
Kehidupan Byan dan Aisyah semakin berwarna. Memiliki dua orang anak di dalam rumah tangganya sangatlah membahagiakan dan pastinya semakin lengkap dengan dua jagoannya.
Aisyah selalu bersyukur karena memiliki suami yang sangat mencintainya dan dua jagoan kecilnya. Aisyah dulu berpikir kalau dirinya tidak akan merasakan kebahagiaan seperti ini, mengingat dulu dirinya benar-benar terluka dengan gagalnya pernikahan yang pertama. Tapi sekarang semuanya sudah berubah dan berganti dengan senyum penuh kebahagiaan.
Mami Yuyun dan Pak Sanjaya sudah tidak lagi menginap dan hampir setiap pagi selalu saja ada drama dari kedua buah hatinya, Afkar yang menangis dan baby Zero tidak mau lepas dari gendongannya. Jika baby Zero ditidurkan di kasur, pasti baby Zero langsung merengek. Kalau kata orang sudah bau tangan, diletakkan sebentar saja langsung menangis.
Seperti saat ini. Aisyah harus mengurus tiga laki-laki dirumahnya. Byan yang menanyakan kaos kakinya, Afkar yang memberantakan mainan di kamarnya dan si kecil dengan tangisannya. Semakin lengkap drama pagi ini. Walau begitu, Aisyah tetap menikmatinya. Baginya ini adalah momen yang sangat berharga, bisa mengurus keluarga kecilnya.
"Afkar, ayo ikut papa," ajak Byan sambil menggandeng tangannya. Mengajak Afkar keluar dari kamar dan menemui pengasuhnya yang tengah membereskan kamar Afkar. " Sus! Tolong mandikan Afkar," perintah Byan.
"Baik, Pak," jawab suster yang langsung membuka baju Afkar.
"Afkar sama sus dulu ya. Nanti kalau sudah mandi kita sarapan bersama. Oke...."
Afkar pun menurut, lalu Byan kembali ke kamarnya dan membantu Aisyah membereskan mainan Afkar. Setelah itu Byan menggendong baby Zero.
"Sayang, kamu mandi dulu sana. " Suruh Byan.
Sebisa mungkin Byan membantu Aisyah, sebelum berangkat ke kantor. Walau ada pengasuh yang jagain Afkar, Byan dan Aisyah tetap ingin turun langsung mengurus kedua buah hatinya.
*
Semuanya kini sudah berada di meja makan, kecuali Baby Zero yang sudah dititipkan ke baby sitter.
"Sayang, nanti aku pulang terlambat, soalnya nanti aku ada pertemuan penting dengan klien dari Malaysia."
"Iya, kak. Tapi jangan malam-malam pulangnya."
"Aku usahakan."
Selesai sarapan, Byan bergegas untuk berangkat ke kantor. Byan terlebih dahulu mencium kening Aisyah dan juga Afkar.
"Papa berangkat kerja dulu ya, nak. Ingat jangan rewel ya...." Kata Byan kepada Afkar. Lalu Byan meninggalkan ruang makan.
Siang harinya, Mami Yuyun datang berkunjung. Beliau sangat merindukan kedua cucunya. Kedatangannya di sambut dengan senyuman manis dari Afkar.
"Lagi ngapain cucu nenek?" Mami Yuyun Segera mendekati Afkar yang tengah bermain bola dan mencium pipi gembul Afkar.
"Nne... La...." ucap Afkar menunjukkan bola kepada Mami Yuyun.
"Eh! Ada Mami?" Seloroh Aisyah yang baru datang dari dapur, sambil membawa makan siang untuk Afkar.
"Mana baby Zero?"
"Lagi tidur di kamar ditemani sama suster," jawab Aisyah yang kini mulai menyuapi Afkar.
Mami Yuyun bergegas ke kamar. Rasa rindunya terhadap baby Zero begitu membuncah. Setibanya di kamar, Mami Yuyun langsung menggendongnya, juga menciumi pipi baby Zero dengan gemas.
"Cucu nenek, semakin hari semakin berisi," cetus Mami Yuyun.
Tidak lama Aisyah datang bersama Afkar.
__ADS_1
"Nnee...." Panggil Afkar ke Mami Yuyun.
"Apa, sayang," sahut Mami Yuyun, kemudian Afkar mendekatinya dan berdiri didepannya.
Afkar mau naik ke pangkuan Mami Yuyun, tidak peduli kalau Mami Yuyun tengah menggendong baby Zero.
"Afkar mau ikut di gendongan sama nenek?" Sambil membantu Afkar naik ke pangkuannya, dan siang itu Mami Yuyun bermain dengan cucu-cucunya.
Hingga tak terasa waktu pun sudah sore. Mami Yuyun pamit pulang dan berjanji esok akan datang lagi.
"Ma... Papa...." Pinta Afkar sambil mengangkat ponselnya Aisyah.
"Afkar mau telpon papa?" Tanya Aisyah yang dianggukin oleh Afkar.
"Oke, mama telpon papa."
Aisyah pun segera melakukan panggilan telepon dan langsung diangkat oleh Byan. Aisyah mengarahkan layar ponselnya ke Afkar.
"Papa...!!" Seru Afkar yang senang melihat wajah Byan di layar ponsel.
"Halo, jagoan papa. Lagi ngapain?" Afkar tidak menjawabnya, tapi Afkar menunjukkan mainannya.
"Abang lagi main sama siapa?" Tanya Byan lagi.
"Sama mama," jawab Aisyah.
"Sayang, telponnya sudah dulu ya. Erick sudah datang dan Aku mau lanjut meeting. Titip cium buat kedua jagoanku," ucap Byan, sebelum mematikan sambungan telponnya.
***
Sambil menunggu Byan pulang Aisyah menemani Afkar bermain di arena bermain khusus di rumahnya dan waktu pun sudah menunjukkan pukul delapan malam.
Entah kenapa, tiba-tiba Afkar menangis kencang. Suster yang menjaga Afkar segera menggendongnya dan menenangkan Afkar.
"Afkar kenapa? Apa ada yang sakit?" Tanya Aisyah sambil mengecek tubuhnya Afkar.
"Cup... Cup... Cup... Anak mama jangan nangis lagi ya...." Ucap Aisyah lembut. Akan tetapi tangisan Afkar semakin histeris, membuat Aisyah menjadi bingung penyebab Afkar nangis.
"Papa... Papa...!!" Afkar memanggil Byan.
"Afkar sudah pengen ketemu papa? Sabar ya sayang, sebentar lagi papa pulang."
Sudah hampir lima belas menit Afkar tidak kunjung berhenti dari tangisnya dan Afkar terus saja memanggil papa dan papa.
Karena merasa kasihan melihat Afkar yang terus menangis memanggil Byan, akhirnya Aisyah menelpon Byan. Akan tetapi telponnya tidak diangkat-angkat oleh Byan, membuat Aisyah menjadi cemas.
"Kenapa nggak diangkat ya? Apa kakak masih sibuk?" Gumam Aisyah, kemudian Aisyah mencoba menelponnya lagi dan lagi-lagi telponnya tidak diangkat.
Aisyah kemudian menelpon Pak Andri dan Erick tapi ternyata tidak diangkat juga.
"Kenapa Pak Andri juga nggak mengangkat telpon ku? Erick juga ikut-ikutan nggak angkat telpon ku."
__ADS_1
Tidak biasanya Pak Andri tidak mengangkat telpon darinya, begitupun juga dengan Erick. Aisyah mencoba untuk berpikir positif dan mengalihkan pikirannya ke anak-anaknya.
Afkar yang sejak tadi menangis memanggil Byan, akhirnya tertidur karena lelah menangis. Setelah Afkar tertidur, kini giliran baby Zero yang menangis. Aisyah pun segera mengASIhi baby Zero.
Walaupun sudah mengASIhi, baby Zero tetap saja merengek.
"Tadi Afkar yang menangis. Sekarang baby Zero yang rewel. Ya Tuhan... Semoga ini bukan hal yang buruk."
Lama Aisyah menimang baby Zero, akhirnya baby Zero tertidur juga dan sekarang sudah pukul sepuluh malam, tapi suaminya itu belum pulang juga.
Aisyah semakin gelisah menunggu Byan pulang. Aisyah juga sudah berkali-kali menelpon Byan ataupun Pak Andri, tapi tidak ada satupun yang diangkat oleh keduanya. Pesan singkat pun tidak di baca oleh Byan maupun Pak Andri.
Berkali-kali Aisyah melihat keluar jendela, berharap Byan segera pulang.
"Kakak pergi kemana sih! Kenapa jam segini belum pulang-pulang!" Gumam Aisyah yang sangat mencemaskan Byan.
Sekitar pukul sebelas malam, Aisyah mendengar suara deru mesin mobil. Aisyah segera mengeceknya dari jendela, sekaligus bernafas lega karena Byan akhirnya pulang.
Tidak lama pintu pun terbuka dan Byan terkejut melihat Aisyah belum tidur.
"Sa-sayang... Kamu belum tidur?"
Aisyah membulatkan matanya, melihat Byan yang diperban di kepala dan di lengannya. Byan rasanya ingin menyembunyikan lukanya dari pandangan Aisyah.
"Ini kenapa? Kenapa kakak luka-luka?" Cecar Aisyah yang begitu terkejut melihat Byan terluka. Kemudian Aisyah mengecek lukanya Byan.
"Nggak apa-apa. Hanya luka kecil," jawab Byan santai.
"Luka kecil bagaimana?! Jelas-jelas ini di perban! Sekarang jelaskan, apa yang sudah terjadi?" Tanya Aisyah.
"Nanti aku jelasin. Aku mau ganti baju dulu." Byan sengaja mengulur waktu agar Aisyah sedikit lebih tenang.
Setelah mendapat persetujuan dari Aisyah, Byan segera mengganti pakaiannya dan Aisyah harus bersabar menunggu Byan.
Sebelum menjelaskan, Byan mencium pipi baby Zero. Setelah itu Byan berpindah ke ranjang, dimana Afkar tidur. Byan juga mencium kening Afkar.
"Selamat bobo, anak papa," bisik Byan.
Aisyah sudah tidak sabar menanyakan soal luka yang didapat Byan.
"Sekarang kakak jelaskan. Apa yang terjadi, sampai-sampai kakak terluka?"
"Tadi saat sudah selesai meeting di restoran. Aku menolong ibu-ibu yang hampir tertabrak mobil, tapi yang ada aku yang ke serempet mobil, tapi untungnya si ibu itu tidak kenapa-kenapa," jawab Byan sambil berjalan mendekati Aisyah yang tengah duduk di sofa
"Terus kenapa telpon aku nggak diangkat-angkat?"
"Karena aku nggak mau membuat kamu panik. Maaf ya, sayang...."
"Tapi lain kali kabarin aku, apapun yang terjadi. Setidaknya aku tahu keadaan kakak. Apalagi dari tadi anak-anak menangis, kayaknya Afkar sama baby Zero merasakan kalau papanya tengah terluka."
"Maafin aku ya, sudah membuatmu mencemaskan aku." Byan menarik tubuh Aisyah dan membawanya ke pelukannya.
__ADS_1
"Tapi syukur, kakak selamat," ucap Aisyah. Membayangkan kalau Byan terluka parah, sudah membuatnya sedih.