
Setelah pembicaraannya dengan papinya, Byan terus memikirkan soal perjodohannya dengan Laura. Byan kemudian menyalakan handphonenya dan memandangi foto Aisyah, yang selalu membuat hatinya bergetar.
"Aku harus bicara lagi sama papi dan aku harus mengatakan kalau wanita yang aku cintai bukanlah Laura tapi Ais."
Ya... Byan harus mengatakannya sebelum semuanya terlambat. Byan segera menemui papinya dan mengatakan tentang perasaannya yang sebenarnya.
Byan mencari keberadaan papinya, yang biasanya jam segini ada di ruang kerjanya. Byan melangkah masuk dan berdiri di depan meja kerjanya.
"Pi, aku mau bicara soal Laura."
"Kebetulan, papi juga mau membicarakan tentang kamu dan Laura. Barusan papi sudah berbicara sama Pak Atmodjo dan beliau menyetujui soal perjodohan kamu dan Laura. Papi sama Pak Atmodjo sepakat untuk mempercepat pertunangan kamu dan Laura dan besok malam kita harus bertemu dengan keluarga Pak Atmodjo."
Binar bahagia jelas terpancar dari wajah papinya, membuat Byan mengurungkan niatnya untuk berbicara soal perasaannya yang sebenarnya.
Byan tidak mau merusak kebahagiaan papinya saat ini. Mungkin lain waktu ia akan membicarakannya.
***
Hari ini Aditya dan Bella, berangkat ke Jepang. Mereka berdua memilih penerbangan pagi, agar malamnya bisa kembali lagi ke Indonesia.
Setibanya di Jepang, Aditya dan Bella langsung menuju apartemennya Dafa. Aditya menekan bel dan pintu pun dibuka oleh Dafa.
"Papa... Mama...." Dafa terkejut dengan kedatangan kedua orang tuanya. Dafa menelan Salivanya karena keinginannya untuk menikahi Wulan bisa gagal.
Aditya dan Bella masuk ke dalam apartemennya Dafa dan langsung duduk.
"Kok, papa sama Mama datang kesini? Terus kenapa nggak memberitahu aku." Dafa tidak bisa menyembunyikan rasa keterkejutannya dan Dafa benar-benar gelisah, takut kalau kedua orang tuanya mengetahui kalau dirinya akan menikahi Wulan.
"Kenapa memangnya?" Bella menatap curiga.
"Ya... Nggak kenapa-napa. Kaget aja gitu, papa sama Mama datang kesini."
Aditya menarik nafasnya terlebih dahulu dan membuangnya perlahan. Aditya menatap wajah putranya itu.
"Dafa, kenapa kamu tidak menginginkan anak yang sedang di kandung Aisyah. Padahal anak itu adalah anak kamu," ucap Aditya.
__ADS_1
Dafa memutarkan bola matanya, ternyata kedatangan kedua orang tuanya ke Jepang hanya untuk membicarakan tentang kehamilan Aisyah.
"Karena aku yakin kalau Ais itu tidak hamil," jawab Dafa santai. " Itu sih alasannya Ais saja biar aku tidak meninggalkannya."
"Tapi pada kenyataannya Ais memang hamil anak kamu. Seharusnya kamu itu sebagai seorang lelaki harus berani bertanggung jawab atas kehamilan Ais, bukan pergi dan lebih parahnya lagi kamu tidak menginginkannya." Kesal Aditya.
"Pokoknya papa mau kamu kembali lagi bersama Ais demi anakmu." Lanjut Aditya dan memaksa Dafa.
"Aku nggak mau!" Tolak Dafa. "Buat apa aku harus balik lagi sama Ais! Aku yakin ini hanya akal-akalan saja, agar papa sama Mama memintaku balik lagi dengan wanita penyakitan itu!"
Plak
Tamparan keras mendarat di pipi Dafa. Aditya benar-benar sudah tidak bisa menahan kesabarannya lagi.
"Kalau kamu tidak mau rujuk lagi sama Ais, semua fasilitas yang papa berikan akan papa cabut sekarang juga!" Gertak Aditya yang tidak main-main untuk mencabut fasilitas yang ia berikan kepada Dafa.
Dafa membulatkan matanya mendengar perkataan papanya. Dafa jelas tidak mau semua fasilitasnya di cabut begitu saja sama papanya, sedangkan dirinya butuh biaya untuk menikahi Wulan.
"Kok, gitu sih pa?" Protes Dafa.
"Kenapa harus rujuk sama Ais. Papa tahu sendiri kalau aku itu nggak cinta sama Ais!" Dafa menggeram kesal, karena papanya memaksa kembali bersatu dengan Aisyah.
"Ya sudah terserah kamu, maka sekarang juga papa cabut fasilitas kamu dan jangan harap papa berbaik hati sama kamu," jawab Aditya santai. Aditya yakin kalau Dafa tidak mau hidup susah, apalagi saat ini Dafa tengah berada di negri orang.
Gimana ini... kalau fasilitasku di cabut itu berarti aku nggak bisa nikahin Wulan. Darimana aku cari uang buat biaya pernikahanku nanti.
Dafa benar-benar dilema besar dan tak tahu harus mengambil keputusan apa. Semuanya memberatkan dirinya.
"Oke, aku akan ikut pulang ke Indonesia." Akhirnya Dafa menyetujuinya, soal kembali atau tidak dengan Aisyah itu gimana nanti. Yang jelas saat ini fasilitasnya tidak di cabut dulu agar dirinya bisa menikahi Wulan.
"Bagus. Sekarang juga kamu siap-siap, karena malam ini juga kita balik ke Indonesia."
"Apa? Malam ini?! Kenapa nggak besok aja sih pa!"
"Kalau kata papa sekarang, ya sekarang. Nggak ada protes-protesan."
__ADS_1
"Baiklah!" Dengus Dafa.
Malam ini juga mereka bertiga terbang ke Indonesia. Dengan membawa harapan, yaitu Dafa benar-benar bisa berubah dan memperlakukan Aisyah dengan baik. Sesuai dengan keinginannya Aditya.
***
Disinilah sekarang, di kediaman Aries. Aditya, Bella dan Dafa tengah duduk berhadapan dengan Aries dan Hana. Dafa menunjukkan wajah dinginnya, dan rasanya Dafa ingin cepat-cepat pergi dari rumah mantan mertuanya itu.
"Ada apa kalian datang kesini!" Ketus Hana, yang menunjukkan rasa tak sukanya. Apalagi melihat wajah songong Dafa.
"Kedatangan saya kesini mau memperbaiki hubungan antara Dafa dan Ais. Dafa bersedia bertanggung jawab atas kehamilan Ais," ungkap Aditya.
"Nggak perlu! Saya menolak keras! Saya tidak mau anak saya disakitin lagi sama Dafa." Ucap Hana, yang tidak mau Aisyah jatuh di lubang yang sama.
"Aku juga nggak mau balik lagi sama Ais!" Timpal Dafa, nggak kalah sinisnya.
"Dafa!" Hardik Aditya, tapi Dafa hanya memalingkan wajahnya.
"Anda lihat sendiri, bagaimana sikap Dafa! Jelas-jelas Dafa tidak mau balik lagi dengan anak saya." lanjut Hana, yang menatap tajam wajah Dafa.
"Saya minta maaf, tapi tadi Dafa sendiri yang bilang kalau Dafa mau rujuk lagi dengan Ais, iyakan Dafa."
"Hmm...." Jawab Dafa seenaknya.
"Saya nggak percaya! Tanpa Dafa, Ais bisa melewati kehamilannya."
Saat itu juga Aisyah datang dari kuliahnya. Aisyah terkejut melihat Dafa ada di rumahnya, seketika rasa sakit itu muncul lagi.
Dafa yang melihat Aisyah datang, menatap dingin wajah Aisyah yang terlihat pucat.
"Sudahlah, pa. Buang-buang waktu saja kita disini. Papa sudah dengar sendiri kan tanggapannya seperti apa. Aku yakin bayi yang dikandung Ais bukanlah anakku, tapi anak orang lain."
"Cukup Dafa! Tega kamu bicara seperti itu sama aku. Jika kamu memang tidak mau menerima anakku, tidak apa-apa, tapi jangan pernah menuduhku perempuan yang tidak benar!" Geram Aisyah. Sudah cukup baginya disakitin oleh Dafa.
"Memangnya kenyataan kamu seperti itu. Aku yakin tidak akan ada laki-laki yang sudi menikah sama kamu," ucap Dafa tanpa perasaan.
__ADS_1
"Siapa bilang! Aku bersedia menikahi Ais saat ini juga."