
Byan mengecupi seluruh wajah Aisyah dan menangis haru.
"Terima kasih, sayang... Kamu hebat...." Bisik Byan.
Aisyah tidak menjawabnya. Dirinya masih berusaha menetralkan deru nafasnya, tapi mendengar suara tangisan buah hatinya, perasaan Aisyah langsung lega.
Setelah memotong tali pusat bayi. Dokter Azizah mengangkat bayinya dan memperlihatkan kepada Aisyah.
"Halo mama... Aku sudah lahir," ucap dokter Azizah, kemudian meletakkan bayinya di atas dada Aisyah.
"Oek... Oek... Oek...."
Byan dan Aisyah tersenyum lebar melihat buah hatinya yang menangis kencang.
"Hai, sayang... Ini papa," ucap Byan menyapa buah hatinya dan mengelus pipi merahnya.
Byan berkaca-kaca melihat malaikat kecilnya dan rasanya sangat luar biasa bisa memiliki anak kandung.
Setelah beberapa menit bayinya diletakkan di atas dadanya, kini jagoan kecilnya dipindahkan dan diletakkan di meja. Suster langsung memakaikan baju dan membedongnya.
Sedangkan Aisyah kini harus kembali menahan rasa sakit, saat dokter Azizah menjahit bagian sensitifnya yang mendapatkan robekan kecil.
"Dok, istri saya kenapa harus di jahit itunya?" Tanya Byan yang heran melihat area sensitifnya tengah di jahit.
"Memang harus di jahit, karena bagian sensitifnya robek," jawab dokter Azizah, yang terlihat biasa saja saat menjahitnya.
"Tapi jangan di jahit semuanya. Nanti anaconda saya nggak bisa masuk."
Dokter Azizah yang tengah serius menjahit robekan, seketika tertawa kecil mendengar perkataan Byan.
"Tenang saja , pak. Pasti saya sisakan buat anaconda milik bapak," jawab dokter Azizah terkekeh-kekeh.
Byan mengusap tengkuknya merasa malu karena berkata seperti itu. Tiba-tiba Aisyah menggigit tangannya karena harus menahan sakit saat jarum menusuk kulitnya dan dagingnya.
"Aaww...." Byan meringis dan memejamkan matanya. Berusaha menahan rasa sakit dari gigitan Aisyah.
"Sudah selesai," kata dokter Azizah, yang kini sambil membereskan peralatannya.
Akhirnya Byan bernafas lega karena Aisyah sudah tidak menggigitnya lagi. Byan mengusap tangannya yang terkena gigitan.
Aisyah sudah mendapatkan perawatan dan sang baby sudah di bedong. Kini giliran Byan harus mengadzani si kecil.
Selesai mengadzani, Byan kemudian bergegas keluar dari ruang bersalin untuk menemui mertuanya yang menunggunya di luar sejak tadi.
"Bagaimana Ais dan cucu ibu? Terus bayinya laki-laki atau perempuan?" Cecar Hana.
"Ais dan bayinya baik-baik saja. Dua-duanya sehat."
"Syukurlah... Terus laki-laki atau perempuan?" Hana mengulangi pertanyaannya.
"Laki-laki, Bu."
"Apa ayah dan ibu sudah boleh masuk?" Timpal Aries penuh harap.
"Kayaknya sudah boleh."
__ADS_1
Aries dan Hana masuk. Keduanya tersenyum lebar melihat cucunya tengah menggeliat dan menangis pelan.
"Cucuku yang tampan... Perkenalkan ini Opa Aries yang gantengnya tiada tanding," ucap Aries, sambil membanggakan dirinya sendiri.
"Ketampananku ternyata turun temurun. Ah! Senangnya jadi orang tampan." Lagi-lagi Aries memuji dirinya.
***
Aisyah kini sudah dipindahkan ke kamar inap dan keesokan harinya Mami Yuyun dan Pak Sanjaya datang menjenguk Aisyah dan cucu barunya.
Mami Yuyun tak henti-hentinya menatap cucu pertamanya, begitu juga dengan Pak Sanjaya.
Tidak lama Hana datang bersama Andreo dan Afkar.
"Eh! Ada ibu besan?" Cetus Hana, yang kini ikut bergabung duduk disampingnya.
Byan keluar dari kamar mandi, karena habis membantu Aisyah memakai pakaiannya.
Afkar yang tengah dipangku oleh Hana, langsung meminta turun dan ingin digendong oleh Byan.
"Papa...." Afkar berjalan mendekati Byan dan Byan langsung mengangkat tubuh Afkar.
"Jagoan papa datang ke sini. Abang Afkar mau lihat Ade bayi ya...."
"By, nama bayinya siapa?" Tanya Hana.
"Namanya Zeroun fidelyo keenandra," jawab Byan.
"Panggilannya apa? Terus artinya apa?" Tanya Hana lagi.
"Hallo, baby Zero... Ini Oma," sapa Hana.
Baby Zero kini mulai merengek. Mami Yuyun segera memberikannya kepada Aisyah untuk disusui. Kemudian Mami Yuyun menutup gordennya karena di dalam kamar inap Aisyah ada suaminya.
"Abang mau lihat Ade?" Kata Byan kepada Afkar. Lalu Byan mendekati Aisyah yang tengah mengASIhi baby Zero.
Afkar menoleh-noel pipi adiknya dan tersenyum. Tiba-tiba Afkar mau memukul baby Zero.
"Eit! Nggak boleh dipukul, nak," kata Byan sambil menahan tangan Afkar.
"Adenya harus di sayang, kayak gini." Byan mengajari Afkar mengelus pipi adiknya dan menyayanginya.
Tidak lama keluarga kecil Marshall datang dan seketika kamar inap Aisyah langsung ramai. Teman-temannya Byan juga datang menjenguk Aisyah dan baby Zero.
Sigit dan Jojo hanya datang sendiri, berbeda dengan Dhika yang datang bersama Azkia, sepupunya Byan.
Byan menatap penuh tanya kepada Dhika yang terlihat biasa saja, meski mendapatkan tatapan dari Byan.
"Selamat ya kak Ais," ucap Azkia, seraya memberikan kado buat baby Zero.
"Terima kasih, Azkia. "
"Sejak kapan kamu dekat sama Dhika? Apa kamu pacaran sama Dhika,?" tanya Byan.
"Aku sama Dhika hanya berteman saja. Nggak lebih dari itu."
__ADS_1
"Bagus! Jangan sampai kamu pacaran sama Dhika."
***
Matahari kini sudah turun ke peraduan dan di gantikan oleh malam.Di dalam kamar inap itu hanya tinggal Byan dan Aisyah, termasuk si kecil yang tengah mencecapi ASI-nya.
Byan terus saja memperhatikan buah hatinya dan hatinya selalu menghangat bila melihat wajah si kecil.
"Kuat banget nen-nya," kata Byan. Tiba-tiba dirinya tersenyum, membuat Aisyah menatap heran.
"Kenapa? Apa ada yang lucu?" Ucap Aisyah.
"He'em... Aku teringat dengan diriku. Setiap kali bibirku menyentuh bagian ini." Menunjuk ke dadanya Aisyah. " Seperti diriku yang begitu suka memainkannya." Byan terkekeh-kekeh sendiri.
"Dasar mesum!" Sungut Aisyah.
Byan kemudian menompangkan dagunya di bahu Aisyah sambil mengelus pipi baby Zero.
"Yang... Nanti kalau kamu sudah selesai masa nifas. Aku ingin punya anak lagi," cetus Byan.
"Ha! Nggak! Enak aja kalau ngomong! Aku belum mau punya anak lagi. Bisa-bisanya kakak ngomong kayak gitu, jahitan aku saja belum kering sudah pengen punya anak lagi saja!" Dengus Aisyah.
"Ya nggak apa-apa. Ini kan hanya keinginan aku saja, tapi kalau kamu belum mau punya anak lagi ya nggak apa-apa."
"Ya iyalah! Aku belum mau punya anak lagi. Lagian kakak tuh aneh. Baru saja aku melahirkan kakak sudah membahas soal anak lagi."
Byan hanya tersenyum menanggapinya. Setelah itu Byan membaringkan tubuhnya di samping Aisyah dan melingkarkan tangannya di pinggang Aisyah.
"Kak...."
"Hmm...."
"Kak, tolong jagain baby Zero. Aku mau buang air kecil dulu."
"Hmm...." Sahut Byan pelan dan tidak kunjung bangun.
Aisyah menoleh ke wajah Byan dan mendengus kesal.
"Pantas diam saja, ternyata tidur." Gumam Aisyah.
Karena sudah tidak tahan ingin buang air kecil, Aisyah mencubit lengan Byan.
"Aww...! Yang sakit," ringis Byan yang langsung membuka matanya, sambil mengelus bekas cubitan Aisyah.
"Jagain anaknya. Aku mau ke kamar mandi lagi."
"Iya...."
Byan mengambil baby Zero dari tangan Aisyah dan membawanya tidur disampingnya. Sambil menepuk-nepuk pahanya dan sesekali Byan menguap.
Karena rasa ngantuknya sudah tidak tertahan, akhirnya Byan jatuh tertidur.
Aisyah yang sudah selesai menuntaskan buang air kecil, menggelengkan kepalanya ketika ia melihat Byan tertidur sambil jagain anaknya.
Aisyah kemudian berjalan ke kasur yang satunya lagi dan ikut tertidur.
__ADS_1
Byan sengaja memilih kamar inap untuk Aisyah yang ada dua ranjang dalam satu ruangan. Kalau dirinya mengantuk seperti saat ini dirinya tidak mengganggu Aisyah dan pastinya tidak berbagi ranjang.