Hipotalamus

Hipotalamus
Bertengkar Lagi?!


__ADS_3

"Lepasin!" teriak Nurul di depan rumah mewah milik Rafa. Dua pria berbaju serba hitam membawanya masuk ke dalam rumah tersebut.


"Tuan, kami hanya bisa membawa Nyonya Nurul ke rumah ini. Tuan Muda sedang bersekolah, kami berniat untuk menunggunya pulang sekolah agar tidak membuat keributan di sekolahnya," ucap pria berbaju hitam itu pada Rafa yang tengah duduk di ruang tamu.


"Rafa! Lepaskan!" bentak Nurul pada mantan pacarnya itu.


"Di mana Vin?" tanya Rafa yang kini telah menjadi seorang pendiri sekaligus pemilik perusahaan yang bergerak di bidang furniture bernama GG Group.


"Buat apa kamu ngelakuin ini?!" teriak Nurul.


"Vin," jawab Rafa singkat.


"Jangan mengganggu, Rafa! Aku sudah menikah dengan Feno! Vin juga tahu bahwa Feno adalah ayahnya! Untuk apa kau datang lagi ke hidupku?!" teriak Nurul semakin menjadi dengan tangan yang masih dipegangi oleh dua pria berbaju hitam.


"Aku ingin Vin tahu bahwa aku adalah ayahnya dan dia tinggal di sini," jawab Rafa.


"Nggak waras!! Kau yang menelantarkannya! Kau yang meninggalkan dia di usia 3 bulan! Sekarang kau mau apa lagi, Rafaaa?!!" teriak Nurul sekuat tenaga.


"Dulu kau meminta aku bertanggungjawab, dan aku akan mempertanggungjawabkan semuanya, sekarang," balas Rafa.


"Aku sudah tidak butuh pertanggungjawaban itu!" bentak Nurul.


"Tapi Vin harus tahu siapa ayahnya!" balas Rafa yang ikut membentak.


"Dia tidak perlu tahu! Feno lebih pantas menjadi ayahnya!" balas Nurul.


"Aku tidak akan membiarkan Vin menjadi anak dari keluarga yang miskin lagi! Kau kira aku tidak tahu seperti apa kau menghidupi Vin?! Feno bahkan tidak mampu membelikannya mainan yang ia sukai! Feno tidak pernah mengajaknya jalan-jalan! Kau kira hidup dengan makan dan sekolah saja sudah cukup untuk anakku?!" Kini Rafa yang berteriak.


"Selama dia hidup bersama orang miskin seperti aku, dia tidak pernah mencari tahu siapa iblis yang menelantarkannya!" balas Nurul.


"Karena kau menutupinya dengan kehadiran Feno!" teriak Rafa semakin menjadi. "Bawa dia ke kamar utama dan kunci semua pintu serta jendelanya!" perintah Rafa.


"Baik, Tuan," balas kedua pria itu dan membawa Nurul pergi.


"Raaaffaa!!" teriak Nurul sambil terus menerus mencoba untuk memberontak. Namun, tetap saja tenaga seorang wanita tidak akan cukup kuat.


***


Vin baru saja keluar dari sekolahnya. Tiba-tiba dua orang pria suruhan Rafa menarik anak laki-laki itu untuk masuk ke dalam mobil.


"Apa-apaan nih?!" bantah Vin hendak memberontak.


"Ini semua perintah dari Tuan," ucap salah seorang dari mereka.


"Tuan siapa?! Gue salah apa?" bantah Vin lagi.

__ADS_1


"Nyonya Nurul dan Tuan Rafa sudah menunggu Tuan Muda di rumah," ucapnya lagi.


"Nyonya? Tuan? Apa-apaan sih ini?!" Vin benar-benar tak mengerti akan apa yang terjadi pada dirinya saat ini.


***


Sesampainya di kediaman Rafa yang super mewah, Feno terkejut melihat pria yang tak ia kenali, yakni Rafa, ayah kandungnya.


"Ini ada apa ya, Om?" tanya Vin.


Rafa tertegun melihat anaknya yang sudah tumbuh menjadi seorang remaja. Terlebih lagi Vin memanggilnya dengan sebutan "Om" membuktikan bahwa ia tak mengenali sosok ayahnya itu. Sebuah pukulan telak untuk seorang Rafa yang pernah menyia-nyiakan anakhya tersebut.


"Bawa Nurul ke sini!" perintah Rafa pada anak buahnya.


"Mama? Mama ada di sini?! Ini ada apa sih?! Keluarga saya salah apa?! Kami punya hutang atau apa, Om?!" ucap Vin yang terkejut begitu mengetahui ada ibunya di rumah mewah itu.


"Vin!" teriak Nurul sambil berlari memeluk anaknya tersebut.


"Ini ada, Ma?!" tanya Vin.


"Siapa nama ayahmu, Vin?" tanya Rafa.


"Feno! Papa saya salah apa, Om?!" tanya Vin lagi.


"Ini ada apa sih, Ma?! Coba jelasin dulu satu-satu!" Vin mulai merasa kesal.


"Saya Rafa!" ucap Rafa.


"Ini ada apa ya, Om Rafa?" tanya Vin lagi dan lagi.


"Saya ayah kamu! Feno itu ayah tiri kamu. Saya bercerai dengan ibumu saat kamu berusia 3 bulan," ucap Rafa dengan santainya.


Vin hanya bisa terdiam mendengar hal tersebut.


"Pria biadab!" umpat Nurul.


"Itu benar, Ma?" tanya Vin.


Nurul tak kuasa menahan tangis. Rahasia yang ia tutup rapat-rapat selama bertahun-tahun lamanya, kini dibongkar dengan begitu mudah oleh mulut seorang Rafa.


"Tapi, kenapa Mama nggak pernah cerita?!" tanya Vin lagi.


"Karena kita udah nggak butuh dia lagi. Kamu udah punya Feno, papa kamu!" jawab Nurul sambil menangis.


Vin mengangguk pertanda bahwa yang Nurul katakan adalah benar. Meskipun faktanya Rafa adalah ayah kandung Vin, tapi Vin tetap tidak membutuhkannya karena sosok Feno sudah cukup untuknya.

__ADS_1


"Kita pulang aja, Ma," ucap Vin dan hendak pergi bersama ibunya.


"Nurul! Ada sesuatu yang harus aku katakan," ucap Rafa.


Vin tetap membawa ibunya berjalan tanpa memerdulikan pria itu.


Rafa berlari mengejar mereka dan menghentikannya. "Ginjalku rusak!" ucap pria itu di hadapan Vin dan Nurul dan membuat mereka berhenti melangkah.


Penyakit itu sudah diderita Rafa sejak masa kuliahnya. Ia juga menceraikan Nurul karena hal itu. Hanya saja ia tak mampu mengatakannya. Sekarang, saat penyakit itu semakin parah bersarang di tubuhnya, Rafa baru bisa mengatakan apa yang terjadi dan alasan ia menceraikan Nurul di kala itu.


"Aku sudah melakukan cuci darah setiap 2 hari sekali. Aku juga harus ke rumah sakit setiap saat! Satu-satunya harapanku untuk semua ini hanyalah Vin. Aku ingin Vin tinggal di sini," ucap Rafa sambil sesekali menyeka air matanya.


"Aku nggak mau," jawab Vin.


"Sebelum saya meninggal dunia, saya hanya minta kamu untuk belajar bisnis di Presidential Internasional High School, karena semua kekayaan dan perusahaan ini akan saya wariskan ke kamu," ucap Rafa.


Vin dan Nurul hanya berdiam diri. Tentunya hal ini akan menyakiti perasaan Feno jika ia mengetahui hal ini terjadi pada istri dan anaknya.


***


Hari ini benar-benar terasa menyenangkan untuk Yura. Gadis tomboi itu mengikat rambutnya dengan asal-asalan dan keluar dari mobil.


"Yuraa!! Tas kamu!" teriak Angga, sang ayah.


Yura kembali berlari dan menyandangnya dengan kalang kabut.


"Aku telat, Pa!" teriak Yura dan meninggalkan Angga di sana.


"Yura udah sebesar ini ternyata," gumam Angga melihat gedung Presidential Internasional High School di hadapannya dan kembali pulang. Pasalnya ia harus berangkat ke Jepang hari ini.


***


Yura telat di hari pertamanya bersekolah. Dengan napas ngos-ngosan ia memasuki rombongan murid baru yang sedang diberikan arahan di lapangan sekolah.


"Kamu, yang baru datang! Maju ke depan!" ucap kepala sekolah dengan mikrofonnya.


Seketika semua mata menuju pada Yura yang masih mengatur napas.


"Maju!" tegas kepala sekolah lagi. Tanpa basa-basi Yura maju ke depan dan berdiri di sebelah kepala sekolah.


Tiba-tiba seorang guru perempuan menghampiri dan menjambak rambut gadis itu. "Aaargh!" ucap Yura menahan rasa sakit.


"Apa kamu tidak pernah diajari untuk mengikat rambut dengan rapih?!" tegasnya. Beliau adalah Bu Tiyas, guru bimbingan dan konseling para siswa dan siswi.


"Ikat rambutmu dengan benar!" teriak Bu Tiyas di wajah Yura dan melepaskan jambakannya.

__ADS_1


__ADS_2