
Setelah mendengar tentang kondisi Aisyah dari mertuanya, Byan kini tengah termenung di pinggir taman rumah sakit. Pandangannya lurus melihat bunga-bunga yang tengah dihinggapi oleh segerombolan kupu-kupu.
Byan membuang nafasnya dan ia benar-benar bingung harus bagaimana dan tak tahu harus berbuat apa. Hatinya benar-benar sedang dirundung kegalauan.
"Apa yang harus aku lakukan?" Lirih Byan dengan raut wajah yang sangat sendu.
Lama termenung dan berpikir untuk mencari jalan keluar, akhirnya Byan bangkit.
"Baiklah. Demi kesembuhan Ais, aku rela mengorbankan apapun untuk Ais." Ucapannya mantap.
Keputusan sudah di ambilnya dan berharap apa yang sudah menjadi keputusannya akan membawa Aisyah kembali sehat dan berkumpul dengan keluarganya, serta merawat malaikat kecilnya.
Byan kembali masuk ke dalam rumah sakit. Tujuannya kali ini adalah ke ruang bayi. Ia ingin menemani putranya sampai puas.
Sesampainya di ruang bayi, Byan langsung menggendong putranya yang kini tengah mengerjap-ngerjakan matanya. Byan ingin menatapnya lebih lama, agar nantinya terus terukir wajah malaikat kecilnya.
"Nanti kalau kamu sudah besar, papa minta kamu harus jagain mama dan kamu harus jadi pelindung buat mama." Lirih Byan, kemudian ia mencium tangan putranya.
"Kamu harus janji sama papa, kalau kamu nggak boleh nyakitin hati mama. Papa serahkan mama sama kamu." Setetes air matanya kini jatuh ke pipinya, Byan harus sanggup dengan keputusan yang sudah ia pikirkan baik-baik.
Setelah puas bermain dan menemani putranya, Byan meletakkan kembali putranya di boks bayi. Byan menyeka air matanya dan sekali lagi Byan mengecup kening putra tercintanya itu.
"Tolong jaga Mama baik-baik, nak."
Dengan langkah yang berat, Byan meninggalkan putranya dan kali ini Byan akan menemui Aisyah.
Byan kini tengah menggenggam tangan Aisyah, tidak lupa Byan mendaratkan ciumannya di punggung tangannya Aisyah. Wanita yang sampai kapanpun akan selalu ia cintai
"Sayang... Kamu harus sembuh. Aku akan melakukan apapun untuk kesembuhan kamu. Kamu nanti jangan bersedih dengan tidak adanya aku disampingmu, tapi aku akan selalu ada di dalam hatimu." Byan menjeda kalimatnya, untuk membuang rasa sesak yang terus menghimpit dadanya.
"Sayang... Terima kasih karena kamu sudah mau menjadi istri terbaikku. Terima kasih, karena kamu sudah memberikan cintamu untukku. Kamu harus selalu tersenyum demi putra kita dan kamu harus kuat untuk jadi pelindung buat putra kita. Maaf, jika aku belum bisa menjadi seorang suami yang baik untukmu. Satu yang harus kamu tahu, aku sangat mencintai kamu...."
"Berjanjilah padaku, kalau kamu harus tetap bahagia walau tanpa aku."
Byan kemudian mencium kening Aisyah dalam-dalam, lalu ciuman itu turun ke dua matanya, hidungnya dan terakhir bibirnya.
__ADS_1
"Aku pasti akan selalu merindukan kamu, istriku. I love you, my wife...." Bisikkan cinta untuk terakhir kalinya. Lalu Byan menyatukan keningnya dengan kening Aisyah dan Air matanya jatuh mengenai kulit wajah Aisyah.
Setelah itu Byan melepaskan genggaman tangannya. Perlahan Byan melangkah mundur meninggalkan Aisyah sambil terus menatap wajah Aisyah. Setelah itu Byan memutarkan tubuhnya dan menyeka air matanya, lalu Byan melangkah cepat keluar dari dari sana.
"Huft...." Byan membuang nafasnya perlahan, mencoba mengeluarkan rasa sesak yang dari tadi mengukung dadanya.
Dengan langkah gontai, Byan pergi meninggalkan ruang ICU dan keluar dari rumah sakit. Ia ingin pergi menemui maminya, selagi dirinya masih ada kesempatan.
Sesampainya di rumah orang tuanya, Byan melangkah masuk. Sejenak Byan melupakan keegoisannya untuk tidak menginjakkan kakinya di rumah orang tuanya dan menentang larangan papinya.
"Byan?" Mami Yuyun sangat terkejut dengan kedatangan Byan ke rumah. Lalu Mami Yuyun menyongsong Byan dan langsung memeluknya.
"Nak, akhirnya kamu mau datang ke rumah ini lagi," ujar Mami Yuyun yang senang dengan kedatangan Byan ke rumahnya. Byan hanya tersenyum menanggapi perkataan maminya.
Kemudian Mami Yuyun mencium kening Byan dan langsung menggandeng Byan untuk duduk. Mami Yuyun tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Akhirnya putranya itu pulang ke rumah dan berharap semuanya akan berakhir baik.
"Bibi...! Tolong buatkan minum buat Byan!" Teriak Mami Yuyun kepada asisten rumah tangganya.
"Baik, Nyonya," sahutnya.
Byan menghela nafasnya dan raut wajahnya tetap terlihat sendu.
"Ada apa, nak? Apa kamu punya masalah?"
"Ais tengah sakit, mi dan sekarang tengah di rawat di rumah sakit." Jawab Byan dengan suara pelan. Mami Yuyun kembali membawa tubuh Byan ke dalam pelukannya dan mengusap punggung Byan.
"Mami do'akan, semoga Ais cepat sembuh."
"Aamiin...."
"Berani kamu datang ke rumah ini!" Hardik Pak Sanjaya, yang baru tiba di rumah. Beliau tak menyangka kalau Byan berani menginjakkan kakinya di rumahnya.
"Papi?" Cicit Byan.
Byan segera bangun dari duduknya dan mendekati papinya yang terlihat menahan emosinya. Kemudian Byan bersimpuh di hadapan papinya seraya menyatukan kedua tangannya di depan dadanya.
__ADS_1
"Maaf, kalau aku melanggarnya dan maaf sudah membuat papi kecewa sama aku. Aku minta maaf karena sudah melukai hati papi. Mohon ampuni aku, Pi..." Byan tertunduk sedih. Sebening air mata jatuh dari pelupuk matanya.
Pak Sanjaya memalingkan wajahnya, beliau enggan menatap wajah putranya itu, yang sebenarnya sangat ia rindukan.
Tanpa berkata, Pak Sanjaya memilih pergi begitu saja dan tidak memperdulikan permohonan maaf Byan.
Byan merundukkan punggungnya, kemarahan papinya belum pudar dari hatinya. Tapi setidaknya, ia sudah meminta maaf.
"Nak...." Mami Yuyun menyentuh pundak Byan dan Byan berusaha menampilkan senyumannya.
"Bangun, nak."
Byan pun bangun dan membawa tubuh maminya ke dalam pelukannya.
"Maafin aku, mi. Maaf, kalau aku sering membuat mami marah-marah, maaf kalau aku sudah membuat mami sedih. Aku pamit, mi... Jaga diri Mami baik-baik." Ujar Byan yang kemudian mencium pucuk kepala Mami Yuyun.
Dengan berat hati, Byan melepaskan pelukannya dan pergi meninggalkan rumah orang tuanya.
Setelah meminta maaf dan pamit sama orang tuanya. Byan kini tengah menatap lalu lalang kendaraan. Ia berdiri tidak jauh dari rumah sakit tempat Aisyah di rawat dan keputusannya sudah bulat.
Dengan cara seperti ini, ia bisa memberikan umur panjang buat istri tercintanya, tanpa harus lagi merasakan rasa sakit yang menggerogoti tubuhnya.
Perlahan, Byan melangkahkan kakinya ke jalan raya, dengan membawa cintanya untuk Aisyah.
Marshall yang saat itu habis beli sesuatu dari minimarket, melihat Byan tengah berjalan ke jalan raya yang saat itu jalanan sangat ramai.
Dari arah kanan, Marshall melihat sebuah mobil melaju cukup kencang ke arah Byan.
"Byan! Awaaass!!" Teriak Marshall dan berlari secepat mungkin, berharap ia dapat menolong Byan.
Ciiiitt
Suara decitan ban mobil terdengar kencang, lalu....
Braakkk
__ADS_1
Kecelakaan itu terjadi begitu cepat, tanpa bisa di cegah.