Hati Untuk Aisyah

Hati Untuk Aisyah
Permintaan Akemi


__ADS_3

"Sayang, kamu sudah tidak perawan?!"


Dafa menatap Wulan penuh tanya. Wanita yang selama ini ia jaga kehormatannya ternyata sudah tidak suci.


Wulan mengangguk pelan. Dafa terlihat sangat kecewa dan Wulan harus mencari alasan agar Dafa tidak marah kepadanya. Apalagi sekarang ini ia sudah menjadi istrinya.


Dafa melepaskan diri dari tubuh Wulan. Dafa sangat kecewa mengetahui kalau Wulan sudah tidak suci lagi.


"Siapa orang yang sudah merenggut kesucianmu!" sentak Dafa yang tidak bisa menyembunyikan rasa marahnya.


"Sayang...." Wulan bangun dan menyentuh tangan Dafa, tapi Dafa menepiskan tangannya.


Wulan menundukkan kepalanya dan berubah murung, ia kini mulai mengeluarkan air matanya. Wulan menutupi wajahnya dan terisak-isak.


"Asal kamu tahu, aku itu korban pemerkosaan," ucap Wulan yang mulai menceritakan cerita palsu, berharap Dafa mengerti dengan dirinya yang sudah tak suci lagi.


Dafa menatap tajam ke arah Wulan, yang menangis sendu sedan.


"Malam itu, saat aku pulang kuliah. Aku di hadang oleh dua orang lelaki. Aku diseret ke tempat yang sepi dan di sanalah mereka merenggut kesucianku... Hiks... Hiks... Aku benar-benar tidak berdaya melawan dua lelaki itu."


Wulan bercerita dengan penuh derai air mata dan berharap Dafa mempercayai cerita palsunya. Tubuh Wulan bergetar karena Isak tangis buayanya yang terdengar memilukan.


"Sekarang terserah kamu. Jika kamu kecewa dengan keadaanku yang sudah tidak suci lagi, maka ceraikan aku sekarang juga," ucap Wulan, dengan penuh kesedihan.


Dafa tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Dafa dilema antara menerima keadaan Wulan atau meninggalkannya. Lalu apa perjuangannya selama ini akan sia-sia, sedangkan ia sudah bertahan sampai tahap ini.


Wulan turun dari ranjang dan berjalan untuk mengambil pakaiannya. Selesai mengenakan pakaian, Wulan melangkah ke arah pintu. Berniat untuk meninggalkan Dafa seorang diri.


Sebenernya Wulan sangatlah kesal, karena Dafa tidak terlihat iba kepadanya, padahal Wulan sudah mati-matian terlihat sangat menyedihkan.


"Aku pergi dulu...." Kata Wulan, lalu Wulan segera membuka pintunya.


"Tunggu!"


Wulan berhenti membuka pintunya dan menatap wajah Dafa yang tertunduk sendu.


"Jika memang benar kamu di perkosa, maka aku nggak akan menceraikan kamu. Aku sudah sejauh ini melangkah bersamamu dan maaf... Nggak seharusnya aku marah sama kamu. Seharusnya aku merangkul kamu, bukan membencimu," ucap Dafa, yang berusaha berlapang dada menerima keadaan Wulan.


Meski kecewa, tapi Dafa tidak boleh menyalahkan Wulan. Bagaimanapun wulan korban dan Dafa percaya dengan cerita Wulan, karena Dafa sangatlah mencintai Wulan.


Wulan tersenyum senang dan berlari menghampiri Dafa. Wulan menghamburkan dirinya ke pelukan Dafa. Wulan tersenyum miring di balik tubuh Dafa, karena Dafa dengan bodohnya mempercayai cerita palsunya.


"Terima kasih, sayang... Terima kasih," ucap Wulan m, sembari menatap wajah Dafa.

__ADS_1


Dafa mengangguk dan mencium pucuk kepala Wulan.


"Sekali lagi, aku minta maaf karena sudah membohongimu."


"Iya, tapi aku mohon jangan ada lagi yang kamu tutupi dariku." Dengan cepat Wulan menganggukkan kepalanya.


"Apa kamu akan melanjutkan yang tadi," seloroh Wulan.


"Untuk itu... Aku belum bisa. Maaf...."


"Iya, nggak apa-apa. Yang penting kamu tetap bersamaku dan menerima keadaanku."


"Bagaimana kalau kita tidur saja," tukas Dafa dan di angguki oleh Wulan.


Kini Dafa dan Wulan tidur sambil berpelukan. Tengah malam dan Dafa sudah terlelap tidur, Wulan terbangun karena mendengar suara dering handphonenya.


Wulan segera mengambil handphonenya dan melihat siapa yang menelponnya tengah malam begini.


"Akemi...."


Wulan segera mengangkatnya dan berbicara bisik-bisik.


"Ada apa kamu menelponku."


"Apa? Kamu gila! Bagaimana kalau Dafa bangun." Bisiknya sembari melirik Dafa yang terlelap tidur.


"Pokoknya aku menginginkan kamu, kalau tidak aku akan datang ke kamarmu." Ancam Akemi.


"Oke-oke, aku ke sana sekarang." Wulan mematikan teleponnya , lalu Wulan mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Dafa, memastikan kalau Dafa benar-benar terlelap. Perlahan Wulan turun dari ranjang dan berjalan pelan ke arah pintu.


"Maafkan aku suamiku," ucap Wulan pelan, sembari menutup pintunya.


Wulan segera menemui Akemi yang sudah berdiri di depan pintu kamar hotelnya. Wulan menatap kesal karena Akemi memaksanya dan disisi lain, Wulan takut kalau Dafa mengetahuinya menemui lelaki lain. Cepat-cepat Wulan meminta Akemi untuk masuk ke kamarnya.


Akemi langsung menyergap tubuh Wulan dan mencium bibirnya rakus. Tangan Akemi tak tinggal diam, ia merayu tubuh Wulan.


Apa yang dilakukan Akemi, membuat libidonya Wulan memanas dan malam ini malam yang seharusnya dihabisi dengan Dafa, justru Wulan menghabisi malam pengantinnya dengan pria lain.


"Akemi... Cepatan... Aku takut... Uuh...." Pikiran Wulan terus tertuju ke Dafa. Wulan takut Dafa bangun dan mencarinya.


"Sebentar lagi, sayang... Aku belum puas menggoyang tubuhmu," sahut Akemi dengan suara parau. Ia terus memaju mundurkan pinggulnya, menghantam lorong gelap milik Wulan.


Desa han Wulan terus menggema di kamar tersebut. Wulan sangat menikmati gempuran yang dilakukan oleh Akemi. Wulan tidak lagi memikirkan Dafa, yang terpenting saat ini ia ingin menggapai nikmatnya bercinta.

__ADS_1


Kini gulungan dahsyat tersebut, akhirnya meledek juga. Wulan dan Akemi meng erang bersama untuk menumpahkan kenikmatan yang sesungguhnya. Nikmat yang sangat luar biasa, yang selalu keduanya kecanduan.


"Terima kasih, karena kamu bersedia melayaniku dan bersedia menjadi tempat untuk menumpahkan benihku," ucap Akemi dengan nafas tersengal-sengal.


"Hmm...." Jawab Wulan, yang masih merasakan sisa-sisa bercinta.


Akemi menarik diri dari tubuh Wulan dan berguling ke sampingnya.


"Sekarang kamu boleh kembali ke kamarmu."


"Ck... Setelah mendapatkan apa yang kamu mau. Aku diusir dari sini," sungut Wulan.


"Aku bukan mengusirmu, aku takutnya suamimu bangun dan mencarimu."


"Iya lah, aku pergi!" Jawabnya kesal.


Wulan segera memakai pakaiannya dan bergegas kembali ke kamarnya. Wulan berharap Dafa tidak bangun, agar dirinya tidak perlu mencari alasan.


Wulan tersenyum lebar, karena Dafa tidak bangun dan Wulan segera tidur disamping Dafa.


"Kamu habis darimana?" Tiba-tiba Dafa bertanya dan menatap Wulan.


Wulan tersentak mendengar suara berat Dafa. "A-aaku... Habis cari... Makan.," jawabnya gugup.


"Makan? Jam segini kamu cari makan?"


"I-iya. Kamu kan tahu sendiri, kalau aku belum makan."


"Terus kenapa kamu nggak bangunin aku."


"Aku nggak tega bangunin kamu."


"Tapi lain kali, kalau kamu butuh sesuatu. Kamu harus bangunin aku."


"Iya.... Maaf, ya. Aku nggak bangunin kamu."


Dafa mengangguk kecil. "Ayo, kita tidur lagi."


"Iya...."


Dafa dan Wulan kembali tidur sambil berpelukan. Wulan tersenyum dan bernafas lega, karena Dafa tidak mencurigainya.


Begitu cintanya Dafa sama aku, bahkan Dafa selalu percaya dengan perkataanku. Dafa benar-benar sangat bodoh.

__ADS_1


__ADS_2