
Waktupun kini cepat berlalu dan tak terasa baby Afkar kini sudah berusia 7 bulan dan byan semakin sibuk mengurus dua perusahaan sekaligus. Meski sangat sibuk, Byan tetap menomor satukan keluarganya dan mengusahakan meluangkan waktunya untuk anak dan istrinya.
Byan dan Aisyah tidak lagi tinggal di rumah orang tuanya, tapi kini menempati rumah barunya yang tak kalah besarnya dengan rumah Aries.
Rumah baru Byan berdampingan dengan rumah Marshall, selain itu Byan ingin bertetanggaan dengan sahabat sekaligus iparnya dan saat ini Byan dan Aisyah tengah menghadiri acara tasyakuran anak kedua dari Marshall dan Zee. Anak kedua Marshall berjenis kelamin laki-laki.
Sigit dan Jojo datang bersama dengan pacaranya, tapi tidak untuk Dhika yang saat itu datang seorang diri. Meskipun begitu jiwa playboynya tetap melekat di dirinya.
Acara tasyakuran berlangsung hikmat. Berharap anak kedua Marshall menjadi anak yang Sholeh dan pintar. Selesai tasyakuran, semua anggota keluarga kini berkumpul bersama dan bercengkrama.
Begitu juga dengan kelima sahabat baik yang kini tengah duduk di depan kolam renang.
"Jadi kamu mau ngelamar cewek kamu?" Tanya Marshall kepada Sigit.
"Iya. Rencananya dua minggu lagi. Aku harap kalian semua bisa datang."
"Pasti. Kita pasti bakal datang." Timpal Dhika sambil memainkan rubik.
"Terus kamu sendiri kapan, Jo?" Ucap Byan kepada Jojo.
"Kalau aku mah masih pengen pacaran dulu," jawab Jojo.
"Sekalian tes drive dulu ya, Jo," celetuk Dhika yang langsung mendapatkan dorongan dari Marshall dan Sigit.
Si kecil Shania berlari mendekati Marshall.
"Papa...." Suara imut memanggilnya. Bukan Marshall yang menggendong gadis kecil itu, melainkan Dhika dan membawa tubuh kecil itu ke pangkuannya.
"Hey... Shani. Nanti kalau kamu sudah gede kamu mau ya nikah sama Om," kata Dhika.
"Enak aja! Anak gue nikah samal elo, mending anak gue nggak usah nikah sekalian!" Kesal Marshall seraya menendang betis Dhika.
"Kan banyak tuh, di novel-novel. Anak gadisnya nikah sama teman papanya."
"Tapi nggak buat anak gue!" Jawab Marshall ketus.
"Bodo! Pokoknya nanti kalau Shani sudah gede gue tetap nikahin Shani." Dhika justru semakin senang meledak Marshall.
"By, ambil Shani," suruh Marshall dan Byan langsung menggendong Shania.
Marshall langsung melingkarkan tangannya di leher Dhika. Marshall sangat kesal dengan ucapan Dhika.
"Dasar sahabat anjay!!" Maki Marshall, kemudian menggulingkan tubuh Dhika ke lantai.
"Wooy!! Sakit leher gue!!" Teriak Dhika.
"Shall ! Kalian apa-apaan sih!" Bentak Zee yang melihat suaminya tengah bergulat dengan Dhika.
"Zee tolongin gue. Laki kamu mau membunuhku," ucap Dhika memelas.
"Bang!" Sentak Zee.
Marshall langsung melepaskan Dhika, sedangkan Zee menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Di panggil ayah tuh," ucap Zee.
__ADS_1
"Mau ngapain?" Zee hanya mengedikan bahunya dan kembali masuk ke dalam rumah. Begitu juga dengan Marshall yang segera menghadap Aries.
***
Malamnya, Byan dan Aisyah pulang ke rumah. Byan langsung mengganti pakaian Afkar dengan baju tidur. Sambil menunggu Aisyah membuat susu, Byan mengajak Afkar bermain tebak warna.
Walau Afkar masih bayi, Byan selalu mengenalkan macam-macam benda, hewan, warna dan masih banyak lagi.
Byan harus sigap jaga Afkar dan tidak boleh lengah. Sebab Afkar sudah pandai merangkak dan pastinya sudah pintar mengoceh.
Sambil memangku Afkar, Byan menunjukkan beberapa warna yang ia pegang.
"Yang warna hitam mana?" Ucap Byan dan Afkar langsung mengambil kartu yang berwarna hitam.
"Yyee!! Pintar anak papa," puji Byan sambil tepuk tangan dan hal itu membuat Afkar kegirangan. Byan langsung mengecupi pipi gembul Afkar.
"Pppa... Pppaa...." Tiba-tiba Afkar menyerukan kata papa.
Byan terbengong mendengar Afkar berkata papa dan ini kata pertama yang di ucapkan Afkar, bukan mama atau kata yang lain.
"Sayang!!" Teriak Byan memanggil Aisyah.
"Kenapa?" Aisyah datang dan ikut bergabung dengan kedua lelakinya.
"Afkar panggil papa!" Seru Byan. Sungguh Byan tidak percaya dengan pendengarannya dan pastinya Byan sangat senang sekali.
"Masa!"
"Iya, sayang!" Byan meyakinkan Aisyah dan Afkar kembali berceloteh riang. "Ppa... Pppaaappaap."
Aisyah mengangguk dan ia sangat senang mendengar Afkar menyebut kata papa, tapi Aisyah sedikit kecewa karena kata pertama yang diucapkan Afkar bukan mama.
"Aah! Papa makin sayang sama kamu, nak!" Seru Byan sambil memeluk tubuh Afkar.
Byan tak henti-hentinya tersenyum senang. Kata sederhana yang diucapkan oleh Afkar, tapi mampu membuat hatinya Byan melambung tinggi.
Byan mengambil botol susu dari tangan Aisyah dan membawa Afkar ke atas ranjang. Byan menemani Afkar tidur dan malam itu Byan sengaja tidak memindahkan Afkar ke boks bayi. Byan ingin sepanjang malam memeluk Afkar, sebagai bentuk rasa senangnya karena Afkar sudah bisa memanggilnya dengan sebutan papa.
Rintik-rintik hujan di pagi hari dan membuat siapapun malas beranjak dari tempat tidur. Begitu juga dengan Byan. Ia masih tidur dan memeluk jagoan kecilnya.
Aisyah yang melihat Byan masih meringkuk segera membangunkannya, karena setahu Aisyah, Byan ada meeting pagi ini.
"Kak By bangun... Ini sudah pagi." Seraya menggoyangkan tubuhnya Byan.
"Hmm... Sebentar lagi, sayang."
"Pokoknya harus bangun sekarang juga. Bukannya pagi ini kakak ada meeting."
"Iya-iya aku bangun."
Dengan malas Byan bangun dan berjalan ke kamar mandi.
***
Aisyah sudah menyiapkan sarapan pagi untuk suami tercintanya. Kemarin Byan ingin sarapan dengan nasi goreng yang di campur irisan bakso.
__ADS_1
Byan sudah duduk, sedangkan si bayi menggemaskan sudah diduduki di high chair.
Aisyah menuangkan nasi goreng tersebut ke piring dan meletakkan di depan Byan, setelah itu Aisyah menyuapi Afkar.
Baru satu sendok nasi goreng yang masuk ke mulutnya, tiba-tiba Byan merasakan perutnya bergejolak dan Byan menarik selembar tisu untuk membuang nasi goreng dari mulutnya.
"Kenapa? Nasi gorengnya keasinan ya," ucap Aisyah.
"Nggak. Tapi nasi gorengnya bau bakso," jawab Byan sambil menutupi mulutnya.
Aisyah mengernyitkan dahinya dan merasa aneh. "Bukannya kemarin kakak pengen sarapan sama nasi goreng yang ada baksonya?"
Byan mengangguk. "Tapi kali ini baksonya sangat menyengat dan bikin eneg."
"Masa sih! Tapikan itu bakso yang biasa aku beli."
"Sudahlah. Mungkin perutku lagi bermasalah," tukas Byan, yang kemudian bersiap-siap untuk berangkat kerja. Byan sudah tidak ada selera meneruskan sarapannya.
Byan kemudian mencium kening Aisyah, setelah itu mencium kepala Afkar.
"Papa berangkat kerja dulu ya, sayang," ucap Byan sembari mengusap kepala Afkar.
"Pppaaappaap...."
Byan tersenyum lebar dan kembali mendaratkan kecupan manis di pipi gembul Afkar.
"Jangan nakal ya, Nak." Setelah itu Byan bergegas berangkat ke kantor.
Sepanjang perjalanan menuju kantor, Byan mendadak pusing dan memijat pangkal hidungnya.
"Tuan sakit?" Tanya Pak Andri, supir pribadinya Byan.
"Nggak tahu nih, Pak. Mungkin karena tadi nggak sarapan," jawab Byan.
"Apa Tuan mau cari sarapan dulu."
"Nggak usah, nanti saja."
Pak Andri pun mengangguk dan kembali fokus ke jalanan.
Tiba di kantor, Byan langsung menuju ruangannya dan beberapa menit kemudian, Byan langsung meeting dengan petinggi di perusahaannya untuk membicarakan proyek yang sebentar lagi dibangun.
Meeting berakhir menjelang makan siang. Erick, asisten pribadinya mengajak Byan makan siang di restoran yang sudah di reservasi oleh Erick.
"Sehabis makan siang, kita akan ada pertemuan dengan perusahaan Corpus," lapor Erick.
"Hmm...." Jawab Byan.
Keduanya kini sudah di restoran dan ternyata Erick memesan makanan yang berisi potongan bakso. Byan yang melihat bakso langsung menutupi hidungnya dan merasa eneg lihatnya.
"Maaf, Tuan kenapa?" Tanya Erick yang bingung melihat Byan menutup hidung dan mulutnya.
"Kamu makannya jauh-jauh dariku," usir Byan.
"Baik, Tuan."
__ADS_1
Erick pun menurut dan pindah duduknya. Byan kembali memijit pangkal hidungnya, entah kenapa setiap melihat bakso selalu saja membuatnya eneg dan baunya sangat menyengat. Sehingga membuatnya merasa pusing.