Hati Untuk Aisyah

Hati Untuk Aisyah
Siap menikahinya


__ADS_3

Hari ini Byan sengaja menjemput Aisyah pulang kuliah. Selain itu, Byan juga ingin mengungkapkan perasaannya, karena semalam Byan meminta petunjuk kepada yang maha kuasa.


Setelah berdoa dan meminta petunjuk, perasaannya terhadap Aisyah semakin besar dan kuat dan semoga keputusannya mendapatkan Aisyah ada jalannya.


Byan tersenyum melihat Aisyah keluar dari kampusnya. Byan melambaikan tangannya kepada Aisyah dan Aisyah langsung menghampirinya.


"Kak Byan kok ada disini? Memang kak Byan nggak kerja." Pungkas Aisyah, yang heran melihat Byan ada di depan kampusnya.


"Hari ini aku free dan aku sengaja ingin menjemput kamu pulang kuliah. Kamu nggak keberatan kan kalau aku jemput kamu."


"Nggak sih... Tapi aku sudah di jemput sama Pak Bejo."


"Kalau gitu Pak Bejo nya suruh pulang saja."


"Baiklah." Aisyah menelpon Bejo dan menyuruhnya untuk pulang duluan.


Kini Byan dan Aisyah sudah duduk di dalam mobil. Byan ingin mengajak Aisyah ke suatu tempat yang sudah di persiapkan untuk Aisyah.


Tiba ditempat tersebut, Byan membawa Aisyah ke sebuah taman yang sudah dekorasi dengan bunga-bunga yang cantik. Di taman itu juga ada danau buatan.


Aisyah terkagum-kagum melihatnya. Senyumnya terbit dari bibirnya.


"Gimana, kamu suka?" Tanya Byan.


"Suka. Apa kakak sengaja mempersembahkan ini untukku."


"Iya, karena aku ingin melihatmu tersenyum seperti ini."


"Terima kasih, kak."

__ADS_1


"Apa kamu mau naik perahu?" seraya menunjuk perahu.


Aisyah mengangguk. Byan mengulurkan tangannya saat Aisyah menaiki perahu tersebut. Byan mendayung perahu tersebut ke tengah danau.


Byan terus memperhatikan Aisyah, saat Aisyah bercerita tentang hal lucu. Hati Byan semakin bergetar. Apalagi melihat rona bahagia di wajah Aisyah.


Aisyah memejamkan matanya, menikmati hembusan angin yang membelai lembut kulitnya. Rasanya sangat damai, setelah ia berhasil melewati kesakitan hatinya dan Byan tak jemu-jemu memandangi wajah Aisyah, meski pucat Aisyah tetap terlihat cantik.


"Ais, aku mau bicara serius sama kamu," kata Byan, sesaat setelah turun dari perahu dan kini Byan berdiri di belakang Aisyah, yang tengah menghirup aroma bunga.


"Soal apa?" Ucap Aisyah, sembari memegangi sekuntum bunga mawar putih.


"Ais... Sebenernya aku... Cinta sama kamu." Akhirnya rasa yang selama ini terpendam lolos juga dari mulutnya.


Aisyah menatap lekat wajah Byan dan terkejut mendengar ungkapan cintanya Byan.


"Ais... Mungkin ini terlalu cepat untuk kamu membuka hatimu untukku, tapi percayalah kalau aku ingin menjadikan kamu ratu di hatiku. Aku sungguh-sungguh ingin menjalin hubungan yang serius sama kamu."


Aisyah menundukkan kepalanya, Aisyah bingung harus menjawab apa. Karena saat ini ia belum siap membuka hatinya untuk orang lain. Selain itu juga, Aisyah masih takut untuk jatuh cinta lagi.


"Maaf kak. Aku nggak bisa menerima cinta kakak. Kakak tahu sendiri kalau aku...."


"Aku ngerti. Aku juga nggak memaksa kamu untuk menerima cintaku saat ini. Aku akan selalu setia menunggu kamu membuka hatimu untukku."


Byan memang harus bersabar menunggu Aisyah membuka hatinya. Memang tidak semudah itu menerima cinta yang baru dan semuanya butuh proses untuk kembali membuka hatinya.


Setelah pembicaraannya dengan Aisyah, Byan mengantarkan Aisyah pulang. Byan tidak ingin Aisyah kelelahan, apalagi melihat wajah Aisyah yang pucat.


"Aku masuk dulu, kak."

__ADS_1


Byan mengangguk dan Aisyah bergegas turun dari mobil. Baru saja keluar dari rumah Aisyah, tiba-tiba terdengar suara dering handphone.


"Loh, inikan handphonenya Ais?"


Byan memutarkan mobilnya dan kembali ke rumah Aisyah. Byan segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah Aisyah dan samar-samar Byan mendengar suara orang tengah marah-marah.


Byan terkejut melihat Dafa ada di rumah Aisyah. Hati Byan sakit mendengar cemoohan Dafa, yang mengatakan kalau tidak ada lelaki yang mau sama Aisyah.


"Siapa bilang! Aku bersedia menikahi Ais saat ini juga." Ucap Byan, yang langsung berdiri di samping Aisyah.


Semua mata tertuju kepadanya. Dafa menatap sinis wajah Byan. Dafa yakin kalau Byan hanya membela saja dan nggak mungkin Byan benar-benar mau menikahi Aisyah.


"O ya... Tapi aku nggak percaya sama ucapanmu!" Cibir Dafa.


"Aku serius dengan ucapanku dan akan aku buktikan kalau hari ini aku akan menikahi Ais." Byan mempertegas ucapnya.


"Halah... palingan cuma omdo (ngomong doang)." Dafa jelas tidak percaya begitu saja dengan ucapan Byan. Mana ada lelaki yang mau menikahi perempuan penyakitan, ditambah lagi keadaan Aisyah yang tengah hamil.


"Om, Tante. Izinkan aku untuk menikahi Ais. Aku serius ingin menikahi Ais."


Aries dan Hana termangu mendengar ucapan Byan. Pandangan Aries tertuju kepada Aisyah yang sama-sama terdiam.


Dafa tertawa mengejek, karena Aries tidak menanggapi perkataan Byan.


"Sudahlah Byan... Percuma kamu menikahi Ais. Kamu lihat sendiri kan kalau ayah Aries tidak bakal mengizinkan Ais menikah lagi, karena Ais itu perempuan yang nggak---"


"Aku bersedia menikah dengan kak Byan!" Potong Aisyah. Aisyah yakin kalau Byan serius dengan ucapannya. Mungkin sudah saatnya Aisyah belajar membuka hatinya untuk Byan.


"Baiklah, Om izinkan kamu menikahi Ais, tapi ada syaratnya. Tolong jangan sakiti hatinya, sayangilah putriku, perlakukan Ais dengan sangat baik."

__ADS_1


Byan mengangguk cepat dan tersenyum senang karena Aries mengizinkannya untuk menikahi Aisyah.


__ADS_2