
Mal adalah pilihan mereka sebagai tempat menghabiskan waktunya. Zia dan Widia mengajak Aisyah menonton bioskop yang sedang booming.
Selesai menonton, Aisyah dan kedua temannya menyerbu toko pakaian dan setiap toko yang mereka datangi, tidak ada satupun yang mereka beli. Lelah berkeliling, ketiganya kini memilih beristirahat di food court.
"Ais, kamu tahu nggak, kalau Widia sekarang sudah punya gebetan loh," seloroh Zia dan Widia mendorong bahu Zia yang mulutnya ember.
"O ya... Anak fakultas apa?" Tanya Aisyah.
"Dia sudah kerja. Kamu tahu nggak, gebetannya Widia ganteng banget tahu," lanjut Zia yang memuji gebetan Widia.
"Aku jadi penasaran? Seperti apa gantengnya gebetan Widia."
"Tunjukkan fotonya, Wid," suruh Zia dan Widia pun menunjukkan foto cowoknya kepada Aisyah.
"Ganteng kan?" Celetuk Zia.
Aisyah membulatkan matanya saat melihat foto gebetan Widia. Tatapan Aisyah beralih ke wajah Widia dan seketika Aisyah langsung tertawa terbahak-bahak, seraya menggelengkan kepalanya. Sedangkan Zia dan Widia bingung melihat Aisyah tertawa, bahkan keduanya saling tatap.
"Kenapa kamu tertawa?" Widia bertanya.
"Widia... Widia... Kalian berdua tahu nggak, lelaki yang kalian puji-puji itu seperti apa?" Ucap Aisyah, masih dengan sisa tawanya.
"Memang kamu kenal sama gebetannya Widia?" Timpal Zia.
"Kenal lah! Dia kan teman suami aku, namanya Dhika, iya kan?"
Zia dan Widia mengangguk. "Dhika itu cowok playboy dan pacarnya banyak banget. Kemarin-kemarin aja dia datang ke rumahku sama pacar barunya. Kalau nggak salah nama pacarnya Rani."
"Jadi Dhika itu cowok playboy?" Widia langsung membungkukkan badannya lesu.
"Iya," jawab Aisyah.
__ADS_1
"Miris banget sih kisah percintaan aku, baru saja mau serius menjalani pacaran. Eh! Ternyata cowoknya playboy," ujar Widia merengut manyun.
"Sabar, nanti juga bakal dapat yang lebih baik." Ucap Aisyah sembari mengelus punggung Widia.
Selesai bersantai-santai di food court. Aisyah dan kedua temannya kembali melanjutkan mengelilingi mal dan melihat-lihat beberapa barang di setiap tokonya.
"Kita ke toko sepatu dulu yuk, tadi aku lihat ada sepatu plat yang bagus," ajak Widia, lalu ketiganya masuk ke toko sepatu.
Aisyah melihat-lihat model sepatu dan sandal, kemudian Aisyah mengambil sandal heels 5 cm dan mencobanya.
"Sandal itu bagus di pakai sama kamu, nak." Ucap seseorang.
Aisyah pun menoleh kepada orang tersebut. "Mama Bella?" Aisyah terkejut melihat Bella ada di toko tersebut dan Bella ternyata tidak sendirian. Bella ditemani oleh Dafa.
Saat itu juga Aisyah ingin keluar dari toko tersebut, tapi Bella justru kini mengelus perutnya dengan sayang.
"Sekarang sudah berapa bulan?"
Dafa kini tersenyum senang bisa mengelus sang baby di perut Aisyah dan hati Dafa langsung bergetar hangat, saat tangannya berada di perut Aisyah.
"Ma... Baby-nya gerak-gerak," ujar Dafa dengan wajah berbinar. Untuk pertama kalinya Dafa merasakan gerakan kecil dari sang baby dan rasanya Dafa sangat bahagia.
"Apa baby-nya tahu kalau papanya yang sedang mengelusnya?" Lanjut Dafa.
"Ya iyalah, kan kamu papanya," timpal Bella.
Aisyah ingin sekali menepis tangan Dafa di perutnya, tapi karena ada Bella, Aisyah jadi bingung untuk menepis tangan Dafa. Seketika ada rasa bersalah terhadap Byan.
Ah! kenapa aku baru ingat kalau aku belum telpon kak Byan. Padahal kakak sudah memperingatkan aku untuk tidak pergi tanpa seizinnya.
Ada rasa sesal, karena ia tidak menuruti perkataan Byan dan sekarang justru bertemu dengan orang yang sangat dihindarinya.
__ADS_1
"Mm... Maaf, ma. Ais pamit pergi dulu." Aisyah segera pergi dari hadapan Bella dan Dafa. Aisyah menarik kedua temannya untuk pergi dari sana dan Aisyah memilih untuk pulang.
"Ais, tunggu! Ma... aku mau mengantarkan Ais pulang." setelah Dafa segera mengejar Aisyah.
"Kenapa buru-buru? Itu cowok bukannya mantan suami kamu?" Seloroh Widia, menunjuk ke arah Dafa yang mengikutinya.
"Iya. Makanya kita harus pergi dari sini," jawab Aisyah.
Aisyah, Zia dan Widia mempercepat langkah kakinya. Dafa kini bisa mengejar Aisyah sampai parkiran mobil.
"Ais, tunggu!" Dafa segera mencekal tangan Aisyah dan menariknya, sehingga kini Aisyah masuk ke dalam dekapan Dafa.
"Lepas!" Bentak Aisyah, sambil berusaha melepaskan diri dari kungkungan Dafa.
"Nggak! Aku nggak mau lepasin kamu."
Zia dan Widia membantu Aisyah, agar terlepas dari kungkungan Dafa.
"Lepaskan Ais!" Tukas Zia menarik tangan Dafa dari pinggang Aisyah.
"Diam kalian! Kalau kalian ingin lihat Ais selamat, jangan halangin aku." Dafa menggertak Zia dan Widia dan kini Dafa membawa Aisyah pergi dari sana.
"Dafa! Lepaskan aku!" Aisyah terus memberontak, agar Dafa melepaskan dirinya.
Dafa tidak memperdulikan perkataan Aisyah dan kini Dafa memaksa Aisyah untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Dafa, buka pintunya!" Aisyah berusaha membuka pintu mobil yang kini sudah di kunci oleh Dafa.
"Kamu nggak usah takut. Aku akan menebus semua yang sudah aku lakukan sama kamu."
"Nggak perlu! Buka pintunya sekarang juga." Mohon Aisyah.
__ADS_1
"Tidak...." Kemudian Dafa meninggalkan parkiran mal dan membawa Aisyah ke suatu tempat.