yang terasa lengket dan menyimpitkan matanya untuk melaraskan cahaya yang masuk ke kornea matanya.

__ADS_1


"Cepat bangun, terus mandi," perintah Aisyah, sambil menarik tubuh Byan dari atas ranjang.


Byan pun menurut dan berjalan ke arah kamar mandi, tapi Byan membalikkan tubuhnya dan kembali melangkah mendekati Aisyah yang tengah membereskan tempat tidur.


Cup.


Kecupan manis Byan daratkan di pipi Aisyah.


"Ciuman selamat pagi," seloroh Byan dan kembali melangkah ke kamar mandi.


Selesai mandi dan sudah rapi, Byan memeluk Aisyah dari belakang. Sambil menatap wajah Aisyah yang tengah merias diri.


"Kamu pakai pelet apa sih, sayang. Kok, aku setiap hari selalu jatuh cinta sama kamu," celetuk Byan, yang menatap Aisyah lewat cermin.


"Pelet pengasihan, agar kamu tidak bisa berpaling dariku," timpal Aisyah, yang menanggapi perkataan Byan.


"Pantas saja, aku susah berpaling dari bumilku ini." Lalu Aisyah memutarkan tubuhnya dan menatap kedua bola matanya yang selalu meneduhkan hatinya.


Aisyah kemudian melingkarkan tangannya di leher Byan dan menjinjitkan kakinya untuk menggapai bibirnya Byan.


"I love you, my husband...." Bisik Aisyah di depan bibirnya Byan dan selanjutnya Aisyah mencium bibir Byan dengan lembut.


Saat tengah asik berciuman, Aisyah batuk kecil dan tanpa di sadari bibirnya berdarah.


Byan menghentikan ciumannya dan menatap bingung bibir Aisyah yang terdapat noda darah, termasuk di bibirnya.


"Ini darah?" Tanya Byan, sambil mengelap bibirnya Aisyah.


"Ini bukan darah, mungkin lipstiknya aku," elak Aisyah dengan tatapan berkaca-kaca.


"Ini darah, sayang...." Kekeuh Byan.


"Bukan, kak... Ini bukan darah...." Aisyah akhirnya tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.


Byan segera memeluk Aisyah yang kini mulai mengeluarkan suara Isak tangisnya.

__ADS_1


__ADS_2