
Pada akhirnya Byan kalah debat dengan Aisyah yang ngotot ingin ikut dengannya ke Jepang dan Aisyah langsung menghujani Byan dengan ciuman di seluruh wajahnya.
"Sudah, stop!" Seru Byan kepada Aisyah yang terus menciuminya. Aisyah pun menghentikan ciumannya dan tersenyum senang menatap wajah Byan yang terlihat masam.
"Sebelum berangkat ke Jepang, kita konsultasi dulu ke dokter kamu. Apa boleh kamu berpergian jauh menggunakan pesawat atau tidak," pungkas Byan.
"Pasti dibolehin sama dokter," kata Aisyah yakin.
"Kayak yang yakin saja. Bagaimana kalau dokter mengatakan nggak boleh."
"Aku akan rayu dokternya." Bagaimana pun caranya, Aisyah harus ikut dengan Byan.
Byan menghela nafasnya, melihat Aisyah tetap kekeuh ingin ikut dengannya.
Keesokan harinya, sepulang kerja. Byan memaksa Aisyah untuk konsultasi ke dokter. Dengan wajah merengut manyun Aisyah menuruti perkataan Byan, yang sebenarnya dirinya tidak mau menemui dokter Azizah. Karena Aisyah takut mendapatkan larangan dari dokter untuk berpergian jauh menggunakan pesawat.
Sesampainya di ruangan dokter kandungan, Byan dan Aisyah duduk di depan dokter Azizah.
"Apa ada keluhan?" Tanya dokter Azizah sedikit mencemaskan kondisi Aisyah.
"Tidak ada, dok," jawab Aisyah.
"Lalu...."
" Saya mau konsultasi, dok. Rencananya minggu depan kami mau pergi ke Jepang dan istri saya apa boleh berpergian jauh menggunakan pesawat atau tidak?"
"Oh... Sebenernya boleh, karena kehamilan istrinya mas sudah trisemester kedua dan jika memang tidak ada keluhan, ya... Boleh-boleh saja."
Aisyah tersenyum menang, akhirnya dirinya bisa ikut dengan sang suami.
Byan mangut-mangut mendengarkannya dan merasa lega jika sudah dapat izin dari dokter. Sebagai seorang suami, Byan tidak mau melakukan kesalahan yang nantinya bisa membuat kehamilan Aisyah terganggu. Maka dari itu Byan harus bertanya dulu kepada dokter.
Sebelum pulang, Aisyah di periksa dulu dan sudah sejauh mana perkembangan sang jabang bayi.
Byan menatap takjub, ketika bola matanya menangkap sosok mungil yang tengah bergerak di layar monitor. Malaikat kecil itu seolah sedang menyapanya. Walau hampir setiap bulan dirinya menemani Aisyah kontrol, tetap saja Byan tidak bisa menyembunyikan rasa takjubnya setiap melihat perkembangan sang buah hati.
Hati Byan dan Aisyah di buat terharu, manakala mendengar suara detak jantung si kecil untuk pertama kalinya.
"Kak...." Panggil Aisyah lirih, kedua matanya berkaca-kaca menatap wajah Byan.
Byan tersenyum hangat dan mengelus kepala Aisyah.
"Semuanya bagus dan tidak ada masalah," kata dokter.
Byan dan Aisyah senang mendengar kehamilannya baik-baik saja, apalagi si kecil tumbuh kembang dengan baik.
***
__ADS_1
Seminggu kemudian, Aisyah tengah sibuk mempacking apa saja yang akan dibawa ke Jepang. Aisyah sangat antusias mempersiapkan semuanya, bahkan dari perintilan yang kecil pun Aisyah bawa.
Byan yang baru keluar dari kamar mandi, menggelengkan kepalanya melihat istrinya begitu sibuk memasukkan barang-barang bawaannya.
"Apa sudah beres?" Tanya Byan.
"Sudah," jawab Aisyah sambil memasukkan barang terakhir ke dalam koper. Byan mendekati Aisyah untuk membantu menutup kopernya, karena melihat kopernya sangat penuh.
"Sip... Akhirnya selesai juga," seru Aisyah.
"Vitaminnya sudah kamu masukkan belum?"
"Ah... Hampir saja aku lupa." Aisyah menepuk jidatnya. Dengan cepat Aisyah memasukkan vitamin ke dalam tasnya.
Setelah semuanya selesai, Aisyah dan Byan bergegas keluar sembari membawa kopernya. Icad, rekan kerjanya sudah menunggunya di depan rumahnya.
"Ayo, kita berangkat." Seloroh Byan kepada Icad.
***
Setelah menghabiskan waktunya berjam-jam di dalam pesawat. Kini Byan, Aisyah dan Icad menginjakkan kakinya di bandara internasional Tokyo. Hawa dingin langsung menyambutnya. Aisyah mengeratkan tangannya ke lengan Byan, karena merasakan dinginnya cuaca di Tokyo.
Ketiganya sudah di jemput oleh salah satu pekerja dari perusahaannya. Byan, Aisyah dan Icad langsung di bawa ke hotel dan beristirahat sejenak sebelum berangkat ke tempat proyek.
Setibanya di hotel. Aisyah langsung merebahkan diri di atas ranjang. Rasa nyaman langsung Aisyah rasakan saat punggungnya menyentuh ranjang.
Byan pun ikut merebahkan diri di samping Aisyah dan melingkarkan tangannya di atas perut Aisyah.
"Apa kamu senang?" Tanya Byan dan Aisyah mengangguk.
"Semoga kamu nggak bosen tinggal di hotel."
"Aku nggak akan bosen, apalagi sama kakak," jawab Aisyah, yang memiringkan tubuhnya menghadap Byan.
"Yakin nggak akan bosen? Kamu kan tahu sendiri aku ke sini mau ngapain?"
"Iya aku tahu. Buatku nggak masalah menunggu kakak di hotel sendirian."
"Baguslah. Aku harap kamu nantinya nggak mengeluh."
"Kakak tenang saja dan percaya padaku," kata Aisyah meyakinkan Byan.
Aisyah kemudian mendekatkan wajahnya untuk mencium sang suami, yang langsung di sambut oleh Byan. Keduanya saling memangut menikmati ciuman mesranya. Saling membalas, saling menyesap dan saling berbelit lidah.
"I love you...." Bisik Aisyah, untuk pertama kalinya mengatakan kata cinta kepada Byan.
Byan tersenyum lebar ketika mendengar kata tersebut. Hati Byan semakin berbunga mendengar bisikan cinta dari Aisyah. Tiga kata yang sangat di nantikannya selama ini dan akhirnya Aisyah mengatakannya juga.
__ADS_1
" I love you more than anything," balas Byan, yang kembali menautkan bibirnya dengan bibir Aisyah. Keduanya hanyut dalam buaian ciuman mesra dan rasanya Byan ingin terus mencecap manisnya bibir ranum istri tercintanya.
Drrtt Drrtt
Suara dering handphone milik Byan bunyi. Dengan berat hati Byan melepaskan tautan bibirnya dan segera mengangkat telponnya yang ternyata dari Icad.
"Halo, Cad...." Jawab Byan.
"..."
"Oke, aku siap-siap dulu." Byan pun mematikan sambungan teleponnya.
"Sayang, aku harus meninjau lokasi proyek dulu. Kamu nggak apa-apa kan di tinggal sendirian disini."
"Iya, nggak apa-apa."
Byan pun segera bersiap-siap dan berangkat ke lokasi proyek dengan Icad. Mereka berangkat ke sana bersama orang yang menjemput di bandara.
***
Sudah tiga hari Aisyah dan Byan berada di Jepang dan saat ini Aisyah kini tengah berdandan cantik dan menunggu Byan pulang kerja. Sebelumnya, Byan menelponnya dan mengatakan akan mengajaknya untuk makan malam di luar.
Aisyah sudah selesai merias diri dan di saat itu juga Byan datang.
"Cantiknya istriku," puji Byan.
"Terima kasih," jawab Aisyah tersipu atas pujian dari Byan.
"Ayo, kita langsung berangkat saja."
"Kakak, nggak mandi dulu?"
"Nanti saja."
Byan dan Aisyah langsung berangkat dan mencari restoran. Sepanjang perjalanan menyusuri jalanan ibu kota, Aisyah terus menggandeng tangan Byan.
Keduanya tampak bahagia, apalagi Aisyah selalu menyunggingkan senyumnya kepada Byan.
"Kak, kita makan di restoran itu saja." Tunjuk Aisyah.
"Oke. Ayo kita ke sana." Byan dan Aisyah memasuki restoran tersebut dan Aisyah langsung memesan makanannya.
"Kak, aku ke toilet dulu sebentar." Izin Aisyah.
"Iya."
Aisyah bergegas ke toilet untuk menuntaskan buang air kecil, dan setelah selesai, Aisyah kembali ke meja dimana Byan duduk. Lantai yang licin karena habis di pel, membuat Aisyah terpeleset.
__ADS_1
"Aargh...."