Hati Untuk Aisyah

Hati Untuk Aisyah
Kesedihan seorang Ayah


__ADS_3

Sudah hampir dua hari ini, Aisyah belum sadar dari tidur panjangnya. Aisyah masih betah memejamkan matanya. Byan yang saat ini tengah menemaninya sambil terus saja menatap lekat wajah Aisyah.


Kondisi Aisyah pasca operasi transplantasi hati semakin membaik, kondisi Aisyah sudah stabil. Hanya tinggal menunggu Aisyah tersadar dari komanya.


Byan menggenggam tangan Aisyah dan mengecup tangan Aisyah berulangkali. Sekarang Byan bisa bernafas lega, karena Aisyah tidak akan lagi merasa kesakitan seperti dulu. Itu semua berkat pengorbanan Dafa. Ya... Semua karena Dafa.


Mengingat Dafa, membuat hati Byan tersentuh akan pengorbanannya. Bola matanya akan selalu memanas bila mengingat Dafa. Byan tidak bisa memungkiri betapa tulusnya akan rasa cinta Dafa untuk Aisyah.


Yang bisa Byan lakukan adalah mendoakannya dan berharap Dafa mendapatkan tempat yang indah di surganya Allah. Ribuan kata terima kasih tak akan bisa tergantikan dengan pengorbanannya yang begitu besar.


"Bangunlah sayang... Aku sangat merindukan kamu," ucap Byan dengan tatapan sendu. Kemudian Byan menelungkupkan kepalanya di atas ranjang.


Lama Byan menelungkupkan kepalanya, tiba-tiba gerakan pelan dari jari-jari tangannya Aisyah. Byan yang masih menggenggam tangan Aisyah, langsung terkejut dengan gerakan pelan dari jari-jari tangannya Aisyah.


"Sayang...." Byan memanggilnya dengan rasa bahagia. Hatinya membuncah ketika kedua kelopak mata Aisyah mulai membuka matanya perlahan.


Aisyah membuka matanya kemudian memejamkan matanya lagi, lalu Aisyah menyimpitkan matanya saat kornea matanya menyelaraskan cahaya lampu yang terang benderang.


Pertama yang Aisyah lihat adalah cat warna putih, lalu Aisyah menoleh ke arah Byan yang tengah tersenyum lega dengan mata berbinar.


"Kak...." Lirih Aisyah, bahkan suaranya terdengar seperti gumaman.


Suara ini... suara yang sangat ia rindukan akhir-akhir ini. Ah... senang rasanya Byan bisa melihat Aisyah tersadar dari tidur panjangnya.


"Sayang... Akhirnya kamu bangun juga." Byan tidak bisa menutupi rasa bahagianya. Aisyah-nya kini sudah membuka matanya. Aisyah, istrinya kini tengah menatapnya. Tatapannya sangat ia rindukan, tatapannya selalu membuat hatinya menghangat.


Aisyah tersenyum menatap wajah Byan. Aisyah senang bisa melihat lelaki yang dicintainya ada di hadapannya. Aisyah pikir dirinya tidak akan bisa bertemu dengannya lagi.


"Kak...." Hanya kata itu yang keluar dari mulutnya. Tenggorokannya terasa tercekat, bahkan terasa kelu. Air matanya kini jatuh dari pelupuk matanya.


Aisyah kemudian mengangkat tangannya untuk mengelus pipinya Byan. Memastikan kalau ia tidak tengah bermimpi.


Ingatnya kembali berputar kemana ia tak sadarkan diri dan teringat akan buah hatinya yang bersemai di perutnya. Aisyah meraba perutnya.


Datar. Aisyah segera melihat perutnya dengan tatapan terkejut. Kemana buah hatinya sekarang? Aisyah langsung dilanda takut. Takut kalau ternyata buah hatinya pergi dari hidupnya. Ah! betapa bodohnya dirinya tidak bisa mempertahankan bayinya. Bola matanya kini dipenuhi dengan cairan bening, lalu Aisyah menatap wajah Byan dengan tatapan penuh tanya. Ya... Aisyah harus bertanya.


"Ba-ba-yiku?" Aisyah berucap dengan suara terbata-bata.


"Anak kita baik-baik saja. Bahkan sangat sehat, mungkin sekarang lagi tidur. "


Aisyah bernafas lega. Aisyah sudah ketakutan kalau buah hatinya sampai kenapa-napa.

__ADS_1


"Besok aku akan membawanya ke sini. Anak kita laki-laki dan dia sangat tampan." Sambung Byan sambil tersenyum merekah.


Aisyah menjadi tidak sabar untuk melihat buah hatinya. Setampan apa wajah anaknya.


***


Seperti janjinya kepada Aisyah. Pagi itu Byan membawa putranya ke ruang rawat Aisyah. Bola mata Aisyah berkaca-kaca melihat putranya yang kini tengah di gendong oleh Byan.


Tatapan Aisyah begitu lekat menatap wajah putranya. Ah... Betapa bahagianya Aisyah. Malaikatnya kini sudah lahir ke dunia ini dengan selamat.


"Mau menggendongnya?" Tawar Byan dan Aisyah mengangguk cepat. Ia sudah tidak sabar ingin segera menggendong buah hatinya dan menciumi seluruh wajahnya.


Byan menyerahkannya putranya kepada Aisyah, Byan tidak sepenuhnya membiarkan Aisyah menggendongnya, mengingat luka pasca operasinya belum begitu kering.


Hati Aisyah menghangat melihat putranya yang menggeliat dan juga mengerucutkan bibirnya. Ah! Sangat menggemaskan sekali melihatnya. Aisyah tak henti-hentinya menciumi wajah putra kesayangannya.


Saat tengah asik bermain dengan putranya. Aries dan Hana datang. Betapa terkejutnya Aries dan Hana melihat Aisyah sudah sadar, sebab semalam keduanya di suruh pulang oleh Byan. Mengingat sudah beberapa hari ini keduanya kurang istirahat.


"Ais?!" Hana langsung menghamburkan tubuhnya ke pelukan Aisyah.


"Ibu senang kamu sudah sadar," ujar Hana sembari meneteskan air matanya.


Aries menatap penuh binar bahagia. Akhirnya putrinya itu bisa terbebas dari penyakit yang selam ini menggerogoti tubuhnya dan bisa berkumpul bersama lagi.


***


"Bagaimana dengan kondisi anak saya, dok?" Tanya Aries, sebelum menanyakan tujuannya.


"Kondisi anak bapak sudah membaik. Bahkan sangat baik. Tugas anda sebagai orang tuanya harus lebih menjaga makanannya.


"Baik, dok.".jawab Aries mengerti.


"Maaf, dok. Kalau boleh tahu orang yang telah mendonorkan hatinya untuk anak saya siapa? Saya mau mengucapkan rasa terima kasihku kepada keluarganya."


Aries sungguh ingin tahu siapa orangnya dan sebagai ungkapan rasa terima kasihnya Aries akan memberikan imbalan untuk keluarga orang yang telah mendonorkan hatinya untuk Aisyah.


"Orang yang telah mendonorkan hatinya namanya... Kalau nggak salah namanya Dafansya Saputra."


Deg


Jantung Aries merasa mendadak berhenti. Mendengar nama orang yang mendonorkan hatinya untuk Aisyah.

__ADS_1


Dafa. Apa benar Dafa yang mendonorkan hatinya? Apa ia salah dengar.


***


Aries berjalan lunglai dan pikirannya masih berkecamuk mengingat perkataan dokter. Aries belum percaya begitu saja dengan ucapan dokter.


Lebih baik aku menemui Adit dan memastikannya. Ya... Aku harus memastikan secara langsung. Aku harap bukan Dafa anaknya Adit.


Disinilah sekarang di depan rumah Aditya. Hati Aries seketika mencelos melihat bendera kuning yang terpasang di depan pagar rumahnya Aditya.


Air matanya seketika berdesakan keluar dari pelupuk matanya. Tapi Aries masih belum yakin, Aries harus berbicara langsung dengan Aditya. Aries tidak mau menerka-nerka.


Aries segera melangkahkan kakinya dan mengetuk pintu rumah sahabatnya yang terbuka lebar.


Tok tok tok


Difa datang menghampiri Aries. Aries melihat kilatan kesedihan di bola matanya Difa.


"Papamu ada?"


"Ada. Silahkan masuk, Om."


Aries masuk dan menyapu pandangannya keseluruh ruangan. Tidak tampak ada sofa di sekitar sana, hanya ada karpet yang terhampar di lantai.


Aries duduk dan menunggu Aditya datang, sambil terus memikirkan tentang Dafa.


"Ries...."


Aries mendongakkan kepalanya menetap sahabatnya itu, lalu Aries segera mendekati Aditya dengan tatapan sendu sedan.


"Dit... A-apa b-benar kalau D-Dafa yang mendonorkan hatinya?" Aries berbicara terbata-bata.


Aditya mengangguk lemah dan raut wajahnya tampak sangat sedih. Aries menundukkan kepalanya, air matanya menetes membasahi pipinya. Sungguh ia tak menyangka kalau Dafa lah yang mendonorkan hatinya untuk Aisyah.


Aries mengusap wajahnya, tenggorokannya terasa kering dan ini di luar dugaannya. Kemudian Aries bersimpuh di kaki Aditya, kepalanya menunduk dalam-dalam.


"Aku nggak tahu harus memulainya darimana. Ini semua di luar dugaanku. Dit... Terima kasih... Terima kasih...."


Aries tak tahu harus berkata apa? Otaknya merasa blank karena saking terkejutnya dengan semuanya. Aries juga tidak tahu harus mengungkapkan apa? Hanya kata terima kasih yang mampu terucap dari mulutnya.


Kemudian Aditya menegakkan tubuh Aries dan memintanya untuk bangun. Aries langsung memeluk Aditya dengan sangat erat.

__ADS_1


"Maaf... Maaf... Tapi kenapa harus Dafa, Dit... Kenapa?" Aries terisak tersedu-sedu. Pasti saat ini Aditya sangat kehilangan Dafa.


"Apa yang harus aku lakukan untuk menebus pengorbanan Dafa... Katakan padaku ,Dit... Katakan...."


__ADS_2