Hati Untuk Aisyah

Hati Untuk Aisyah
Mengajak pindah


__ADS_3

"Bagaimana pemeriksaannya?" Tanya Hana, ketika Byan dan Aisyah akan naik tangga.


"Kata dokter Ais mengalami kram dan Ais diharuskan untuk bad rest." Byan yang menjawabnya.


Hana mangut-mangut mendengarkannya. Byan dan Aisyah segera ke kamarnya. Aisyah langsung mendudukkan dirinya di atas ranjang dan menyenderkan punggungnya di kepala ranjang.


"Dari tadi diam saja. Kenapa? Apa ada masalah?" Byan bertanya.


"Nggak ada masalah apa-apa, kak."


"Yakin. Soalnya aku merhatiin kamu seperti punya beban. Ceritakan masalahmu, siapa tau aku bisa memberimu solusi."


"Beneran, Kak. Aku nggak ada masalah."


"Ya sudah kalau kamu tidak mau bercerita, aku nggak akan maksa tapi kalau kamu butuh teman curhat. Aku akan selalu siap mendengarkan curhatan mu."


Aisyah hanya menganggukkan kepalanya, sembari tersenyum menatap Byan.


"Istirahatlah, aku mau kebawah dulu," kata Byan sembari mengusap kepala Aisyah.


"Iya...."


Tiga puluh menit Aisyah tiduran, tapi selama itu Aisyah tidak bisa memejamkan matanya. Ia terus memikirkan pembicaraannya dengan dokter Azizah yang mengatakan kalau kehamilannya bisa menggangu penyakit yang di deritanya dan jika di teruskan akan mengancam keduanya.


Aisyah membuang nafasnya panjang, lalu Aisyah mengelus perutnya.


Apa pun yang terjadi, mama akan tetap memperjuangkan kamu, sayang.


***


Sebulan sudah berlalu. Byan pulang dengan langkah cepat. Ia ingin segera bertemu dengan istri tercintanya yang tak lain adalah Aisyah.


Byan tersenyum lebar ketika sudah berada di kamar. Byan segera mendekati Aisyah yang saat ini tengah duduk di atas ranjang sembari membaca buku tentang kehamilan.


Byan memeluk Aisyah dari samping seraya mendaratkan kecupan manis di pipi Aisyah.


"Kayaknya kakak lagi senang banget." Ucap Aisyah.


"Memang. Tanya dong, kenapa aku senang."


"Memang apa yang membuat kakak senang?"

__ADS_1


"Hari ini aku naik jabatan dan sekarang aku menjadi manager!" Seru Byan mengatakan kalau dirinya sekarang naik jabatan di kantornya.


Senyum Byan terus tersungging, ia tampak bahagia membagikan kabar baik ini.


"Oh ya... Selamat ya, kak. Aku senang dengernya," jawab Aisyah tak kalah senangnya. Sebagai hadiahnya Aisyah memberikan ciuman di pipi Byan.


"Disini juga," tunjuk Byan ke bibirnya. Aisyah menggelengkan kepalanya, ia belum berani mencium bibirnya Byan.


"Ais." Byan ragu untuk mengatakan keinginannya.


"Hmm... Kenapa?" Aisyah menatap wajah serius Byan.


"Aku berencana ingin ngajak kamu pindah dan aku ingin kita hidup mandiri." Byan berbicara dengan sangat hati-hati. Sebenernya sudah lama Byan ingin ngajak Aisyah pindah dari rumah mertuanya, bukan berati Byan tak suka tinggal di sana tapi Byan cuma ingin hidup mandiri dengan Aisyah. Byan ingin memulainya dari nol.


"Gitu ya. Aku sih mau-mau aja, tapi gimana sama orang tuaku?" Aisyah bisa pastikan kalau orang tuanya tidak menyetujui dengan keinginan Byan.


"Nanti aku coba ngomong sama ayah, yang terpenting kamu mau kita pindah dari sini."


Aisyah mengangguk dan tidak mempermasalahkan soal ajakan Byan. Toh, selama menikah dengannya Byan selalu bersikap baik kepadanya. Pikir Aisyah.


Byan berencana mengatakan keinginannya kepada kedua mertuanya itu. Selesai makan malam, Byan dan Aisyah ikut bergabung dengan Aries dan Hana yang saat ini tengah menemani si bungsu dan si kembar. Byan duduk di lantai dekat Andreo, yang kala itu tengah bermain fazel.


Byan tidak langsung mengatakan soal rencananya, tapi Byan bercengkrama dulu dengan adik-adiknya.


"Iyo juga mau tidur," timpal kembarannya.


"Iya," jawab Hana, lalu Hana dan Aries memberi kecupan manis di pipi si kembar. Sedangkan Andreo masih betah dengan permainannya.


"Ayah, ibu. Aku mau bicara sama kalian." Byan tampak ragu mengutarakannya.


Hana dan Aries menatap wajah Byan dan akan mendengarkan dengan seksama apa yang akan Byan bicarakan.


"Ibu, ayah. Sebenernya aku ingin mengajak Ais... Pindah dari sini." Byan berbicara dengan sangat hati-hati.


Aries terkejut dengan ungkapan Byan, begitu juga dengan Hana.


"Kenapa ingin pindah dari sini?" Tanya Hana, di dalam benaknya ada rasa takut. Takut kalau-kalau mereka pindah dari sini Byan akan memperlakukan Aisyah dengan tidak baik.


"Karena kami berdua ingin belajar hidup mandiri, tanpa tergantung kepada kalian," jawab Byan.


"Tapi ibu tidak setuju." Hana menentangnya.

__ADS_1


"Bu, aku janji nggak akan membiarkan Ais menderita bila kami hidup terpisah dengan ayah dan ibu. Aku akan tetap berusaha membahagiakan Ais."


"Tetap saja--"


"Kita biarkan mereka hidup mandiri." Aries memotong perkataan istrinya. "Lagian apa salahnya kalau mereka ingin hidup mandiri. Aku yakin Byan akan menjaga Ais dengan baik."


"Tapi aku tetap tidak setuju." Hana tetap kekeuh, tidak mau kalau Byan dan Aisyah keluar dari rumah ini. Apalagi saat ini Aisyah tengah hamil.


"Kapan kalian berencana pindah dari sini?" Aries menghiraukan perkataan Hana.


"Secepatnya, yah." Byan menjawab dengan rasa lega, karena ayah mertuanya ternyata menyetujui keinginannya.


Berbeda dengan Hana, raut wajahnya menggambarkan rasa kecewa dengan suaminya yang langsung menyetujui keinginan Byan.


***


"Memang sudah ada rumah yang akan kita tempati?" Aisyah bertanya dengan rasa penasaran dan saat ini keduanya sudah di kamar.


"Ada. besok sepulang aku kerja kita lihat rumah yang akan kita tempati."


Aisyah mengangguk, lalu Byan menyerahkan vitamin untuk kandungannya ke Aisyah.


"Minum dulu obatnya."


Aisyah menerima vitamin tersebut dan langsung meminumnya, setelah itu Byan mematikan lampu utamanya dan hanya menyisakan lampu tidur.


Sesuai dengan janjinya, Byan dan Aisyah pergi ke rumah yang akan mereka tempati berdua.


Setibanya di sana, Aisyah memandangi rumah yang tidak terlalu besar, rumah dengan tipe 45. Cukuplah buat mereka tinggalin berdua.


"Ayo masuk," ajak Byan.


Aisyah masuk dan melihat-lihat keadaan rumah tersebut.


"Bagaimana? Kamu maukan tinggal disini?"


Aisyah mengangguk dan Aisyah tidak mempermasalahkan seberapa besar rumah yang akan ditempatinya.


"Kalau boleh tahu, kita disini ngontrak atau gimana?"


"Ini rumah kita, yang aku beli dengan cara kredit. Maaf ya... Aku belum mampu membelikan rumah seperti rumah orang tuamu."

__ADS_1


"Nggak apa-apa. Lagian aku suka kok dengan rumah ini. Kita pindah kesini agar kita belajar dari bawah dan siapa tahu kamu akan sukses."


"Terima kasih dan teruslah berada di sampingku, agar aku tetap berusaha menjadi orang yang kamu katakan tadi."


__ADS_2