Hati Untuk Aisyah

Hati Untuk Aisyah
Mendatangi acara reuni


__ADS_3

Zee yang sejak tadi gelisah, akhirnya memutuskan untuk datang ke acara reuni. Meski dirinya tidak di undang, Zee tetap berangkat.


Sebelum berangkat, Zee menitipkan anak-anaknya ke pengasuhnya. Setelah itu Zee segera berangkat ke acara reuni tersebut dengan menggunakan taksi online.


Tiba di sana, Zee segera mencari keberadaan suaminya itu dan setelah berkeliling mencari Marshall, akhirnya Zee melihat Marshall yang tengah digelayuti oleh seorang wanita yang sangat ia kenal dan orang itu adalah Liora. Sang mantan pacar suaminya.


Zee mengepalkan tangannya, melihat Liora melingkarkan tangannya di lengan Marshall. Rasanya Zee ingin segera mencakar wajah sok kecantikan Liora.


Zee segera menghampiri Marshall dan sepertinya Marshall sudah akan pergi meninggalkan mereka semua. Tatapan Zee begitu tajam menatap Marshall dan betapa terkejutnya Marshall melihat dirinya ada di sini.


"Sayang...."


Marshall menelan salivanya dan hatinya seketika menjadi tak karuan melihat istri tercintanya yang berdiri tidak jauh darinya.


Zee segera mendekati Marshall dan pandangannya kini tertuju kepada Liora yang terlihat cuek.


"Sayang...."


Zee langsung mengangkat satu tangannya, menghentikan Marshall berbicara.


"Dasar perempuan gatel!" Maki Zee yang sudah geram terhadap Liora.


"Sepertinya kamu salah berkata. Yang sebenarnya perempuan gatel itu siapa? Bukannya ibu kamu!" Jawab Liora dengan tatapan menantang.


"Apa maksud kamu mengatakan ibu ku perempuan gatel!"


Liora tertawa sarkas, lalu Liora mendorong  bahunya Zee dengan telunjuknya.


"Apa kamu lupa, kalau ibu kamu itu seorang MUCIKARI." Liora menekan kalimat terakhirnya, sambil tersenyum sinis dan juga tatapan yang merendahkan.


"Ibu ku dulu memang seorang mucikari, tapi tidak untuk sekarang. Justru kamu perempuan yang kegatelan, yang sudah berani mendekati suami orang!" Zee tak kalah ketusnya, bahkan Zee juga mendorong bahunya Liora.


"Sayang, ayo kita pulang saja. Jangan ladenin cewek gesrek kayak dia," Timpal Marshall, yang menarik tangan Zee dan menjauh dari Liora.


"Bukannya kamu yang merebut Marshall dariku! Dan gara-gara kamu aku harus dipenjara!" Sarkas Liora. Ternyata Liora masih menyimpan rasa dendam.


Zee yang sudah berjalan beberapa langkah, kini berbalik badan dan mendekati Liora lagi.


"Jangan pernah salahkan aku jika Marshall lebih memilihku daripada kamu. Harusnya kamu introspeksi diri . Bukannya keluar dari penjara menjadi cewek bener justru kelakuan kamu semakin bertambah bobrok!"


Seketika Liora menjadi geram dan tangannya sudah terkepal erat.


"Seharusnya cewek kayak kamu itu, hidupnya harus lebih lama lagi di penjara, agar otak kamu benar-benar nggak miring!" Lanjut Zee merendahkan Liora.


"Kurang ajar kamu!" Liora sudah sangat emosi dan tangannya sudah melayang untuk menampar Zee.


Sebelum tamparan itu mendarat lebih dulu di pipinya, Zee sudah lebih dulu menendang kaki Liora sampai Liora mengaduh kesakitan. Kemudian Zee meninggalkan Liora. Baru tiga langkah, Zee membalikkan badannya dan  kembali mendekati Liora. Satu tamparan keras mendarat di pipi mulus Liora.


Plakk.


Semua yang ada di sana tercengang melihat zee menampar Liora.


"Itu bonus buat perempuan gatel kayak kamu dan satu lagi! Jika kamu berani mendekati suamiku maka aku akan menghancurkan hidupmu."


Setelah itu Zee pergi meninggalkan mereka semua. Marshall dan Byan segera menyusul Zee keluar dari acara tersebut.

__ADS_1


Tiba diluar, Zee menendang kaleng kosong, karena dirinya masih sangat kesal. tapi kaleng tersebut justru mengenai kepala seseorang yang memiliki tubuh tambun.


"Kurang ajar!" Lelaki perawakan tambun itu mendekati Zee sambil membawa kaleng tersebut.


"Siapa yang melempar kaleng ini?!" Tanya lelaki itu kepada Zee.


Zee gelagapan dan tak menyangka kalau kaleng yang ia tendang mengenai orang. Apalagi orang tersebut badannya gemuk. Apa mungkin dirinya berani melawan lelaki itu. Marshall dan Byan kini sudah berdiri di dekat Zee.


"Katakan, siapa orang yang melempar kaleng ini?!" Lelaki itu bertanya sekali lagi.


Zee langsung menunjuk ke arah Marshall. " Dia, Pak. Dia yang lempar kaleng itu," tuduh Zee kepada Marshall.


Marshall melongo mendengar ucapan Zee.


"Kapan aku melemparnya?"


Lelaki tambun itu kini mendekati Marshall, lalu menarik kerah baju Marshall. Sampai-sampai kakinya Marshall berjinjit, akibat kuatnya lelaki itu menarik kerah baju Marshall.


"Berani-beraninya kamu melempar kaleng ini! Sekarang kamu ikut aku."


Marshall langsung di tarik oleh lelaki itu. Zee dan Byan mengikutinya. Ada rasa bersalah di hati Zee terhadap suaminya, tapi karena tadi ia melihat Liora duduk berdua dengan Marshall membuatnya menjadi emosi.


"Bang...! Bisa saya jelasin." Kata Marshall berusaha bernegosiasi.


"Jelasin apa?! Sudah jelas-jelas kamu yang lempar kaleng kosong itu ke kepala ku. Bagaimana jika kepala ku sampai geger otak! Siapa yang akan kasih makan bini dan anakku!"


"Bagaimana kalau saya ganti rugi."


Lelaki itu seketika menghentikan langkahnya dan menatap miring wajah Marshall.


"Saya akan ganti rugi." Lalu Marshall mengeluarkan dompetnya dari saku celananya. Beberapa lembar uang seratus ribuan kini Marshall tunjukkan ke hadapan lelaki itu.


Marshall langsung menyerahkan uang tersebut dan permasalahannya sudah dianggap beres.


Setelah kepergian lelaki itu, Marshall menggeram menatap Zee yang kini tersenyum kikuk.


"Sayang... Awas kamu nanti di rumah. Aku pastikan kamu nggak akan lolos dari cengkeraman ku."


"By... Tolongin aku. Sebentar lagi aku bakal dihabisi oleh suamiku," ucap Zee memelas.


"Itu urusan kamu. Mau kamu diapain juga itu urusan kalian. Aku nggak mau ikut campur. Aku pulang dulu, bye...!"


Byan melenggang pergi meninggalkan Zee yang akan di serang oleh Marshall.


Marshall berjalan cepat mendekati Zee, kemudian Marshall memanggul Zee.


"Abang!! Turunin aku!!" Pinta Zee sambil meronta-ronta.


"Diam!" Sentak Marshall seraya memukul bokong Zee dan membawanya menuju letak mobilnya.


***


Aisyah saat ini tengah menunggu Byan pulang, karena sekarang sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Sebagai seorang istri yang menunggu suami pulang sangatlah tidak tenang.


Aisyah teringat dengan perempuan yang beberapa waktu lalu bertemu dengannya di restoran siap saji. Aisyah menjadi resah dan juga takut kalau Byan tergoda dengan wanita itu, meski tahu  kalau Byan kuat tahan godaan. Tetap saja hati seorang istri tidak bisa tenang.

__ADS_1


Tidak lama terdengar suara deru mesin mobil yang memasuki halaman rumahnya dan Aisyah bisa bernafas lega karena suaminya itu pulang.


"Belum tidur, sayang...." Kata Byan saat membuka pintunya.


"Aku nggak akan bisa tidur tenang kalau suamiku belum pulang."


"Padahal kalau memang sudah ngantuk tidur saja." kata Byan. Lalu Byan berganti pakaian dengan pakaian santai dan setelah itu Byan bergabung dengan Aisyah di tempat tidur.


"Gimana acaranya?" Tanya Aisyah yang langsung melingkarkan tangannya di perut Byan.


"Awalnya biasa saja, tapi makin lama makin luar biasa."


"Maksudnya gimana?" Seraya mengerutkan keningnya, menatap Byan.


"Sudahlah nggak penting. Apa tadi anak-anak rewel nggak?" Aisyah menggelengkan kepalanya, karena kedua anaknya anteng, terutama Afkar.


"Mm... Apa kakak tadi bertemu dengan perempuan yang bernama Hanum?" Tanya Aisyah penuh selidik.


"Ketemu. Kenapa memangnya?"


"Apa kakak bicara sama dia? Saling tuker nomor hape dan---,"


"Nggak sayang...." Potong Byan gemas dengan cemburunya Aisyah.


"Jangan bohong!"


"Ngapain aku bohong. Lagian buat apa coba tukeran nomor hape, tapi...." Byan sengaja menggantung kalimatnya.


"Tapi apa?" Aisyah semakin menatap curiga.


"Tapi teman-temanku yang perempuan semuanya berubah cantik."


Aisyah langsung memberikan tatapan horor dan menggertakkan giginya.


"Jadi selama di sana... Mata kakak jelalatan!" Geram Aisyah, sedangkan Byan hanya mengulum senyumnya.


Byan mengangguk, lalu Aisyah melayangkan pukulan ke tubuh Byan. Bukannya menghindar, Byan justru tertawa terbahak-bahak.


"Bercanda sayang!" Byan menangkap tangan Aisyah.


"Nggak lucu! Ternyata kakak dibelakang ku kayak gitu!"


"Kayak gitu gimana?" Sambil memeluk Aisyah dari belakang.


"Lepaskan! Aku marah sama kakak!" Seraya melepaskan belitan tangan Byan dari tubuhnya.


"Uuhh! Ternyata istriku ngambek...." Ledek Byan.


"Lepaskan!" Sentak Aisyah.


"Nggak!" Tolak Byan yang kini menarik tubuh Aisyah untuk berbaring.


"Di luar memang banyak perempuan cantik, tapi yang lebih cantik yang ada di rumah ini, yaitu istriku tercinta," ucap Byan, lalu Byan memborbardir wajah Aisyah dengan ciuman.


"Ih! Kakak!" Teriak Aisyah, karena Byan terus saja menciumi seluruh wajahnya.

__ADS_1


"Oek ... Oek ... Oek...."


Tangisan baby Zero menyelamatkan Aisyah dari serangan Byan yang tak menghentikan ciumannya di wajahnya. Aisyah segera menyingkirkan tubuh Byan dan menggendong baby Zero.


__ADS_2