Hipotalamus

Hipotalamus
Thank's


__ADS_3

"Kesian aja ngelihatnya," ucap Yura yang kini duduk di tempatnya.


"Kesian kenapa? Dia anaknya Yakuza! Lo kesian dari sudut pandang sebelah mananya, Ra?!" ucap Zahra.


"Woi! Jangankan anak Yakuza! Anak Buaya, anak Harimau sekalipun. Kalau gue mau kasian, ya kasian aja. Nggak pakai alasan!" omel Yura membuat Kayuki membuka matanya tanpa bergerak. Ia tersenyum membelakangi gadis itu.


"Ya, tapi lo bisa ngek!" ucap Zahra mengisyaratkan bahwa Yura bisa mati akibat perbuatannya.


"Ya udah sih, semua orang bisa mati. Repot amat. Mau berbuat baik pun harus pilih-pilih orang. Ribet!" balas Yura.


"Terserah lo deh, Ra! Gue ngeri!" ucap Zahra.


Sepulang sekolah, Kayuki menghentikan langkah Yura agar tak beranjak dari tempat duduknya.


"Kenapa lagi, Mesum?!" tanya Yura.


"Thank's," ucap Kayuki dan pergi begitu saja.


Yura malah terdiam dan melontarkan sebuah senyuman ke arah pria itu. Dalam hitungan detik, gadis itu mengubah ekspresinya.


"Dih! Kenapa gue senyum-senyum? Dih! Nggak mungkin dong, gue suka sama dia! Astaga!" bantah Yura dan bergegas ke luar kelas.


***


Keesokan harinya, Yura mendapatkan sebuah tugas yang mengharuskan dirinya berkelompok dengan Kayuki selaku teman sebangku.


"I don't care if you're facing a complicated problem. But this school assignment, must be done as soon as possible!" omel Yura sambil mengeluarkan buku cetak tebal di hadapannya.


Kayuki malah menjawab, "I wanna sleep!"


"No!" teriak Yura memaksa Kayuki untuk ikut mengerjakan tugas sekolah tersebut.


Dengan berat hati, Kayuki menuruti gadis itu. Berkali-kali Kayuki menguap menahan rasa kantuk demi tugas sekolah. Hingga akhirnya ia benar-benar tertidur.


Yura mendadak merasa lapar dan membeli beberapa makanan untuk dirinya dan juga Kayuki. Saat ia kembali, Kayuki telah terbangun dan mengerjakan tugas tersebut. Yura kembali tersenyum. Ada perasaan senang yang sulit untuk ia jelaskan. Rasanya seperti ....


"Gue suka sama lo!" ucap Yura membuat Kayuki menghentikan gerak jarinya yang semula fokus menulis.


"Sorry?" ucap Kayuki meminta Yura menjelaskan apa yang ia maksudkan.


"Gue suka sama lo! Udah sih itu aja. Gue nggak tahu kenapa. Gue suka aja. Dan gue nggak mau pacaran. Gue cuma mau bilang itu aja, gue suka sama lo. Thank you!" jelas Yura membuka mi cup yang ia bawa. Ia juga memberikan salah satu mi tersebut kepada pria yang duduk di sebelahnya.

__ADS_1


Kayuki tak mengindahkan kalimat tersebut. Ia malah kembali melanjutkan tugasnya.


***


Keesokan paginya, Yura menaruh sebungkus roti di atas meja Kayuki. Namun, kali ini Kayuki langsung melihatnya. Sehingga Yura terpaksa memberikan sebuah alasan.


"Why are you doing this?" tanya Kayuki.


"Gue suka sama lo," jawab Yura. "If you don't like it, you can throw it away," lanjutnya.


Kayuki mengambil roti tersebut dan memakannya. Yura tersenyum dan berjalan ke luar kelas.


***


Kejadian di kantin hari ini. Zahra tersedak minumannya begitu mendengar Yura menyukai anak mafia bernama Kayuki tersebut.


"Lo seriusan, Ra?! Lo waras 'kan?! Kok lo bisa suka sama Kayuki?! Astaga! Dia itu anak Yakuza! Lo tahu Yakuza nggak?! Mafia kelas kakap di Jepang! Lo berurusan sedikit aja langsung bisa ilang nyawa lo, Ra?! Yang bener-bener aja lah kalau suka sama cowok! Cowok di sekolah kita banyak! Kenapa harus Kayuki?!" omel Zahra.


"Ya, gue juga nggak tahu kenapa gue suka sama dia. Lagian gue cuma suka aja. Gue juga suka sama lo, gue suka semua orang! Nggak ada salahnya!" bantah Yura.


"Ya iya sih, tapi 'kan masalahnya itu lo suka sama anak Yakuza! Lo ngerti nggak sih, Ra sama apa yang gue omongin?!" omel Zahra lagi.


"Lo banyak omong ya?! Lama-lama gue suapin mangkok nih! Mau gue colok mulut lo pakai sumpit?! 'kan udah gue bilangin. Gue cuma suka aja sama dia! Suka! Bukan cinta! Bukan yang mau dinikahin atau apa! Gue cuma suka doang!" Yura malah ikut mengomel.


"Apaan tuh?!" Zahra sampai terkejut dan ingin tahu akan apa yang Kayuki lempar ke pangkuan temannya itu. "Roti?" tanya Zahra tak mengerti.


"Gue sering ngasih dia pagi-pagi!" ucap Yura.


"Diiiihhh!! Demi apa, Ra?! Lo pasti bakalan jadi target keluarganya kalau tahu lo suka sama Kayuki!" ucap Zahra.


"Lah kenapa?!" tanya Yura.


"Ya biasanya yang di film-film kayak gitu!" balas Zahra.


"Kebanyakan nonton film lo! Otak sampai kemakan green screen!" bantah Yura.


"Dih, pokoknya kalau lo sampai diincar. Bilang nggak kenal gue! Gue takut!" ucap Zahra lagi.


"Lebay!" balas Yura.


***

__ADS_1


Sedangkan yang terjadi di Indonesia. Meta tengah menjalani home schooling akibat traumanya terhadap Jong Woo. Rafa menyaksikan sendiri bahwa keponakannya itu belajar di rumah bersama seorang guru.


"Sejak kapan?" tanya Rafa pada Debi.


"Sejak dia masuk rumah sakit," jawab Debi.


"William gimana?" tanya Rafa lagi.


"William juga udah bolak-balik ke sini. Udah nggak ngekos." Debi memijat keningnya yang mendadak berdenyut jika mengingat semua hal yang terjadi pada anak-anaknya itu.


"Kenapa nggak ngekos?" Rafa masih sama seperti dulu. Ingin tahu semua urusan kakaknya tersebut.


"Dia khawatirin Meta. Menurut lo gimana ya? Gue bingung gimana caranya bikin Meta mau balik ke sekolah lagi. Mau sampai kapan dia kayak gitu? Kehidupan sosial juga perlu buat anak seumuran dia," ucap Debi.


"Dia ada ngomong sesuatu?" tanya Rafa.


"Nggak ada. Dia cuma mau ngomong sama Vin," jawab Debi.


"Vin? Kayaknya kita harus minta bantuan Vin buat masalah ini," ucap Rafa.


***


Kepulangan Vin hari itu, langsung diserbu oleh Rafa. Belum sempat Vin memasuki kamarnya, Rafa terlebih dulu menghentikan langkah anaknya itu.


"Vin!" panggil Rafa.


"Iya," jawab Vin menghampiri ayahnya yang sedang duduk di ruang tamu.


"Ayah mau tahu soal Meta dan Jong Woo yang pernah kamu ceritain," ucap Rafa.


Vin menghela napasnya karena ia benar-benar merasa malas untuk membahas pria itu.


"Kenapa?" tanya Rafa begitu mendapatkan respons Vin yang terlihat enggan mengobrol.


"Ayah udah ke rumah Om Regi?" tanya Vin.


"Tadi siang," jawab Rafa.


"Ayah lihat sendiri 'kan? Gimana keadaan Meta? Dan kenapa dia bisa separno itu sama Jong Woo? Kalau cuma buat kejadian satu kali, nggak mungkin Meta bakalan kayak gitu. Itu artinya Jong Woo udah bikin Meta ketakutan lebih dari sekali," ucap Vin.


"Maksud kamu, anak Tuan Lee menindas Meta dalam waktu yang lama?" tanya Rafa.

__ADS_1


"Dulu, Jong Woo bilang kalau dia suka sama Meta. Ya, jadi aku sama Marc fine-fine aja kalau dia berusaha buat deketin Meta. Tapi, makin ke sini tingkah Jong Woo makin aneh. Makin nggak waras! Makanya aku marah dan berantem sama dia. Dari pada dia nyakitin Meta lebih lama dari ini. Untungnya ada aku di kolam renang hari itu. Aku yang bawa Meta ke pinggir kolam. Kalau nggak ada aku, mungkin Meta bukan trauma lagi, tapi meninggal," jawab Vin.


__ADS_2