Hati Untuk Aisyah

Hati Untuk Aisyah
Sedih dan bahagia


__ADS_3

"Dafa...." Wulan masih berusaha untuk meluluhkan hatinya Dafa.


"Aku minta kamu pergi dari sini!" Seraya menunjuk ke arah pintu dan Dafa tidak mau mendengar apapun alasan yang keluar dari mulut Wulan.


"Sudah... Lebih baik kita pergi dari sini," timpal Akemi, yang kini merangkul pundak Wulan.


Dafa sama sekali tidak ingin melihat tubuh polos kedua pengkhianat itu, terutama Wulan. Dafa sangat jijik melihatnya.


Melihat kemurkaan Dafa terhadapnya, membuat hatinya terasa sakit. Wulan merasa tidak yakin kalau kali ini Dafa akan memaafkannya dengan mudah.


Setelah keduanya mengenakan pakaian. Wulan menatap sendu punggung tegap Dafa dan setelah itu Wulan dan Akemi melangkah keluar dari kamar.


"Berhenti," ujar Dafa.


Wulan tersenyum samar mendengar ucapan Dafa dan Wulan yakin kalau Dafa tidak tega mengusirnya. Wulan menoleh ke arah Dafa, begitupun juga dengan Dafa.


"Katakan, siapa ayah dari anak yang kamu kandung?"


"Maksud kamu? Kamu meragukan anak kamu sendiri?"


"Tentu saja! Dan selama ini aku tidak tahu berapa usia kandunganmu."


"Daf--" Wulan akan melangkah mendekati Dafa.


"Dia anakku." Potong Akemi dan Wulan terperangah mendengar pengakuan Akemi. Wulan tak menyangka kalau Akemi akan mengatakan yang sebenarnya.


Dafa tersenyum kecut, selain dikhianati ternyata dirinya sudah dibohongi mentah-mentah olehnya. Sungguh sangat bodoh dirinya ini dan mempercayai kebohongan Wulan.


"Aku nggak menyangka, kamu wanita yang tak punya hati!" Sarkas Dafa.


"Dafa...."


"Mulai malam ini aku talak kamu!"

__ADS_1


Jleb


Wulan merasa detak jantungnya mendadak berhenti dan oksigen disekitarnya berasa menipis. Wulan terperanjat mendengar ucapan Dafa yang menjatuhkan kata talak. Itu berarti dirinya sudah tidak ada kesempatan lagi untuk dimaafkan.


"Ayo kita pergi saja dari sini," ajak Akemi, yang kembali menarik Wulan.


"Aargh!!" Teriak Dafa sembari menghempaskan peralatan kosmetik dari meja rias. Nafas Dafa memburu menahan emosinya dan menangisi kisah cintanya.


Setelah Wulan dan Akemi pergi, Dafa terduduk diam di lantai kamarnya. Kedua tangannya menopang kepalanya yang tertunduk sedih. Sakit, hancur kecewa dan marah kini tengah ia rasakan. Pengkhianat yang Wulan lakukan sudah membuatnya menjadi lelaki paling terbodoh di dunia dan selama itu juga ia tak pernah mencurigainya.


Harapannya membina rumah tangga yang harmonis dengan orang yang paling dicintainya, kini hancur lebur dalam sekejap. Dafa hanya bisa meratapi nasibnya sendiri yang telah dikhianati oleh wanita yang paling paling paling ia cintai.


Dafa kemudian merebahkan tubuhnya di atas lantai yang dingin. Ia meringkuk seorang diri tanpa ada seorangpun yang tahu betapa sedihnya dan hancurnya dirinya ini. Air mata sialannya lagi-lagi lolos dari pelupuk matanya dan dadanya semakin terhimpit sesak.


"Huft...." Dafa membuang nafasnya perlahan, mencoba melepaskan rasa sesak yang dirasakannya.


Perlahan Dafa memejamkan matanya, ia ingin melupakan semua yang terjadi dan berharap disaat ia bangun semuanya akan baik-baik saja.


Hampir satu jam Dafa berusaha untuk tidur, tapi nyatanya sampai detik ini ia tidak bisa memejamkan matanya. Justru ingatannya kembali melayang, dimana Wulan tengah menikmati cumbuan dari Akemi dan bagaimana Akemi menghentak pinggulnya ke arah tubuh Wulan.


"Ma... Ternyata benar kata mama, kalau Wulan bukanlah wanita baik-baik. Sekarang aku harus gimana, ma...." Ucap Dafa tersedu-sedu, mengingat lagi ucapan mamanya dulu, tapi rasa cintanya yang begitu besar terhadap Wulan, membuatnya menutup mata dan telinga.


"Ma... Pa... Maafin Dafa...." Kini hanya ada penyesalan di dalam hatinya. Kebodohannya yang begitu mencintai Wulan, kini berakhir dengan kehancuran.


Disaat matahari sudah mulai menampakkan sinarnya, saat itu juga Dafa baru bisa tidur.


***


Beberapa hari kemudian.


Hari ini, hari terakhir Byan dan Aisyah berada di Jepang. Semua permasalahan di tempat kerjanya sudah selesai dan para pekerja yang mengalami kecelakaan sudah mendapatkan kompensasi.


Mumpung masih banyak waktu, Byan ingin mengajak Aisyah jalan-jalan untuk terakhir kalinya berada di kota Tokyo dan kini keduanya sudah berada di dalam taksi.

__ADS_1


"Sebenernya kita mau pergi kemana sih, kak?" Tanya Aisyah yang sudah bertanya ketiga kalinya.


Byan hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Aisyah dan Aisyah mendengus kesal, karena Byan tidak menjawabnya. Pada akhirnya Aisyah memilih diam dan mengikuti kemana Byan membawanya.


Taksi yang mereka tumpangi berhenti, lalu Byan dan Aisyah bergegas turun.


Aisyah terpana melihat pemandangan di depan matanya, dimana bunga sakura tengah berguguran dari rantingnya.


"Kak...." Aisyah tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Kedua bola matanya tampak bersinar senang.


"Kamu suka?"


Aisyah mengangguk cepat, kemudian Aisyah berlari ke bawah pohon sakura. Aisyah menjulurkan telapak tangannya ke udara dan bunga sakura yang tengah gugur jatuh ke telapak tangannya.


Byan tersenyum melihat Aisyah bahagia, lalu Byan memotret Aisyah yang tengah meniup bunga sakura dari telapak tangannya. Byan juga memotret Aisyah yang tengah tersenyum lebar.


"Teruslah tersenyum seperti ini dan aku berharap kita bisa terus bersama," gumam Byan.


Puas memotret dan memandangi Aisyah, Byan kemudian menghampirinya dan memeluk Aisyah dari belakang seraya mencium pipi Aisyah.


"Aku boleh mengatakan sesuatu, kak."


"Tentu saja boleh."


Aisyah melepaskan tangan Byan yang melingkar di perutnya, lalu Aisyah sedikit menjauhi Byan.


Sebelum mengatakannya, Aisyah tersenyum menatap wajah Byan yang kini sudah berhasil menempati hatinya.


"I LOVE YOU... MY HUSBAND...!!"


Aisyah berteriak sekencang-kencangnya, kemudian Aisyah menyilangkan telunjuk dan jempolnya kepada Byan.


Byan menggelengkan kepalanya, dengan senyum terus tersungging di bibirnya. Aisyah berlari mendekatinya. "I also love you my wife," balas Byan, lalu Aisyah menjinjitkan kakinya untuk menggapai bibirnya Byan.

__ADS_1


Keduanya berciuman di bawah pohon sakura. Hati Aisyah dan Byan dilanda rasa bahagia yang membuncah. Kini Aisyah sangat beruntung bisa mencintai dan juga dicintai oleh Byan, suami terbaiknya.


__ADS_2