Hati Untuk Aisyah

Hati Untuk Aisyah
Jatuh miskin


__ADS_3

Sudah lima hari Pak Sanjaya di rawat dan beliau sudah sangat bosan berada di rumah sakit. Ia sudah ingin pulang ke rumah dan melanjutkan istirahatnya di rumah saja dan kini Dokter pun memasuki kamar inap pak Sanjaya. Dokter mengecek kondisi Pak Sanjaya.


"Bagaimana keadaan suami saya, dok?" Tanya Mami Yuyun.


"Semua sudah bagus, kecuali tensinya bapak cukup tinggi."


Mami Yuyun mangut-mangut mendengarkannya dan merasa lega, karena suaminya sudah jauh lebih baik.


"Terus kapan saya bisa pulang, dok?" Tanya Pak Sanjaya penuh harap.


"Hari ini juga sudah boleh pulang, tapi ingat bapak harus jaga pola makan dan jangan terlalu stress. Kurangi bergadang dan harus cukup istirahat." Imbuh sang dokter.


"Terima kasih, dok. Saya akan jaga kesehatan saya," jawab Pak Sanjaya dengan wajah sumringah karena sudah bisa pulang.


"Kalau gitu saya permisi dulu." Pamit dokter.


"Iya, dok," sahut Mami Yuyun dan hari itu juga Pak Sanjaya pulang ke rumah.


***


Brakk


Byan menggebrak meja meeting. Tatapan Byan begitu nyalang menatap satu persatu wajah karyawan papinya. Ya... Saat ini Byan tengah berada di perusahaan papinya, tengah mengurus permasalahan yang sampai mengakibatkan papinya jatuh sakit.


"Bagaimana bisa uang perusahaan digelapkan oleh Pak Martin!" Geram Byan. "Terus kalian semua kerjanya ngapain saja! Sampai-sampai uang perusahaan kecolongan!" Bentak Byan penuh emosi. Pantas saja papinya sampai jatuh sakit, karena orang yang sudah di percaya di perusahaan papinya menggelapkan uang perusahaan.


Semua yang berada di ruang meeting tidak ada yang berani mengangkat kepalanya. Semua terdiam dengan kemarahan Byan.


"Saya tidak mau tahu, kalian semua urus kasus ini sampai tuntas. Jika tidak!" Byan menjeda kalimatnya untuk menatap wajah-wajah ketakutan dari karyawannya. " Kalian semua akan saya tendang dari perusahaan ini!" Ancam Byan tidak main-main.


Semua yang ada di ruangan tersebut terhenyak mendengar ancaman Byan.


Setelah itu Byan memilih meninggalkan ruang meeting dengan penuh amarah. Byan mengendorkan dasinya yang terasa mencekik lehernya.


Byan membuang nafasnya perlahan dan mencoba menetralkan kembali moodnya setelah tadi marah-marah di ruang meeting. Byan kemudian menjatuhkan bokongnya di kursi kebesaran papinya. Tiba-tiba handphone miliknya menggelepar.


Byan tersenyum ketika tahu siapa yang menelponnya. ' Tahu aja kalau aku lagi membutuhkan kamu untuk memperbaiki moodku yang jelek ini," gumam Byan dan langsung mengangkat telpon dari istri tercintanya.

__ADS_1


"Halo...." Jawab Byan. Seketika wajah baby Afkar memenuhi layar ponselnya.


"Halo juga papa...." Sahut Aisyah dan Byan pun tersenyum melihat wajah baby Afkar yang tengah mengerucutkan bibirnya.


"Papa lagi sibuk nggak," sambung Aisyah yang kini ikut memenuhi layar ponsel milik Byan.


"Nggak dong. Buat kalian berdua tidak akan ada kata sibuk."


Aisyah pun tertawa kecil mendengarnya, padahal Aisyah sangat yakin kalau Byan sangat sibuk.


"Sudah makan belum?" Tanya Aisyah.


"Belum. Aku belum sempat makan siang. "


"Kasian sekali suamiku belum makan siang. Sibuk banget kayaknya di kantor."


"Begitulah."


"Mau aku kirimkan makan dari rumah?" Tawarnya.


"Nggak usah. Biar nanti aku suruh OB belikan makanan untukku."


"Siap, Nyonya...." Dan sambungan telepon pun terputus.


Kemudian Byan melanjutkan pekerjaannya yang begitu menyita waktunya. Hingga tak terasa waktupun sudah malam.


Selesai membereskan pekerjaan terakhirnya, Byan bergegas keluar dari ruang kerjanya dan turun ke lobby. Setelah itu Byan mengendarai mobilnya dan berhenti di persimpangan lampu merah.


Jarak sekitar tujuh meter, Byan melihat seorang wanita yang tidak asing baginya tengah duduk sendiri. Wajahnya terlihat sangat sedih, kacau dan lusuh.


"Sepertinya aku pernah melihat wanita itu." Byan mengingat-ingat wanita tersebut. " Ya... aku baru ingat, tapi ngapain dia duduk di sana kayak gembel?" Gumam Byan, yang merasa kasihan melihat wanita itu.


Setelah lampu berganti hijau, Byan menjalankan mobilnya dan berhenti di pinggir jalan. Kemudian Byan turun dari mobil dan menghampiri wanita tersebut.


"E'hem...." Byan berdehem. Wanita itu kemudian mendongakkan kepalanya menatap wajah Byan.


"Kamu Wulan, bukan?" Tanya Byan dan wanita itu menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Kok, kamu tahu aku? Memangnya kita pernah bertemu?" Jawab Wulan bingung.


"Pernah dan kamu pacarnya Dafa kan?"


Wulan yang mendengar nama Dafa, seketika berubah ceria.


"Iya, betul. Apa kamu bisa mempertemukan aku dengan Dafa?" Wajah Wulan terlihat penuh harap.


"Maaf, aku nggak bisa mempertemukan kamu dengan Dafa. Karena Dafa sudah... Meninggal."


"Apa?!" Wulan menggeleng-gelengkan kepalanya dan tak percaya begitu saja. "Nggak... Nggak mungkin Dafa sudah meninggal," cicit Wulan yang kini mulai menangis.


"Dafa... Kenapa kamu pergi secepat itu." Wulan menangis tersedu-sedu. Byan yang melihatnya merasa iba.


Byan membiarkan Wulan menangis sampai puas, setelah itu Byan mulai bertanya.


"Kalau boleh tahu, kenapa kamu jadi seperti ini?"


"Aku jatuh miskin dan sekarang aku nggak punya tempat tinggal. Hidupku terlunta-lunta di jalanan." Jawab Wulan masih dengan sisa tangisannya.


"Terus kenapa kamu nggak cari pekerjaan?"


"Aku sudah mencobanya, tapi... Selalu saja aku dikeluarkan," jawab Wulan sedih.


Byan bertambah iba melihat Wulan. Entah apa membuat Wulan bisa jatuh miskin dan hidup di jalanan. Kemudian Byan mengeluarkan dompetnya dan memberi Wulan uang.


"Ini untuk kamu. Hanya ini yang bisa aku kasih dan semoga bermanfaat buat kamu."


Wulan yang melihat Byan menyodorkan uang, merasa sangsi. Bukan karena uang yang di beri Byan sedikit, melainkan masih ada orang baik terhadapnya.


"Ambillah...."


"Terima kasih... Ini sangat berarti untukku," ucap Wulan terharu.


"Sama-sama, kalau gitu aku pergi dulu." Wulan mengangguk dan Byan pergi meninggalkan Wulan.


Wulan terus menatap punggung lebar Byan sampai menghilang dari pandangannya.

__ADS_1


"Aku lupa menanyakan namanya siapa? Semoga kita bisa bertemu lagi dan bisa membalas Budi kebaikannya."


__ADS_2