Hipotalamus

Hipotalamus
Menginap


__ADS_3

Kayuki diizinkan oleh nenek untuk bermalam di rumah mereka. Lagipula hujan yang tak kunjung berhenti dan malam semakin larut tidak memungkinkan untuk membiarkan anak laki-laki itu pulang ke rumahnya yang berada di Tokyo.


Kayuki dibentangkan sebuah matras khas orang Jepang untuk tidur di lantai. Selimut tebal juga menjadi penghangat utama di malam yang dingin ini.


"Lo udah tidur?" tulis Kayuki pada pesan yang ia kirimkan ke Yura.


Yura membaca pesan itu dan menutup layar ponselnya. Yura menangis di dalam kamar tanpa suara. Berisik bunti rintik hujan menutupi bunyi sedotan ingus yang ia lakukan berkali-kali.


"Gue takut tidur sendirian di sini, Ra," tulis Kayuki lagi.


"Gue boleh pindah ke kamar lo nggak?" tanyanya.


Yura mengambil ponselnya dan membaca pesan tersebut. Ia mulai mengetikkan sesuatu.


"Takut apaan lo? Lo kan tidur di gudang banyak debu! Lo juga tidur di bawah kolong jembatan!" balas Yura.


"Akhirnya dibalas juga," balas Kayuki. "R u okay?" tulis Kayuki.


"Oke," balas Yura singkat.


"Bokap lo serem," tulis Kayuki.


"Padahal kemaren-kemaren nggak kayak gitu. Baru ketemu lo aja langsung kayak gini," balas Yura.


"Berarti bokap lo nggak suka sama gue?" Kayuki menyembunyikan kepalanya di dalam selimut bersama ponselnya.


"Iya, abis ini lo jangan ke rumah gue lagi!" balas Yura yang menutup layar ponselnya dan tidur.


"Jangan nangis ya, Ra. Gue jadi pengen meluk lo kalau lo nangis," tulis Kayuki dan Yura tak membaca pesan tersebut. Dengan cepat Kayuki menghapus pesan itu agar Yura tak membacanya sampai kapanpun.


***


Keesokan paginya, Kayuki dibangunkan oleh suara nenek yang sibuk memasak di dapur. Kayuki dan Yura terbangun bersamaan. Yura langsung bangun dan menghampiri neneknya. Sementara Kayuki masih berleha-leha di atas kasur matras.


"Nenek masak apa?" tanya Yura sambil mengucek matanya.


"Banyak. Ini buat Kayuki. Semalam 'kan kalian nggak sempat makan. Cuma makan sup," jawab neneknya.


"Kita udah makan semalem, Nek. Di rumahnya Kayuki. Banyak banget! Bareng keluarganya juga," ucap Yura.


"Kamu bangunin Kayuki, gih!" perintah sang nenek.


"Papa sama Kakek mana?" tanya Yura.


"Udah berangkat kerja," jawab neneknya. "Udah , bangunin Kayuki dulu gih! Biar enak makanannya masih anget," lanjutnya.


Dengan malas Yura berjalan ke ruang tamu dan membangunkan Kayuki dengan kakinya. "Kayuki!" panggil Yura.

__ADS_1


"Apaan sih?! Gue udah bangun dari tadi!" omel Kayuki.


"Disuruh nenek bangun!" ucap Yura yang malah ikut berbaring di kaki Kayuki. Merasa nyaman akan selimut yang Kayuki gunakan, gadis itu malah terlelap.


"Ra!" panggil Kayuki yang kakinya tak bisa digerakkan akibat tertimpa tubuh gadis itu.


"Ra!!" panggil Kayuki lagi.


Nenek datang dan melihat kelakuan mereka berdua.


"Dia tidur, Nek!" Kayuki mengadu.


"Yura!" panggil sang nenek sambil mengusap kepala cucu kesayangannya tersebut.


Yura terbangun dan memeluk neneknya. "Jam berapa?" tanya Yura.


"Jam sepuluh," jawab neneknya.


"Hah?!" pekik Yura dan Kayuki bersamaan.


"Kenapa Nenek nggak bangunin dari tadi?! Telat sekolah!" omel Yura.


"Bukannya hari ini libur ya? Di kalender hari ini libur," ucap sang nenek sambil berjalan ke dapur. "Makan dulu, yuk!" ajaknya.


"Emangnya libur ya?" tanya Yura.


"Sini, makam dulu!" teriak sang nenek. Yura berjalan menghampiri terlebih dahulu. Sementara Kayuki membereskan tempat tidurnya.


Kayuki membasuh wajahnya dan ikut duduk di meja makan bersama nenek dan Yura.


"Itadakimasu!" ucap Kayuki dan mulai menyantap semua makanan yang dihidangkan oleh nenek Yura.


"Aduh, kangennya makanan Indonesia," ucap Kayuki.


"Emangnya di rumah kamu makannya apa?" tanya nenek.


"Sama kok kayak gini, Nek! Makanan Indonesia!" jawab Yura.


"Itu masaknya cuman khusus buat lo! Setiap hari mana ada makanan kayak begitu," bantah Kayuki.


***


Sementara Yura menikmati makanan bersama nenek dan Kayuki. Jesika kembali berulah dengan memanfaatkan perjodohan dirinya dan Kim Tae Young.


"Lo suka sama Yura, 'kan?" tanya Jesika pada pria berdarah campuran Indo-Korea yang tiba-tiba suka menonton anime itu.


"Gue mau lo bantuin gue buat deketin Vin," ucap Jesika membuat Kim Tae Young menoleh padanya.

__ADS_1


"Deketin Vin?" tanya Kim Tae Young sambil memberhentikan anime yang tengah ia tonton di laptop.


"Gue mau lo bantuin gue buat deketin Vin. Dengan gitu, 'kan lo bisa deketin Yura," ucap Jesika.


Hal itu terdengar sedikit masuk akal untuk Kim Tae Young. Tapi, ia kembali berpikir bahwa Vin tidak akan memyukai sosok gadis sok kecantikan seperti Jesika. Bahkan dirinya saja merasa tidak ingin terlalu dekat dengan gadis itu.


"Tapi Vin nggak mungkin suka sama lo," ucap Kim Tae Young.


"Kenapa?! Gue cantik, keluarga gue kaya. Apa yang kurang?" tanya Jesika.


"Vin suka sama Yura. Yura ada di sini," tunjuk Kim Tae Young pada atas kepalanya. "Dan lo di sini," tunjuknya pada ujung kaki.


"Maksud lo?!" omel Jesika.


"Lo sama Yura bagaikan langit dan bumi! Beda jauh! Yura terlalu tinggi buat dikalahin sama lo! Kalau Vin sukanya sama yang kayak Yura. Nggak mungkin dia turun level jadi suka sama lo," ucap Kim Tae Young dan kembali menonton anime.


"Berarti lo juga nggak bakalan bisa dapetin Yura!" balas Jesika.


"Wae?" tanya Kim Tae Young.


"Karena Yura sukanya wibu! Wibu itu kejepang-jepangan! Bukan Korea kayak lo!" balas Jesika sambil tersenyum.


Kim Tae Young tak memberikan sepatah kata pun. Ia malah menatap kedua bola mata Jesika dengan sangat kesal.


"Kenapa? Emang bener 'kan?" ucap Jesika.


***


Kayuki telah pulang. Tak lama kemudian, Ayumi datang dan mengobrol dengan nenek. Yura tak ke luar kamar hingga Ayumi pulang karena ia terlalu membenci sosok wanita itu.


"Dia ngomong apa, Nek?" tanya Yura yang tak mengerti bahasa Jepang.


"Nggak ada ngomong apa-apa. Nggak penting," jawabnya.


"Dia ada ngomongin Papa, ya?" tanya Yura lagi.


"Nggak ada," jawabnya lagi.


Nenek berjalan memasuki kamar dan segera menghubungi Angga dengan ponselnya. Begitu Angga menjawab panggilan itu, nenek mulai berbicara dengan bahasa Jepang agar Yura tak mengerti akan apa yang mereka bicarakan. Nenek sampai berteriak marah pada anak laki-lakinya tersebut.


Jika isi obrolan mereka diterjemahkan maka akan jadi seperti ini.


"Apa kamu nggak malu sama anak-istri kamu, Angga?!" teriak nenek.


"Siapa yang mengatakan itu ke Mama?!" balas Angga.


"Sekarang masalahnya ada di kamu, Angga! Kamu benar-benar bikin malu keluarga! Kamu marahin Yura semalam karena dia bawa laki-laki ke rumah! Tapi kamu lebih biadab dari itu!" Nenek terus memarahi anaknya tersebut.

__ADS_1


"Coba bilang dulu, Ma! Siapa yang bilang gitu ke Mama?!" Angga masih mencari tahu dalang daei emosi ibunya yang menanjak tajam secara tiba-tiba.


__ADS_2