Hati Untuk Aisyah

Hati Untuk Aisyah
Hati Untuk Aisyah ( Flashback 2 )


__ADS_3

Setelah berhasil meyakinkan orang tuanya tentang keputusan terbesarnya. Dafa berharap orang tuanya tidak membenci Aisyah ataupun menjauhi Aisyah. Biar bagaimanapun Aisyah sudah memberikan seorang malaikat kecil untuk keluarganya.


Walau dengan berat hati Aditya dan Bella mengikhlaskan apa yang sudah menjadi keinginan Dafa. Berat memang untuk merelakan kepergian Dafa dari kehidupan mereka. Dengan susah payah keduanya membesarkan Dafa penuh dengan kasih sayang dan sekarang keduanya harus benar-benar mengikhlaskannya pergi.


Air mata kesedihan di wajah Aditya dan Bella tidak bisa ditutupi. Sungguh sangat berat, tapi ini sudah menjadi pilihan terbaiknya Dafa, memberikan hatinya untuk Aisyah.


Setelah pembicaraan dengan orang tuanya, Dafa meminta Byan untuk menemuinya. Dan disinilah sekarang, Byan sudah berada di kamar rawat Dafa.


Byan menatap iba wajah Dafa yang kala itu raut wajah Dafa menyimpan kesedihan . Byan sudah tahu akan kondisi Dafa, yang tak akan bisa berjalan lagi.


Hening. Keduanya belum ada yang membuka suaranya. Hanya terdengar hembusan nafas dari dua lelaki itu. Beberapa menit saling terdiam akhirnya Byan yang membuka suaranya terlebih.


"Kamu yang sabar ya dan kamu harus percaya kalau suatu saat nanti kamu pasti bakal sembuh."


Byan mendengar helaan nafas berat Dafa. Byan menatap wajah Dafa yang menatap lurus ke langit-langit kamar rawatnya. Entahlah apa yang tengah Dafa pikirkan, Byan tak tahu.


Dafa menerawang jauh kebelakang. Mengingat satu perempuan yang dulu dia anggap sebagai parasit di hidupnya. Gadis remaja yang selalu menggangu hari-harinya.


"Byan, aku cuma mau bilang. Terima kasih karena kamu sudah begitu tulus menyayangi anakku dan juga terima kasih karena kamu sudah menggantikan kesedihan Ais menjadi bahagia." Dafa menarik nafasnya dalam-dalam dan ia hembuskan perlahan. Berusaha membuang rasa sesak yang menghimpit dadanya.


"Jujur aku sangat menyesal karena sudah menyakiti Ais dan menyia-nyiakannya. Jika saja waktu bisa diputar maka aku tidak akan menyakiti hati Ais. By... Tolong sampaikan kata maafku kepada Ais." Dafa terdiam sejenak.


"By... Aku akan mendonorkan hatiku untuk Ais." Dafa berbicara seolah tanpa beban.


Byan tercengang mendengar perkataan Dafa, apa Dafa tidak salah berbicara atau dirinya yang salah dengar. Byan menatap penuh tanya. Kenapa Dafa bersedia mendonorkan hatinya untuk Aisyah.


"Kenapa? Terkejut ya...." Dafa tersenyum getir.


"Apa kamu serius dengan ucapanmu?"


"Iya. Aku sangat serius. Kamu tahu... Kalau aku sekarang mengalami lumpuh permanen dan pastinya aku akan jadi orang yang tak berguna dan juga akan terus menyusahkan orang-orang di sekitarku dan dari itu aku ingin mendonorkan hatiku untuk Ais."

__ADS_1


Byan terdiam, Byan masih berusaha mencerna ucapan Dafa yang sudah membuatnya terharu akan keputusan terbesarnya Dafa.


"Tapi... Kalau kamu mendonorkan hati kamu, bagaimana dengan orang tuamu?" Bagaimana pun Dafa masih punya orang tua dan bagaimana kalau orang tuanya Dafa tahu, pasti perasaan kedua orang tuanya Dafa sangat terpukul dengan keputusan Dafa. Apa Dafa tidak memikirkan perasaan orang tuanya?.


"Mereka sudah setuju," jawab Dafa lirih dan kedua bola matanya memanas.


"By, tolong ambilkan kotak itu." Tunjuk Dafa ke arah meja yang tak jauh dari ranjang. Byan mengangguk dan mengambil kotak tersebut.


"Nih...." Byan menyerahkan kotak tersebut.


"Kamu simpan kotak itu. Di sana ada sweater couple yang sengaja aku beli untuk aku, Ais dan anakku. By... Bisakan kamu memenuhi permintaanku."


Byan mengangguk lemah, raut wajah Byan sangat sendu.


"Tolong kamu kabulkan semua keinginanku. Terutama keinginanku bisa pergi dengan anakku menggunakan sweater couple itu. By... Tolong jaga anakku dan limpahi lah anakku dengan kasih sayangmu dan bahagiankanlah anakku. By... Aku serahkan anakku kepada kamu dan katakan pada anakku kalau aku sangat menyayanginya. Sangat...." Dafa terisak kecil saat mengatakannya. "Tolong... Sematkan... Namaku di belakang namanya...." Dafa berkata dengan suara tercekat. Dafa berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh.


Byan mengangguk lemah dan Byan tidak mampu berucap, rasanya tenggorokannya terasa tercekat hanya untuk menjawab 'Aku pasti akan menyayanginya.'


"Terima kasih." Kata Dafa sangat lirih, lalu Dafa mengambil sebuah surat yang terselip di bawah bantal.


Byan lagi-lagi hanya bisa menganggukkan kepalanya dan tak mampu berucap. Dafa tersenyum, entah itu senyuman sedih atau senyum apa. Byan tidak bisa mengartikannya, tapi yang jelas senyuman itu senyuman terakhir Dafa.


Dengan tangan gemetar, Byan mengambil surat tersebut dan menyimpannya di saku kemejanya.


"Satu lagi... Tolong berikan ini untuk Ais." Byan pun menerima kotak sedang tersebut.


"Terima kasih." Ucap Dafa tulus.


"I-iya...." Jawab Byan terbata-bata. Matanya sudah berkaca-kaca menahan tangis. Byan sungguh tak menyangka kalau Dafa rela mengorbankan dirinya untuk Aisyah-nya. Ternyata rasa cintanya terhadap Aisyah lebih besar darinya.


Apa Byan harus sujud syukur, akhirnya Aisyah akan mendapatkan transplantasi hati atau ia harus bersedih melihat Dafa begitu tulus menyerahkan hatinya untuk Aisyah. Entahlah, yang jelas Byan bingung mendeskripsikan perasaannya.

__ADS_1


Byan kemudian memeluk Dafa yang terbaring di atas ranjang. Byan tidak bisa menahan rasa sedihnya. Keikhlasan hati Dafa membuatnya merasa kerdil, sebab Dafa begitu tulus dan ikhlas mengorbankan dirinya hanya untuk Aisyah.


"Terima kasih... Terima kasih... Aku berjanji akan mengabulkan permintaanmu dan aku berjanji akan selalu menjaga dan menyayangi harta berhargamu, yaitu anakmu dan Aisyah. Aku berhutang nyawa padamu...."


Dafa hanya menepuk-nepuk punggung Byan. Air matanya jatuh, tapi ia tidak menyesal dengan keputusannya, justru ia senang karena sebentar lagi dari bagian tubuhnya akan menyatu dengan wanita yang ia cintai.


Terdengar suara ketukan pintu dari luar, seorang suster membawa buah hatinya Dafa. Byan sengaja meminta sang suster untuk membawa putranya itu ke kamar rawat Dafa.


Byan menggendong putranya yang tengah tertidur, lalu Byan meletakkan putranya di samping Dafa.


Air mata Dafa semakin berdesakan keluar dari matanya. Untuk pertama kalinya Dafa bisa melihat secara dekat putra tercintanya. Hatinya menghangat melihat wajah putranya itu.


Byan mengangkat sedikit putranya itu, agar Dafa dengan mudah menciumnya atau memeluknya.


Dafa segera mendaratkan kecupan manisnya untuk malaikat kecilnya. Dengan berurai air mata, Dafa mendekap malaikat kecilnya penuh kasih sayang. Setelah itu Dafa memandang lekat-lekat wajah anaknya. Ia ingin mengukir wajah putranya di dalam benaknya.


"Jadilah anak yang baik, sayang. Papa disini akan terus menyayangimu. Semoga kelak kamu menjadi lelaki hebat dan menjadi pahlawan untuk mamamu. Jadilah anak yang berbakti sama papa dan mamamu...."


"Jangan lupakan papa, sayang. Papa... Sang-at... Menci-ntai... Kam-uu...." Dafa tersedu-sedu mengungkapkan isi hatinya. Untuk terakhir kalinya, Dafa kembali mencium seluruh wajah putranya dan mengelus wajahnya.


"Aku titipkan anakku sama kamu...."


"Iya...."


Dengan berat hati, Dafa melepaskan pelukannya dan menyerahkan buah hatinya kepada Byan.


Byan kemudian meletakkan lagi putranya di boks bayi, lalu Byan memeluk Dafa.


Setelah pelukan terakhirnya dengan lelaki yang akan menjadi ayah dari anaknya, Dafa menyentuh letak hati kecilnya.


Semoga dengan ini, kamu bisa hidup lebih lama dan bisa hidup bahagia dengan orang yang kamu cintai. Maaf... kalau selama ini aku hanya bisa menyakiti hatimu, bahkan tak pernah menganggap kamu ada.

__ADS_1


Aisyah aku sayang kamu....


Flashback off.


__ADS_2