
Aisyah mengerjapkan matanya karena merasakan sentuhan lembut di pipinya. Aisyah menyimpitkan matanya untuk melaraskan cahaya lampu.
Aisyah tersenyum melihat Byan tengah duduk di hadapannya.
"Hmm... Kakak. Maaf, aku ketiduran nungguin Kakak pulang," kata Aisyah sembari menutup mulutnya karena menguap.
"Iya, nggak apa-apa, tapi lain kali kalau nunggu aku pulang mending di kamar saja jangan di sini," kata Byan lembut.
"Kok, jam segini kakak baru pulang?" Tanya Aisyah yang kini merubah posisinya menjadi duduk.
"Di kantor kerjaan banyak dan harus selesai hari ini juga."
"Oh... Apa kakak sudah makan?"
"Belum. Aku belum sempat makan."
"Kalau gitu aku siapkan makan buat kakak." Byan mengangguk, lalu Aisyah bergegas pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam buat Byan. Sedangkan Byan memilih membersihkan diri, setelah itu baru ia akan ke meja makan.
Selesai mandi, Byan segera menyusul Aisyah di dapur dan setibanya di sana. Aisyah sudah beres menyiapkan makan malam untuknya.
Byan segera menyantap makanannya, sedangkan Aisyah hanya mengaduk-aduk makanannya saja. Byan menatap heran, karena Aisyah tidak makan.
"Kamu kenapa?" Tanya Byan, yang melihat Aisyah tidak memakan makanannya.
Aisyah menggelengkan kepalanya.
"Lalu kenapa kamu tidak makan?"
"Lagi malas makan saja." Entah kenapa Aisyah tidak selera melihat makan yang ia siapkan.
"Kamu nggak boleh malas makan. Ibu hamil itu harus banyak makan, agar nutrisi buat Dede bayinya terpenuhi." Byan menggeserkan kursinya dan menarik piring milik Aisyah.
"Aku suapin." Byan mendekatkan sendoknya ke mulut aisyah. Meminta Aisyah membuka mulutnya, tapi yang ada Aisyah semakin merapatkan mulutnya sembari menggelengkan kepalanya.
"Kamu harus makan," lanjut Byan dan bersikeras menyuapi Aisyah.
Byan mendengus karena Aisyah tidak juga membuka mulutnya.
"Baiklah, aku nggak akan memaksa kamu untuk makan, tapi perut kamu harus diisi makanan."
"Sebenernya aku mau makan nasi goreng yang mangkal di ujung komplek." Aisyah berkata sedikit ragu, ia tahu kalau Byan sudah lelah karena seharian bekerja.
__ADS_1
"Kenapa nggak bilang dari tadi, kalau kamu mau nasi goreng. Lain kali kalau kamu mau sesuatu bilang sama aku. Aku pasti akan memenuhinya," ucap Byan sambil berdiri dan menarik pergelangan tangan Aisyah.
"Ayo kita ke sana."
Aisyah berbinar senang karena Byan mau mengantarkannya membeli nasi goreng yang diinginkan olehnya.
Setibanya di sana, Aisyah segera memesan nasi goreng spesial dengan telur ceploknya dua.
Byan tersenyum melihat Aisyah dengan lahapnya menyantap nasi goreng tersebut, bahkan Aisyah sampai lupa menawarkannya.
*
*
*
"Ini diminum dulu vitaminnya," kata Byan dan saat ini keduanya sudah berada di kamarnya. Byan menyerahkan vitaminnya kepada Aisyah dan Aisyah langsung meminumnya.
"Terima kasih kak," ucap Aisyah sembari meletakan gelasnya di atas nakas.
"Iya, sekarang ayo kita tidur."
"Baik-baik di dalam perut mama ya, nak. Semoga kamu tumbuh dengan sehat. Papa sayang kamu, i love you baby...." Byan mendaratkan kecupan di atas perut Aisyah.
Aisyah yang melihat Byan yang begitu menyayangi buah hatinya, terharu dibuatnya. Aisyah tak menyangka kalau Byan benar-benar tulus mencintai buah hatinya, padahal bukan buah hati kandungnya.
Terima kasih Tuhan, telah mengirim kak Byan untukku.
Byan kemudian mengecup kening Aisyah. "Tidurlah dan semoga mimpi indah," ucap Byan lembut.
Aisyah mengangguk dan segera tidur. Byan terus menatap lekat wajah Aisyah dan ini adalah rutinitas Byan sebelum tidur, yaitu memandangi wajah damai Aisyah.
*
*
*
Hoek... Hoek....
Aisyah tengah memuntahkan isi perutnya, hampir setiap pagi Aisyah selalu mengalami morning sickness, tapi kali ini muntahnya di barengi dengan darah.
__ADS_1
Aisyah tertegun melihat darah dan keringat dingin mengucur deras membasahi tubuhnya dan tiba-tiba perutnya kram. Aisyah meringis menahan sakit di perutnya. Perlahan Aisyah berjalan keluar dari kamar mandi sambil menahan rasa sakit di perutnya.
Byan yang baru saja selesai berolahraga dengan Aries, terkejut melihat Aisyah berjalan kesakitan.
"Kamu kenapa?" Byan bertanya dengan nada cemas. Byan membopong tubuh Aisyah dan merebahkan tubuh Aisyah di kasur.
"Perutku sakit kak." Rengek Aisyah sambil meringis.
Byan bingung harus berbuat apa, apalagi melihat wajah Aisyah yang meringis kesakitan.
"Kalau gitu, kita ke rumah sakit saja."
Ya, hanya itu yang harus Byan lakukan. Membawa segera, Aisyah ke rumah sakit. Byan membopong tubuh Aisyah dan secepatnya membawa Aisyah ke mobil.
"Ais, kenapa?" Hana terlihat cemas melihat Aisyah kesakitan.
"Perutnya sakit, katanya Bu," jawabnya sambil berlalu dari hadapan Hana.
Byan mempercepat langkah kakinya dan Byan tidak mendengar lagi perkataan Hana yang mencemaskan Aisyah.
Setibanya di rumah sakit. Aisyah segera diperiksa oleh dokter. Byan sangat mencemaskan keadaan Aisyah, walau sekarang sudah tidak terlalu kesakitan.
Byan menunggu Aisyah di depan meja kerja dokter. Byan segera berdiri begitu melihat dokter Azizah keluar dari ruang pemeriksaan. Dengan sigap Byan membantu Aisyah turun dari kasur.
"Bagaimana dok keadaan istri saya?" Byan jelas tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya.
"Ibu Aisyah hanya mengalami kram dan itu membuatnya kesakitan. Selama hamil, Bu Aisyah di larang melakukan kegiatan yang berat-berat dan Bu Aisyah harus bad rest."
"Baik dok. Saya akan mengingat pesan dokter."
*
*
Sepanjang perjalanan menuju pulang, Aisyah termenung menatap jalanan. Byan melirik Aisyah yang sejak keluar dari rumah sakit terus berdiam.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Byan mengusap kepala Aisyah.
"Nggak ada yang aku pikirkan. Aku hanya ingin cepat pulang dan istirahat," jawab Aisyah yang terlihat lesu.
Byan mengangguk dan kembali fokus ke jalanan. Aisyah mengelus perutnya dengan perasaan sedih dan mengingat kembali pembicaraannya dengan dokter Azizah.
__ADS_1