Hati Untuk Aisyah

Hati Untuk Aisyah
Kejang-kejang


__ADS_3

Dafa saat ini tengah bersiap-siap untuk menemui wanita yang sudah berhasil masuk menempati posisi hatinya yang sudah lama kosong. Siapa lagi kalau bukan ibu dari anaknya, Aisyah.


Dafa mematut dirinya di cermin, sambil menyisir rambutnya. Sebagai pelengkapnya, Dafa menggunakan jam tangan mewahnya.


Sebelum benar-benar keluar dari kamarnya, Dafa menyemprotkan parfum agar semakin percaya diri menarik hati Aisyah.


"Aku yakin kali ini Ais bakalan terpesona," gumam Dafa sambil tersenyum menampakkan deretan giginya yang putih. Setelah itu, Dafa melangkah keluar dengan penuh percaya diri.


Dengan langkah ringan, Dafa menuruni satu persatu anak tangga.


"Kamu mau kemana?" Tanya Bella. Raut wajah Dafa terlihat cerah dan penuh semangat.


"Mau membawa kembali menantu mama," jawab Dafa.


Bella mengerutkan keningnya mendengar perkataan Dafa. "Maksud kamu?" Tanya Bella bingung.


"Nanti mama juga akan tahu," jawab Dafa sambil berlalu dari hadapannya.


"Apa yang di maksud Dafa itu Wulan?" Setelah tahu jawabannya, Bella segera mengejar Dafa.


"Dafa...!" Panggil Bella, yang kini sudah menyusulnya ke luar rumah, tapi sayang Dafa sudah keburu pergi.


"Awas saja kalau sampai Dafa balik lagi sama perempuan itu!" Sungut Bella yang tak akan pernah menerima Wulan jadi bagian keluarganya. Jika itu sampai terjadi, maka saat itu juga Dafa akan di coret dari kartu keluarga.


***


Sebelum menemui Aisyah di rumahnya, Dafa memilih membelokan mobilnya ke toko bunga.


"Mba, tolong buatkan saya bunga yang sangat indah dan paling spesial," pesan Dafa.


"Baik, kak. Silahkan menunggu dulu." Seraya menunjuk ke tempat duduk.


Setelah menunggu beberapa menit lamanya. Akhirnya sebuket bunga cantik kini sudah ada di tangannya. Lalu Dafa bergegas kembali ke dalam mobil dan memacunya membelah jalanan ibu kota yang selalu macet.


Sekitar tiga puluh menit berkendara, Dafa tiba di komplek perumahan Aisyah. Dafa menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Aisyah.


Sebelum turun dari mobil, Dafa memastikan lagi penampilannya. Setelah itu Dafa turun dari mobilnya sambil membawa sebuket bunga yang tadi di belinya.


"Mudah-mudahan Byan tidak ada di rumah," gumam Dafa, lalu Dafa mendekati pagar rumah Aisyah.


"Permisi...." Seru Dafa kepada Mang Asep.


Mang Asep yang tengah duduk bersandar sambil minum kopi, segera menghampiri Dafa yang berdiri di depan gerbang.


"Cari siapa, mas?" Tanya Mang Asep.


"Ais-nya ada?"


"Neng Ais lagi di rumah sakit, mas."

__ADS_1


"Di rumah sakit? Memangnya siapa yang sakit?"


"Neng Ais yang sakit."


"Bapak tahu dimana rumah sakitnya?"


"Kalau nggak salah rumah sakit Harapan Bunda," jawab Mang Asep.


"Terima kasih, pak."


Dafa bergegas masuk ke dalam mobil dan memacukan mobilnya menuju rumah sakit. Rasa cemas, khawatir dan takut menjadi satu.


Setibanya di rumah sakit, Dafa menanyakan terlebih dahulu kamar rawat Aisyah ke bagian resepsionis. Setelah mendapatkan informasi, Dafa melangkah dengan tergesa-gesa menuju ruang ICU.


Dari jauh, Dafa sudah melihat Byan tengah berdiri di depan pintu ruang ICU, sambil menatap ke dalam kamar ICU.


Dafa menghentikan langkahnya dan bersembunyi di balik tiang, sambil terus melihat Byan.


"Apa yang sudah terjadi dengan Ais? Apa penyakitnya semakin parah?" gumam Dafa.


Terlihat Aries menghampiri Byan dan ikut melihat Aisyah. Dafa berpindah tempat ke yang lebih dekat dengan ruang ICU dan pastinya tanpa ada yang tahu kalau ada dirinya di sana.


Saat sudah berpindah tempat, seorang suster melewatinya sambil membawa sekotak masker.


"Sus...." Dafa menghentikan langkah kaki suster.


"Boleh saya minta maskernya."


"Oh... Boleh-boleh."


Suster pun memberikan satu masker ke Dafa dan Dafa segera memakainya, agar keluarga Aries atau pun Byan tidak ada yang mencurigainya.


Dafa berusaha curi dengar pembicaraan Aries dan Byan.


"Sampai kapan Ais akan tertidur dari komanya?" ucap Byan lesu dan sendu.


Aries pun tidak bisa menjawabnya. Ia juga tidak tahu sampai kapan Ais akan bangun dari komanya.


"Apa yang harus aku lakukan, yah. Jujur aku nggak sanggup melihat Ais seperti ini."


Aries membuang nafasnya perlahan. "Ayah juga nggak tahu, tapi yang bisa kita lakukan adalah mendoakannya dan berharap ada secercah harapan buat Ais."


Kini keduanya saling diam dan menatap Aisyah. Dafa yang bersembunyi dibalik dinding, ikut berkaca-kaca mendengar kondisi Aisyah.


Separah itu penyakit Ais?


Dafa menundukkan kepalanya. Rasa sedih kini ia rasakan. Disaat hatinya sudah menginginkannya, justru Tuhan semakin menjauhinya.


Saat tengah menatap Aisyah, tiba-tiba tubuh Aisyah kejang-kejang. Byan yang melihatnya langsung di sergap rasa panik.

__ADS_1


"Ayah, kenapa Ais kejang-kejang?" Ucap Byan panik.


"Cepat, kamu panggil dokter!" Suruh Aries.


Byan segera berlari menemui suster dan dokter. Byan tidak mau sampai Aisyah telat ditangani oleh dokter.


Setelah memanggil dokter dan suster, Byan terus berdoa agar Aisyah tidak kenapa-kenapa. Byan benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya dan juga rasa takutnya.


Dokter dan suster secepatnya memeriksa kondisi Aisyah. Raut wajah dokter terlihat panik dan itu membuat air mata Byan semakin luruh membasahi pipinya.


"Ya Tuhan... Semoga istriku tidak kenapa-kenapa"


Dafa yang sejak tadi berdiri di balik dinding ikut mencemaskan kondisi Aisyah. Dafa tak henti-hentinya melantunkan doa untuk Aisyah. Berharap Aisyah baik-baik saja dan tidak ada hal buruk mengenai Aisyah.


Di saat bersamaan, Hana datang dengan raut wajah kalut. Sebab sang cucu terus menangis histeris, padahal Hana dan suster sudah berusaha menenangkan baby-nya.


"Byan! putramu dari tadi nangis terus. Ibu sudah berusaha menenangkannya, tapi sampai sekarang nangisnya belum berhenti."


Byan semakin kalut dan bingung harus berbuat apa. Sedangkan ia sendiri tidak mau meninggalkan Aisyah yang tengah di periksa oleh dokter, tapi disisi lain putranya tengah membutuhkannya.


"By, lebih baik kamu pergi ke ruangan bayi," suruh Aries.


"Tapi yah... Bagaimana dengan Ais?"


"Ais pasti baik-baik saja. Percaya sama ayah."


"Tapi yah...."


"Kasihan putramu. Dia pasti sangat membutuhkan kamu saat ini," imbuh Aries.


"Baiklah...."


Dengan berat hati, Byan pergi menemui putranya.


Ais... Aku mohon bertahanlah demi aku dan anak kita.


Byan sudah berada di ruangan bayi dan segera menggendong putranya.


"Berikan putraku kepada saya, sus."


Suster pun menyerahkan kepada gendongan Byan. Dengan penuh kesabaran, Byan menenangkan buah hatinya yang masih menangis.


Sayang, papa mohon jangan menangis lagi. Jangan buat papa semakin mencemaskan kalian berdua.


Akhirnya putranya itu berhenti menangis dan saat ini Byan tengah mengASIhinya.


Papa mohon jangan rewel lagi ya, nak. Sekarang bobo lagi ya....


Byan mencium pipinya, setelah itu putranya ia letakkan di boks bayi. Byan terus menepuk-nepuk paha putranya agar tidurnya semakin terlelap.

__ADS_1


__ADS_2