Hati Untuk Aisyah

Hati Untuk Aisyah
Waktu cepat berlalu


__ADS_3

Ini adalah liburan yang paling menyenangkan bagi semuanya, apalagi liburan kali ini dengan formasi lengkap. Biasanya kalau liburan salah satu diantara mereka tidak bisa ikut. Entah itu soal kerjaan atau tugas pelajaran yang menumpuk. Tapi tahun ini seluruh anggota keluarganya ikut semua.


Selama liburan di pulau itu, seluruh keluarga besar Aries berkeliling dan memburu oleh-oleh khas pulau tersebut. Kadang mereka juga berburu kuliner dan menikmati keindahan pantai yang penuh panoramik.


Pagi ini, anak-anak tengah berenang di temani oleh Byan dan Marshall. sedangkan Aisyah dan Zee hanya duduk di tepi kolam, sambil memangku buah hatinya.


"Papa... Ntuuut," kata Afkar yang takut tenggelam. Bahkan Afkar mengeratkan pegangannya terhadap Byan.


"Jagoan papa jangan takut. Ayo, kita belajar berenang lagi." Byan memberikan semangat kepada Afkar. Meski takut, Afkar terus belajar berenang.


Baby Zero, menggerak-gerakkan kakinya dan tertawa riang. Saat kakinya menyentuh air.


"Ba...!" Adelio mengajak baby Zero bermain cilukba. baby Zero semakin tertawa  senang karena Adelio kini menenggelamkan wajahnya, lalu mengangkat wajahnya dari air, sembari berseru cilukba.


Karena hari ini adalah hari terakhir berada di pulau tersebut. Aries dan Hana mengajak semuanya untuk memakan sate, yang legendaris. Selesai berenang, semuanya segera bersiap-siap untuk berangkat menuju pedagang sate dan disinilah sekarang di kedai sate yang terkenal legendaris. Setelah memesan sate, Aries memilih mengajak baby Zero bercanda.


Setelah menunggu beberapa saat, kini satenya sudah jadi dan langsung diserbu oleh semuanya.


"Hmm... Satenya enak dan bumbunya meresap," kata Zee yang begitu menikmati sate ayam.


Aisyah mengangguk setuju. Sate tersebut memang sangat enak dan matangnya merata, di tambah lagi  potongan dagingnya tebal.


"Dari sini kita pergi kemana lagi?" Tanya Marshall.


"Ke taman bunga. Katanya di sana tempatnya sangat bagus dan ada danau buatan," jawab Byan.


Marshall pun mengangguk, lalu melanjutkan memakan satenya.


Habis dari kedai sate, seluruh anggota keluarga Aries berangkat ke taman bunga.


Perjalanan menuju tempat tersebut membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit. Sesampainya di sana, anak-anak langsung berlari ke arah taman bunga.


Berbagai jenis bunga ada di sana. Adelia dan Shania mengejar kupu-kupu yang terbang. Gelak tawa dari semuanya membuat Aries tersenyum lebar.


"Ayo kita berfoto dulu," ujar Aisyah dan semua adik-adiknya berkumpul bersama, begitu juga dengan keluarga kecil Marshall.


Semuanya bergaya dengan senyum terus terpancar dari wajah semuanya.


"Papa... Ntuh...." Tunjuk Afkar ke arah hydrocycle.


"Abang mau naik itu?" Dan Afkar mengangguknya. "Oke, kita naik itu." Byan mengajak Afkar naik hydrocycle bersama Aisyah. Sedangkan baby Zero, ia titipkan kepada Hana.


Sedangkan keluarga kecil Marshall lebih senang berfoto di setiap tempat yang menurutnya bagus.


Setelah seharian penuh berwisata, kini semuanya pulang ke villa dan beristirahat.


"Hari ini sangat lelah," kata Aisyah sambil meregangkan otot-ototnya.


"Sini aku pijitin," tawar Byan.


"Nggak perlu. Kakak juga pasti capek."


"Benar?" Byan tidak begitu yakin.

__ADS_1


"Beneran,  kak."


Malam pun semakin larut, Aries duduk sendiri menatap gelapnya lautan dan terdengar suara deburan ombak yang berkejaran.


Hana datang dan mengelus bahu Aries.


"Ngapain masih di sini," kata Hana, yang kini ikut duduk di sampingnya.


"Cuman ingin menikmati suasana malam ini."


"Tapi kan ini sudah malam. Bukannya besok kita harus pulang."


"Tapi aku belum ngantuk,' jawab Aries dan merentangkan satu tangannya, meminta Hana mendekatinya.


"Sekarang aku benar-benar sudah sangat lega, melihat Ais dan Marshall hidup bahagia bersama keluarga kecilnya."


Disini, di dalam lubuk hatinya. Aries merasa bebannya terangkat, setelah melihat senyum kebahagiaan dari Marshall dan Aisyah.


"Iya. Kamu benar, Bay. Apalagi kemarin-kemarin hidupnya Ais penuh dengan air mata, tapi sekarang Ais sudah mendapatkan pasangan yang tepat. Byan benar-benar menepati janjinya untuk membahagiakan Ais." Aries mengangguk dan membenarkan ucapan Hana.


Sebagai orang tua, pasti ingin melihat anak-anaknya hidup damai dan bahagia dengan pasangannya. Jika salah satu darinya ada yang menderita. Pasti orang pertama yang bersedih adalah orang tua.


"Dan Semoga si kembar dan Andreo juga nantinya mendapatkan pasangan yang baik. Seperti Zee dan Byan." Sambung Hana.


"Mudah-mudahan dan kita harus terus berdoa." Jawab Aries sambil mengeratkan pelukannya ke Hana.


Keesokan harinya, semuanya sudah bersiap untuk kembali ke rumah dan beraktivitas seperti biasa.


Di dermaga, Aries terus menatap wajah-wajah anaknya yang terlihat sangat bahagia. Hah! Aries benar-benar harus banyak bersyukur dengan kebahagiaan anaknya. Dan pastinya dirinya akan terus mendoakannya.


Kini semuanya sudah berada di kapal dan segera pulang ke rumah.


Mereka semua kini sudah di jemput sama supirnya masing-masing dan tiga keluarga itu pun berpisah.


***


Kini tanpa terasa waktu pun cepat berlalu dan Aisyah kini memiliki usaha sendiri, yaitu memiliki toko sepatu dan tas. Usahanya sangat maju dan Aisyah memiliki beberapa toko yang tersebar di beberapa mal.


Aisyah saat ini tengah sibuk membuat sarapan dengan menu yang berbeda.  Semua anak-anaknya kini sudah berkumpul di meja makan dengan makanan kesukaannya masing-masing. Biasanya Aisyah tidak selalu menuruti kemauan anaknya soal makanan dan apapun yang ia masak harus di makan, tapi untuk hari ini Aisyah tengah berbaik hati.


"Abang, nanti ajarin Ade belajar lagi ya," pinta Aurelia, adik perempuannya yang kecil.


"Hmm... Tapi jangan di tinggal tidur kayak semalam," jawab Afkar, yang sudah rapi dengan pakaian putih abu-abu. Ya... Afkar kini sudah duduk di bangku kelas 1 SMA.


"Ade janji nggak akan ketiduran."


"Kalau sampai ketiduran lagi, Abang nggak mau ngajarin Ade belajar." Aurelia pun menganggukkan kepalanya.


"Ih! Kak Zero!" Kesal Aurelia, lagi-lagi Zero merebut makanannya. Padahal Zero juga sudah di buatkan makan kesukaan oleh Aisyah.


"Mama!! Kak Zero rebut makanan Ade!!" Adu Aurelia.


"Kak Zero!" Aisyah memberikan tatapan peringatan, tapi Zero hanya cengengesan mendapatkan tatapan dari Aisyah.

__ADS_1


"Nih, kak Zero balikin roti panggangnya." Sebelum benar-benar mengembalikan roti panggangnya, Zero terlebih dahulu menggigitnya.


"Ish! Kak Zero selalu saja kaya gitu!" Sungut Aurelia.


"Selamat pagi anak-anak papa," sapa Byan dan langsung duduk bergabung dengan anak-anaknya.


"Pagi juga, papa," sahut Aurelia.


Aisyah segera menyiapkan sarapan buat Byan dan segelas teh hangat.


Semuanya kini sarapan bersama dan tidak ada yang berani berbicara, karena sang pemilik peraturan sudah berada di meja makan, siapa lagi kalau bukan Byan.


"Cepat sarapannya, karena hari ini papa yang akan antar kalian sekolah."


"Iya, pa," jawab ketiga anaknya.


"Kakak yakin mau mengantar anak-anak sekolah?" Ucap Aisyah.


"Iya, aku juga akan mengantarkan kamu ke toko."


Semuanya kini sudah menyelesaikan sarapannya dan bersama-sama melangkah keluar.


Byan terlebih dahulu mengantarkan gadis kecilnya.


"Belajar yang yang rajin, nak," kata Byan.


"Iya, papa...." Aurelia mencium tangan kedua orang tuanya.


Selanjutnya Byan mengantarkan Zero dan Afkar. Kebetulan sekolah mereka berdekatan. Setelah mengantarkan anak-anaknya sekolah, Byan kini harus mengantarkan Aisyah ke toko.


"Aku masuk dulu. O iya, nanti sore jangan lupa ajak Afkar menemuinya." Aisyah mengingatkannya soal kunjungannya untuk memperingati hari spesial buat  orang yang telah berjasa di dalam hidupnya.


"Iya... Aku nggak akan lupa."


Kemudian Aisyah mencium bibir Byan, lalu keluar dari mobil.


***


Sore harinya, Byan dan Afkar berkunjung ke tempat dimana seseorang yang sudah tertidur abadi. Byan dan Afkar akhirnya tiba di sana, di tempat seseorang yang sangat berarti di dalam hidup seorang Afkar.


Byan dan Afkar bersimpuh dan membersihkan makam Dafa. Setelah membersihkan makam Dafa, Byan dan Afkar menaburkan bunga di pusara Dafa.


"Pa... Bagaimana kabar papa? Pasti papa sudah bahagia di sana. Maaf kalau Abang baru bisa berkunjung ke makam papa. Beberapa hari ini tugas sekolah Abang sangat banyak, tapi papa tenang saja. Abang tidak pernah lupa akan hari spesial papa. Pa... Selamat ulang tahun. Semoga papa berada di surga-Nya Allah dan di berikan jalan yang terang untuk papa."


Kemudian Afkar meletakkan sebuket bunga di atas makam Dafa, lalu Afkar mengelus batu nisannya, seolah Afkar tengah mengelus tubuh Dafa.


Afkar memang tidak mengenal sosok papa kandungannya, tapi Byan selalu menunjukkan seperti apa Dafa itu. Kata Byan, Dafa adalah papa terhebat dan papa yang luar biasa.


"Kita doakan papa Dafa," kata Byan.


Afkar dan Byan segera memanjatkan doa untuk Dafa.


Selesai mengirim doa, Byan menatap batu nisan Dafa. "Selamat ulang tahun, Daf dan maaf kami tidak bisa berlama-lama disini. " Lalu Byan berdiri dan menepuk bahu Afkar.

__ADS_1


"Pa, Abang pulang dulu. Nanti Abang akan datang lagi. Selamat beristirahat dengan damai. Abang sayang papa...."


Afkar pun kini berdiri. Lalu Byan dan Afkar meninggalkan makam Dafa.


__ADS_2