
Setelah berkunjung ke makam Dafa, Byan mengajak Afkar pergi ke rumah orang tuanya. Karena saat ini Pak Sanjaya tengah sakit dan kondisinya sudah tidak bisa ngapa-ngapain. Setiap harinya Pak Sanjaya menghabiskan waktunya hanya duduk di kursi roda atau tiduran di atas ranjang.
Sebenarnya Byan sudah meminta Mami Yuyun untuk tinggal bersamanya dan mengurus Pak Sanjaya bersama-sama. Akan tetapi Mami Yuyun menolaknya, karena merasa tidak enak hati jika terus menerus menyusahkan dirinya maupun Aisyah. Walau sebenarnya Aisyah tidak pernah mempermasalahkannya.
Byan dan Afkar sudah sampai di sana. Ternyata Aisyah dan kedua anaknya sudah datang lebih dulu.
Byan memilih melangkah ke kamar orang tuanya dan sesampai di kamar orang tuanya Byan tersenyum ketika Aisyah tengah menyuapi papinya.
"Eh! Kakak sudah datang," ucap Aisyah.
Byan kemudian mendekatinya dan duduk di tepi ranjang, lalu memijit lembut kaki papinya.
"Kapan jadwal papi cek ke dokter?"
"Kata Mami lusa," jawab Aisyah, sambil mengelap bibirnya Pak Sanjaya.
"Sini, biar aku yang suapin papi." Pinta Byan dan Aisyah menyerahkan mangkoknya ke tangan Byan.
Dengan penuh ketelatenan, Byan menyuapi papinya.
"Sudah cukup," kata pak Sanjaya dengan suara lirih.
"Sekarang papi istirahat lagi," ujar Byan sembari membenarkan selimutnya.
Setelah itu Byan memilih menemui Mami Yuyun.
"Mi...." Panggil Byan yang kini mendudukkan dirinya di kursi sebelah.
"Kenapa?"
Byan menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian mengusap tangan keriput maminya itu.
"Mi... Aku mohon, tinggallah bersama kami. Agar kami bisa membantu mami mengurus papi."
"Mami nggak mau ngerepotin kalian. Lagian mami masih sanggup mengurus papimu."
Byan mendesah samar. Lagi-lagi permintaannya ditolak. Apa perlu kalau dirinya dan keluarganya pindah ke rumah orang tuanya.
"Kamu nggak usah pikirin papi kamu. Lebih baik kamu fokus saja sama keluargamu. Yang penting doakan saja papi kamu agar cepat sembuh."
"Iya, mi. Kalau mendoakan papi itu sudah pasti. "
"Mama!!" Teriakkan Aurelia menggema. Aisyah memutarkan bola matanya pasti Zero mengusili Aurelia. Aisyah segera menemui anak-anaknya.
Benar saja dugaannya, Zero tengah mengganggu adiknya. Mainan Aurelia tengah diangkat tinggi-tinggi oleh Zero.
"Kak Zero siniin. Mama... Papa... Kak Zero nakal!" Teriak Aurelia sambil berusaha mengambil mainannya.
"Zero...!" Aisyah menggeram menatap keusilan Zero.
"Eh! Mama...." Zero pun tersenyum kaku dan mainan Aurelia kini di kasihkan lagi.
***
Pagi-pagi sekali Afkar sudah rapi dengan pakaian sekolahnya. Afkar kini sudah duduk di meja makan.
"Tumben jam segini Abang sudah rapi?" Ucap Aisyah yang baru saja selesai membuat sarapan.
__ADS_1
"Pagi ini Abang ada ulangan dan gurunya galak. Telat dua menit saja dilarang mengikuti pelajaran."
Aisyah menganggukkan kepalanya, lalu Aisyah segera menyiapkan sarapan untuk Afkar.
Afkar pun segera sarapan dan setelah itu ia berangkat ke sekolah.
"Ma, Abang berangkat dulu," pamit Afkar.
"Iya, tapi Abang berangkatnya naik apa?" Tanya Hana, karena biasanya kalau sekolah seringnya antar jemput.
"Naik ojek online aja, ma," jawab Afkar yang kini bergegas berangkat ke sekolah.
"Ya sudah, hati-hati di jalan." Afkar mencium tangan Aisyah, lalu Afkar segera berangkat. Sekitar lima belas menit, Afkar tiba di sekolah.
"Afkar!" Panggil temannya yang bernama Sandy.
"Mau ke kelas kan?"
"Iya, kenapa?" Jawab Afkar.
"Nggak apa-apa. Ayo kita masuk kelas," kata Sandy sambil merangkul pundak Afkar.
Setelah mengerjakan ulangan, kini Afkar sudah di perbolehkan istirahat duluan, karena lima menit lagi jam istirahat pun tiba.
"Masih jam segini. Lebih baik aku ke perpustakaan dulu," gumam Afkar, kemudian Afkar melangkahkan kakinya menuju perpustakaan.
Saat akan berbelok, tiba-tiba dari arah depan ada seseorang siswi membawa setumpuk buku.
Bruukk
Afkar dan siswi tersebut bertabrakan, seketika buku yang di bawanya berserakan di lantai.
Gadis berkacamata itu hanya mengangguk dan tidak berani menatap wajah Afkar, lalu Afkar menyerahkan setumpuk buku-buku itu ke gadis tersebut.
"Sekali lagi aku minta maaf," ucap Afkar yang hanya dibalas dengan anggukan.
"Mau aku bantuin bawa bukunya ya? Lagian ini terlalu banyak untuk kamu bawa sendiri," sambung Afkar.
"Bo-boleh," jawab gadis berkacamata itu. Kemudian Afkar mengambil separuh buku-buku tersebut. Setelah itu Afkar dan gadis itu membawa bukunya ke ruang guru.
"Te-terima kasih sudah membantuku," ucapnya.
"Sama-sama. O iya, perkenalkan namaku Afkar." Seraya mengulurkan tangannya.
Dengan ragu, gadis itu menerima uluran tangan Afkar dan bersalaman dengan Afkar. "Va-Vania."
"Oke, Vania. Aku pergi dulu," pamit Afkar.
"I-iya, sekali lagi terima kasih."
Afkar pun pergi dan melanjutkan niatnya ke perpustakaan. Vania menatap punggung tegap Afkar dan seulas senyum terbit di bibirnya.
***
"Ternyata kamu disini?" Ucap seorang gadis cantik yang berdiri di samping Afkar.
Afkar mendongakkan kepalanya menatap seseorang yang tengah mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Aku cariin kamu dari tadi tahu!"
Akan tetapi Afkar menghiraukan perkataan gadis cantik di depannya. Gadis berparas cantik itu bernama Cantika.
Cantika sebal karena Afkar tidak pernah melihatnya, apalagi melihat ketulusan hatinya yang menyukai Afkar.
Cantika menghentakkan kakinya kesal. Afkar benar-benar mencuekin dirinya. Padahal banyak cowok-cowok pada memuji kecantikan dirinya dan mengejar cintanya, bahkan ada yang rela memutuskan pacarnya demi dirinya. Tapi untuk Afkar, Cantika kesulitan menaklukkan hati Afkar.
"Ngapai kamu masih disini?" Kata Afkar dingin.
"Aku kan mau ajak kamu ke kantin," jawab Cantika dengan memanyunkan bibirnya.
"Aku nggak bisa. Lebih baik kamu pergi dari sini , daripada mengganggu orang belajar."
Cantika mendengus. Lagi-lagi penolakan yang di terima olehnya. Karena kesal, akhirnya Cantika pergi dari perpustakaan dengan menghentakkan kakinya.
"Susah banget sih deketin Afkar! Memang apa yang kurang dariku, sehingga dia sama sekali tak melirikku." Gerutu Cantika.
*
Kini bel sekolah pun bunyi, tandanya waktu untuk belajar di sekolah sudah selesai. Satu persatu semua murid keluar kelas, begitu juga dengan Afkar.
"Elo nggak di jemput kan?" Tanya Sandy.
"Kayaknya nggak. Kenapa memangnya?"
"Kalau nggak, kita pulang bareng aja," tukas Sandy yang langsung dianggukin oleh Afkar.
Afkar dan Sandy melangkah bersama menuju gerbang sekolah, tanpa sengaja Afkar melihat gadis yang tadi ia tabrak. Gadis itu tengah kebingungan karena ban sepedanya kempes. Apalagi melihat wajahnya yang terlihat menyedihkan.
"San, aku ke toilet dulu sebentar."
"Oke, tapi jangan lama-lama," jawab Sandy.
Afkar segera menghampiri Vania, yang kini mulai mendorong sepedanya.
"Kenapa sepedanya?" Tanya Afkar, yang pura-pura tidak tahu kalau ban sepedanya kempes.
Vania terkejut melihat Afkar, lalu Vania menundukkan kepalanya.
"Ban sepedaku kempes."
"Oh... Mm... kayaknya di ujung jalan ada bengkel. Mau aku anterin ke bengkel?" Tawar Afkar.
"Eh! Ng-nggak perlu, aku bisa sendiri kok."
"Beneran?" Dan Vania mengangguk cepat.
"Ya sudah, aku pergi dulu."
"Iya, terima kasih...."
Afkar pun pergi dan Vania terpaksa harus mendorong sepedanya.
"Semangat Vania. Kamu pasti kuat," gumam Vania, yang kini mulai mendorong sepedanya.
Sudah hampir setengah kilometer, Vania mendorong sepedanya. Keringatnya kini mulai bercucuran. Vania sengaja tidak mampir ke bengkel, sebab Vania tidak memiliki uang. Ia harus berhemat, secara ia bukanlah orang yang berada.
__ADS_1
Walau begitu Vania tidak pernah mengeluh akan nasib hidupnya yang pas-pasan.