
"Ketebak banget," ucap Vio.
"Apaan sih, Met?!" bentak Yura.
"Kak Marc nyelipin cokelat ini ke dalam tas gue! Gimana nih?! Gue takut!" jerit Meta lagi.
"Ya lo datengin aja. Terus lo lempar kepalanya Marc pakai itu cokelat, terus bilang lo takut sama cowok mesum kayak dia!" omel Yura.
"Gue setuju sih sama Yura," ucap Vio.
"Iiih, gue 'kan nggak kasar kayak lo berdua!" bantah Meta.
"Besok gue masuk sekolah, gue bantuin lo mukul kepalanya," ucap Yura.
"Dih, gue takut!" ucap Meta lagi sambil mengangkat cokelat itu dengan dua jari dan memberikannya kepada Vio.
***
Hari ini Yura kembali ke sekolah. Pagi-pagi sekali ia mendatangi meja Marc sambil memegang cokelat yang Marc selipkan di tas Meta.
"Ini maksudnya apa ya?!" tanya Yura menghempas cokelat itu di atas meja Marc.
"Aduh, gue nggak ada urusan sama lo!" ucap Marc.
"Kenapa, Ra?" tanya Vin.
"Tolong ya, Vin. Temen lo ini gangguin Meta. Tolong lo jagain dia sebelum gue pukulin. Meta takut sama cowok mesum kayak dia!" jawab Yura dengan begitu menohok.
"Gue nggak ada urusan sama lo!" tegas Marc yang kini berdiri, pertanda bahwa ia kesal pada gadis itu.
"Seluruh sekolah tahu kalau lo itu mesum. Jadi, stop ngasih apa pun ke Meta. Dia takut sama lo! Mending lo deketin cewek lain aja!" bentak Yura.
Bertepatan dengan itu Kim Tae Young datang dan langsung menarik tangan Yura agar tidak berurusan dengan Marc.
"Igae mwoya?" tanya Kim Tae Young.
"Lo bawa aja dia pegi dari sini. Gue nggak ada urusan sama dia. Dia yang datang ke sini marah-marah," ucap Marc.
"Lo yang nakut-nakutin Meta!" teriak Yura.
"Gue nggak nakut-nakutin dia—"
"Itu menurut lo! Tapi faktanya, dia takut!" bantah Yura memotong kalimat pria itu.
"GUE NGGAK ADA URUSAN SAMA LO!" teriak Marc.
"YAA!!" teriak Kim Tae Young lebih keras dan membuat semua orang yang berada di kelas itu menoleh padanya. "Neo micheosseo?! Dia cewek!" teriaknya lagi.
"Terus kenapa kalau dia cewek?! Lagian dari kemaren gue lihat dia cuma sok jagoan doang di sekolah. Kenapa? Punya masalah lo di rumah? Kelihatan banget lo kayak anak kurang perhatian! Caper lo di sini?!" balas Marc.
__ADS_1
"MARC!!" Kali ini Vin yang berteriak. "Udah," lanjutnya.
Tiba-tiba Yura memukul perut Marc dan berlari pergi ke kelasnya dengan perasaan kesal.
Kalimat Marc itu seolah membuat tamparan yang menyakitkan dan menyadarkan Yura bahwa ia memang kurang diperhatikan oleh ke dua orang tuanya.
Emangnya gue yang minta hidup kayak gini? Emangnya gue yang mau? Emangnya ada pilihan lain selain jalanin kehidupan yang kayak gini?
Yura terus menjerit di dalam hatinya. Dia benar-benar mengakui kebenaran apa yang dikatakan oleh Marc. Yura berkelahi dengan semua orang adalah cara ia untuk menutupi kelemahannya. Ketika sepasang mata melihatnya, Yura akan menjadi Serigala di tengah malam. Namun, saat ia sendirian. Ia hanya seekor kucing malang yang kesepian.
***
Namun, Marc malah memiliki rencana lain. Kali ini ia berpikir untuk mendekati Yura. Sepertinya mendekati Meta terlalu sulit baginya.
Sepulang sekolah, Marc juga menyelipkan cokelat ke dalam tas Yura. Tapi, saat kelas baru saja dibubarkan, Yura lebih dulu mengetahui cokelat itu berada di dalam tasnya. Ia langsung mengetahui siapa yang melakukannya.
Yura berlari mengejar Marc yang berjalan menuju asrama. Tiba-tiba gadis itu menarik tangannya dan menyeret Marc kembali ke sekolah.
"Mau ngapain nih?" tanya Marc.
Yura membawa kakak kelasnya itu ke hadapan Vio dan Meta.
"Maksud lo apaan sih, Marc?!" tanya Vio.
"Apaan?" Marc bertanya balik.
"Dan lo juga ngasih gue ini!" Yura menghempas cokelat tersebut.
"Ya, gue suka sama lo!" ucap Marc pada Yura.
"Gue benci cowok kayak lo, mulai sekarang jangan muncul di depan gue lagi," ucap Yura.
"Lo ngelawak, Marc?" tanya Vio sambil tersenyum dan mereka meninggalkan Marc di sana.
***
"Lo bego, Marc!" teriak Marc di dalam kamar mandi.
Kali ini tak ada lagi jalan untuk mendekati Vio. Marc juga tak tahu bahwa dirinya bisa melakukan hal sebodoh itu hanya karena Vio.
"Ngelawak?" ucap Marc mengulangi kalimat Vio.
"Lo yang bikin gue kayak gini, Vio!!" teriak Marc lagi.
***
Hari ini Vio kembali melihat Marc dan Jong Woo berjalan bersama menuju kelas. Marc juga menyadari kehadiran Vio di belakang mereka.
"Kak Marc! Ini buat, Kakak!" ucap seorang gadis memberikan sebuah kado pada Marc dan berlari pergi sambil tersipu malu.
__ADS_1
"Siapa tuh, Marc?" tanya Jong Woo.
"Nggak tahu. Fans gue kali," jawab Marc sambil melihat kotak yang berbungkus keras bercorak tersebut.
Vio malah melewati mereka tanpa sepatah kata pun. Marc tersenyum sekilas. Cemburu lo? Bisik batin Marc pada bayangan gadis itu.
Sesampainya di kelas, Vio langsung terkekeh di tempat duduknya.
"Kenapa lo?" tanya Yura.
"Kayaknya Marc nggak bakalan gangguin lo berdua lagi. Tadi ada cewek yang ngasih dia kado. Berarti dia bakalan berurusan sama itu cewek," jelas Vio.
***
Saat jam istirahat pertama, Vio kembali melihat Marc yang diberi sebuah kado dari adik kelas perempuannya. Di sana juga terdapat Jong Woo.
Vio termasuk seorang gadis yang tak pandai mengungkapkan perasaannya. Kali ini ia mengambil buku di kelas dan membuat beberapa kalimat puitis yang berisi betapa ia ingin seseorang tahu bahwa ia tengah jatuh cinta pada seorang pria namun ia tak berani mengungkapkannya.
Yura membaca tulisan-tulisan itu dengan berdiri di belakang Vio tanpa suara. Saat Meta datang, Vio bergegas menyembunyikan kertas-kertas itu ke dalam tasnya.
***
Setiap hari, Vio membuat tulisan-tulisan itu dan dilihat oleh Yura.
"Kayaknya Vio lagi suka sama seseorang, Met," ucap Yura.
"Hah?! Nggak salah lo?!" bantah Meta.
"Seriusan. Gue lihat dia nulis puisi-puisi gitu di kertas, terus dimasukin ke dalam tas. Gue juga bacanya diam-diam," ucap Yura lagi.
"Vio suka sama siapa?" tanya Meta.
"Nggak tahu. Tapi ada beberapa puisi yang dia bilang 'Oppa' gitu. Menurut gue sih, itu cowok orang Korea. Apa dia suka sama Arnold?!" tanya Yura membuat kedua bola mata Meta semakin membesar.
"Nggak mungkin!" bantah Meta dengan cepat.
"Seriusan, Met. Gue baca sendiri, dia bilang 'Oppa' gue nggak bohong!" Yura mempertegas kalimatnya.
"Mustahil banget dia suka sama Arnold!" Meta terus membantah. Pasalnya Violin lebih dekat dengannya. Ia tahu betapa bencinya Vio terhadap Kim Tae Young.
"Apanya yang mustahil?!" tanya Yura.
"Vio pernah bilang ke gue, kalau dia nggak suka sama Arnold. Dia juga nggak suka lo ada hubungan sama Arnold. Dia tahu Arnold itu kayak gimana!" tegas Meta.
"Berarti dia jeles lihat gue sama Arnold!" Yura ikut mempertegas kalimatnya.
"Nggak, Ra! Gue tahu Vio kayak gimana!" tegas Meta lagi.
"Ya udah, kita lihat aja entar," ucap Yura.
__ADS_1