
Waktu pun cepat berlalu. Hari ini Dafa dan Wulan resmi bercerai, selama proses perceraian berjalan Dafa sama sekali tidak melirik Wulan yang terlihat sangat kurus dari sebelumnya.
Rasa cintanya yang begitu besar sudah menghilang dalam sekejap, berbeda dengan Wulan, ia justru semakin mencintai Dafa dan Wulan sudah berusaha keras menolak untuk bercerai.
Sudah berbagai cara Wulan untuk mendapatkan cintanya Dafa lagi, tapi sampai detik ini usahanya mendapatkan cintanya Dafa tidak membuahkan hasil. Justru yang ada Dafa semakin menjauh darinya.
Penyesalan selalu datang di akhir dan saat penyesalan itu datang, semuanya sudah tidak lagi sama. Wulan pada akhirnya pasrah dengan keputusan Dafa.
Setelah terdengar ketuk palu, Dafa akhirnya bernafas lega bisa berpisah dengan Wulan. Wanita yang pernah dicintainya dan juga wanita yang sudah menorehkan luka di hatinya.
Dafa bergegas keluar dari ruang sidang, tapi langkahnya terhenti ketika Wulan berdiri di depannya. Dafa sangat malas melihat wajah Wulan yang terlihat sedih.
"Daf...." Panggil Wulan sendu.
"Apaan?"
"Boleh aku memelukmu untuk terakhir kalinya," pinta Wulan dengan sangat memelas.
"Sorry, aku nggak mau. Jika tidak ada yang penting aku mau pergi," ucap Dafa sembari melangkah lagi.
"Tunggu!" Wulan mencegah tangan Dafa.
Dafa melirik sengit tangannya yang di cekal. "Maaf," kata Wulan sembari menarik tangannya dari tangan Dafa.
"Aku kasih lima belas menit untuk bicara!" Dafa mempertegas ucapnya, yang tak mau berlama-lama berbicara dengan Wulan.
"Aku cuma mau minta maaf atas semua yang sudah aku lakukan sama kamu dan berharap hubungan kita bisa terjalin dengan baik."
"Kalau kamu mengharapkan hubungan kita baik, aku nggak bisa karena aku nggak mau mengenal sama orang yang sudah mengkhianati kepercayaan aku. Ngerti kamu!"
"Apa tidak ada kesempatan lagi buat aku...."
"Sudah lima belas menit. Waktu mu sudah habis," cetus Dafa sembari melihat jam di pergelangan tangannya dan berlalu begitu saja dari hadapan Wulan.
Wulan mendesah melihat punggung lebar Dafa yang kini sudah menjauh dari pendangannya. Wulan menundukkan kepalanya dan setetes air matanya tumpah. Wulan sangat menyesali perbuatannya yang sudah mengkhianati Dafa dan sekarang penyesalan itu terus mengukung relung hatinya. Jika waktu bisa di putar, maka dirinya tidak akan mengkhianati Dafa.
Saat ini Dafa tengah mengemasi barang-barangnya, ia akan pulang ke Indonesia dan memulai dengan kehidupan yang baru. Selain itu juga ia sangat merindukan keluarga tercintanya.
Selesai berkemas, Dafa bergegas berangkat ke bandara dan meninggalkan semua kenangan pahit yang sudah di jalaninya.
Setelah menempuh berjam-jam di udara, kini Dafa sudah menginjakkan kakinya di tanah air. Dafa turun dari pesawat dan tersenyum menatap sekeliling bandara.
"Akhirnya aku kembali lagi," gumam Dafa, sembari menghirup udara sebanyak-banyaknya. Ia senang bisa kembali ke Indonesia tanpa membawa beban di hatinya.
Dafa bergegas pulang ke rumah dan berharap kedua orang tuanya memaafkan dirinya yang sudah ia buat kecewa.
~~~~\*\*\*\*~~~~
Di tempat berbeda, tepatnya di rumah Byan dan Aisyah. Saat ini keduanya tengah mengadakan syukuran buat Aisyah, karena saat ini usia kandungan Aisyah sudah tujuh bulan.
Serangkaian acara tujuh bulanan, sudah keduanya jalani dan kini saat acara selesai, Aisyah duduk bersama keluarganya. Binar bahagia Aisyah rasakan dan Aisyah sangat bersyukur memiliki keluarga yang menyayangi dan suami yang sangat mencintainya.
Berbeda dengan Aisyah yang tengah berbahagia, Zee saat ini tengah merasakan pusing dan mual. Zee duduk lesu sembari memejamkan matanya, berharap rasa pusing segera menghilang.
__ADS_1
"Kak Zee kenapa?" Tanya Aisyah, yang sejak dimulainya acara tujuh bulanan sampai selesai, Zee terlihat sangat lesu.
"Aku lagi nggak enak badan. Sudah beberapa hari ini kepalaku suka pusing," jawab Zee dengan suara lesu.
"Kalau gitu kak Zee istirahat aja di kamar. Ayo Ais temenin," ajak Aisyah yang tak tega melihat Zee.
"Baiklah."
"Kak, aku temenin kak Zee ke kamar dulu ya," izinnya kepada Byan, lalu Aisyah dan Zee meninggalkan mereka semua yang tengah bercengkrama.
Zee langsung berbaring ketika sudah berada di kamar. Wajah Zee terlihat sedikit pucat.
"Mau aku buatkan teh hangat," tawar Aisyah.
Zee menggelengkan kepalanya, tiba-tiba rasa mual semakin menjadi ketika Zee menghirup aroma pewangi humidifier yang keluar otomatis.
Zee berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya yang terus bergejolak.
"Hoek... Hoek... Hoek...."
Keringat dingin mengucur membasahi wajahnya dan rasa pusing semakin bertambah.
"Kak, lebih baik kak Zee di periksa saja sama dokter." Aisyah sangat mencemaskan keadaan Zee yang terlihat lemas.
"Nggak perlu, nanti juga hilang. Di bawa tidur juga nanti akan membaik lagi."
"Beneran?"
"Iya," jawab Zee, lalu Zee melangkah gontai keluar kamar mandi.
"Tunggu! Apa jangan-jangan kak Zee...." Aisyah menggantungkan ucapannya, kemudian menutup mulutnya.
"Jangan-jangan apa?" Zee bingung.
"Kak Zee tunggu disini."
Aisyah melangkah ke arah nakas samping tempat tidur dan mengambil sesuatu dari laci.
__ADS_1
"Nih, coba pakai," suruh Aisyah. Zee menatap bingung benda yang Aisyah serahkan, tapi Zee tetap melakukan apa yang disuruh oleh Aisyah.
Setelah menunggu dua menit, Zee keluar dari kamar mandi dengan wajah yang tak bisa di baca oleh Aisyah.
"Gimana kak hasilnya?"
Zee diam dan hanya menatapnya saja, membuat Aisyah semakin penasaran dengan hasilnya.
"Kak Zee...."
"Ais," seketika seulas senyum terbit di wajah Zee, kemudian Zee memeluk Aisyah. "Aku hamil, Ais!" Seru Zee dengan binar bahagia. Aisyah senang mendengarnya dan Aisyah langsung mengajak Zee keluar dari kamar, mengajak Zee kehadapan keluarganya yang tengah berkumpul.
"Perhatian-perhatian!" Seru Aisyah seraya bertepuk tangan.
"Ada apa, sayang?" Tanya Byan bingung. Aisyah hanya melemparkan senyuman manisnya.
"Aku mau memberitahukan kabar gembira." Aisyah menoleh ke arah Zee dengan senyum terus tersungging dari kedua perempuan yang tengah berbadan dua itu.
"Kabar gembira apa?" timpal ayah Haris.
"Kak Zee saat ini tengah...." Aisyah menggantungkan ucapannya dan membuat semuanya semakin penasaran.
"Tengah apa?" Sergah Marshall yang semakin penasaran.
"Tengah... HAMIL...." Teriak Aisyah.
Semuanya terperangah mendengar perkataan Aisyah. Marshall menatap penuh tanya wajah sang istri.
"Serius, Yang?" Marshall belum percaya begitu saja, takut ini hanya prank.
Zee menganggukkan kepalanya, seraya menunjukkan testpack nya. Marshall langsung bangkit dan memeluk Zee dengan rasa bahagia yang membuncah.
Sedangkan duo RIS alias Aries dan Haris tak kalah hebohnya. Keduanya jingkrak-jingkrak sambil berpelukan saking senangnya mendengar kabar kehamilan Zee.
"Punya cucu lagi... Punya cucu lagi...." Seru kedua kakek yang jingkrak-jingkrak senang.
Hana dan Mami Janet menggelengkan kepalanya melihat kelakuan para suaminya yang seperti bocah saja.
__ADS_1