Hati Untuk Aisyah

Hati Untuk Aisyah
Menemui Aisyah


__ADS_3

Saat ini Aditya tengah duduk di teras belakang sembari membaca koran. Bella datang membawa dua cangkir teh hangat dan pisang goreng. Bella duduk di kursi sebelahnya, sembari menyeruput teh hangatnya.


Semilir angin sore, menerpa kulit wajahnya. Bella menatap dedaunan yang bergoyang karena terpaan angin dan cuaca sore ini cukup cerah.


"Ma, tadi Dafa berangkat jam berapa ke Jepangnya?" tanya Aditya sembari mengangkat cangkir.


"Jam sebelas," jawab Bella, sembari meletakan cangkirnya, lalu mengambil pisang goreng yang masih hangat.


Difa datang dan mencari keberadaan orang tuanya. Difa ingin memberitahukan soal Aisyah yang tengah hamil. Difa tahu dimana kedua orang tuanya berada, karena biasanya kalau jam segini orang tuanya tengah duduk di teras belakang. Difa segera melangkahkan kakinya ke sana.


"Pa, ma...."


Kedua orang tuanya menoleh dan Bella tersenyum menatapnya.


"Ma, pa. Difa mau kasih tahu soal Ais."


Aditya menghentikan bacanya dan menatap wajah anak perempuannya itu.


"Ais saat ini tengah hamil anaknya Dafa," ungkap Difa.


"Hamil?" Cicit Bella dan Difa mengangguk.


Bella dan Aditya saling pandang. Keduanya terkejut mendengar kabar gembira ini. Senyum keduanya terbit dan bola matanya berbinar senang.


"Kamu serius? Nggak lagi bohong kan?" Ujar Aditya memastikannya.


"Beneran lah, masa bohong. Tadi tuh Ais ke sini cari Dafa dan Ais bilang sama aku kalau Ais tengah hamil, tapi sayang... Dafa sudah keburu pergi ke bandara," sambung Difa sedikit kecewa karena Dafa keburu pergi ke bandara dan lebih kecewa lagi Dafa pergi ke Jepang.


"Apa Ais sudah ketemu sama Dafa?" Timpal Bella. Difa hanya mengedikan bahunya.


"Mungkin ini pertanda kalau Dafa memang harus balik lagi sama Ais. Dengan kehamilan Ais, hati Dafa bisa luluh."tukas Bella. Harapannya ingin melihat Dafa kembali dengan Aisyah akan segera terwujud dan kembali membina rumah tangga yang harmonis, sesuai dengan keinginannya.

__ADS_1


"Ya... Mama betul. Papa yakin kalau Dafa pasti senang kalau Ais hamil anaknya."


"Bagaimana kalau kita temui Ais," cetus Bella.


"Boleh. Sekarang saja kita ke sana."


"Aku ikut ya...." Timpal Difa.


"Ayo, kita siap-siap," sambung Bella.


Bella, Aditya dan Difa bergegas berangkat ke rumah Aisyah dan membawa buah tangan untuk Aisyah. Hati Bella sungguh sangat bahagia, karena sebentar lagi ia akan memiliki seorang cucu.


Setibanya di rumah Aisyah. Mereka bertiga berjalan ke teras rumah dan mengetuk pintu.


Pintu pun di buka oleh Mba Ida, lalu ketiganya dipersilahkan masuk. Mba Ida segera memanggil Aisyah dan Hana.


"Permisi, Bu. Dibawah ada orang tuanya den Dafa," kata Mba Ida, kepada Hana dan Aries.


"Kita temuin saja mereka. Mungkin ada hal penting yang ingin mereka bicarakan," ucap Aries, sembari mengajak Hana keluar dari kamarnya.


Aries dan Hana segera menemuinya dan sesampainya di ruang tamu, ternyata Aisyah sudah ada di sana. Bahkan saat ini Aisyah tengah di peluk oleh Bella.


"Ais, Mama senang banget mendengar Ais hamil." Aisyah hanya menganggukkan kepalanya. " Semoga ini menjadi awal yang baik buat hubungan kamu sama Dafa. Pasti Dafa senang mendengarnya," sambung Bella, dengan senyum yang terus menghiasi bibirnya.


Seketika wajah Aisyah berubah muram. Senyum yang tadi menghiasi bibirnya, kini lenyap entah kemana.


"Apa Tante bilang! Dafa bakalan senang mendengar Ais hamil," ucap Marshall, yang mengetahui kedatangan keluarga Aditya.


"Tentu saja. Dafa pasti senang," timpal Bella.


Marshall tertawa sinis dan menggelengkan kepalanya. "Asal Tante tahu. Dafa itu tidak menginginkan anak yang ada dalam kandungannya Ais. Dia menolaknya mentah-mentah dan bahkan menganggap anak yang dikandung Ais, bukanlah anaknya." Sarkas Marshall. Hatinya benar-benar sangat geram kepada Dafa, lelaki yang tak memiliki hati nurani, bahkan terhadap calon buah hatinya sendiri.

__ADS_1


"Nggak mungkin... Dafa nggak mungkin seperti itu." Bella jelas tidak mempercayainya. Bella yakin kalau Dafa tidak seperti itu, Dafa pasti menerima calon buah hatinya yang saat ini tengah tumbuh di rahim Aisyah.


"Ais, katakan kalau Dafa menginginkan anaknya kan?" Bella bertanya kepada Aisyah, kalau yang di katakan oleh Marshall itu bohong.


"Dafa memang tidak menginginkannya, ma. Dafa menolaknya dan Dafa tidak mengakuinya," lirih Aisyah, yang tertunduk sendu. Sebisa mungkin Aisyah tidak menangis lagi.


Bella menggelengkan kepalanya. Bella tak percaya dengan apa yang dikatakan Dafa. Begitu jahat kah Dafa terhadap buah hatinya sendiri?.


Air mata Bella menetes, sungguh Bella murka dan marah terhadap anaknya sendiri. Andai saja Dafa ada di depannya, Bella pasti sudah mendamprat Dafa dan tidak akan memberi ampun kepadanya.


"Nak, maafin Dafa. Papa janji akan menghukum Dafa dan papa pastikan kalau Dafa akan menyesalinya," timpal Aditya, yang sama geramnya terhadap Dafa.


Hana yang dari tadi terdiam menatap sinis wajah kedua orang tuanya Dafa. Hana sungguh tak terima anak dan calon cucunya di perlakukan seperti itu oleh Dafa.


Hana pastikan, jika suatu saat Dafa meminta rujuk. Hana tidak akan merestuinya dan Hana tidak akan membiarkan Dafa menyentuh Aisyah dan juga cucunya.


"Kalian sudah tahukan tanggapan Dafa seperti apa! Lebih baik kalian jangan ganggu Ais lagi. Satu lagi jangan harap kalian menginginkan Dafa kembali bersatu dengan Ais, itu tidak akan pernah terjadi karena saya sudah muak dengan anak kalian!" Cecar Hana yang sudah sangat sakit hati.


"Kami minta maaf, atas sikap Dafa yang sudah keterlaluan." Aditya menyesali sikap Dafa yang tidak memperdulikan perasaan Aisyah.


"Sekarang kalian pergi dari sini!" Usir Hana, seraya menunjuk pintu keluar.


"Na!" Bentak Aries, yang tak suka Hana mengusir Aditya, Bella dan Difa. Aries disini tidak mau memusuhi sahabatnya, karena Aditya juga tidak mau melihat Aisyah sedih.


Hana memalingkan wajahnya kesal. Hana tidak bisa menyembunyikan rasa marahnya.


"Kalau gitu kita permisi dulu," kata Aditya, yang paham atas ketidaksukaan Hana. "Sekali lagi saya minta maaf atas sikap Dafa."


Aries mengangguk kecil, lalu Aditya, Bella dan Difa meninggalkan kediaman Aries. Hati Aditya bergemuruh menahan rasa marah terhadap Dafa. Aditya sangat kecewa atas sikap Dafa, dimanakah letak hati nuraninya sampai begitu teganya Dafa terhadap Aisyah dan calon anaknya sendiri.


"Pa, kita susul Dafa ke Jepang!"

__ADS_1


__ADS_2