
"Iya, suer tadi gue nguping kepala sekolah ngobrol sama wali murid baru!" tegas Jong Woo.
"Siapa? Cewek apa cowok?" Marc langsung menyambar penjelasan tersebut.
"Cewek kayaknya," jawab Jong Woo.
"Wah, lumayan sih. Bisa move on lo, Vin!" ejek Marc.
"Move on apaan?!" bantah Vin.
"Ya, nggak ada Yura. Murid baru pun jadi! Ha ha!" Jong Woo dan Marc tertawa bersama.
"Apaan sih lo berdua. Gue sama Yura itu temenan. Cuma sering berantem aja," bantah Vin lagi.
"Tapi yang kemaren itu lo ceng-cengin dia!" Marc ikut membantah.
"Itu 'kan supaya dia ingat gue sebelum berangkat ke Jepang. Itu doang!" bentak Vin.
"Ow, berarti kalau murid barunya cakep, lo mau deketin gitu? Tanpa harus mikirin Yura?" goda Jong Woo.
"Apaan sih?!" bentak Vin lagi.
***
"Halo, perkenalkan nama saya, Yura. Saya murid pindahan dari International High School, Jakarta Utara, Indonesia. Saya pindah ke sini karena ikut ayah saya bekerja dan keluarga ayah saya juga tinggal di sini. Salam kenal!" ucap Yura di depan papan tulis.
"Baik anak-anak, ada yang ingin ditanyakan?" ucap wali kelas yang ikut berdiri di sebelah Yura.
"Bisa bahasa Jepang?" tanya seorang murid.
"Saya baru pindah kemaren. Jadi, nggak bisa bahasa Jepang," jawab Yura.
"Ayah kamu asli orang Jepang?" tanya yang lain.
"Bukan. Keturunan Jepang asli itu Kakek. Ayah saya lahir di Indonesia. Di sini hanya untuk bekerja," jawab Yura lagi.
"Baik anak-anak. Kita mulai pelajaran dulu, nanti kalian bisa sambung ngobrol di jam istirahat, ya? Yura silakan duduk di sebelah Kayuki," ucap Wali Kelas.
"Kayuki yang mana, Bu?" tanya Yura.
__ADS_1
"Yang itu. Yang pendiam. Siapa tahu kalau duduk sama kamu, dia jadi nggak diem lagi, he he!" ejek Wali Kelas pada murid yang bernama Kayuki itu.
Yura duduk di sebelah Kayuki, si pendiam di sekolah. Kayuki menyimpan segudang rahasia. Ia tidak ingin berteman dengan siapa pun, termasuk Yura.
"Hai!" sapa Yura pada pria bertubuh tinggi itu.
Kayuki malah memilih untuk membaringkan kepalanya di atas meja.
"Hai, Yura!" seorang gadis yang duduk di hadapan Yura menyapanya.
"Hai, juga," jawab Yura.
"Kenalin nama aku Zahra. Nanti jam istirahat ke kantin bareng, ya!" ajak Zahra.
"Oke!" Yura langsung mendapatkan teman baru bernama Zahra.
Zahra merupakan anak seorang Tenaga Kerja Wanita yang dikirim dari Indonesia. Ibu Zahra bekerja sebagai petani di Jepang. Ayah Zahra telah meninggal dunia sejak Zahra masih di dalam kandungan. Ia terpaksa ikut ke Jepang karena anggota keluarganya menolek kehadiran Zahra yang notabenenya tidak memiliki ayah.
***
"Ow, Kayuki itu emang suka begitu?" tanya Yura yang baru saja mendapat penjelasan dari Zahra.
"Iya. Jadi mending kamu jangan ngobrol sama dia. Kalau dia marah, seluruh sekolah bakalan ketakutan!" jawab Zahra.
"Ya, gitu. Pokoknya kamu jangan gangguin dia!" ucap Zahra bertingkah seolah berurusan dengan Kayuki adalah hal terseram di dunia ini.
"Dia anaknya Yakuza?" tanya Yura.
"Nggak tahu. Kita nggak ada yang temenan sama dia!" Jawab Zahra.
"Gini deh, tujuan dia sekolah tuh apa? Kalau tugas nggak dikerjain, dateng ke sekolah cuma tidur. Terus mau ngapain gitu?" tanya Yura lagi. Bertepatan dengan itu Kayuki berlalu di hadapan mereka dan Zahra memberikan isyarat agar Yura diam dan tak membahas pria itu lagi.
"Oh iya, kamu 'kan dari International High School. Di sana tuh kayak gimana? Aku pernah denger soal sekolah itu, katanya sih di sana mahal!" ucap Zahra.
"Ya, emamg mahal sih. Gue akuin aja, mahal banget! Biaya bulanannya aja sampai puluhan juta. Soalnya di sana ada asrama, ya meskipun fasilitasnya lebih mirip sama kosan. Makan gratis, walaupun menu kantinnya itu-itu aja," ucap Yura.
"Lo suka nggak sekolah di sana?" tanya Zahra.
"Gue suka. Di sana gue bisa punya banyak temen. Gue bisa ketemu orang-orang kaya yang norak. Ketemu orang yang bisa gue ajakin berantem tiap hari," jawab Yura sambil terkekh karena ia mengingat Vin.
__ADS_1
"Hah?! Kamu suka berantem?" tanya Zahra.
"Berantem biasa gitu," jawab Yura lagi sambil tersenyum.
***
Setelah beberapa hari di Jepang, Yura bertemu Ayumi yang datang ke rumah neneknya dan memberikan beberapa berkas kerja untuk Angga.
Hari itu, Ayumi datang di hari libur. Angga yang sedang menikmati masa liburnya malah harus terganggu karena kehadiran Ayumi. Mereka sempat mengobrol dalam bahasa Jepang.
Yura yang melihat ayahnya lama tak kembali untuk menonton film kartun bersama nenek dan kakeknya, langsung menyusul sang ayah di depan rumah.
Di sana ia melihat Ayumi yang sedang menangis dan Angga mencoba untuk menenangkannya.
"Kenapa, Pa?" tanya Yura mengejutkan mereka semua.
Angga memperkenalkan anaknya itu kepasa Ayumi.
"Lagi ada acara Mama Dede, ya?" sindir Yura pada wanita dewasa yang menangis itu.
"Yura, kenalin ini Tante Ayumi. Dia teman kuliah Papa. Sekarang udab jadi teman kerja," ucap Angga.
"Ke sini mau ngapain? Ini 'kan libur. Kata Papa hari ini pure seratus persen nggak bakalan ngurusin kerjaan," ucap Yura.
"Nggak ngurusin kerjaan kok, Sayang. Ini Tante Ayumi cuma anter berkas aja. Kumpulan sketsa-sketsa komik yang udah dibikin dari komikus di rumah produksi," ucap Angga.
"Terus kenapa Tantenya nangis-nangis? Habis dipukul orang?" tanya Yura lagi.
"Nggak, Sayang ...." Tiba-tiba Ayumi mengatakan sesuatu kepada Angga dalam bahasa Jepang yang tak dimengerti oleh Yura.
Angga kembali ke dalam rumahnya untuk mengambil sesuatu yang diminta oleh Ayumi. Saat kepergian Angga, Ayumi malah mencoba untuk mengancam Yura dengan hal yang sama dengan cara yang dulu pernah ia lakukan untuk Putri.
"Saya sudah lama kenal ayah kamu. Saya suka dia," ucap alat terjemahan yang Ayumi gunakan di ponselnya.
Yura menatap datar wajah wanita itu dan mengambil ponsel Ayumi agar bisa menerjemahkan apa yang ia katakan.
"Tolong jangan jadi wanita murahan. Kamu sangat cantik, tapi terkesan seperti b*tch yang menggoda suami orang. Apa kamu seorang b*tch?" balas Yura.
Mendengar kalimat itu, Ayumi mendadak kesal menghadapi buah hasil pernikahan Putri dan Angga itu.
__ADS_1
"I wanna kill you, b*tch!" tegas Yura dengan wajah yang masih datar.
Saat Angga kembali dengan selembar kertas, Ayumi mengadukan bahwa Yura mengejek dirinya dengan sebutan seorang pelacur. Ayumi juga menunjukkan rekaman terjemah yang pernah Yura katakan beberapa detik yang lalu. Namun, Angga tidak bodoh. Ia juga melihat history rekaman yang pernah Ayumi katakan untuk Yura. Pantas saja Yura menyebut dirinya seorang pelacur. Jelas-jelas wanita itu berusaha untuk merebut Angga dari istrinya.