
Sepulang kerja, Byan sengaja datang ke rumah Dafa. Byan ingin memberi peringatan kepada Dafa, agar tidak terus mengusik keutuhan rumah tangganya. Bagaimana pun Byan tidak akan membiarkan Dafa terus mengganggu ketenangan Aisyah.
Sesampainya di rumah Dafa, Byan mengetuk pintunya dan yang membuka pintunya ialah Difa, saudara kembar Dafa.
"Byan?" Difa terkejut dengan kedatangan Byan ke rumahnya.
"Dafa-nya ada?"
"Ada. Ayo masuk." Difa mempersilahkan Byan untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Tidak. Aku tunggu di sini saja," tolak Byan, yang memilih tetap berada di luar.
"Yakin! Nggak tunggu di dalam saja."
"Iya. Nggak apa-apa kok aku tunggu di sini saja."
Difa pun mengangguk dan segera memanggil Dafa di kamarnya.
"Daf, ada yang cari kamu tuh," ucap Difa, yang berdiri di ambang pintu.
"Siapa?"
"Byan, suaminya Ais."
"Byan? Ngapain dia ke sini?"
Difa hanya mengedikan bahunya. karena penasaran, Dafa pun memilih menemui Byan.
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya Dafa muncul juga dari dalam rumahnya. Dafa menatap heran saat melihat Byan berada di rumahnya.
"Ada apa kamu mencariku?" Ucap Dafa dengan tatapan tak bersahabat.
__ADS_1
"Aku mau bicara sama kamu, tapi tidak di sini."
"Aku malas keluar. Kamu tinggal bilang aja mau bicara soal apa?" Ucap Dafa dengan nada malas.
Byan sedikit mendengus melihat sikap Dafa yang terlihat cuek. "Aku cuma mau bilang, jangan ganggu Ais lagi dan jangan kirim-kirim sesuatu buat istriku. Ingat! Ais itu adalah istriku, bukan pacarku. Jadi aku peringatkan kamu. Stop kamu ganggu istriku!" Byan berbicara sangat tegas kepada Dafa dan berharap Dafa tidak menganggu lagi.
Dafa bukannya takut dengan gertakan Byan, tapi Dafa justru menertawakannya. Byan mencoba menahan diri agar tidak emosi.
"Aku nggak mau dan asal kamu tahu, anak yang sedang di kandung Ais itu adalah anakku. Jadi aku punya hak untuk mendekati Ais, ibu dari anakku dan aku akan rebut Ais darimu." Dafa menekankan ucapan terakhirnya, lalu tersenyum jumawa.
Byan sudah mengepalkan tangannya dan rasanya ia ingin sekali meninju wajah Dafa, tapi Byan tetap berusaha menahannya.
"Memang! anak yang di kandung Ais itu anakmu, tapi ingat kalau kamu sudah membuangnya. Satu hal lagi, jangan berharap kamu bisa mendapatkan Ais dariku, karena aku nggak akan pernah membiarkan siapapun merebut Ais dariku."
Dafa hanya tersenyum sinis menanggapi perkataan Byan dan tidak peduli dengan peringatan Byan.
Setelah itu Byan melangkah meninggalkan Dafa.
Byan pun menghentikan langkahnya dan memutarkan tubuhnya untuk menatap Dafa. Kemudian Dafa mendekati Byan dan berdiri didepan Byan.
"Aku akan memberikan apapun untukmu, tapi tolong ceraikan Ais untukku, demi anakku yang sedang di kandung Ais." Pinta Dafa, tanpa rasa malu. Dibenaknya hanya tertuju kepada Aisyah dan calon buah hatinya.
Ya... Dafa sangat berharap besar bisa hidup bersama lagi dengan Aisyah dan jika Tuhan menghendakinya, maka ia akan memperlakukan Aisyah sebagai seorang Ratu.
Tanpa aba-aba, Byan langsung mendaratkan bogem mentah ke wajah Dafa. Emosi yang sejak tadi ditahannya, akhirnya meledak juga.
Bugh.
Sekali lagi Byan memukul wajah Dafa dan Dafa pun jatuh tersungkur ke lantai. Lalu Byan menarik kerah bajunya Dafa dan menatapnya penuh emosi.
"Kamu mengharapkan aku menceraikan Ais! Maka langkahi dulu mayat ku!"
__ADS_1
Setelah itu satu pukulan keras melayang lagi ke wajah Dafa dan Byan bergegas pergi dari hadapan Dafa, dengan dada bergemuruh karena amarahnya.
Dafa bangkit dan menatap tajam mobil Byan, lalu Dafa menendang pot bunga yang ada di dekatnya.
"Argh...!!" Dafa berteriak, karena ia tak tahu lagi harus bagaimana caranya agar bisa mendapatkan Aisyah.
Usahanya mendapatkan Aisyah ternyata sangatlah susah. Padahal ia benar-benar sangat mengharapkan bisa menjalin kasih lagi dengan Aisyah.
"Kenapa sih! banyak sekali penghalang untukku mendapatkan Ais lagi."
***
Setelah kejadian itu, Dafa semakin gencar meneror Aisyah dengan memberikan barang-barang mewah atau bunga yang sangat cantik, tapi semua pemberiannya akan berakhir kembali ke tangan Dafa, membuat Dafa semakin frustasi.
Penolakan demi penolakan Aisyah tunjukkan dan hal itu sangat membuatnya putus asa untuk meraih hatinya Aisyah.
Karena terus menerus mendapatkan penolakan dari Aisyah. Akhirnya Dafa memutuskan untuk berhenti dulu mengirim sesuatu buat Aisyah.
Dafa duduk termangu di depan jendela kaca, saat ini ia tengah duduk sendiri seorang diri di cafe. Pandangannya lurus, entah apa yang tengah ia lihat di luar jendela, tapi pikirannya terus melayang cara membuat hati Aisyah luluh.
Dafa membuang nafasnya perlahan. Sejak bertemu kembali dengan Aisyah, hatinya terasa kosong. Rasanya Dafa ingin sekali hatinya terisi lagi akan cinta, tapi orang yang ia kejar semakin menjauh.
Apa aku harus menyerah meraih hatinya Ais? Tapi aku ingin sekali hidup bersamanya lagi. Apalagi ada calon buah hatiku yang sebentar lagi lahir ke dunia ini.
Kenapa percintaanku selalu berakhir tragis. Di saat aku mengejar dan berhasil mendapatkan orang yang aku cintai, justru aku harus menelan pil pahit akan pengkhianatan Wulan.
Sekarang di saat aku mencintai orang yang sudah aku sakiti hatinya, justru kini aku nggak bisa menggapainya lagi dan semakin sulit untuk aku raih.
Dafa mendesah samar. Betapa malangnya nasib cintanya yang tak pernah berakhir bahagia.
"Dafa, kamu di sini?"
__ADS_1